Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 31. Ringkus


__ADS_3

Dari jauh tampak seorang laki-laki mengepalkan tangannya. "Ternyata pak satpam itu berbohong, rupanya Safa memang tinggal di sini. Baiklah akan aku tunggu dia keluar dari rumah ini. Setelah itu baru aku akan membawanya pergi. Dia harus menjadi milikku. Pras harus mendapatkan apa yang diinginkan." Pras tersenyum menyeringai ke arah Nindy yang kini sudah menutup pintu kembali.


Sedangkan Nindy setelah menerima tas miliknya dari tangan Kirana segera membawanya ke kamar kemudian pamit kepada keduanya untuk membuatkan minuman.


"Hai mau pesan minum apa?" tanya Nindy sambil melangkah ke arah dapur.


"Emang boleh pesan?" tanya Putri mengernyit.


"Boleh asal ada dan asal aku bisa bikin." Nindy cekikikan.Kedua teman-temannya hanya geleng-geleng kepala.


Beberapa saat kemudian minuman sudah siap. Dengan dibantu oleh Mira Nindy mengindahkan jus jeruk dan camilan untuk sahabatnya.


"Ayo diminum!"


"Terima kasih Saf."


"Eh, terima kasih mbaknya juga," ujar Putri kemudian.


"Dia itu mbak Mira, selama ini dia selalu baik pada saya."


"Wah terima kasih ya Mbak Mira telah menjaga teman saya," sambung Kirana.


"Sama-sama kalau begitu saya permisi dulu karena masih ada pekerjaan."


"Iya Mbak Mira," jawab keduanya serentak.


Mbak Mira kembali ke belakang melanjutkan pekerjaan yang tertunda sedangkan ketiganya tampak asyik bercengkrama sambil menikmati hidangan yang disajikan.


"Kalian hari ini nggak ada jadwal kuliah?" tanya Nindy.


"Ada tapi kami bolos," ucap Putri cemberut.


"Sorry ya itu pasti gara-gara aku." Nindy merasa bersalah.


"Eh tidak apa-apa kok," ujar Putri kemudian karena melihat ekspresi wajah Nindy yang tidak enak.


"Nggak apa-apa kok Nin, sekali-kali berkorban untuk sahabat saya pikir tidak ada salahnya," ucap Kirana menenangkan Nindy.


Nindy mengangguk kemudian berkata, "Asal jangan keseringan ya."


"Nah itu benar," sahut Kirana sambil terkekeh.


"Oh iya aku punya rencana buat usaha kecil-kecilan, apakah kalian bisa bergabung?"


"Wah boleh itu Nin, tapi kalau diizinkan sih."


"Ya pastilah diizinkan kan aku yang punya usahanya."


"Kali aja tidak boleh sama temen kamu itu."


"Teman? Maksudnya teman yang mana?"


"Pemilik rumah ini."


"Oh tuan Louis?"


"Iya itu, kami mau menemui mu saja tadi harus diinterogasi terlebih dahulu."


"Oh ya? Diintrogasi apaan?"


"Di suruh sebut nama terus ditanyain sudah buat janji apa belum sama kamu. Berasa kaya punya teman orang penting saja kita." Kirana terkekeh lagi.


"Mungkin itu demi keamanan agar tidak ada orang jahat bisa masuk ke tempat ini," jelas Nindy.


"Ya mungkin saja demikian," sambung Putri.


"Emang selama ini ada orang jahat yang gangguin kamu?" tanya Kirana penasaran.


"Palingan cuma Pras dan kak Lisfi doang sih," jawab Nindy. "Yuk kita ngobrol-ngobril dikamar aja!" ajak Nindy. Dia ingin mengobrol banyak bersama sahabat-sahabatnya namun tidak ingin di dengar oleh Mira, bukan karena ingin merahasiakan tapi hanya sekedar sungkan saja kalau Mira tahu seperti apa persisnya jalan hidupnya.


Sedang mereka asyik mengobrol Louis menelpon Mira dan menanyakan keadaan Nindy. Mira pun memvideokan kegiatan mereka dan mengirimkannya pada Louis. Melihat Nindy terlihat ceria bersama sahabat-sahabatnya Louis bernafas lega. Sepertinya dia tidak perlu repot-repot membawa Nindy ke psikiater akibat kecemasan semalam. Louis berharap Nindy selalu bahagia dan hal seperti semalam tidak akan terulang kembali.


"Ya sudah mbak Mira kalau begitu aku mau kerja lagi, tapi tolong ingatkan ya sama dia nanti jam 12 aku jemput takutnya ia kelupaan saking asyiknya mengobrol bersama teman-temannya. Dan satu lagi jangan buat tamu kita pergi tanpa kita beri makan terlebih dahulu." Begitulah Louis mengakhiri panggilannya pada Mira.


Mereka asyik mengobrol hingga tidak disadari jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Mereka akhirnya pamit pulang namun ditahan oleh Mira.


"Kalian makan dulu sebelum pulang, aku sudah menyiapkan semuanya di meja makan."


"Maaf Mbak Mira kami masih kenyang," tolak Putri secara halus.


"Tidak baik menolak rezeki, lagi pula kalian tidak kasihan apa sana Mbak Mira sudah susah-susah membuatkan kalian makanan tapi malah tidak dihargai," ujar Nindy.


"Oke baiklah kita makan saja yuk Put!" ajak Kirana dan Putri hanya mengangguk.

__ADS_1


"Nah gitu dong," ujar Nindy sambil menggiring kedua sahabatnya menuju ruang makan dan akhirnya mereka makan bersama.


Jam 11 siang kedua sahabat Nindy sudah pamit pulang. Kini Nindy membersihkan diri dan bersiap-siap untuk berbelanja bahan bersama Louis. Dia duduk di meja rias dengan pakaian yang sudah rapi sambil mengoleskan bedak dan listrik tipis-tipis.


Satu jam berlalu tapi Louis belum menjemputnya juga. Nindy merasa bosan karena menunggu itu memang sangat melelehkan tapi menunggu bukankah bisa melatih kesabaran?


"Cck." Nindy berdecak. "Apakah dia lupa atau terlalu sibuk hingga tidak ada waktu walau hanya untuk memberi kabar?" Nindy bertanya-tanya dalam hati.


Sedangkan jauh di dalam kantor sana Louis yang belum selesai juga dengan meetingnya tampak gelisah. Ia khawatir Nindy menunggunya dari tadi dan akan menganggap dirinya ingkar janji.


"Sebentar!" akhirnya dia menjeda rapatnya sebentar, dia tidak bisa berpikir jernih kalau sedang gelisah. Dia berjalan agak menjauh dari orang-orang dan menelepon salah satu sopir di rumah orang tuanya untuk menjemput Nindy.


Kemudian menelpon Nindy dan meminta maaf karena tidak bisa menjemputnya langsung karena rapat sedang berlangsung. Louis meminta Nindy untuk pergi terlebih dahulu bersama pak sopir dan dirinya akan segera menyusul saat rapat telah usai.


"Sebentar lagi pak sopir akan segera sampai, kamu pilihlah apa saja yang akan kamu beli di sana atau kamu bisa berjalan-jalan terlebih dulu di sana agar tidak bosan."


"Baiklah," ucap Nindy pasrah walaupun agak kecewa tapi dia harus tahu diri dan sadar posisi, apalagi Louis memang sibuk tak ada alasan untuknya marah.


Beberapa saat kemudian.


"Nin!" panggil Mira.


"Iya Mbak?"


"Pak sopir sudah menunggu mu di luar."


Nindy membuka pintu dan berjalan ke luar kamar.


"Kalau begitu Nindy pamit pergi ya Mbak."


"Iya sana, hati-hati."


Nindy pun masuk ke dalam mobil yang sudah standby menunggunya. Setelah Nindy masuk dan duduk dengan tenang pak sopir melajukan mobilnya ke mall yang Louis sebutkan tadi.


Pras yang memang menunggu Nindy keluar rumah tersenyum smirk dan akhirnya mengikuti ke mana pak sopir membawa Nindy pergi.


"Nona masuklah dan pilih apa yang Nona inginkan. Mungkin sebentar lagi tuan Louis datang."


"Iya Pak terima kasih." Nindy berjalan ke arah pintu masuk mall.


"Non kalau ada apa-apa Nona bisa hubungi saya. Saya akan menunggu di sini sampai tuan Louis datang." Nindy hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya tanpa ia sadari Pras dari yang dari tadi menguntitnya sekarang ikut masuk ke dalam mall dan mengawasi keberadaan dirinya dari jauh.


Untuk beberapa waktu Pras terus mengawasi Nindy takutnya Nindy tidak sendirian tapi ada temannya atau malah janjian dengan orang lain di tempat itu. Namun nyatanya Nindy sedari tadi hanya memilih belanjaannya sendirian.


Timbul niat di hati Pras untuk menculik gadis ini saat itu juga tetapi pikirannya masih normal, tak mungkin dia menculik Nindy di tempat yang ramai seperti itu. Bisa saja dirinya diteriaki maling atau penjahat dan tubuhnya akan babak belur karena dimassa oleh pengunjung mall.


Setelah sekian lama akhirnya Pras bersiap melancarkan aksinya saat melihat Nindy beranjak ke toilet.


"Ya ini saatnya," ucapnya girang lalu dengan hati-hati mengikuti Nindy dengan langkah yamg pelan.


Toilet wanita terlihat sepi, sepertinya tidak ada pengunjung yang ingin buang hajat ataupun sekedar mencuci muka di sana. Nindy langsung masuk ke dalam dan mengunci pintunya.


"Akhirnya ringan sudah." Nindy tersenyum sambil mengusap perutnya dengan perasaan lega setelah selesai buang air kecil.


"Akhirnya." Katanya lagi masih terus tersenyum sambil memutar handle pintu. Namun ketika pintu dibuka senyuman di wajahnya jadi pudar.


"Hai apa kabar?" Pras menyapa dengan basa-basi.


Nindy langsung bergegas keluar dan ingin kabur namun tangannya segera dicekal oleh Pras.


"Mau kemana kamu?" Pras tersenyum menyeringai.


"Lepaskan aku!" Nindy menghentakkan tangannya yang dipegang kuat oleh Pras.


"Apa maunya!" terlihat raut ketakutan di wajah Nindy, tubuhnya tiba-tiba gemetar.


"Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu," jawab Pras santai.


Nindy diam tidak menjawab, kekhawatirannya terlalu kuat hingga untuk mengatakan tidak mau saja bibirnya terasa kelu.


"Pergilah denganku dan kita mulai dari awal lagi, aku janji aku akan setia kali ini." Pras terus saja berkata-kata sedangkan Nindy hanya mampu menggeleng karena bibirnya terlihat bergetar.


"Aku tidak mau." Tiba-tiba saja kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir Nindy.


"Plak!" tiba-tiba saja Pras menampar pipi Nindy membuat gadis itu mengaduh menahan perih.


"Pras tidak suka penolakan!" ucapnya kasar.


"Tolong!" Nindy berusaha berteriak tapi sayang suaranya tidak bisa keluar hanya tertahan di dalam tenggorokan. Nindy mengucurkan air mata, merutuki diri kenapa tubuhnya terasa lemah seperti ini.


"Ayo ikut aku!" Pras berkata sambil menyeret gadis itu membuat tubuh Nindy yang masih lemah terjatuh dilantai. Merasa tidak berdaya Nindy meringkuk dan memeluk kedua lututnya sambil menangis sesenggukan. Dia tidak habis pikir mengapa toilet ini begitu sepi hingga tidak ada orang yang bisa memergoki perlakuan Pras dan akhirnya bisa membantu dirinya.


"Tuan tolong aku!" Dia berkata dalam hati berharap Louis datang membebaskan dirinya dari tangan Pras.

__ADS_1


"Siapapun tolong aku. Tuhan tolong aku." Nindy merintih dalam hati.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Setelah menyelesaikan meetingnya Louis langsung bergegas keluar ruangan. Dia turun ke bawah dan berjalan menuju parkiran.


Sebenarnya saat melewati kantin dia merasa perutnya sangat lapar. Ini sudah lewat jam makan siang, cacing di perutnya berontak minta dikasih jatah. Namun Louis tidak memperdulikan ini semua. Baginya menemui Nindy saat ini adalah lebih penting dari hanya sekedar mengisi perut. Louis pikir wanita itu pasti kecewa terhadap dirinya apalagi mengingat kondisi psikis Nindy yang saat ini sedang labil.


Dengan kecepatan penuh dia melajukan mobilnya membelah jalanan. Hingga tak butuh lama baginya untuk sampai ke tempat tujuan. Apalagi jarak mall dari kantor memang terbilang dekat dibandingkan dengan jarak dari rumahnya.


"Sudah lama sampainya Pak? Mana Nindy?" tanya Louis saat berpapasan dengan sopir yang dia tugaskan menjaga Nindy.


"Dia sudah masuk ke dalam, lumayan sudah agak lama," jawab sopir tersebut.


"Mengapa bapak tidak mengikutinya?" tanya Louis lagi.


"Itu ... tuan muda ... saya ... merasa tidak enak kalau harus membuntuti dirinya takut non Nindy risih." Pak sopir mencoba menjelaskan meski dengan terbata.


"Baiklah kalau begitu saya masuk dulu. Bapak jangan pergi dulu ya soalnya tenaga bapak masih saya butuhkan," ujar Louis sambil berlari ke dalam mall setelah melihat anggukan dari sang sopir.


Sampai di dalam Louis celingukan mencari keberadaan Nindy, tapi tak menemukannya. Mencari di tempat yang terlihat etalasenya tersusun dengan bahan-bahan yang dibutuhkan Nindy, juga tidak ada. Hanya saja dia melihat ada troleer yang sudah terisi dengan bahan-bahan yang persis Nindy butuhkan.


"Mbak ini orangnya mana?" tanya Louis pada karyawan yang melintas di depannya.


"Sepertinya dia tadi melangkah ke arah toilet deh Mas." Louis mengangguk.


"Apa ini orangnya?" Louis menunjukkan foto Nindy pada karyawan tadi.


Karyawan itu tampak mengingat-ingat. "Sepertinya iya Mas, memang dia orangnya."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih," ucap Louis langsung berbalik arah menuju toilet wanita.


Melihat seorang laki-laki menyeret wanita Louis segera mempercepat langkahnya.


"Loh pria itu kan?" Louis mengingat-ingat. "Pras ya dia Pras." Louis langsung berlari menuju keduanya.


Deg


"Jangan-jangan dia Nindy." Dan ternyata dugaan Louis itu benar ternyata gadis itu adalah Nindy.


Bug-bug-bug.


Louis langsung memukul Pras membabi buta. Pras tidak terima dia balik memukul Louis hingga terjadi baku hantam diantara keduanya. Mereka sama-sama kuat. Nindy semakin ketakutan melihat perkelahian keduanya. Dia memilih memejamkan mata.


Hingga akhirnya Pras kalah dan melarikan diri. Louis segera mendekati Nindy yang masih terlihat meringkuk ketakutan sambil terus menangis.


Louis langsung memeluk tubuh yang bergetar itu. "Hei Pras sudah pergi. Maafkan aku ini semua gara-gara aku. Kalau saja aku tidak telat atau menjagamu ketat ini tidak akan pernah terjadi." Louis menyesal kalau dia tahu akan seperti ini dia pasti akan mengundur rapat di kantornya sampai besok.


Nindy membuka mata kemudian memandang wajah Louis dengan mata yang masih berkaca-kaca. Namun beberapa saat kemudian dia malah pingsan.


"Ya Allah bagaimana ini?" Louis mengusap wajahnya kasar lalu segera menggotong tubuh Nindy kemudian membawanya ke rumah sakit.


Saat dokter menangani Nindy Louis terus saja merutuk dirinya sendiri. Hingga akhirnya dokter keluar kamar dan mengatakan Nindy sudah sadar barulah Louis bisa merasa lega.


Louis masuk ke dalam dan duduk di samping Nindy. "Bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja kok Tuan." Louis mengerti bahwa ucapan Nindy yang selalu mengatakan dirinya baik-baik saja itu tidak benar.


"Baiklah kalau begitu aku keluar sebentar."


"Mau pergi kemana?" Nindy menahan tangan Louis.


"Tidak kemana-mana hanya di depan pintu, mau menelepon papa." Nindy mengangguk.


Sampai di luar pintu Louis langsung menelpon anak buahnya.


"Bagaimana tentang laki-laki itu?"


"Dia juga bekerja di perusahaan Tuan satu gedung dengan Lisfi."


"Oke segera lakukan pemecahan sekarang juga."


"Baik Tuan, tapi boleh tahu apa kesalahannya?"


"Dia telah menyerang ku dan telah berbuat kasar pada calon istriku."


"Baiklah sepertinya pria itu juga ada masalah di kantor kita."


"Kalau begitu pastikan dia secepatnya diringkus oleh polisi, Saya percayakan semuanya padamu."


"Baiklah tugas dari tuan akan segera saya laksanakan."


"Bagus," ujar Louis seraya menutup teleponnya kemudian kembali ke samping Nindy.

__ADS_1


Bersambung...


Sudah lebih dari 2000 kata ya, jangan minta double up ๐Ÿคญ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™.


__ADS_2