Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 39. Syok


__ADS_3

Keputusan yang Lisfi ambil untuk berhenti dari perusahaan dan kembali pulang ke rumah orang tuanya akhirnya ia batalkan semenjak ia mengenal pria yang bernama Vicky tersebut yang ternyata mau mencukupi kebutuhan hidupnya.


Semakin hari Lisfi semakin dekat dengan pria itu tanpa status yang jelas. Namun karena kenyamanan yang diberikan Vicky membuat Lisfi terlena dan menganggap bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Apalagi pria itu bukan hanya sekedar banyak uang tapi juga memiliki wajah yang tampan sehingga membuat Lisfi semakin tergila-gila saja. Bahkan saat pria itu mengajak Lisfi tidur bersama dengan mudahnya Lisfi mengiyakan.


Keroyalan juga kepuasan yang tidak pernah dia terima lagi dari Pras, kini dia mendapatkan semuanya itu dari pria ini hingga ia melupakan posisinya bahwa ia sebenarnya masih berstatus istri orang dan seolah menutup mata bahwa sebenarnya pria yang ada di sampingnya kini sebenarnya hanya menginginkan tubuhnya saja.


"Vik, kapan kamu akan menikahi ku?" Setelah merasa cukup dekat dan bahkan beberapa kali sempat melakukan hubungan intim akhirnya Lisfi memberanikan diri untuk bertanya karena tidak tahan dengan status mereka yang tidak jelas sama sekali. Bahkan yang diinginkan Lisfi agar Vicky segera mengenalkan dirinya kepada kedua orang tuanya sama sekali tidak pernah terjadi. Ternyata Itu hanya ada dalam angan-angan Lisfi semata.


"Apakah aku pernah berjanji untuk menikahi mu?" Bukannya menjawab Vicky malah balik bertanya dan pertanyaan itu terasa menusuk ke dalam ulu hati Lisfi.


Deg.


Jadi dia tidak pernah ada keinginan untuk menikahi ku?


Pertanyaan Vicky yang menohok tadi membuat Lisfi sedikit putus asa. Dia pikir setelah dirinya berusaha memuaskan Vicky di atas ranjang, pria ini akan semakin tertarik padanya dan akhirnya akan menikahinya. Namun nyatanya yang ia pikirkan salah besar. Pria tersebut sama sekali tidak ada niat untuk menikahinya.


Sedang Lisfi mulai gelisah dengan pemikirannya sendiri, Vicky mulai berpikir inilah saatnya ia memulai aksinya untuk memanfaatkan Lisfi setelah banyak modal yang telah ia keluarkan untuk wanita itu. Tidak mungkin juga ia hanya menikmati tubuh Lisfi sendiri tanpa mendapatkan hasil sama sekali. Padahal kalau dilihat dari wajah dan bentuk tubuhnya pasti banyak dari kalangan pengusaha yang mau membayarnya mahal.


"Tapi bukankah kita sudah beberapa kali melakukan itu ya, jadi kamu selama ini hanya menganggap diriku sebagai apa?" Mata Lisfi tampak berkaca-kaca.


Karena merasa kasian akhirnya Vicky memberikan harapan untuk Lisfi, "Baiklah masalah pernikahan kita bicarakan nanti malam saja."


"Benarkah?" Mata yang tadinya tampak berkaca-kaca kini mulai terlihat berbinar, tentu saja karena wanita ini merasa bahagia.


"Iya nanti malam kita bertemu di lobby hotel."


"Harus di hotel ya? Kenapa tidak di restoran biasa saja atau tempat makan lainnya?"


"Tidak kita bertemu di restoran hotel saja karena setelah kita selesai membicarakan tentang pernikahan, kita akan melakukan pemanasan lagi sebelum kita resmi menikah." Vicky beralasan.


"Kenapa tidak tunggu saja setelah menikah?"


"Tidak aku butuh kenang-kenangan sebelum menikah karena setelah menikah kita tidak akan menemukan sensasinya lagi. Bagiku melakukan hubungan sebelum menikah lebih menantang." ( Alasan lucknut, author pengen gunting mulut si Vicky ๐Ÿ˜‚).


"Oke baiklah," ucap Lisfi pasrah yang penting Vicky sudah mau menikah dengannya.


"Oke nanti malam jam 7 aku tunggu di hotel seperti biasa. Jangan lupa dandan yang cantik. Sekarang aku antar kamu pulang dulu."


"Baiklah."


Sore itu Vicky langsung mengantarkan Lisfi ke kosannya setelah menjemputnya dari kantor.


"Jangan lupa istirahat agar tubuhmu fit."


Lisfi hanya mengangguk dan melambaikan tangannya, beberapa saat kemudian terlihat masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Vicky sebelum mengemudikan mobilnya kembali tampak menghubungi seseorang.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


Malam yang ditunggu pun tiba, kini Lisfi sudah siap dengan pakaian baru yang khusus dia beli untuk pertemuannya dengan Vicky malam ini. Polesan make up mahal di wajahnya semakin menambah kadar kecantikannya.


Dengan semangat empat lima dia melangkah ke luar rumah. Tampak taksi online yang dia pesan tadi sudah menunggu di depan kosannya.


"Jalan Pak!" perintahnya setelah ia mendudukkan bokongnya di jok mobil.


Pak sopir pun melajukan mobilnya ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Lisfi lewat aplikasi tadi.


"Hai sudah lama nunggunya?" tanya Lisfi setelah melihat Vicky sudah duduk di kursi restoran hotel.


"Lumayan sudah sekitar lima belas menitan," sahut Vicky santai.


"Sorry aku tadi bolak-balik ke kamar mandi dulu karena perutku terasa mules."


"Kamu diare?" Vicky khawatir, bagaimana kalau saat melayani pelanggannya Lisfi mengeluhkan sakit perut sehingga lawan mainnya nanti terpaksa harus menghentikan aksinya sedang dalam keadaan yang tanggung, pasti dia akan kecewa terhadap Vicky.


"Tidak cuma mules saja, tapi pas bolak-balik ke toilet tidak keluar apa-apa. Mungkin aku hanya grogi saja karena malam ini kita akan membicarakan tentang pernikahan kita," ucap Lisfi dengan sumringah.


"Oke sebelum kita mulai apakah kamu ingin memesan makanan atau minuman terlebih dulu?"


"Boleh memang tadi aku belum sempat makan pas berangkat ke sini."


"Baiklah kalau begitu saya panggilkan waiters dulu," ucap Vicky sembari melambaikan tangannya kepada seorang waitress laki-laki.


"Ya mas mau pesan apa? Ini buku menunya," ucap waiters tersebut sambil menyerahkan buku menu ke tangan Vicky dan pria itu langsung memberikannya kepada lisfi agar memilih makanannya sendiri."


Setelah acara makan-makan selesai Vicky langsung mengajak Lisfi ke dalam sebuah kamar hotel.


"Loh kok ke sini duluan? Bukannya kita mau berembug tentang pernikahan kita ya?" tanya Lisfi heran.


"Nanti saja deh soalnya aku sudah tidak tahan melihat kecantikanmu malam ini. Benar-benar sempurna," seloroh Vicky.

__ADS_1


"Aku jadi tidak sabaran ingin segera menyantap dirimu," ujar Vicky lagi sambil mengerlingkan matanya kepada Lisfi dan Lisfi pun yang sudah tergila-gila kepada Vicky yang menurutnya cowok tampan dan berkharisma itu hanya tersenyum saja.


"Ayo!" Vicky langsung menarik tubuh Lisfi ke dalam kamar. Setelah mereka duduk sebentar di atas ranjang Vicky bangkit berdiri dan langsung pamit keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Lisfi heran.


"Aku keluar sebentar, ada kepentingan mendesak. Kamu tenang saja aku tidak akan lama-lama di luar, 5 menit aku pasti langsung balik."


"Oke."


Vicky pun melangkah keluar dan menutup pintu kamar hotel kemudian dia menguncinya dari luar.


"Semoga berhasil untuk malam ini," batin Vicky.


Beberapa saat setelah Vicky keluar dan menutup pintu tiba-tiba saja ada seorang pria separuh baya yang keluar dari kamar mandi dalam kamar hotel tersebut. Pria itu langsung menghampiri dan duduk disamping Lisfi.


"Ka ... mu si ... apa kenapa bisa ada di tempat ini?" tanya Lisfi gugup bercampur takut.


"Wah ternyata saya tidak sia-sia membayar mahal kepada Vicky, ternyata wanita yang dipilihnya memang benar-benar cantik dan seksi," ucap pria itu tanpa mengindahkan pertanyaan Lisfi.


"Apa maksudmu?" tanya Lisfi mulai gusar.


"Tenang manis kamu tidak perlu takut kepadaku. Malam ini kamu hanya perlu melayani ku saja. Jadikan malam ini hanya milik kita berdua. kau puaskan aku dan aku akan memberikan apa saja yang kamu minta. Setimpal bukan?" Tangan pria itu mulai nakal membelai wajah Lisfi dan Lisfi langsung mendorong tubuh pria itu hingga terjungkal ke belakang.


"Aku tidak mau. Vicky tolong aku!" teriak Lisfi dari dalam kamar sambil menggedor-gedor pintu.


Pria itu terkekeh. "Bagaimana dia mau menolongmu sementara yang menjual dirimu padaku adalah dia?"


"Itu tidak mungkin kamu pasti penyusup yang masuk ke kamar ini kan?"


"Hahaha ... penyusup? Ini kamar hotel malah aku yang pesan."


"Tidak mungkin, keluar kau! Kalau tidak kamu pasti tidak akan selamat dari tangan Vicky."


"Tenang gadis manis, aku sudah membeli keperawananmu dengan harga yang sangat mahal jadi tidak ada cara lain kamu harus melayaniku malam ini."


"Tidak itu semua tidak benar!" teriak Lisfi.


"Ssst jangan teriak- teriak! Percuma saja kamu berteriak karena tidak akan ada yang mendengar mu. Ruangan ini dilapisi peredam suara.


"Vicky!" Lisfi masih saja terus berteriak.


"Baiklah kalau kamu masih tidak percaya kamu bisa menghubungi Vicky terlebih dahulu."


"Si*alan tidak diangkat!"


Pria itu tersenyum. "Biar aku yang menelponnya." Pria itu langsung menghubungi Vicky.


๐Ÿ“ฑ"Halo ada apa?


๐Ÿ“ฑ"Kasih tahu sama gadis ini kalau aku sudah membayarnya! Aku capek melayani gadis ini yang hanya berteriak-teriak saja dari tadi tanpa melakukan tugasnya. Lama-lama bisa budeg telingaku."


Lisfi langsung merampas ponsel pria itu dari tangannya. "Halo Vik, tolong aku Vik. Pria ini menyusup ke kamar kita."


"Kamar kita? Kamar dia kali."


"Maksudmu apa Vick?"


"Kamu lakukan saja apa yang dia perintahkan. Kamu layani dia sebaiknya-baiknya!"


"Jadi benar Vick kamu mau menjual ku?"


"Bukan mau tapi sudah. Anggap saja ini sebagai bayaran atas hutang-hutangmu."


"Hutang? Apa maksudmu?"


"Kamu pikir semua yang ku berikan padamu gratis? Oh tidak sayang di dunia ini tidak ada yang gratis."


"Vicky!" seru Lisfi geram sambil mengepalkan tangannya.


"Layani dia, kalau perlu tinggalkan jejak darah di kasur supaya dia percaya bahwa kau masih perawan, ha ha ha...."


"Breng*sek loh Vick. Nyesel aku telah menjatuhkan hati padamu."


Tanpa mendengar perkataan terakhir dari Lisfi, Vicky langsung menutup teleponnya.


"Polisi."


"Polisi."


"polisi."

__ADS_1


Suara pengunjung hotel terlihat riuh dan panik ketika melihat beberapa polisi bergerak ke arah hotel dengan sigap. Kalau dilihat dari gerakannya seperti ada yang gawat. Para tamu hotel bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang telah terjadi.


"Anda ditangkap karena ada laporan bahwa Anda melakukan penjualan wanita lewat aplikasi online." Polisi langsung memasang borgol di tangan Vicky.


"Pak ini tidak benar, ini fitnah Pak."


"Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor."


"Wah nggak nyangka ya ternyata cakep-cakep dia seorang mucikari." Terdengar nada penyesalan dari seorang tamu wanita.


"Mana suamiku?" tanya seorang wanita separuh baya sambil mengguncang tubuh Vicky.


"Mana saya tahu Nyonya?"


"Tadi sore aku dengar kamu menelponnya dan menawarkan seorang wanita padanya."


"Aku tidak tahu siapa orang yang Nyonya maksud itu?" Vicky masih saja mengelak.


"Cih Jangan pura-pura tidak tahu. Aku sudah seringkali melihatmu menawarkan para gadis terhadapnya makanya saat tadi kau menelponnya aku langsung menghubungi polisi."


"Oh jadi Nyonya yang menelpon polisi?" tanya Vicky geram.


"Iya benar, kenapa? Kalau tidak begini kamu tidak akan pernah berhenti mempengaruhi suamiku dan para pengusaha yang lainnya. Katakan dimana suamiku!" teriak wanita itu.


"Cari saja sendiri Nyonya," ucap Vicky menantang.


"Biar kita cari sama-sama Nyonya," ujar salah seorang wanita.


"Sepertinya pria ini tadi membawa seorang wanita ke kamar seratus dua puluh dua Nyonya. Kalau benar suami Nyonya memesan psk pada pria ini seharusnya di juga berada di kamar itu." Seorang petugas hotel mencoba membantu.


"Atau kalau belum yakin bisa bertanya langsung pada resepsionis nomor kamar yang suami Nyonya pesan," sambung petugas yang lain.


"Tidak perlu kalau kamu memang melihat pria ini membawa seorang wanita ke sebuah kamar aku yakin pasti suamiku juga ada di sana."


"Mari kita langsung mengeceknya Nyonya!" ajak salah seorang polisi.


"Mas antarkan kami ke kamar yang kau maksud tadi!" perintah wanita itu pada petugas hotel.


"Baiklah, mari."


Dari arah pintu masuk hotel tampak seorang laki-laki separuh baya dengan celana kain hitam dan kemeja cokelat berlengan pendek memasuki lobby hotel. Dia yang baru sampai malam ini di kota ini memilih hotel untuk bermalam sebelum besok melaksanakan tugas yang diberikan oleh kantor. Dia sengaja memilih kota ini ketika perusahaan menugaskan beberapa karyawannya untuk tugas ke luar kota. Alasannya cuma satu supaya dia bisa dekat dengan Putri sulungnya.


"Ada apa ini, kok ada polisi segala?"


"Ada penangkapan seorang mucikari Pak dan sekarang polisi sedang ingin menggerebek pasangan mesum di kamar hotel."


"Benarkah apa yang ku dengar ini?"


"Benar Pak untuk apa kami berbohong. Kalau Bapak tidak percaya bisa langsung bertanya pada petugas hotel ataupun pada polisi."


"Iya Pak benar," ucap petugas itu sebelum pak Ramlan bertanya.


Kenapa perasaanku tidak enak ya?


Perasaan tidak nyaman itu menuntun pak Ramlan untuk mengikuti langkah kaki pak polisi menuju kamar hotel yang akan dieksekusi.


Penggerebekan pun dilakukan tatkala pintu yang diketuk berkali-kali tidak ada yang membuka. Bahkan ketika polisi mengajak orang yang di dalam untuk berbicara tidak ada jawaban sama sekali.


"Buka atau kami dobrak!" ancam pak polisi namun tetap tak ada jawaban.


Brak. Akhirnya pintu di buka paksa. Tampak seorang wanita yang meringkuk di atas ranjang dengan pakaian atasnya yang sudah terlepas, hanya menyisakan pakaian dalam saja. Rupanya pria tadi sudah berhasil membuka secara paksa baju Lisfi. Wanita itu tampak menangis di atas ranjang. Orang-orang yang ikut menyaksikan menganggap wanita itu menangis karena aksinya ketahuan polisi.


Wanita separuh baya tadi mencari keberadaan suaminya dibantu oleh polisi. Akhirnya mereka menemukan pria itu di dalam sebuah lemari.


"Kalian berdua ikut kami!" perintah pak polisi membuat Lisfi tersadar dengan keadaan lalu secepat kilat meraih bajunya dan memakainya kembali.


"Pak ini tidak seperti yang Bapak lihat, saya bisa menjelaskan semuanya. Saya hanya dijebak." Mendengar suara wanita yang sepertinya ia kenal Ramlan mendekat ke pintu kamar hotel. Dia mengernyit melihat siapa wanita yang kini berbicara dengan salah satu anggota polisi. Karena penasaran Ramlan mendesak tubuh salah satu anggota polisi yang berdiri di pintu dan masuk ke dalam.


Ramlan kaget melihat siapa yang berdiri di depannya. "Lisfi? Ngapain kamu di sini hah!" bentak pak Ramlan.


"Ayah ini tidak seperti yang ayah pikiran, saya hanya dijebak."


"Cukup! Ini sudah jelas bahwa kamu tidak sebaik yang ayah pikirkan. Aku kecewa padamu, aku bahkan lebih mempercayai mu dibandingkan adikmu Nindy. Namun, apa balasan mu? Kau malah mengecewakan ayah dan mempermalukan ayah di tempat seperti ini!" bentak Ramlan.


"Oh jadi dia toh ayahnya?" Terdengar suara-suara miring tentangnya di belakang sana membuat pak Ramlan menekan dadanya yang terasa berdenyut kuat dan sakit. Bahkan aliran darahnya seperti mendadak berhenti.


"Ayah ini...."


"Cukup! Ayah tidak mau bicara lagi," ucap pak Ramlan. Tiba-tiba tubuhnya luruh ke lantai dan akhirnya dia pingsan.


"Ayah....!" teriak Lisfi.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa dukungannya!๐Ÿ™


__ADS_2