Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 59. Perasaan Yuna


__ADS_3

"Coba duduk Dan, dari tadi mondar-mandir aja," tegur Yuna yang melihat Zidane bergerak kesana-kemari seperti setrikaan.


"Gimana aku bisa tenang kalau orang-orangku belum bisa menangkap orang-orang yang menggangu kehidupan kami."


"Coba tenang dulu. kita duduk dulu sambil ngobrol-ngobrol sambil minum dan makan juga."


"Kami tadi sudah makan di hotel jadi masih kenyang."


"Ayolah Zidane kalau sudah kenyang kalian bisa memesan menu dessert aja lagi pula aku belum kamu kenalkan sama istri kamu dan anak-anak ini."


"Oh ya? Aku belum mengenalkan mereka?"


"Belum."


"Sorry aku lupa gegara tegang sedari tadi."


"Oh ya Yuna kenalkan ini Isyana istri saya dan Sya dia Yuna teman saya." Zidane memperkenalkan keduanya.


"Dan Yuna ini anak-anak saya, Nathan sama Tristan," lanjutnya.


Setelah saling berjabat tangan Yuna mengajak mereka semua untuk duduk dan memesankan makanan dan minuman pada pelayannya.


Setelah berkenalan ternyata Isyana dan Yuna langsung akrab. Mereka terlihat membicarakan sesuatu yang sepertinya seru.


Sedangkan Nathan dan Tristan mengajak Naura ikut duduk bersama dan terlibat pembicaraan yang serius. Entahlah mungkin hanya pembicaraan anak-anak pada umumnya.


"Yuna apakah kamu sudah menikah?" ucap Zidane menyela pembicaraan mereka.


"Belum."


"Astaga Yuna, umurmu sudah berapa? Emang kamu mau jadi perawan tua?"


"Ya apa mau dikata jodohnya belum ada," ucap Yuna datar.


"Nggak pernah mencoba berhubungan dengan pria?"


"Pernah sih beberapa kali tapi nggak dilanjutin."


"Kenapa?"


"Ya ampun Zidane kamu mengintrogasi ku seperti seorang polisi saja."


"Jawab saja."


"Nggak srek aja," jawab Yuna kesal.


"Apa masih kepikiran Abang?"


"Kamu ya kalau sama aku cerewet banget tapi kalau sama yang lain kalau ditanya jawabnya hem-hem aja. Entahlah." Yuna mengangkat bahu.


"Apakah kamu pernah bertemu lagi dengannya?"


Yuna menggeleng. "Semenjak aku dulu pindah ke Aussie aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Kamu sendiri?"

__ADS_1


"Semenjak Valen meninggal dia memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan hanya sesekali pulang mengecek perusahaannya yang ada di sini. Bisa dikatakan kami hampir tidak pernah bertemu. Kata om Reyhan dia tidak mau menetap di sini karena selalu mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu."


"Aku terkejut dulu ketika mendengar kabar Valen meninggal dengan cara yang tidak wajar. Apa pelakunya sudah ditemukan?"


"Sampai saat ini belum. Entahlah aku pikir pasti ada yang menyumpal mulut kepolisian sehingga sampai sekarang belum bisa menemukan bukti dan tersangkanya."


"Apa kamu masih mencintai Abang?" imbuhnya.


Yuna terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Bibirnya terasa kelu. Darahnya berdesir tatkala mengingat cintanya tak terbalas. Dia sangat mencintai Andy sejak dulu bahkan sebelum Valen hadir diantara mereka namun Andy tak pernah menangkap cinta di matanya. Dia pun tidak berani mengungkapkan perasaannya sendiri karena merasa tidak pantas seorang perempuan mengungkapkan perasaan terlebih dahulu pada seorang pria. Nyatanya dia menyesal setelah mengetahui Andy menjalin hubungan dengan Valen.


"Tidak bisa menjawab?" Ternyata kamu sama abang sama aja nggak pernah bisa move on." Zidane terkekeh.


Yuna hanya membalas dengan senyuman pahit.


"Kayaknya kalian berjodoh," imbuhnya.


"Ck." Yuna berdecak. "Kami tidak akan pernah bersatu sepertiga cintanya sudah mati bersama kepergian Valen."


Isyana hanya diam memilih menjadi pendengar sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


"Sya dari sini kita langsung ke studio buat bikin foto prewed. Masa acara nikahan udah dekat undangan belum dicetak." Zidane beralih bicara pada Isyana takut kalau melanjutkan pembicaraannya dengan Yuna gadis itu akan semakin larut dengan perasaannya. Zidane bisa menebak Yuna masih mencintai abangnya.


"What! Mereka belum menikah?" pekik Yuna dalam hati.


Isyana hanya mengangguk. "Kamu sih Mas pakek acara salah paham segala padahal aku dan Kenan kan cuma sahabatan sama kayak kamu dengan Yuna."


"Iya aku baru tahu maaf ya. Kenan sudah menceritakan semuanya padaku."


"Iya maaf ya sayang aku khilaf. Pokoknya aku janji lain kali nggak akan ngomong sembarangan." Zidane mengusap-usap punggung Isyana.


"Janji ya?"


"Iya."


"Kamu tahu nggak Mas aku sampai menghentikan pembuatan gaun pernikahan kita. Aku pikir pernikahan kita bakalan gagal."


"Astaghfirullah hal Azim sayang kok mikirnya gitu sih?"


"Gimana nggak mikir gitu orang kamu sudah nggak percaya lagi sama aku. Buat apa melanjutkan hubungan kalau sudah tidak ada kepercayaan diantara kita yang ada kita bakalan bertengkar terus."


"Iya sorry."


"Astaga Mas aku melupakan sesuatu."


"Apa?"


"Aku belum bayar uang tebusan kalung itu sama Kenan. Jangan-jangan Kenan menganggap ku menipunya lagi."


"Kamu tenang aja aku sudah menyuruh Dion mengurusnya. Besok aku akan bawa kalung itu ke toko perhiasan untuk memperbaikinya."


"Benar Mas?" Isyana tampak antusias.


"Beneran besok aku ambil ke rumahmu kalau kamu mau ikut boleh saja."

__ADS_1


"Tunggu-tunggu ini maksudnya apa ya? Kalian sudah menikah atau belum sih?" Akhirnya Yuna bertanya juga karena penasaran.


"Kalau sudah kok kalian baru mau mengadakan pesta kalau nggak kok anak-anak kalian sudah pada gede?"


"Hehe ..... kami dulu cuma kawin siri," bohong Zidane.


"Kenapa? Apa orang tuamu tidak menyetujui hubungan kalian?"


"Tidak juga."


"Terus karena apa?"


"Ih kepo banget sih kamu Yun."


"Biarin kamu juga kepo dengan hidupku."


Zidane memandang wajah Isyana seolah meminta persetujuan untuk menceritakan semuanya. Bagaimana pun Yuna sahabat Zidane berhak tahu semuanya.


Melihat Isyana yang mengangguk Zidane akhirnya memutuskan untuk menceritakan segalanya.


"Masih penasaran?" godanya pada Yuna.


"Ya iyalah kalau nggak cerita nanti aku pecat jadi sahabat aku," kelakarnya.


Akhirnya Zidane menceritakan segalanya tidak ditambah dan tidak dikurangi.


"Ternyata kamu brengsek juga ya Dan," ucap Yuna setelah mendengarkan kisah mereka.


"Tapi brengseknya aku tuh berguna Yun. Tuh lihat mereka tampan dan lucu-lucu hebat-hebat lagi," ucapnya sambil menunjuk kedua putranya.


"Cih pamer, sayangnya kehebatan mereka bukan hasil didikan kamu tapi didikan mamanya," ledek Yuna.


"Tapi gennya menurun dariku."


"Tapi kayaknya lebih pintar anak-anaknya deh ketimbang papanya."


"Yuna!"


Semua yang hadir tertawa lebih tepatnya menertawakan Zidane.


##


"Tuan sepertinya Tuan tidak bisa keluar sekarang karena anak buah Zidane sedang mencari info di luar. Seseorang mengatakan mereka sedang menyelidiki siapa pemilik hotel ini sekarang kalau melihat Anda di sini mungkin saja mereka akan curiga."


"Tapi aku harus segera kembali secepatnya."


"Sebaiknya ditunda saja sampai keadaannya kondusif."


"Baiklah aku akan tinggal di sini sementara. Nanti malam kalau mereka belum pergi juga atur supaya aku bisa keluar dari sini bersama-sama orang banyak. Matikan cctv pada sudut-sudut ruangan yang akan saya lewati. Tidak boleh ada jejak kalau aku pernah ke sini."


"Baik Tuan akan kami atur."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2