Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 135. Bertemu si kembar


__ADS_3

Sebelum melanjutkan cerita Author minta sejak kisah Annete dimulai anggap saja ini novel baru ya biar tidak bingung dengan alurnya dan merasa bolak-balik.


🌟Happy Reading🌟


Setelah beberapa hari Annete berteman dengan kesedihannya dan keterpurukannya akhirnya sekarang dia mulai bangkit kembali. Tidak mungkin kan dia terus meratapi nasibnya yang kehilangan sang ayah sedangkan masa depannya masih panjang. Dia juga membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri oleh karena itu hari ini Annete memutuskan untuk bekerja kembali.


"Gel hari ini aku bekerja lagi ya!" pamitnya pada Angel yang hingga saat itu masih memilih tinggal bersama Annete.


"Iya Net hari ini pun aku harus pergi karena harus mencari pekerjaan juga," jawab Angel.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu ya, jangan lupa kunci pintunya," pesannya pada Angel.


Setelah sampai di kantor dia mengambil barang-barang yang memang harus diantar kepada para pelanggan dan bersiap-siap untuk mengantarkan paket pada penerimanya.


Setelah hampir setengah hari dia berkeliling mengantarkan paket akhirnya dia memilih menepi dulu di pinggir jalan dan membeli roti pada sebuah warung karena perutnya sudah keroncongan lupa diisi tadi pagi.


Saat lagi memesan roti dia melihat dua orang anak kecil yang sudah selesai membeli roti juga, satu bungkus namun anak tersebut hendak membagi rotinya menjadi dua.


"Dek, dek ini buat Adek." Annete memberikan rotinya pada kedua anak tersebut.


"Terima kasih aunty."


Annete mengangguk. "Iya kalian makanlah biar tidak usah membagi roti milik kalian menjadi dua."


"Terima kasih," ucapnya lagi sambil memberi salam pada Annete. Selepas mengucapkan kata itu kedua anak tersebut pergi dari hadapan Annete. sementara Annete memesan rotinya lagi.


Di saat bersamaan di sebuah cafe di samping toko roti tersebut terlihat Ruri sedang makan siang bersama Duta. Melihat dari ekspresi Ruri sepertinya gadis itu sedang marah karena sedari tadi kekasihnya tidak berhenti menasehatinya. Di saat kesal seperti itu tiba-tiba saja Ruri melihat Annete melintas di hadapannya dan meninggalkan motornya di pinggir jalan. Tanpa aba-aba Ruri langsung menghampiri motor Annete dan mengambil salah satu bungkusan kemudian mengambil gunting dari dalam tasnya dan


menggunting-gunting bungkusan tersebut.


Melihat Ruri yang seperti kesetanan merusak barang-barang orang akhirnya Duta berlari ke arahnya dan menegur Ruri.


"Apa-apaan sih Rur malah merusak barang milik orang kalau kesal sama aku ngomong dong jangan melampiaskan pada orang lain!" bentak Duta.


Tak berapa lama Annete kembali ke motornya dan terkejut melihat Ruri dan Duta ada di sana.


"Kalian ngapain disini?" tegur Annete


"Astaghfirullah hal adzim, apa yang kalian lakukan?" Annete kebingungan sambil meraih bungkusan paket yang terserak di lantai.


"Bukan aku Net tapi dia," tunjuk Duta pada Ruri.


Annete memeriksa ternyata ada satu yang kemasannya rusak sepertinya itu yang digunting Ruri tadi.


"Minta maaf pada dia Rur," suruh Duta.


"Tidak sampai kapanpun aku tidak akan minta maaf pada dia, karena kesalahan ibunya yang telah merenggut kebahagiaan masa kecil ku," ucap Ruri masih ngotot.


Dari arah depan terlihat sebuah mobil yang berhenti di hadapan mereka. Semua orang menoleh ke arah mobil tersebut, terlihat seorang wanita paruh baya turun dari mobil dan berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.


"Ibu?" Ruri terkejut karena ternyata wanita tersebut adalah ibunya.


"Ada apa ini?" Suaranya terdengar begitu tegas.


"Tante, Ruri sudah menyobek barang milik orang nih," jawab Annete sambil menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan wanita tersebut. Ibu itu menerima dan memeriksanya.


"Benar begitu Ruri?"


"Tidak Bu Annete bohong," jawab Ruri sambil menunduk.


"Saya tidak bohong Tante, kalau tidak percaya Tante bisa bertanya pada Duta."


"Duta?"


"Iya benar Tante, Ruri yang melakukannya."


"Ruri minta maaf sama dia!" Perintah ibunya.


"Tidak Bu, Ruri tidak mau."


"Ruri!" bentak ibunya.


"Tidak akan Bu, ibunya dia saja nggak pernah minta maaf sama ibu kenapa saya yang hanya melakukan kesalahan kecil harus minta maaf sama dia? Ini nggak adil Bu! Gara-gara ibunya dia aku harus tinggal sama ayah tiri yang ketat macam dia."


"Ruri jaga ucapanmu! Kalau bukan karena dia kamu tidak akan seperti ini. Daddy mu itu melarangmu begini-begitu karena sayang sama kamu."


Mendengar pertengkaran ibu dan anak Annete menjadi tidak enak berada di sana hingga dia memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


"Tante, maaf Annete harus pergi dulu ya!"


"Tunggu Net!"


"Ruri minta maaf!"


"Nggak mau."


"Minta maaf kataku!"


"Nggak!"


"Kalau begitu jangan salahkan ibu kalau mulai saat ini ibu akan mengurangi jatah uang jajanmu."


Mendengar perkataan ibunya akhirnya Ruri pasrah dan terpaksa meminta maaf pada Annete.


"Kak Annete maafkan aku," ucapnya tanpa mau memandang wajah Annete karena masih kesal.


Ibu Ruri mengambil uang dari dalam tasnya dan menyerahkan sejumlah uang pada Annete.


"Tidak usah Tante, ini untuk apa?"

__ADS_1


"Ambillah ini uang untuk mengganti barang itu."


"Ambil Net," saran Duta.


Annete tampak berpikir kemudian mengangguk. "Terima kasih ya Tante."


"Iya, maafkan anak Tante ya!" Annete mengangguk lalu permisi untuk melanjutkan tugasnya.


"Ibu kenapa memaksa Ruri untuk minta maaf sama dia?" Ruri masih saja tidak terima.


Ibu itu menghela nafas. "Dengan apalagi aku harus menjelaskan pada kamu Nak bahwa Annete tidak tahu apa-apa dengan kelakuan ibunya. Kamu tahu bahkan nasibnya tidak lebih baik darimu. Oke kamu kehilangan ayahmu tapi apakah kamu tidak pernah berpikir bahwa gara-gara ayahmu itu dia juga harus kehilangan ibunya. Kamu mungkin kehilangan ayahmu tapi masih bisa merasakan hidup dengan seorang ayah meskipun hanya sebagai anak tiri. Tapi dia? Bahkan sekarang ayahnya pun telah tiada. Apa kamu pikir hidup sebagai dia itu tidak berat? Dari itulah berhenti membenci dia dan menjahati dia. Apa kamu pikir ibu tidak tahu apa yang selama ini telah kau lakukan padanya? Bahkan kau sampai berani menipu daddymu untuk mendapatkan uang hanya karena ingin menghancurkan kehidupan Annete. Ibu pikir kamu sudah berubah nyatanya kamu masih saja seperti dulu."


Ruri tidak menjawab dan terus saja menunduk tidak berani memandang wajah ibunya.


"Kamu tahu bahkan kalau sampai ayahmu itu tidak pergi dengan ibu Annete belum tentu juga dia bersamamu. Ayahmu itu tidak pernah bisa setia, dia itu mata keranjang tidak bisa lihat wanita cantik, lihat sedikitpun sudah tergoda. Bahkan sebelum selingkuh dengan ibunya Annete ayahmu juga pernah selingkuh dengan ibunya Gita. Itulah alasannya mengapa ibu lebih suka berpisah dengan dia daripada harus sakit hati setiap waktu. Mengerti kamu?"


"Iya Bu Ruri mengerti."


"Dan sekarang kamu siap-siap besok aku akan kirim kamu ke kampung!"


"Apa Bu? Ruri tidak mau Bu tinggal sama nenek."


"Siapa yang menyuruh kamu tinggal sama nenek?"


"Terus kalau tidak sama nenek memang Ruri mau tinggal sama siapa Bu?"


"Ibu akan menaruh kamu di pesantren."


"Apa?!" ucap Ruri dan Duta hampir bersamaan karena kaget.


"Ibu tidak mau ambil resiko kalau kamu tetap tinggal di sini. Ibu lihat kamu sudah mulai terpengaruh dengan pergaulan bebas. Jadi lebih baik kamu mondok saja daripada harus tenggelam terlalu jauh."


"Iya kan Duta?" beralih bicara pada Duta.


"Iya Tante." Duta tahu Ruri mulai mencoba mengkonsumsi obat-obatan terlarang makanya sejak tadi di cafe dia berusaha menasehatinya tapi Ruri malah kesal padanya.


"Ibu tapi aku betah di sini."


"Nanti kalau kamu sudah dewasa dan mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, ibu akan menjemputmu kembali. Percayalah ini semua demi kebaikan kamu Nak."


Ruri hanya bisa menghela nafas dan pasrah.


"Baiklah terserah ibu saja."


Setelah menyelesaikan tugasnya mengantar semua bungkusan paket kini Annete memilih duduk merenung di depan sebuah butik. Dia mencoba membuka paket yang telah hancur itu. Ternyata isinya adalah sebuah gaun.


Bagaimana caranya aku menggantinya? Bukankah tuan willliam itu orang kaya pasti dia tidak akan mau kalau barangnya di ganti dengan uang.


Annete teringat pernah mengantar paket ke rumahnya saat itu barangnya kemasannya rusak juga gara-gara Ruri. Saat itu Annete tidak diperbolehkan pergi sebelum Tuan William membuka paketnya dan memastikan barangnya dalam keadaan aman dan baik kalau tidak dia akan langsung menelpon tokonya untuk memastikan barang tersebut memang rusak dari toko atau dalam perjalanan saat pengiriman dari tempat pengiriman atau justru rusak saat di tangan kurir.


Annete menopang dagu sambil menghembuskan nafas berkali-kali untuk membuang rasa takutnya menghadapai tuan William. Bagaimanapun dia harus meminta maaf walaupun pekerjaannya yang akan jadi taruhannya. Annete yakin kali ini dirinya benar-benar akan dipecat.


Tiba-tiba ada dua anak kecil yang berlarian ke arahnya dan terjatuh.


Annete menoleh. "Wah mereka kembar," gumamnya sambil berdiri dan membantu anak kecil itu untuk bangun lalu menepuk-nepuk bokong Itan yang mungkin saja ada debu di celananya.


"Terima kasih Aunty."


"Iya sama-sama. Kalian kembar ya?" Anak itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Nama kalian siapa?"


"Aku Itan Aunty dan dia kakak saya namanya Atan."


"Oh."


"Aunty kenapa kok sedih?"


"Oh baju Aunty robek ya makanya Aunty sedih." Annete hanya mengangguk karena tidak mungkin menjelaskan permasalahannya pada anak sekecil mereka.


"Tunggu Aunty!" Anak yang bernama Itan itu pergi ke dalam butik dan memberitahukan pada mamanya.


"Ma, ada Aunty yang sedih karena bajunya robek mama bisa memperbaikinya?"


"Aunty siapa sih Itan?"


"Itu di luar," tunjuknya ke arah kaca jendela.


"Oke mama ke situ." Isyana melangkah ke luar butik. Terlihat Nathan sedang asyik berbincang dengan gadis itu padahal menurut Isyana Nathan itu orangnya susah akrab apalagi pada orang yang baru dikenalnya.


"Itu Ma bajunya."


"Baju kamu yang rusak?" tanya Isyana pada gadis tersebut, gadis itu menoleh.


"Itu mama kamu?" tanyanya pada Nathan.


"Iya Aunty."


"Ah bukan Mbak tapi baju seorang pelanggan."


"Coba lihat!"


Annete memberikan baju itu pada Isyana.


"Maaf sepertinya itu sudah tidak bisa diperbaiki, bagaimana kalau aku ganti dengan baju buatanku sepertinya ada yang mirip dengan baju itu tapi tidak sama persis sih."


"Aku tidak tahu Mbak apakah orangnya mau apa tidak?"


"Memang itu punya siapa?"

__ADS_1


"Punya Tuan William Mbak, Mbak bisa bantu aku nggak nanti sebagai imbalannya aku mau deh melakukan apa saja untuk mbak."


"Tuan William yang tinggal di sanakah?" Tunjuk Isyana pada posisi rumah tuan William tersebut.


"Iya benar."


"Baiklah kita sekarang ke sana. Tunggu sebentar ya!" Isyana masuk ke dalam butik dan mengambil beberapa gaun yang ukurannya sama dengan gaun pesanan tuan Wiliam tersebut. Kemudian memberitahukan pada seorang karyawan bahwa dia mau keluar sebentar.


Kebetulan hari ini dia membawa mobil Lusy sehingga ia bisa pergi dalam satu mobil. "Ayo ke kita ke sana!" ajak Isyana


"Ayo Aunty!" ajak Tristan sambil menarik tangan Annete supaya masuk ke mobil. Sesampainya di sana kedua bocah kembar itu tidak turun memilih diam di mobil sedangkan Annete turun bersama Isyana.


"Oh ya kamu pengantar paket itukan? Apakah hari ini kamu juga yang mengantar paketnya?"


"Iya Tuan tapi mohon maaf ternyata diperjalanan ada Kendala. Ada yang telah merusak barang anda."


"Wah wah kalau semua kurir lalai seperti anda pasti tidak akan ada barang yang selamat sampai tujuan."


Wajah Annete memerah menahan malu tapi yang lebih kental adalah rasa takut dipecat dari pekerjaannya. Akan bekerja apa kalau sampai ia dipecat sedang ia sudah merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan di masa sekarang.


"Maaf Tuan saya mohon dengarkan dulu penjelasan saya." Isyana mengambil alih pembicaraan.


"Begini karena adik saya telah bersalah sama Tuan maka saya meminta maaf tapi kami ke sini beriktikad baik untuk mengganti kerugian Tuan. Kami menawarkan dua pilihan untuk anda, pertama kami akan mengganti uang anda dan juga akan memberikan sebuah gaun sebagai permintaan maaf. Kedua kami akan memesan kembali gaun milik anda ke toko tersebut tapi itu anda harus mau menunggu."


"Baiklah kalau saya memilih versi pertama gaun apa yang akan kalian berikan?"


"Ini kami membawa tiga gaun yang kebetulan ukurannya sama dengan baju yang anda pesan. Silahkan Tuan mau pilih yang mana." Isyana menyodorkan gaun itu ke depan tuan William dan tuan William memeriksanya.


"Tunggu aku panggilkan putriku dulu, biar dia yang memilih sendiri."


Tak lama kemudian tuan William datang bersama putrinya.


"Mana gaunnya Pa?"


"Itu silahkan dipilih," kata Isyana.


"Wah ini mah bagus-bagus Pa lebih bagus dari yang saya pesan," ucap putri William. Mendengar perkataan gadis itu Annete yang tegang sedari tadi akhirnya bisa bernafas lega.


"Aku pilih yang ini," katanya kemudian.


"Silahkan."


"Ini Mbaknya pesan dimana ya?"


"Oh itu aku jahit sendiri."


"Benarkah?" Isyana mengangguk.


"Itu butikku yang di sana."


"Oh yang baru itu ya Mbak. Kemarin-kemarin aku dengar dari teman-teman katanya model baju di butik Mbak katanya bagus-bagus cuma aku belum sempat ke sana sih. Mungkin setelah ini aku akan pesan ke Mbak saja."


"Oke ditunggu ya pesanannya, kalau begitu kami pamit dulu ya."


"Ini uangnya." Annete menyerahkan uang kepada tuan William.


"Nggak usah diterima lah Ayah," cegah putrinya.


"Sudah nggak usah," tolak tuan William.


"Tidak apa Tuan terima saja saya kan sudah janji sama Tuan untuk mengganti uangnya.


"Tapi..."


"Sudah ambil saja Tuan sebagai tanda Anda menerima permintaan maaf kami," ujar Isyana.


"Baiklah terimakasih kalau begitu."


Sesampainya di butik Annete langsung bertanya pada Isyana. "Mbak apa yang harus aku lakukan untuk membalas pertolongan Mbak?"


"Apakah kamu bisa menyetir mobil?"


"Bisa Mbak."


"Saya lihat anak-anak saya suka sama kamu. Bagaimana kalau kamu bekerja pada saya untuk menjaga anak-anak saya sekaligus mengantar dia ke sekolah TK kalau nanti sudah sekolah ?"


"Oke Mbak siap."


"Tapi kamu harus tinggal di rumah saya, bagaimana?"


"Iya Mbak. Sejak kapan saya bisa mulai bekerja?"


"Sejak sekarang boleh."


"Kalau untuk sekarang saya tidak bisa saya harus pulang dulu dan memberitahukan pada sahabat saya yang kebetulan tinggal di rumah saya."


"Oh ya silahkan. Mulai besok saja ya kerjanya. Kamu bisa langsung datang ke sini dulu."


"Baiklah terima kasih," ucap Annete sambil berjalan menuju motornya.


"Eh nama kamu siapa?"


"Annete Mbak."


"Oke namaku Isyana ya kamu boleh memanggilku Syasa."


"Iya Mbak." Annete lalu menaiki maticnya dan pulang ke rumah menemui Angel. Dan sejak saat itu Annete tinggal bersama Isyana dan si kembar.


Bersambung.....

__ADS_1


Sudah 2000 kata lebih ya jangan bilang kurang panjang. 🥱😂


Jangan lupa ya tinggalkan jejak jempolnya, kalau ada vote-nya juga boleh, terima kasih.🙏


__ADS_2