
Setelah mengucapkan selamat para sahabat itu berfoto bersama dengan keluarga dan pasangan masing-masing sedangkan Louis memandang ke arah mereka dengan perasaan yang iri karena hanya seorang diri.
"Kapan aku bisa kayak kalian?" batin Louis.
"Giliranmu Lou," ucap Zidane.
"Iya," sahut Louis, ia sebenarnya enggan untuk berfoto namun dia tidak mau Angel berpikir macam-macam lagi.
"Ayo Lou kita foto bareng sama nak Louis," ajak mamanya. Mama Ani yang tahu anaknya sedang lemas dan ragu untuk naik ke atas langsung bertindak.
"Iya Lou papa sudah lama tidak foto-foto sama nak Edrick."
"Iya ayo Ma, Pa kita foto bareng," ajak Louis mulai bersemangat kembali.
Sampai di pelaminan Edrick langsung menyalami tangan mama Ani dan papa dari Louis.
"Tante maafkan saya yah!" Edrick langsung meminta maaf karena merekalah yang sibuk mengurus pesta pernikahan ini malah Edrick yang menikmatinya bukan Louis.
"Sudahlah Rick tidak usah terlalu dipikirkan jodoh itu ditangan Tuhan jadi kami pikir Angel itu memang jodohmu dan kami juga sudah ngomong panjang lebar sama mama kamu tadi. Mama kamu bilang akan mengganti semua biayanya tapi bagi saya itu tidak perlu toh kamu juga sudah ku anggap anak sendiri seperti halnya Louis."
"Selamat ya Rick, Nak Angel semoga kalian bahagia selalu."
"Terima kasih Tante," jawab Angel sambil menunduk.
"Walaupun kamu tidak berjodoh sama anak saya tapi jangan sungkan-sungkan ya main ke rumah."
"Iya Tante."
"Nak Edrick jangan lupa bawa dia main ke rumah Tante."
"Oke Tante siap."
"Jadi nggak Ma foto-fotonya, kok malah ngomong dari tadi. Tuh masih banyak yang menunggu giliran.
"Iya Lou sewot amat sih, toh mereka bisa menunggu."
"Tapi aku harus segera pergi Ma, ada kepentingan yang mendesak."
"Kepentingan apa sih, bukankah kamu sudah ambil cuti ya hari ini?"
"Kepentingan lain Ma bukan pekerjaan."
"Apa dong?"
"Ada aja pokoknya, ayo cepat Ma!" Entah mengapa Louis mengkhawatirkan gadis tadi.
"Kenapa belum balik-balik sih. Kalau ada sesuatu sama gadis itu aku yang harus bertanggung jawab," gumamnya.
"Siapa?" tanya mama Ani.
"Ah bukan siapa-siapa."
Setelah berfoto-foto, Louis langsung bergegas menuju parkiran untuk mencari Nindy.
Malam pun tiba, acara telah usai. Para tamu sudah pamit pulang. Kedua mempelai sudah memasuki kamar pengantin.
Saat memasuki ruangan, akan terlihat pemandangan yang indah dengan warna putih yang mendominasi. Nampak elegan bernuansa hangat dengan lilin aromaterapi yang menghiasi tiap sudut ruangan dengan ranjang yang berhiaskan tirai dan bunga-bunga serta kelopak bunga mawar yang telah tertabur di tempat tidur. Sayangnya kehangatan itu tidak meliputi hati kedua mempelai.
Ketika memasuki ruangan mereka berdua memilih diam tidak ada satupun yang berbicara. Hawa dingin seakan menyerang hati keduanya sehingga membuat bibir mereka kelu untuk berucap satu sama lain menciptakan suasana canggung antar keduanya. Mereka seakan larut dalam pikirannya masing-masing.
Setelah setengah jam mereka duduk ditepi ranjang tanpa sepatah katapun, Angel terlihat menangis yang membuat Edrick akhirnya membuka suara.
"Gel kenapa kamu menangis, apa kamu menyesal telah menerima diriku?" Angel hanya menggeleng.
__ADS_1
"Terus kamu kenapa?"
"Aku kepikiran Louis," ucap Angel dengan bergetar.
"Lou...is? Mengapa hati Edrick merasa sakit melihat Angel masih memikirkan sahabatnya padahal mereka sudah menikah.
"Apa benar kamu mencintainya Gel?"
"Bukan Rick tapi kasihan dia. Kamu lihat sendiri, ruangan ini dia sudah menyiapkan sedemikian rupa padahal aku sudah memintanya untuk menata yang sederhana saja. Soalnya meski kami menikah kami tidak bisa melakukan hubungan suami-istri juga. Jadi tidak ada malam pertama buat kami seandainya kami jadi menikah sampai aku melahirkan bayi ini." Edrick bernafas lega karena Angel tidak lagi mengatakan dia mencintai Louis, berarti benar wanita itu selama ini memang membohonginya.
"Loh kenapa begitu? Bukankah kalau sudah menikah sudah halal ya?" heran Edrick.
"Karena aku mengandung anakmu jadi haram hukumnya kalau aku tidur dengan pria lain meski sudah sah menjadi suami-istri."
"Terus kalau tidur sama aku?" Edrick mengedipkan mata, dia mulai berani lagi.
"Apaan sih, auh ah aku mau mandi badan terasa lengket semua ini," sahut Angel sambil melangkah pergi.
"Gel!" panggil Edrick.
"Iya," sahut Angel dari dalam kamar mandi.
"Aku mandiin ya?"
"Nggak usah soalnya aku masih hidup, masih bisa mandi sendiri," teriak Angel dari dalam.
"Apaan sih Gel, siapa yang bilang kamu mati."
Sedangkan Angel di dalam kamar mandi merasa pusing karena sedari tadi belum berhasil membuka gaunnya.
"Ahh! Mengapa susah sekali sih bukanya." Angel kesal sendiri kemudian terpaksa menghampiri Edrick yang kini sudah terlihat rebahan di atas ranjang.
"Rick!" panggil Angel lirih.
"Kamu belum mandi?" kagetnya lalu menggoda, "Apa mau mandi bareng?"
"Ish, aku ke sini cuma minta bantu bukain ini," sahut Angel sambil menunjuk resleting gaunnya.
"Oh itu, baiklah ayo berbalik dulu!" Angel pun balik badan sesuai yang diperintahkan dan Edrick langsung membuka pengait gaun Angel.
"Sudah," ujar Edrick.
"Terima kasih," ucap Angel.
"Jangan terima kasih aja, sekarang giliran kamu bantuin aku."
"Bantu apa? Buka Jas?"
"Bukan tapi bangunin si Otong."
"Otong apaan sih, odong-odong?"
Gini nih resiko nikahi orang luar, nggak ngerti istilah.
"Bukan tapi itu tuh," tunjuk Edrick pada pahanya.
"Oh resleting celana? Kan bisa dibuka sendiri?"
"Nggak peka ah." Edrick ngambek.
Angel terkikik. "Hilangkan tatomu dulu baru aku mau tidur denganmu lagi." Angel merasa malu pada orang-orang karena dirinya sudah berhijab tapi suaminya masih tatoan.
Edrick menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kalau menunggu tato hilang bakal lama dia bisa unboxing Angel lagi. Padahal dia ingin memanfaatkan fasilitas kamar yang diberikan Louis ini.
__ADS_1
"Tapi tak apalah daripada tidak sama sekali," ucap Edrick pasrah lalu menelepon dokter untuk datang ke sana menghapus tatonya.
Beberapa saat kemudian Angel keluar dari kamar mandi dengan pakaian gantinya. Dia kemudian duduk merias diri. Dari balik kaca terlihat Edrick memandang tidak berkedip ke arah Angel.
"Kamu nggak mandi Rick?"
"Tanggung entar aja sekalian."
Tok tok tok. Terdengar ketukan pintu dari luar. Angel beranjak dari duduknya namun dicegah oleh Edrick.
"Biar aku yang buka." Edrick beranjak ke pintu dan membukanya.
"Mama!"
Angel yang merias diri berhenti dan menoleh ketika Edrick menyebut kata mama. Dia pun ikut menghampiri mamanya Edrick.
"Kalian baik-baik ya, jangan bertengkar. Mama pamit pulang dulu."
"Iya Ma," jawab keduanya serempak.
"Nak Angel saya nitip dia ya, kalau dia berbuat salah langsung saja ditegur."
"Iya Ma."
"Dan kamu Rick jaga dia baik-baik, jangan bikin dia kecewa lagi dan jangan sampai kamu menyesal lagi."
"Oke siap Ma."
"Ya sudah aku pergi dulu. Jaga cucu mama baik-baik kalau ngadon jangan kenceng-kenceng," ucap mamanya sambil mengelus perut Angel lalu Angel menyalami tangan mama Edrick.
"Mama tahu aja apa yang aku ingin."
"Aku pamit ya Nak," ucapnya pada Angel tanpa mempedulikan perkataan Edrick.
"Iya Ma."
Setelah mama Edrick pergi seorang dokter datang berkunjung.
"Rick kamu sakit?" tanya Angel khawatir.
"Nggak cuma mau ngilangin tato ini."
"Sekarang juga?" Angel kaget.
"Iya biar segera dapat jatah, lama si Otong berpuasa, habisnya nggak bisa tegak kalau bukan sama kamu."
"Rick," protes Angel bisa-bisanya Edrick bicara hal tabu di depan dokter. Angel jadi malu melihat dokter itu senyum-senyum sendiri.
"Kalau bisa yang langsung hilang sekarang juga Dok," pintanya pada dokter.
"Rick mana ada?" protes Angel.
"Ada lah, iya kan Dok?" Dokter tersebut tidak menjawab hanya terus tersenyum.
"Aku nggak mau menyia-nyiakan pengorbanan Louis yang sudah menyiapkan ini semua."
Angel menganga karena kaget. Mengapa Edrick gercep seperti ini? Apakah dia akan mengalah dan menuruti permintaan suaminya melihat Edrick benar-benar tulus mewujudkan keinginannya?
Entahlah tapi sepertinya Angel mulai luluh.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1