
Ketika mobil Louis sudah meninggalkan rumah, segera Nindy menyusup ke pintu gerbang agar bisa meloloskan diri. Namun sampai di pintu pagar ia ditahan oleh pak satpam. "Mau kemana Neng?"
"Ini pak saya mau belanja ke pasar," bohongnya pada pak satpam.
"Dengan pakaian seperti itu?" Pak satpam nampak tidak percaya menilik penampilan Nindy bukanlah seperti orang yang ingin pergi ke pasar.
Nindy mengerti bahwa pak satpam mencurigainya. "Eh anu pak saya ... tidak ada baju lain karena belum sempat mengambil baju saya di rumah." Nindy berasalan.
"Oh begitu ya, Tuan Louis sudah diberi tahu?"
"Iya sudah Pak, rencananya setelah berbelanja saya akan langsung pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju-baju saya."
"Ya sudah kalau begitu Neng hati-hati dan ingat harus pulang tepat waktu. Sebelum Tuan Louis pulang dari kantor saya harap neng sudah kembali."
"Siap Pak."
Pak satpam mengangguk dan membukakan pintu pagar. "Silahkan Neng."
"Terima kasih Pak," ucap Nindy tersenyum ramah pada pak satpam.
"Sama-sama Neng."
Nindy keluar dari pekarangan rumah Louis dengan perasaan senang. "Ugh, akhirnya aku bisa bebas juga," ucapnya sumringah sambil merentangkan tangan. "Selamat tinggal Tuan Louis semoga kamu tidak bisa menemukan aku lagi." Bicara sendiri.
Aku harus kemana ini? Kalau ke rumah bik Winda pasti dia akan bertanya macam-macam dan kalau aku jujur pasti dia akan memulangkan aku langsung ke rumah ayah, tapi kalau tidak pulang ke sana aku harus kemana lagi? Hem sudahlah tidak apa-apa aku kan bisa berbohong.
Nindy menyetop taksi yang kebetulan lewat.
"Pak antarkan aku ke jalan ini!" Nindy menunjukkan kartu alamat rumah Winda.
"Oke siap." Sopir taxi menjawab sambil mengangguk.
Kini Nindy menuju rumah Winda.
"Semoga bik Winda belum berangkat bekerja," gumamnya dengan penuh harap.
"Hai Nin kemana saja kamu beberapa hari ini?" Winda yang melihat Nindy turun dari taksi segera menyapa. Dia sekarang sudah siap dengan baju kerjanya.
"Melaksanakan hukuman bik dari Tuan Louis."
"Hukuman dari Tuan Louis? Emang kamu ngapain dia?"
"Bibi kan tahu sendiri saya menumpahkan minuman pada kemejanya waktu itu."
"Oh itu ya, saya pikir kamu bikin masalah baru."
"Ya nggaklah bik emang saya biang masalah apa."
"Ya sudah ini duplikat pintu rumah, aku harus pergi untuk bekerja. Nanti kalau sampai telat takut dipecat. Kamu kalau belum sarapan ambil makanan sendiri ya, semuanya sudah siap di dapur."
"Saya sudah sarapan bik tadi di rumah Tuan Louis. Hari ini aku mau kuliah saja, sebab beberapa hari ini saya sudah tidak masuk, pasti aku ketinggalan banyak mata kuliah."
"Yakin kamu mau kuliah hari ini? Tidak takut ayahmu mencarimu ke sana?"
"Yakin bik, lagipula ayah tidak mungkin mencari ku dia kan tidak pernah sayang sama aku."
__ADS_1
"Hus ngomong apa sih, ya sudah masuk rumah dulu sana sebelum berangkat dan aku berangkat duluan ya!"
"Ya Bik."
Setelah Winda pergi Nindy masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kuliahan, setelah itu mengambil tas ransel dan memasukkan laptop ke dalamnya. "Teman-teman i am coming!"
Sampai di kampus, keadaan nampak ramai sepertinya kampus sedang mengadakan acara. Nindy hanya celingukan memeriksa keadaan, menebak-nebak sekiranya acara apa yang akan diadakan di kampus hari.
"Hai Safa, kemana aja Lo selama ini," seseorang menepuk pundak Nindy.
Nindy menoleh "Hai Kirana apa kabar?"
"Kabarku baik. Jahat elo ah, beberapa hari ini menghilang tanpa kabar," ucap Kirana sambil memeluk sahabatnya.
"Sorry belum sempat menghubungi elo."
"Cih, belom sempet apa kelupaan?"
"Hehe...dua duanya."
Plak!
Kirana menepuk lengan Nindy, "Kebiasaan loh Saf selalu seperti itu."
"Kan aku udah minta maaf."
"Iya deh tapi beberapa hari ini nyokap kamu selalu datang ke sini buat nyariin kamu."
"Sendiri?"
"Biarin lah."
"Tapi tadi kembali lagi sama bokap Lo."
"Tadi kapan?"
"Baru saja, mungkin salipan tadi sama elo, elo masuk mereka keluar dari kampus."
"Sudah biarin aja."
"Serius kamu nggak mau pulang?"
"Nggak selama mereka belum percaya sama aku. Apalagi si kunyuk masih tinggal di situ. Bawaannya bikin males pulang."
"Ya sudah bagaimana baiknya saja lah," ujar Kirana pasrah.
"By the way ini ada apa ya kok rame-rame begini?"
"Pihak kampus mengadakan acara seminar dengan mendatangkan salah satu pengusaha untuk mengisi acaranya, tapi acaranya untuk umum bukan hanya mahasiswa saja sehingga orang-orang luar juga boleh ikut."
"Oh pantesan ramai banget nggak kayak biasanya."
"Iya makanya tadi bokap dan nyokap Lo cari lagi Lo ke sini mungkin mereka menyangka Lo akan hadir dalam acara ini."
"Berarti kedatanganku ke sini tidak tepat ya?"
__ADS_1
"Mungkin."
Saat mereka berbincang-bincang terdengar suara tangis dari seorang wanita.
"Ini semua gara-gara Mas, kalau Mas tidak terlalu keras sama Safa dia tidak akan meninggalkan kita. Dimana lagi kita akan mencarinya lagi, hiks...hiks...hiks. Di segala tempat sudah ku cari tapi tidak pernah ketemu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia? Pokoknya Mas harus bertanggung jawab, Mas harus bawa dia kembali ke rumah." Mendengar namanya disebut Nindy mencari arah sumber suara. Dia terpaku ternyata benar itu suara bunda Farah yang kini sedang duduk sambil berpangku lutut. Melihat ibunya seperti orang putus asa Nindy melangkah untuk mendekat namun Ketika hendak mendekat dia mengurungkan diri tatkala mendengar jawaban ayahnya.
"Alah tanpa dicari pun dia pasti akan pulang ke rumah. Kita lihat saja nanti seberapa lama dia bisa tahan hidup di luaran. Memasak nasi saja dia tidak becus bagaimana bisa mencari makan? Anak itu memang harus dikasih pelajaran kalau tidak dia bakal ngelunjak. Dijodohkan tidak mau malah mau merebut suami kakaknya sendiri. Mau jadi apa tuh anak?"
Nindy memejamkan matanya tanpa terasa air matanya meleleh. Dia begitu kecewa. Ternyata ayahnya masih saja lebih percaya pada Pras daripada anaknya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa Saf?" tanya Kirana khawatir.
Dengan sekuat tenaga dia berusaha tegar, lalu sejenak kemudian menghapus air matanya yang menggenang. "Kita pergi dari sini Ran, antarkan aku ke tempat acara."
"Oke ayo!" Kirana menarik pergelangan tangan Nindy dan membawanya ke aula kampus.
Saat memasuki ruangan, aula sudah tampak ramai. Orang-orang sudah banyak yang duduk di kursi tak sabar menunggu pemateri untuk mengajarkan mereka tentang management bisnis. Namun kursi yang dibelakang nampak sudah ful sehingga Nindy dan Kirana terpaksa duduk di deretan kursi nomor empat dari depan.
Beberapa saat mc memanggil pengisi acara dan memperkenalkan pada semua yang hadir.
"Dengan bangga saya akan memperkenalkan pemateri kita hari ini yaitu seorang pengusaha yang telah sukses mengelola salah satu perusahaan terbesar di kota ini. Tuan Louis Alfonso silahkan kami memberikan waktu dan tempat untuk anda."
Louis tampil ke depan, memperkenalkan diri kemudian mengisi acara dengan ilmu-ilnu bisnis yang bisa diterapkan semua orang untuk meraih kesuksesan.
Nindy terbelalak matanya tak berkedip memandang ke arah Louis. "Gila kenapa aku bisa ketemu dia lagi disini?" gumamnya. Apalagi saat melihat mulut Louis yang terus saja bicara dia tiba-tiba teringat akan kecupan di bibirnya.
"Ya Tuhan aku bisa gila kalau ingat itu terus."
"Hei nyebut entar kesurupan Lo sampai memandang tak berkedip seperti itu," ujar Kirana.
Nindy meraup wajahnya, salah tingkah.
"Emang ganteng sih tuh cowok andai saja dia mau sama aku, tiap malam Jum'at nanti ku bakar kemenyan."
"Emang dia hantu gitu sampai harus begitu?" Nindy terkekeh.
"Bukan tapi sebagai tanda kalau aku bersyukur bisa memilikinya."
"Bersyukur tuh sama Tuhan Buk bukan bakar kemenyan. Elo nggak tahu aja betapa ngeselinnya dia."
"Ngeselin? Emang kamu kenal dia?"
"Ah nggak," sahut Nindy berbohong.
Melihat sedikit berisik tamu di bagian depan Louis menghentikan bicaranya. Dia mencari arah sumber suara. Nindy menunduk tidak ingin terlihat oleh Louis. Kalau saja tadi dia punya kesempatan untuk keluar dia pasti akan pergi dan kabur dari tempat itu.
"Kirana halangi aku biar dia tidak bisa melihat ku."
"Cih katanya tidak kenal tapi malah mau sembunyi."
"Cepat lakukan jangan banyak bicara!"
"Iya, iya."
Louis yang melihat semua hanya mengulas senyum. "Awas kamu ya!"
__ADS_1
Bersambung.....