
Setelah mencari ke sana kemari tidak juga ketemu Adrian merasa sedikit putus asa. Apalagi kepolisian di sana terkesan lamban baginya, Adrian mulai ragu.
"Ah apakah polisi masih belum menemukan Annete atau malah tidak memproses laporan ku karena aku orang asing? Ataukah Annete memang ada di sekitar ku tapi dia menghindar kala melihat diriku? Hatinya dipenuhi banyak tanda tanya.
"Ah lebih baik aku minta bantuan Lexi saja."
Adrian meraih ponselnya di kantong celananya. "Halo Lex."
"Ada apa Dri?"
"Bisa bantu aku nggak Lex cari Annete soalnya sampai saat ini dia belum ketemu juga."
"Serius Dri, aku pikir sudah ketemu. apa kamu sudah mencarinya di rumahnya kembali?"
"Sudah Lex tapi dia tidak pernah pulang."
"Hufft, maaf Dri kalau untuk saat ini aku masih belum bisa bantu. Kenapa kemarin kamu tidak telepon aku lagi sih? Padahal kemarin aku sempat pulang ke sana tapi lupa ngabarin kamu karena saking sibuknya. Aku pikir Annete sudah ketemu, abisnya sejak waktu itu kamu nggak pernah nelpon aku lagi sih."
"Iya Lex mungkin karena pikiran ku yang kacau jadi aku tidak bisa berpikir jernih. Tapi benar nggak bisa bantu Lex?"
"Maaf Dri kalau saya sendiri nggak bisa terjun langsung karena Zidane masih koma. Biar nanti aku nyuruh anak buahku untuk membantu mencari."
"Apa Zidane koma?"
"Iya Dri dia kecelakaan."
Setelah mendengar kabar tersebut pikiran Adrian pecah jadi dua. di satu sisi dia harus mencari Annete tapi di sisi lain dia merasa tidak enak kalau tidak ada di samping Zidane saat dia sakit. Akhirnya setelah beberapa hari dia memutuskan untuk kembali ke negaranya untuk menjenguk Zidane sekaligus menenangkan pikirannya dulu sebelum melanjutkan pencariannya kembali. Apalagi dia sudah terlalu rindu pada Adel yang sudah lama dia titipkan pada Yuna.
Hari itu Adrian pulang dan langsung menuju ke rumah sakit milik Alberto tapi perawat di sana mengatakan Zidane sudah sembuh dan sudah kembali ke rumah.
Adrian langsung menuju ke rumah Zidane. Di sana tampak ramai. Adrian menjadi gusar jangan-jangan perawat tadi berbohong dan ternyata Zidane sudah meninggal.
Dengan penuh tanya Adrian masuk ke dalam pekarangan rumah Zidane.
"Hai Dri kenapa sudah pulang, sudah ketemu Annete nya?" sapa Lexi. Adrian bernafas lega karena ternyata Zidane duduk di samping Lexi. Berarti Zidane memang sudah sembuh pikirnya.
"Tapi ada acara apa kok tumben teman-teman pada ngumpul semua? Ah mungkin menyambut kepulangan Zidane dari rumah sakit," batin Adrian.
"Kenapa dia kucel banget?" tanya Zidane melihat penampilan Adrian yang tidak seperti biasanya. Hari ini dia terlihat lesu tak bergairah serta penampilannya acak-acakan.
"Biasa, permaisuri hatinya belum ketemu," jawab Dion.
"Belum Lex padahal anak buahmu sudah bantu tapi nihil tidak ketemu."
"Kenapa sudah balik?"
"Mengapa sudah balik?"
"Bagaimana aku tidak balik mendengar kabar sahabatku koma."
"Iya sorry aku lupa ngasih kabar kalau dia sudah sadar," ucap Lexi.
"Iya nggak apa-apa, aku juga khawatir dengan Adel soalnya aku titipkan dia sama Yuna. Rencananya pas balik aku mau bawa dia sekaligus."
Isyana yang sudah selesai mendandani bayinya ikut nimbrung bersama mereka semua.
"Jangan dibawa lah Dri biar di sini aja sekolah sama si kembar," timpal Isyana mendengar penuturan Adrian tadi.
"Iya tinggal di rumahku juga tidak apa-apa biar Juju ada temannya," sambung Kiara.
"Terima kasih ya kalian pada baik."
"Itulah Dri gunanya sahabat walau mungkin tidak bisa menolong tapi paling tidak bisa meringankan beban," ujar Zidane.
Adrian hanya mengangguk mendengar ucapan Zidane.
"Kamu tenang saja kami semua akan membantu sebisa mungkin."
"Iya nanti aku akan minta anak buahku untuk melacak bandara-bandara mungkin dia keluar dari Paris."
"Memangnya kamu yakin Annete pulang ke sana?" tanya Isyana.
"Kata mommy nya Lexi sih ia mereka kan pulangnya bareng." Lexi mengangguk membenarkan ucapan Adrian.
"Tenang Dri gue akan bantu juga, kebetulan gue punya teman di sana." Edrick ikut berbicara.
"Jangan deh nanti kamu malah..."
"Ya ampun masih nggak percaya sih sama gue. Dri udah berapa kali gue jelasin sama elo bahwa gue itu memang brengsek tapi gue tidak suka mengembat milik teman sendiri."
"Itu apa maksudnya Mas?" tanya Isyana karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Adrian.
"Biasa cuma salah paham dia."
"Dri sebaiknya kamu tinggal di sini untuk beberapa waktu soalnya bulan depan bang Andy sama Yuna akan menikah. Apa kamu nggak mau hadir?" ucap Zidane.
"Iya Dri, kita coba sambil cari-cari di sini siapa tahu Annete kembali ke negara ini." sambung Lexi.
"Baiklah akan saya coba cari di sini dulu," ujar Adrian.
"Wah bayi kamu udah lahir?" tanya Adrian karena baru sadar bahwa Isyana sedang menggendong bayi. Lalu ia mendekati dan melihat-lihat bayi Zidane. Ternyata ia belum sadar bahwa acara hari ini adalah acara baby-nya Zidane.
"Cantik Dan putrimu. Kapan ya aku memiliki kebahagiaan yang sempurna seperti dirimu."
Zidane menepuk pundak Adrian. "Sabar Dri semua ada waktunya. Yakinlah semua usahamu pasti akan membuahkan hasil, ya walaupun kamu tidak bisa menemukannya siapa tahu suatu saat ada seseorang yang mengantarnya kepadamu. Kau tahu dulu aku sudah mencari Isyana kemana-mana tidak pernah berhasil sampai di Dion pun waktu itu sudah menyerah. Kamu tahu malah si kembar yang membawanya kepadaku."
"Jangan salah bukan si kembar yang membawanya tapi aku," protes Lexi.
__ADS_1
"Iya kamu juga tapi kan kamu sudah ku beri hadiah."
"Hadiah?" Lexi mengernyitkan dahi mencoba berpikir Zidane pernah memberi dirinya apa. "Hadiah apa?"
"Tuh," tunjuk Zidane ke arah Ara.
"Enak aja aku bukan barang Bang," protes Ara.
"Cih itu aku berjuang sendiri kok buat ngedapatinnya."
"Itu Yuna sama Adel," tunjuk Vania ke arah Yuna dan Adel yang sedang melangkah ke arah mereka.
Menyadari ayahnya ada bersama orang-orang yang berkumpul, "Ayah!" Adel berteriak sambil berlari ke arah ayahnya.
"Adel apa kabarnya sayang?"
"Baik Ayah, bunda Annete sudah ketemu?"
Adrian menggeleng. "Nanti Ayah cari lagi."
Bersamaan dengan itu muncul sesosok orang yang mirip dengan Annete.
"Dri ternyata kamu ada di sini pantesan beberapa kali aku cari di rumah kamu tidak ada ternyata ada di sini."
Adrian dan Adel menoleh.
"Anisa?"
"Dia Adel kan?" tanyanya basa-basi padahal sudah pernah bertemu saat Adel bersama Annete.
"Adel bunda kangen, sini!" panggilnya pada Adel.
"Sejak kapan kamu punya anak?" sindir Adrian.
"Dri maafkan aku. Aku mohon kamu terima aku kembali ya. Aku janji akan menebus kesalahanku pada kalian berdua."
"Maaf tidak bisa waktu telah mengubah segalanya termasuk perasaanku padamu."
"Dri tapi..."
"Kalau kau ingin kembali kembalilah pada Edrick," tukas Adrian.
"Ada hubungan apa sih Edrick sama mantan istri Adrian?" tanya Vania.
"Om Edrick selingkuh sama istri orang ya?" sambung Ara.
"Dri sebenarnya aku dan Edrick tidak ada hubungan apa-apa, waktu itu aku cuma..."
"Aku tidak peduli mau kamu punya hubungan kek tidak kek sudah bukan urusanku lagi."
Dion hanya terkekeh. "Kasihan Edrick jadi korban."
"Baiklah Dri kalau kita tidak mungkin bersama izinkan aku untuk memeluk Adel."
"Sini Nak!"
Adel menggeleng sambil mendekap erat Yuna. "Tidak mau!"
"Adel itu bunda kamu," ucap Yuna memberi pengertian.
"Bukan dia bukan bunda aku," ucap Adel seperti orang ketakutan.
"Aku hanya mau Bunda Annete," lanjutnya.
"Iya Tante mengerti tapi dia bunda yang telah melahirkan kamu," ucap Yuna dengan suara halus.
"Tidak dia tidak menginginkan kelahiranku kan? Kalau tidak mengapa dia meninggalkanku sama ayah berdua? Lagipula wanita itu jahat dia kemarin yang membuat bunda Annete menangis lalu meninggalkan Adel pergi. Dia bukan bundaku dia wanita jahat!" teriak Adel sambil menangis.
"Kamu pergi sana, jangan buat anakku ketakutan!" ucap Adrian menekankan pada kata 'anakku.'
"Aku tidak mau pergi sebelum kamu mengatakan akan menerima ku kembali."
"Cih, jangan mimpi kamu!" bentak Adrian.
"Dri kamu harus ingat statusku masih sebagai istri sahmu."
"Oh begitu ya? Kebetulan kalau begitu. Sebentar!" Adrian melangkah ke belakang rumah kemudian mengambil ponselnya dan menelpon bibi Sri untuk mengantarkan surat perceraian mereka. Setelah itu kembali lagi ke tempat mereka berkumpul sedang Anisa juga ikut duduk di samping Yuna.
Suasana terasa mencekam tidak ada satupun yang berbicara. Semua yang hadir hanya saling pandang dan saling kode-kode dengan yang lain.
Tak begitu lama bibi Sri datang dengan membawa map di tangannya.
"Ini Tuan." Bibi Sri menyodorkan berkas di tangannya pada Adrian dan Adrian menerimanya.
"Terima kasih bibi bisa kembali."
Bibi Sri mengangguk dan memandang tidak suka ke arah Anisa lalu pergi dari tempat itu.
Adrian menghampiri Anisa menyodorkan kertas itu ke hadapannya. "Tanda tangani kalau kau ingin aku mengizinkan kamu bertemu Adel dan menganggap mu bundanya."
Adrian bernafas lega kala Anisa mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Surat cerai?"
"Ya aku sudah siapkan dari dulu surat ini setelah tahu kamu memilih meninggalkan Adel tapi sayangnya sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengan mu."
"Kamu pikir aku mau bercerai dengan mu hah?"
"Mau tidak mau kita harus bercerai karena aku sudah tidak mencintai mu lagi."
__ADS_1
Sreeet....
Anisa menyobek kertas itu. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bercerai dengan mu. Kau tidak akan menjadi milik siapapun. Kau akan tetap menjadi milikmu selamanya."
"Nis jangan egois kamu." Adrian murka, ia mendorong tubuh Anisa sampai terbentur di lantai.
"Dri kamu...." Anisa tidak menyangka Adrian bisa sekasar itu.
"Sabar Dri," Dion mengingatkan.
"Aku sudah cukup bersabar selama ini Yon tapi kali ini aku tidak mau dia menghancurkan kebahagiaan ku lagi." Adrian masih dikuasai amarah, di kedua sudut matanya tampak memerah.
"Nis lebih baik kamu pulang dulu lain kali kalian bicarakan masalah kalian baik-baik. Kalau kalian bertengkar di sini tidak enak soalnya para tamu sudah berdatangan ini." Yuna berucap dengan halus agar Anisa mau meninggalkan tempat.
Akhirnya karena di sana mulai ramai karena banyak tamu undangan berdatangan Anisa memilih untuk pergi dari sana tapi di dalam hati dia geram sekali.
"Awas ya kalau aku ketemu dengan wanita itu lagi akan aku
hancurkan sampai dia tidak ingin lagi ada di samping Adrian dan Adel!" batinnya sambil melangkah pergi.
Setelah acara aqiqah bayi Zidane dan acara makan-makan selesai mereka berkumpul kembali.
"Dan aku nginap di sini ya, mau pulang ke rumah males takutnya Anisa pulang ke sana."
"Iya Dri kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun kamu mau."
"Rencananya lusa aku akan balik lagi ke Paris Dan tapi kamu tenang saja aku akan hadir bulan depan di pernikahan Yuna dan Andy." Adrian mengurungkan niatnya mencari Annete di negara ini.
"Kalau menurutku kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan Anisa Dri. Aku tahu Annete itu seperti apa kalau kamu ketemu sama dia sebelum kamu bercerai dengan Anisa bukan tidak mungkin dia tidak akan ikut denganmu."
"Nah kata Isyana itu ada benarnya Dri," ucap Yuna.
"Iya mungkin Tante Annete selama ini memang menghindar darimu Om," timpal Ara. "Jadi Om selesaikan dulu urusan dengan mantan atau istri Om itu. Ah susah manggilnya apa."
"Panggil aja Anisa," kata Zidane.
"Tapi Annete bagaimana? Siapa yang akan mencarinya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia?"
"Biar Mas Zidane sama Lexi yang mencarinya."
"Loh kok Mas Lexi sih Mbak?" protes Ara.
"Kenapa kamu cemburu ya? Katanya dulu mau mendua dengan Annete," goda Lexi.
"Aku bukan cemburu sama Tante Annete tapi sama Mbak Syasa. Kalian berdua ada misteri apa sih selama ini? Ngapain juga mbak Syasa ngatur-ngatur suami saya." Ara sensitif.
"Misteri ilahi," jawab Zidane
"Ya ampun apa sih maksudnya ini?" Isyana tak mengerti.
Lexi menunjuk ke arah Zidane. "Gara-gara dia nih."
"Jelaskan Om ada hubungan apa Om Lexi sama Mbak Syasa dulu. Katanya mau jelasin sampai saat ini belum kasih tahu Ara juga. Jangan-jangan baby Fazila anaknya om Lexi lagi." Ara merajuk entah kenapa sejak kehamilannya dia sering berpikiran negatif.
"Jelaskan Lex, kamu tahu kan apa tandanya kalau dia sudah memanggilmu om kembali." Sekarang Andy yang buka suara sambil terkekeh.
"Jelaskan Lex, aku nggak mau ya dibawa-bawa ke dalam rumah tangga kalian." Lexi hanya menelan ludah mendengar ucapan Isyana.
"Sabar Sayang!" ujar Zidane sambil mengusap-usap punggung Isyana."
"Untung Mas Zidane percaya sama aku kalau tidak bukan cuma rumah tangganya yang retak tapi rumah tanggaku juga." Isyana menanggapi serius. Ternyata bukan cuma orang PMS dan hamil saja yang sensitif ibu yang lagi nifas juga.
"Baiklah aku ngaku, aku dulu menyukai Isyana tapi dia menolak ku." Ara cemberut mendengar pernyataan Lexi.
Tristan menarik pergelangan tangan Adel. "Yuk Del ke sana aja daripada kita harus di sini melihat para orang tua yang banyak dramanya."
"Ayo," ucap Adel mengikuti langkah Nathan dan Tristan.
"Tapi itu kan dulu sayang sekarang percaya deh cuma kamu di hatiku," ucap Lexi sambil memegang dagu Ara.
"Gombal!" ucap yang lainnya serentak membuat kedua bola mata Lexi melotot. Bisa-bisanya semua orang memanas-manasi Ara.
"Alamak tidur di luar nih kayaknya aku nanti malam ini," batin Lexi.
Sedang mereka tertawa menertawakan Lexi dan Ara, Edrick menarik Zidane ke dalam rumah.
"Apa sih Rick?"
"Dan aku yang mau ikut sama kamu saja, sepertinya saya tahu di mana Annete berada. Tapi kamu jangan beritahu Adrian dulu ya takutnya aku salah orang atau Adrian menuduhku macam-macam seperti waktu itu dengan Anisa. Aku tidak mau difitnah lagi Dan."
"Ya sudah kapan kita berangkat?"
"Besok boleh, yang penting kamu diizinkan oleh istri kamu."
"Baiklah Rick kamu persiapkan segalanya. Kalau masalah Isyana aku yakin pasti mengizinkan."
"Ya sudah besok aku telepon kamu."
"Oke."
"Sip."
Setelah itu mereka bergabung kembali di teras rumah.
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan jejak! Terima kasih🙏
__ADS_1