Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 46. Baju Pernikahan


__ADS_3

Malam itu Nindy memutuskan untuk menginap di rumah sakit hingga menjelang pagi.


Pak Ramlan yang berada dalam kepura-puraan akhirnya malam itu juga menyerah karena tidak tahan dan memilih berakting telah sadar kembali dari pingsannya di depan Nindy.


"Ayah sudah sadar?" tanya Nindy pada Pak Ramlan dengan tersenyum sumringah.


"Iya, kamu sudah lama di sini?" tanya balik pak Ramlan.


"Iya Yah, maafkan Safa ya yang jarang nengokin ayah."


"Iya nggak apa-apa Nak, ayah ngerti kok akhir-akhir ini kamu pasti sibuk."


Nindy mengangguk.


"Dan selain sibuk kamu banyak pikiran kan?" batin pak Ramlan.


"Ayah, Safa mohon jangan tinggalin Safa ya Yah." Gadis itu berucap sambil memeluk sang ayah.


"Doakan saja ya Nak ayah masih diberi umur yang panjang biar masih bisa menimang cucu ayah nanti."


"Iya Yah pasti Safa doakan yang terbaik untuk ayah." Nindy mengurai pelukannya dan beralih menatap wajah sang ayah dengan sendu, mengingat ucapan dokter bahwa umur ayahnya tidak akan bertahan lama.


"Saf kamu sudah dewasa Nak, dan sekarang sudah punya pekerjaan sendiri. Apakah kamu masih belum mau menikah?" tanya pak Ramlan kemudian dengan penuh harap.


"Safa tahu Yah, ayah pasti ingin Safa menerima perjodohan itu kan?" Nindy langsung mengerti arah pembicaraan sang ayahnya.


"Iya Nak."


"Iya Yah Safa mau," ucap Nindy dan langsung menunduk.


"Terima kasih ya Nak." Pak Ramlan langsung meraih tubuh Nindy dan mendekapnya.


"Kamu istirahatlah biar bunda yang jagain ayah kamu," perintah Farah. Nindy mengangguk lalu beranjak ke arah sofa. Setelahnya berbaring dan memejamkan mata. Karena saat ini dia merasa sangat lelah akhirnya terlelap dengan cepat.


Pagi hari setelah menyuapi ayahnya Nindy pamit pergi hanya untuk mengecek keadaan di kantornya.


Sampai di depan kantor dia sudah disambut dengan kehadiran Louis. Namun dengan ekspresi datarnya dia melewati Louis yang sedang berdiri di depan pintu masuk.


"Nin aku mau bicara." Louis mencekal pergelangan tangan Nindy agar tidak menghindar darinya.


"Baiklah kita bicara di dalam," ucap Nindy masih dengan ekspresi yang tidak berubah.


Louis melepaskan tangan Nindy dan ikut masuk ke dalam.


"Duduklah dulu aku mau bicara sama karyawanku sebentar."

__ADS_1


Louis mengangguk dan duduk di sebuah sofa dalam ruangan Nindy. Nindy berjalan mendekati karyawannya. Mereka terlihat berbincang-bincang sebentar. Setelah karyawannya mengangguk tanda mengerti, Nindy langsung berjalan menjauh. Beberapa saat kemudian dia melangkah ke arah Louis kembali dengan membawa segelas minuman.


"Diminum dulu!" Nindy menyodorkan gelas berisi minuman itu ke tangan Louis. Louis tersenyum karena menganggap Nindy sudah tidak marah lagi padanya. Ia lalu meneguk minumannya sampai tandas.


"Ada apa?" tanya Nindy sambil duduk di sofa yang berseberangan dengan Louis.


"Sebelumnya aku minta maaf. Kedatangan ku ke sini untuk menjelaskan semuanya agar tidak ada salah paham lagi diantara kita." Louis menjeda ucapannya.


"Sebenarnya yang kau lihat itu foto..."


"Memang fotomu kan? Sudahlah Lou tidak perlu minta maaf bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi kan? Terserah kamu mau ngapain apa saja di luaran sana. Kamu bebas, aku tidak akan pernah ikut campur lagi. Sudah bukan urusanku kan?"


"Nin aku tidak ingin berpisah denganmu, aku mencintaimu Nin."


"Dan mencintai dia juga kan? Bahkan kalian telah berbuat sesuatu yang melewati batas." Nindy memotong ucapan Louis. Dia masih merasa kesal mengingat foto itu.


"Dengarkan aku dulu!" Wajah Louis tampak memerah melihat Nindy tidak memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Maaf aku tidak sanggup mendengarkan semuanya. Lagi pula apapun penjelasanmu tidak akan bisa merubah takdir bahwa kita memang harus berpisah."


"Apa maksudmu? Apa yang katakan?!" Louis tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Aku akan segera menikah."


"Menikah? Dengan siapa?" Louis terlihat syok.


"Kenapa? Apa karena kau kecewa padaku? Bukankah dulu kamu sangat menentang perjodohan itu? Apa sedangkal itu cintamu padaku?"


Nindy menghela nafas panjang.


"Izinkan aku menjadi anak yang patuh terhadap orang tua Lou. Mungkin dengan begini aku bisa berbakti pada mereka. Aku sudah sering membuat mereka kecewa."


"Tapi bukan begini kan caranya? Kamu bisa berbakti dengan cara yang lain kan?" Louis nampak gusar.


"Lou maafkan aku tapi ku mohon kau mengertilah keadaanku. Dokter telah memprediksi umur ayahku tidak lama lagi. Jadi aku harus memenuhi permintaan terakhirnya untuk menikah dengan jodoh pilihannya."


Louis menggeleng. "Itu tidak boleh terjadi Nin aku tidak akan melepaskan mu. Aku rela melakukan apa saja agar aku yang menikah denganmu. Kalau perlu kita akan kawin lari sekarang juga."


Nindy terbelalak mendengar perkataan Louis. "Itu berarti kamu ingin membunuh ayahku saat ini juga."


"Bukan begitu Nin tapi aku tidak ikhlas kamu menjadi milik orang lain."


"Sudahlah Lou lebih baik kita belajar untuk saling melupakan. Saling mengikhlaskan. Bukankah cinta itu tidak harus saling memiliki kan?"


Louis mendesah. "Jadi itu keputusanmu? Bagaimana kalau pria itu tidak mencintaimu? Dan apakah kamu bisa mencintainya?"

__ADS_1


"Aku akan belajar mencintainya dan kalau dia tidak mencintaiku aku akan terus berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padaku."


Mendengar ucapan Nindy Louis kecewa. "Baiklah semoga kau bahagia dengannya. Aku permisi!" Louis bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar tanpa melihat wajah Nindy.


Setelah Louis berjalan tanpa melihatnya tak terasa air mata yang ditahan oleh Nindy luruh sudah. Sedari tadi dia hanya berpura-pura tegar saja.


Louis berbalik, melihat wajah gadis itu yang berurai air mata Louis tahu gadis itu sebenarnya juga terluka.


Louis kembali ke arah Nindy lalu mendekap erat tubuh gadis itu. "Terima kasih telah singgah di hidupku, nanti kalau kamu tidak bahagia kamu bisa kembali padaku lagi. Aku akan selalu menunggumu." Setelah itu Louis melepaskan pelukannya dan pergi tanpa menoleh lagi.


Setelah Louis pergi semakin berderai saja air mata Nindy.


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


"Lou ikut mama!" Mama Ani yang melihat putranya uring-uringan langsung menarik pergelangan tangan Louis.


"Mau kemana Ma? Louis malas," tolak Louis sambil melepaskan pegangan mama Ani.


"Sudah ayo ikut saja daripada pikiranmu kosong nanti kemasukan setan."


Louis menggaruk kepalanya lalu mengangguk dengan malas.


"Nah gitu dong, itu baru namanya anak mama."


"Sudah ayo!" Louis pun mengikuti langkah kaki mama Ani menuju mobil.


"Mau apa kita ke sini Ma?" tanya Louis heran ketika mama Ani meminta sopir untuk berhenti di depan butik.


"Mau pesan baju lah emang ngapain lagi?"


"Ya sudahlah ayo!" ajak Louis pada mama Ani. Sampai di dalam mama Ani tampak mengobrol dengan pemilik butik sedangkan Louis memilih duduk di kursi tunggu.


"Ayo Mas dipilih gaunnya!" Pemilik butik berbicara pada Louis dan pria itu hanya mengernyitkan dahi tidak mengerti. Dia pikir mama Ani yang mau pesan baju tetapi kok Malah dirinya yang dipanggil.


"Ada apa Mbak?"


"Dipilih Mas mana yang cocok setelah itu boleh dicoba, atau kalau tidak ada yang sesuai biar kamu nanti jahitkan yang baru."


"Ada apa ini Ma?" tanya Louis tak percaya mama Ani memesankan dirinya baju pengantin.


"Siapa yang mau menikah?" tanyanya lagi pada mama Ani karena tidak mendengar jawaban dari pertanyaannya.


"Ya kamu lah memang siapa lagi?"


"Apa?!" Louis kaget dan tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2