Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 42. Rencana Licik


__ADS_3

"Semoga berhasil," ucap Lisfi terkekeh kemudian mereka tertawa bersama.


Tawa mereka terhenti tatkala ponsel Mala terdengar berdering. "Sebentar ya aku angkat dulu," ucap Mala pada Lisfi.


"Oke."


Sesaat kemudian setelah mengakhiri teleponnya. "Maaf ya Lis saya hanya bisa antar kamu sampai sini soalnya tiba-tiba ada kepentingan mendesak."


"No problem, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya."


"Dan aku pergi dulu bye," ucap Mala sambil melambaikan tangannya dibalas lambaian tangan pula oleh Lisfi kemudian dia beranjak menuju meja resepsionis untuk menanyakan nomor kamar tempat ayahnya dirawat.


Lisfi masuk ke dalam kamar rawat Ramlan. Namun sebelumnya ketika sampai di depan pintu dia mendengar percakapan antara mama Ani dengan Farah yang membahas tentang persiapan pernikahan kedua putra-putrinya di depan Ramlan. Kebetulan saat itu Nindy pamit keluar ingin membeli sarapan pagi untuk mereka bertiga.


"Siapa nih bunda yang mau nikah?" tanya Lisfi pura-pura tidak tahu padahal sudah mendengar pembicaraan keduanya tadi. Farah tidak menjawab, dia memilih diam sambil terus menyuapi bubur buatan rumah sakit ke mulut suaminya. Dia masih sangat kesal dengan Lisfi.


"Bagaimana keadaan ayah Bun?" Lisfi ikut duduk di samping Ramlan.


Ramlan melirik Lisfi sedang Farah mendongakkan wajahnya kemudian menatap tajam ke arah Lisfi.


"Kenapa masih tanya? Lihat saja sendiri bagaimana ulahmu telah membuat ayahmu seperti ini. Ku pikir kepergian mu ke sini benar-benar ingin bekerja nyatanya dirimu hanya ingin menjual diri saja. Kenapa harus jauh-jauh ke sini hah kalau hanya untuk menjual diri? Di Jakarta pun kamu bisa menjual dirimu itu. Bunda kecewa sama kamu Lis."


"Bunda! Apa yang bunda katakan? Semua yang bunda tuduhkan itu tidak benar. Itu hanya fitnah." Lisfi geram Farah malah percaya dengan perkataan orang-orang.


"Fitnah kamu bilang? Setelah apa yang ayah kamu lihat sendiri kamu masih mau mengelak?!" bentak Farah.


"Apa yang terlihat tidak selamanya benar."


"Kamu memang benar. Hari ini kami sadar bahwa memang apa yang terlihat tidak selalu benar. Kamu terlihat begitu penurut dan begitu pandai di mata kami nyatanya kau adalah anak pembangkang dan bodoh. Satu lagi ternyata kau adalah wanita munafik yang suka memfitnah adikmu sendiri."


"Oh dia mengadu rupanya? Ya sudahlah kalau bunda lebih percaya sama dia aku pergi saja." Lisfi keluar dengan kecewa. Farah hanya geleng-geleng kepala dan membiarkan wanita itu berlalu pergi.


Saat melangkah keluar melewati koridor rumah sakit, Lisfi mengingat akan pembicaraan antara mama Ani dan Farah yang tidak sengaja dia dengar tadi.


"Jadi dia mau dinikahkan sama anak pak Zaki? Keenakan dia setelah membuat hubunganku berantakan bersama Pras dia malah akan bahagia dengan pak Louis. Ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa sih dia suka menggaet pasangan orang lain. Sudah tahu Pras memilih ku masih saja dia merayu dan sekarang malah merebut kekasih Mala." Lisfi gregetan sendiri.

__ADS_1


Sampai di luar kamar dia langsung menelpon Mala dan memberitahukan apa yang didengarnya tadi.


๐Ÿ“ฑ"Benarkah mereka akan menikah?" tanya Mala kaget.


๐Ÿ“ฑ"Ya, yang saya dengar begitu."


๐Ÿ“ฑ"Kamu masih mau bantu aku kan?"


๐Ÿ“ฑ"Siap, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


๐Ÿ“ฑ"Kita harus membatalkan pernikahan mereka."


๐Ÿ“ฑ"Caranya?"


๐Ÿ“ฑ"Tunggu aku pikir-pikir dulu." Mala tampak merenung memikirkan cara yang paling tepat untuk menggagalkan pernikahan tersebut.


๐Ÿ“ฑ"Katakan pada wanita itu bahwa pak Louis bukan pria baik-baik. Dia tidak pernah serius dengan wanita. Dia itu seorang cassanova yang hanya butuh wanita di atas ranjang saja. Setelah bosan langsung dilempar begitu saja."


๐Ÿ“ฑ"Kamu pikir dia akan percaya hanya dengan perkataan itu saja? Hah, kamu tidak tahu siapa dia. Kalau tidak ada bukti dia tidak akan pernah percaya apalagi sama omonganku yang dia anggap selalu saja mengada-ada."


๐Ÿ“ฑ"Oke aku tunggu bukti itu."


๐Ÿ“ฑ"Bentar." Mala tampak mengacak-acak ponselnya. Setelah menemukan foto yang dicarinya ia tersenyum puas. Tanpa pikir panjang ia langsung mengirimkannya kepada Lisfi. Lisfi terlihat kaget melihat kiriman foto dari Mala.


๐Ÿ“ฑ"Yakin kamu akan menunjukkan foto ini pada Safa?"


๐Ÿ“ฑ"Yakinlah kenapa tidak?"


๐Ÿ“ฑ"Gila kamu. Ini bukankah akan membuka aibmu sendiri?" Bagaimana Lisfi tidak akan berkata begitu melihat foto yang dikirimkan oleh Mala adalah foto wanita itu sendiri yang terlihat telanjang dan memeluk Louis yang juga tampak bertelanjang dada. Untung saja bagian tubuh bawahnya tertutup selimut.


๐Ÿ“ฑ"Ada yang salah?"


๐Ÿ“ฑ"Ya jelas lah salah bagaimana kalau Safa malah menyebarkan foto ini?"


๐Ÿ“ฑ"Tidak mungkin, dia tidak akan berani. Kalau sampai itu terjadi bukan cuma namaku yang hancur tapi juga nama pak Louis dan saya yakin pak Louis tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Namun kalau itu sampai terjadi pasti perempuan itu akan kena hukuman darinya."

__ADS_1


๐Ÿ“ฑ"Kamu yakin?"


๐Ÿ“ฑ"Yakin dan kamu jangan khawatir kamu hanya perlu mencetak foto ini dan memberikannya pada wanita bernama Safa itu."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah kalau begitu aku tutup teleponnya dulu ya. Aku mau cetak ini sebentar mumpung orangnya lagi di sini." Lisfi melirik Nindy yang berjalan melewatinya dengan menenteng sebuah bungkusan. Untung saja Nindy tidak melihat dirinya.


๐Ÿ“ฑ"Oke."


Sambungan telepon berakhir, Lisfi melangkah ke luar dan menuju studio yang ada di seberang jalan depan rumah sakit. Kalau saja dia bawa laptop dia pasti akan memilih mencetaknya sendiri karena sedikit risih dengan foto yang akan dibawanya ke studio sekarang.


Dengan langkah sedikit ragu ia memasuki studio dan mengutarakan keinginannya pada penjaga studio di sana.


Setelah selesai Lisfi langsung menulis apa yang dikatakan oleh Mala tadi di belakang foto tersebut. Cara ini dirasa lebih efektif ketimbang dia harus bicara langsung pada Nindy yang belum tentu akan didengarnya.


"Beres," ucap Lisfi tersenyum sumringah. Lalu ia kembali ke rumah sakit. Dia mencari-cari waktu agar bisa menyelipkan foto tersebut ke dalam tas Nindy. Namun sepertinya tidak ada celah karena sedari tadi Nindy terus saja duduk di samping ayahnya setelah selesai makan bersama ibu dan calon mertuanya.


"Ayah mau makan lagi? Kebetulan tadi Safa beli lebih," tawarnya pada Ramlan. Dengan susah payah Ramlan menggeleng. Walau hasilnya hanya gerakan kecil saja tapi Nindy mengerti bahwa ayahnya tidak mau makan lagi.


"Ya sudah kalau ayah sudah kenyang." Nindy meletakkan makanannya kembali. Kemudian dia merubuhkan kepalanya di samping ranjang pak Ramlan dan langsung terlelap dengan posisi yang masih terduduk. Dia terasa lelah karena setelah bekerja seharian dia harus langsung menuju kota ini dan tidak tidur sejam pun.


"Kok malah tidur di situ sih," protes Farah, dia bangkit hendak membangunkan Nindy supaya berpindah ke sofa saja tapi ditahan boleh mama Ani.


"Biarkan saja dia di situ dulu kalau dibangunkan takutnya tidak bisa tidur lagi. Kasihan dia akhir-akhir ini saya lihat dia nampak sibuk.


Farah mengangguk kemudian duduk di samping putrinya. Dia hanya membelai-belai rambut Nindy tanpa berniat membangunkan putrinya itu.


"Bunda." Nindy justru terbangun oleh sentuhan Farah.


"Tidur di sofa saja biar bisa nyenyak."


"Tidak bunda aku mau dekat-dekat sama ayah saja."


"Ya sudah terserah kamu saja kalau begitu." Nindy menguap lalu kembali ke posisi semula dan tidur kembali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2