
Setelah Lexi menyudahi ceritanya tiba-tiba Zidane mengingat sesuatu.
"Gawat Lex, putar balik Lex!" perintahnya.
"Gawat apanya sih Bang?"
"Itu pria tadi, yang membantu Annete, kita kelupaan membawanya ke rumah sakit."
"Astaga bang Zidane mengapa kita mesti melupakannya sih? Bagaimana kalau dia koid?"
"Hus ngomong apa sih kamu, ucapan itu adalah doa loh. Cepat putar balik!"
"Iya-iya Bang."
Lexi pun memutar balik kemudi dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya. Takut-takut pria itu dalam keadaan bahaya karena Lexi sempat melihat tadi ketika masih melawan anak buah Max, pria itu terluka parah. Pria itu telah membantu Annete, bagaimanapun kesehatan dan keselamatannya adalah tanggung jawab mereka juga.
"Cepat Lex!"
"Ini udah cepat Bang kalau ditambah lagi kecepatannya bisa-bisa kita yang ketemu malaikat maut duluan. Bang Zidane mau Syasa menikah lagi?"
"Apaan sih Lex! Dalam keadaan seperti ini sempat-sempatnya ya masih ngomong seperti itu."
"Ia sorry Bang!"
Dalam beberapa menit pun mobil sudah terparkir kembali di tempat semula. Lexi dan Zidane segera turun dan mencari pria tersebut. Ternyata pria itu sudah ada yang menolong dan hendak mengangkatnya ke dalam mobil mereka.
"Hei tunggu!" Zidane menghentikan langkah mereka.
"Dia teman kami tolong masukkan ke dalam mobil kami dan kami akan segera membawanya ke rumah sakit," timpal Lexi.
Orang-orang yang mengangkat Nicko tidak ada yang bersuara, mereka hanya mengangguk dan menuruti perintah Lexi memasukkan tubuh Nicko ke dalam mobil mereka.
Setelah tubuh Nicko berada dalam mobil segera Zidane masuk ke jok belakang untuk menemani Nicko yang kini sudah dalam keadaan pingsan sedangkan Lexi kembali ke tempat duduknya dan menyetir mobil itu kembali ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung membawa Nicko ke ruang ugd dengan bantuan perawat di sana.
Setelah Nicko sudah ditangani dokter, Zidane dan Lexi duduk di sebuah bangku dan bisa sedikit bernafas lega. Mereka hanya bisa berharap dan berdoa supaya keadaan Nicko tidak parah dan bisa cepat sembuh.
Dari arah lain terlihat Edrick dan Angel yang berjalan ke arah mereka. Tampak perban di lengan Angel.
"Ngapain kalian di situ?" tanya Edrick yang melihat Lexi dan Zidane malah duduk di depan ruang UGD.
"Annete ada di ruangan yang di sebelah sana," lanjutnya.
"Kamu darimana?" tanya balik Lexi.
"Habis nganterin dia ngobatin luka-lukanya," tunjuknya pada Angel.
"Dia siapa?"
"Oh ini. Kenalkan dia ini teman saya juga teman Annete, namanya Angel." Edrick memperkenalkan Angel.
Angel mengulurkan tangannya pada Lexi dan Zidane.
"Angel."
"Zidane."
__ADS_1
"Angel."
"Lexi."
Bukannya melepaskan pegangan tangannya Lexi malah termenung.
"Lepaskan!" perintah Edrick.
"Ah iya sorry," ucap Lexi.
Zidane menyikut lengan Lexi. "Kenal Lex?"
"Ah nggak."
"Tapi kenapa tadi melamun?"
"Oh itu aku cuma kaget saja, soalnya namanya sama dengan mantanku," ujar Lexi.
"Tapi bukan dia kan? Atau tadi kau pikir dia? Ku bilangin Ara nih."
"Bukanlah Bang. Jangan ngadu- ngadu sembarangan ah!"
"Ya sudah kita ke ruangan Annete yuk!" ajak Edrick.
"Kamu duluan lah Rick aku masih ingin tahu kondisinya pasien yang ada di dalam ini."
"Emang siapa yang di dalam?"
"Yang bantu Annete kabur."
"Nicko? Yang di dalam Nicko?" tanya Angel.
"Berarti benar dong."
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
Zidane segera menghampiri dokter tersebut diikuti Angel di belakangnya.
"Anda keluarganya?"
"Iya Dok." Angel yang menjawab.
"Bagaimana keadaan pasien Dok?" tanya Zidane.
"Pasien sudah sadar tapi karena di beberapa tubuhnya mengalami cidera maka saya menganjurkan supaya pasien di rawat di sini dulu untuk beberapa hari sampai sembuh total."
"Baik Dok, lakukan yang terbaik untuknya," ujar Zidane.
"Pasti. Untuk saat ini pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan dulu."
"Iya Dokter."
Dokter memerintahkan beberapa perawat untuk memindahkan Nicko ke ruang intensif. Zidane dan semuanya mengikuti arah di mana Nicko akan dipindahkan. Setelah sedikit berbicara dengan Nicko akhirnya semua orang meninggalkan tempat karena akan menjenguk Annete.
"Bagaimana keadaannya Dri?" tanya Lexi.
"Sudah mendingan Lex, palingan besok pagi sudah boleh pulang," jawab Adrian.
__ADS_1
"Nicko apa kabarnya?" tiba-tiba Annete teringat akan lelaki itu.
"Nicko siapa?" tanya Adrian yang memang tidak tahu siapa Nicko itu.
"Dia itu orang yang nolong aku Mas," jawab Annete.
"Oh." Adrian menjadi lega padahal tadi dia berpikir Nicko adalah kekasih Annete.
"Dia mengalami cedera Net, tapi tenang saja dokter bilang keadaannya tidak terlalu parah hanya perlu menjalani perawatan secara intensif," ujar Zidane.
"Kalau begitu aku tidak ingin pulang sebelum Nicko sembuh, dia begitu gara-gara aku." Annete merasa bersalah.
"Mas Adri mau kan nemenin aku jagain dia sampai sembuh?" Adrian hanya mengangguk.
"Lex, Dan, dan kamu juga Rick bisa pulang duluan ya biar aku yang nungguin Annete sama Nicko."
"Nggak apa-apa Dri biar aku pulang sama kalian semua, soalnya Isyana sudah mewanti-wanti aku untuk membawa Annete pulang bareng."
"Kalau begitu aku juga pulang sama kalian deh," ujar Lexi.
"Net, karena kamu sudah ada yang menjaga aku pamit ya karena ada urusan. Nanti kalau sudah kelar aku akan ke sini lagi."
"Urusan apa Gel, sepertinya penting ya?"
"Ia Net, Wilson ditangkap polisi dan aku berjanji untuk membantunya."
"Apa Wilson ditangkap polisi?" Annete kaget. "Emang dia ngapain Gel?"
"Tuan Max melaporkan tempatnya ilegal." Angel tidak mau mengatakan nama tempat yang dimaksud karena banyak orang namun Annete mengerti.
"Kenapa harus Wilson yang dihukum bukannya paman Paul ya yang seharusnya di penjara?"
"Aku nggak tahu Net mungkin karena paman Paul saja yang masih belum tertangkap tapi kalau benar-benar tuan Max melaporkan tempat Wilson pasti dia juga akan ikut terkena."
"Maafkan aku ya Gel aku nggak bisa bantu."
"Nggak apa-apa kamu jaga kesehatanmu saja. Saya permisi ya Net."
"Ia Gel, hati-hati ya."
"Ia. Maaf saya permisi semuanya."
Mereka yang ada dalam ruangan mengangguk semua. Angel keluar dari ruangan namun Edrick langsung berkata, "Tunggu Gel."
Angel menoleh.
"Aku ikut," lanjutnya. Angel mengangguk dan menunggu Edrick sampai di sampingnya setelah itu dia berjalan bersama keluar dari rumah sakit.
"Wilson itu siapa kamu Net?" tanya Zidane.
"Dia itu sepupuku. Kasihan dia karena ulah ayahnya dia yang menanggung beban."
"Lex!"
"Ia aku mengerti." Tanpa bicara pun Lexi mengerti bahwa Zidane memintanya untuk membantu Edrick dan Angel membebaskan Wilson.
Lexi pun keluar dari ruangan Annete dan berlari mengejar Angel dan Edrick untuk membantu membebaskan Wilson dari jerat hukum yang menimpanya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐