
"Hah ternyata teleponnya sudah terputus," ujar Mira sambil melangkah kembali ke ranjang untuk membasahi kain kompres yang kini sudah mulai mengering kembali.
Sedangkan Louis selesai berkemas segera ia menuju mobil. Sampai di dalam mobil segera ia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja keadaan sudah malam sehingga mobil di jalanan tidak begitu ramai.
Tit tit tit tit...! Louis selalu membunyikan klakson mobil dengan keras tatkala ada mobil di depannya membuat semua mobil itu mengalah dan menyingkir ke tepi jalan, kalau tidak mereka takut akan tertabrak dengan mobil Louis yang melaju dengan begitu cepat.
Tengah malam baru ia sampai ke rumahnya kembali. Setelah memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumahnya ia lalu masuk ke dalam rumah tanpa meletakkan mobilnya terlebih dahulu ke dalam garasi rumah.
"Apa perlu saya parkir kan Tuan?" Pak satpam menghampirinya untuk menawarkan bantuan.
"Tidak perlu Pak, mungkin saya akan keluar lagi nanti," sahut Louis sambil berlari masuk ke dalam rumah.
"Aneh, ada apa sih, kok kayak buru-buru gitu," gumam pak satpam, dia memang belum diberitahu perihal Nindy yang sakit oleh Mira.
Sampai di dalam rumah, Louis langsung menemui Nindy di kamarnya.
"Bagaimana Mbak Mira keadaannya?"
"Tidak ada perubahan Tuan, dia tetap tidak bisa minum obat. Berbagai cara sudah saya lakukan agar ia bisa terbangun hanya untuk sekedar meminum obat tapi hasilnya nihil."
Louis segera duduk di samping Nindy dan memeriksanya. "Masih panas," gumamnya.
"Tuan Louis sadarlah, sadar Tuan." Nindy masih saja terdengar mengigau.
Louis mencoba menepuk-nepuk pipi Nindy barangkali dengan cara itu gadis itu bisa terbangun.
"Nindy, bangun Nin, aku sudah balik." Louis mencoba mengajak Nindy bicara barangkali dengan mendengar suaranya Nindy akan segera sadar.
"Tuan Louis kenapa kamu tidak hati-hati sih, jadi begini kan kamu malah mengalami kecelakaan, hiks hiks hiks...." Kini Nindy malah menangis sesenggukan dalam tidurnya.
"Hei bangun!" Louis mencoba menyibak anak rambut Nindy yang kini ada di matanya. Ia lalu mengelus-elus rambut Nindy.
"Nin bangun dong!" Ia kemudian mengguncang tubuh gadis itu. Padahal gadis itu suhu tubuhnya panas tapi kenapa tubuhnya berkeringat begitu deras. Apa begitu menakutkan mimpi Nindy tentangnya? Louis hanya mampu menebak-nebak.
"Sepertinya kita harus segera membawanya ke rumah sakit Mbak Mira. Ayo kita pergi!" Karena sudah tidak tahu harus berbuat apa akhirnya Louis mengangkat tubuh Nindy dan menggendongnya keluar kamar. Louis tidak mau mengambil resiko, kalau saja terjadi sesuatu sama gadis itu dialah yang harus bertanggung jawab apalagi dia tahu Nindy itu ada di rumah ini karena kabur dari rumah. Mira hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Louis dari belakang.
Saat berada di dalam gendongan Louis, akhirnya Nindy membuka mata.
"Tuan?" Dengan pelan dia memanggil nama Louis dan menatap wajah Louis seolah tak percaya.
"Tuan selamat?" Lanjutnya.
"Iya aku baik-baik saja," jawab Louis yang masih bingung dengan keadaan Nindy.
"Tuan dia sudah sadar sebaiknya kita kembalikan ke kamarnya, dia harus segera meminum obatnya," ujar Mira.
__ADS_1
"Mbak Mira siapkan kamar yang di sebelah kamar saya!" perintah Louis.
"Maksudnya?" Mira tidak paham.
"Dia harus pindah kamar, disini tidak ada AC- nya," ujar Louis kemudian sambil terus menggotong tubuh Nindy ke kamar yang terletak di sebelah kamarnya. Sedangkan Mira setelah mengangguk kemudian berlari terlebih dahulu ke kamar tersebut untuk menyiapkan kamar tersebut. Ia membenahinya letak bantal agar Louis mudah meletakkan gadis itu.
"Bawa obatnya kemari!" perintah Louis lagi saat ia telah selesai meletakkan tubuh Nindy di kasur.
Mira mengangguk dan berlalu pergi, beberapa saat kemudian kembali dengan membawa obat dan segelas air kemudian menyodorkannya pada Louis.
"Ini Mas Louis."
Louis menerimanya kemudian meletakkan obat dan air itu di meja kecil di samping ranjang.
"Minum obat dulu ya!" ucap Louis pada Nindy sambil membantu gadis itu duduk. Nindy pun mengangguk dan menurut, dia duduk di sandaran ranjang.
"Ini diminum." Louis menyodorkan air dan obat tersebut ke ke mulut Nindy dan Nindy meneguk obat dan air tersebut, matanya tidak lepas dari memandang wajah Louis tak berkedip.
"Istirahat lagi ya!" Louis membantu Nindy berbaring kembali.
Kini Nindy menatap Louis dengan tersenyum.
"Kamu mimpi apa hingga seperti itu?" tanya Louis.
"Emang aku mimpi apa?" tanya balik Nindy.
"Oh itu? Iya aku memang mimpiin kamu. Mimpi buruk tentangmu. Mobilmu kecelakaan dan masuk ke jurang. Beberapa saat kemudian orang-orang berhasil mengevakuasi tubuhmu dan segera melarikan mu ke rumah sakit tapi sayangnya keadaanmu dalam keadaan kritis," jelas Nindy dengan ekspresi sedihnya.
"Jadi kamu mengkhawatirkan aku gitu?" goda Louis.
Nindy hanya mengangguk malu-malu.
"Mbak Mira kapan dia mulai demam dan mengigau seperti itu?" Louis beralih bertanya pada Mira.
"Kira-kira sejak jam setengah sembilan malam Mas Louis."
"Apa?" Louis menganga mendengar jawaban Mira.
"Kenapa?" tanya Nindy melihat ekspresi Louis seperti orang kaget.
"Nggak, berarti lama aja kamu ngigau seperti ini," bohong Louis.
Aku tidak habis pikir, kenapa kau seperti istriku saja yang memiliki naluri seperti itu. Kamu memang benar aku memang hampir saja kecelakaan masuk jurang tapi bukan jurang yang sebenarnya melainkan jurang milik Mala. Astaghfirullah hal adzim.
Louis mengusap wajahnya kasar, ia menggeleng-gelegkan kepala mengingat kejadian yang sempat dialaminya tadi dengan Mala. Untung saja dia sadar kalau tidak dia pasti akan terjatuh dalam kubangan dosa kembali.
__ADS_1
"Mungkin aku tidak sadar, rasanya seperti sekejap saja," terang Nindy membuyarkan ingatan Louis tentang kejadian tadi.
"Kamu istirahatlah lagi, atau mau aku ambilkan makan?" tawar Louis.
"Nggak usah aku masih kenyang," tolak Nindy.
Di saat-saat seperti itu Mira terlihat menguap.
"Mbak Mira kembali lah. ke kamar dan beristirahat, saya tahu Mbak Mira pasti capek jagain saya dari tadi," ujar Nindy merasa tidak enak.
"Kalau jagain sih nggak capek Nin, cuma capek mikirin takut terjadi sesuatu sama kamu," ujar Mira.
"Terima kasih udah menjaga dan khawatirin Nindy Mbak," ujar Nindy.
"Sama aku tidak terima kasih? Padahal aku jauh-jauh pulang ke sini loh hanya gara-gara khawatir sama kamu. Pake acara ngebut-ngebutan lagi sampai ada sopir yang marahin saya karena mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi." Louis pura-pura ngambek.
"Emang marahin gimana?" tanya Nindy penasaran.
"Hei kalau mau balapan di sirkuit sana, jangan di jalanan umum seperti ini!" ujar Louis menirukan suara bapak-bapak yang sempat memarahinya tadi karena melihat dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Nindy hanya tertawa mendengar cerita Louis. Melihat Nindy sudah ceria, Louis memeriksa dahi Nindy ternyata gadis itu sudah tidak ianas lagi.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Louis pada Nindy. Dia tak percaya sekali minum obat saja langsung membuat demam Nindy turun.
"Emang aku sakit apa? Orang aku nggak sakit," ujar Nindy.
"Terus kalau nggak sakit kenapa demam tinggi seperti tadi?"
"Tidak apa-apa, i just Miss you," ucap Nindy reflek dan pelan. Namun masih terdengar oleh Louis dan Mira.
"Bilang apa tadi?" tanya Louis menggoda.
"Ah nggak aku nggak bilang apa-apa," jawab Nindy, wajahnya kini terlihat merah karena menahan malu.
Mulut-mulut, kenapa kau tidak bisa dikendalikan sih?
"Ayo bilang apa tadi? Kalau nggak aku gelitik nanti!"
"Ekhem, Ekhem. Kalau begitu aku pergi saja deh takut mengganggu," ujar Mira sambil bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
"Mbak Mira jangan pergi dong!" Padahal tadi menyuruh Mira supaya balik ke kamarnya untuk istirahat tapi kini malah melarang dia untuk pergi.
"Sudah pergi sana Mira biar saya yang jaga Nindy," ujar Louis.
Mira yang sudah berada di luar kamar kembali dan memperlihatkan jempol kepada kedua orang yang berada di kamar tersebut.
__ADS_1
Nindy menutup wajahnya. "Aaakh kenapa aku jadi malu?"
Bersambung......