Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 13. Mencari Jejak


__ADS_3

Sore hari Louis sudah rapi dan siap untuk berangkat.


"Aku pamit dulu ya!" ucapnya pada Mira dan Nindy.


"Iya Mas," jawab Mira, dan Nindy hanya menjawab dengan anggukan.


"Kalian hati-hati di rumah dan kamu Nindy ingat pesan saya ya jangan kemana-mana dulu."


"Iya Tuan, semoga masalahnya cepat kelar ya biar Tuan Louis bisa cepat balik."


"Amin, doakan saja."


Louis pun bergegas ke luar rumah menuju mobil dengan diantar oleh keduanya. Louis masuk ke dalam mobil dan mulai menstater mobilnya.


"Aku berangkat dulu ya!" Louis melambaikan tangan lewat kaca mobil yang terbuka.


"Iya hati-hati Tuan."


Louis pun mengangguk dan tersenyum kemudian menutup kembali kaca mobilnya dan menyetir mobil tersebut ke luar pekarangan.


Setelah mobil Louis hilang dari pandangan Mira mengajak Nindy masuk kembali ke dalam rumah.


"Yuk masuk!" Nindy hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Mira.


Setelah sampai di dalam Mira masih tampak sibuk. Entah apa yang dia lakukan padahal sang majikan yang harus diurus sudah tidak ada di rumah.


"Mbak Mira mau ngapain? Mau nyuci lagi?" tanya Nindy melihat Mira masih aktif bergerak ke sana kemari sambil menenteng keranjang pakaian.


"Mau nyetrika baju dulu biar besok bisa nyantai," sahut Mira.


"Oh gitu ya Mbak. Maaf ya Mbak aku masih belum bisa bantu." Nindy merasa bersalah karena kehadirannya tidak bisa membuat Mira sedikit mengurangi beban pekerjaan tapi malah membuatnya menambahnya.


"Nggak apa-apa santai saja, lain kali saja kalau mau bantuin."


"Iya Mbak kalau lukaku sudah sembuh Nindy janji akan bantu pekerjaan Mbak."


"Sip." Mira langsung masuk ke dalam sebuah ruang untuk menyetrikanya sedangkan Nindy masuk ke dalam kamarnya sendiri. Setengah jam Nindy tampak gelisah. Dia memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"Ah bosan, tidur-tiduran terus. Ngapain ya enaknya?"


Merasa bosan akhirnya Nindy keluar kamar dan duduk di sofa ruang tamu namun kemudian dia berinisiatif menghidupkan televisi untuk menyingkirkan kebosanannya.


Saat ia sedang asyik menonton acara televisi tiba-tiba ponsel yang ada di kamarnya berbunyi.


"Duh siapa sih yang menelpon? Apa tuan Louis? Apa ada yang ketinggalan ya." Nindy bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Sampai di sana ia duduk di tepi ranjang dan meraih ponselnya yang ada di sandaran ranjang tersebut.


Nindy mengernyit melihat nomor telepon yang tertera di layar ponsel. "Pras? Dari mana dia tahu nomor baruku?" Meski kontak Pras tidak tersimpan tetapi Nindy masih ingat dengan nomor telepon pria itu karena dulu sering menghubungi nomor tersebut. Pras memang tidak pernah sekalipun mengganti nomor teleponnya.


Mengetahui Pras yang menelpon segera Nindy mematikan ponselnya takut-takut Pras bisa melacak keberadaannya sekarang. Karena sepertinya sekarang lelaki itu sangat berbahaya bagi Nindy. Setelah mematikan ponselnya ia melempar ponsel tersebut ke atas ranjang. "Jangan sampai kau menemukan ku. Dasar lelaki gila!"


Dia berdiri kembali dan menuju ruang televisi lagi. Menikmati film kesukaannya untuk sedikit menghilangkan kekhawatirannya.


Sedangkan di luar Pras sudah sampai di depan pagar rumah.


"Cari siapa Mas?" Pak satpam langsung bertanya ketika melihat seorang pria mengawasi rumah majikannya.


"Cari..." Pras nampak ragu-ragu.


"Adik? Siapa?" Pak satpam tidak mengerti siapa sebenarnya yang dicari oleh pria tersebut.


"Namanya Safa Pak, tadi pagi dia Kabur dari rumah dan saya melihat dia masuk ke dalam mobil milik majikan Bapak." Rupanya Pras sempat melihat Nindy masuk ke dalam mobil Louis. Memang Pras sempat melihat dan mengejarnya namun saat hendak turun dan ikut masuk ke pekarangan rumah ini tiba-tiba dia mendapat telepon bahwa Lisfi masuk rumah sakit sehingga ia menunda pengejarannya untuk menemui Nindy.


"Oh Safa ya?" Pak satpam tampak berpikir.


"Iya Pak benar," jawab Pras sumringah, ia yakin pak satpam tahu tentang gadis itu.


"Kabur dari rumah dan masuk ke dalam mobil Tuan Louis?"


"Iya benar Pak."


"Tapi maaf tadi pagi majikan saya turun dari mobil hanya seorang diri, dia tidak membawa seorangpun apalagi membawa seorang wanita." Pak satpam berkata dengan mantap.


"Masa sih Pak? Saya pikir majikan bapak mengajak dia tinggal di sini."


"Tidak ada, yang tinggal di sini hanya saya dan dua orang pembantu wanita."

__ADS_1


"Kalau boleh tahu siapa nama kedua pembantu tersebut?"


"Mira dan Nindy."


"Oh begitu ya, boleh minta tolong ya pak satpam kalau melihat adik saya yang namanya Safa tolong hubungi saya ya Pak," pinta Pras pada pak satpam sambil memberikan kartu alamat. "Pak satpam bisa langsung telepon," lanjutnya.


"Baik boleh saya tahu ciri-ciri fisik atau wajah adik kamu itu?"


"Sebentar Pak." Pras mengambil ponselnya dan mencari foto Nindy namun sayang foto-foto-foto Nindy sudah tidak ada mungkin sudah dihapus semua oleh Lisfi.


"****." Pras mengumpat dalam hati, menyadari foto-foto Nindy sudah hilang semua.


Ini pasti kerjaannya Lisfi.


"Maaf Pak foto di galeri saya sudah terhapus, tapi ciri-ciri gadis itu tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu dan biasanya penampilannya sedikit seksi dan umurnya kira-kira 22 tahun."


"Kok seperti ciri-ciri Nindy sih? Tapi tidak mungkin kan yang pria ini bilang adiknya kabur baru tadi pagi sedangkan Nindy kan sudah agak lama ya tinggal di sini." Pak satpam bermonolog dalam hati.


"Bagaimana Pak?"


"I... iya nanti saya kabari kalau melihatnya."


"Baiklah Pak terima kasih atas kerjasamanya, kalau begitu saya pamit pergi."


Pak satpam hanya mengangguk kemudian berpikir lagi. Apakah benar yang dicari oleh pria tersebut adalah Nindy yang sudah mengubah namanya ataukah memang orang lain lagi. Bisa saja wanita yang bernama Safa itu memang sempat menyusup ke dalam mobil Louis. Sekarang bisa saja sudah pergi atau masih ada di dalam sana.


Gawat bagaimana kalau perempuan itu bakal mencelakai tuan Louis? Pak satpam berasumsi sendiri.


"Ah sudahlah lebih baik aku tanya dulu pada Nindy tentang kebenarannya." Lalu sebelum sempat Pras menghilang dari pandangan pak satpam menyempatkan diri untuk mengambil potret pria tersebut saat pria itu tampak menoleh lagi dan sepertinya masih mencari-cari sosok Safa di rumah tersebut.


"Kok laki-laki itu kayak aneh sih? Kayak ngawasin rumah ini? Ah lebih baik aku lapor tuan Louis saja nanti siapa tahu pria itu tadi hanya berpura-pura mencari seseorang tapi kenyataannya dia mau berbuat jahat di rumah ini." Pak satpam takut pria tersebut hanyalah perampok yang sedang mencari celah dimana mereka bisa memulai aksi perampokannya.


"Telepon sekarang atau nanti?" Pak satpam ragu-ragu.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2