
Tristan menghubungi Zidane, "Pa, papa cepat ke sini secepatnya!Mama butuh bantuan Papa. Mama kesurupan."
"Apa kesurupan? Baiklah kirimkan alamatnya!"
Tristan menyodorkan ponselnya ke arah Lexi. "Uncle papa minta alamatnya."
Lexi mengambil ponsel tersebut dan mengirimkan alamat hotel kepada Zidane.
"Kemana sih si Zidane kok lama banget." Lexi mengintip pergerakan Isyana dari balik pintu. Laki-laki itu tidak tahan melihat Isyana yang gelisah bahkan seluruh tubuhnya tampak berpeluh dan wajahnya memerah.
Selang beberapa waktu Zidane datang bersama seorang lelaki yang memakai peci dan sorban di lehernya.
"Dimana Isyana Lex?" tanya Zidane ke arah Lexi.
"Astaga." Lexi menepuk jidatnya tatkala menyadari Zidane tidak datang seorang diri.
"Ngapain kamu bawa pak ustadz segala Bro," protes Lexi.
"Ya kan kata anak-anak Isyana kesurupan, jadi aku sengaja bawa pak ustadz biar di rukyah."
"Ya ampun ternyata pak Zidane benar-benar menyangka kalau mbak Syasa kesurupan," ucap Annete sambil terkekeh.
"Jadi mama nggak benar-benar kesurupan?" Kedua anak itu bingung sambil menyelidik wajah Lexi.
"Buruan sana masuk! Syasa sudah menunggumu," suruh Lexi sambil mendorong tubuh Zidane.
"Ayo Pak ustadz ikut aku!" Zidane malah menarik tangan pak ustadz.
"Eits pak ustadz ikut kita aja. Karena sebenarnya Isyana tidak kesurupan namun hanya sakit karena menahan rindu padamu Bro," ucap Lexi membuat semua orang yang ada di tempat itu mengerutkan kening tidak mengerti kecuali Annete yang terus saja cekikikan.
"Ayo Pak ustadz ikut kami makan-makan di bawah."
Awalnya pak ustadz tersebut ragu namun akhirnya mengikuti langkah Lexi dan turun ke lantai bawah beserta yang lainnya.
"Mama gimana Uncle?" tanya Tristan.
"Tenang kan sudah ada papa kalian. Percayakan sama dia aja, mama kalian pasti baik-baik saja."
Keduanya memandang wajah Lexi kemudian mengangguk.
Setelah semua orang berlalu dari hadapannya Zidane buru-buru masuk ke kamar hotel. Dia berlari ke arah Isyana yang nampak gelisah.
"Kamu kenapa Sya?"
"Mas tolong panas!"
Zidane memeriksa tubuh Isyana, dahi dan tubuhnya benar-benar panas. Apakah Isyana sedang demam sekarang? Eits tapi tunggu dulu mengapa tubuhnya malah berkeringat kalau demam kan biasanya orang susah untuk keluar keringat.
__ADS_1
"Mas tolong aku!" Isyana semakin merapatkan tubuhnya pada Zidane. Dari dekat dapat Zidane dengar nafas Isyana yang tidak beraturan dan wajahnya memerah. Melihat Isyana yang meliuk-liukkan tubuhnya Zidane sadar Isyana dalam pengaruh obat.
"****! Siapa yang sudah melakukan ini pada calon istriku," umpatnya dalam hati.
Zidane mengangkat tubuh Isyana dan merendamnya ke dalam bathtub karena dilihatnya Isyana sudah mulai tenang dia mengangkatnya ke ranjang. Namun tak bertahan lama tiba-tiba tubuh Isyana meremang kembali. Gelenyar aneh muncul lagi dan kali ini sangat menyiksa.
"Mas....!" racau Isyana. Suaranya serak, tatapannya semakin sayu dan tangannya terlihat memegang miliknya yang semakin berkedut.
Isyana tidak tahan lagi sedangkan Zidane hanya terdiam seperti orang bodoh. Tiba-tiba Isyana mengalungkan tangan di leher Zidane, menarik wajah Zidane dan meraup bibir laki-laki itu. Sejenak Zidane menikmati ciuman yang bergairah itu.
"Oh ****!" Sentuhan Isyana membuatnya nyaris kehilangan kendali membuat adik kecilnya tiba-tiba menegang di bawah sana.
"Oh tidak ini tidak bisa dibiarkan." Zidane melepaskan pagutan mereka dan menggendong tubuh Isyana ke dalam kamar mandi, memasukkan kembali tubuh itu ke dalam bathtub.
Dirasa lebih tenang dia mengangkatnya kembali bagaimanapun dia takut Isyana akan kedinginan nantinya.
Setelah beberapa detik berlalu penyakitnya kambuh lagi. Dia menggesek-gesekkan kembali tubuhnya ke tubuh Zidane. "Stop sayang jangan lakukan ini aku takut nanti aku khilaf."
Mendengar pernyataan Zidane, Isyana menjauh.
"Panas, panas!" Isyana mengatakan itu sambil membuka pakaian luarnya dan menyisakan pakaian dalam saja.
"Stop sayang jangan buka pakaianmu."
"Bantu aku Mas, bantu aku. Rasanya ada sesuatu yang harus aku lepasin rasanya sangat menyiksa." Air mata mulai tumpah membasahi wajahnya.
"Ini kesempatanmu lagipula sebentar lagi akan menikah." Sisi buruk di dirinya berkata begitu tapi,
"Jangan lakukan itu! Jangan hancurkan dia untuk kedua kalinya bisa saja dia akan meninggalkanmu lagi karena kecewa." Sisi lain berkata begitu.
"Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"
Di saat Zidane kebingungan Isyana malah menanyakan Lexi.
"Mas mana Lexi, barangkali dia bisa membantuku." Gila dalam posisi seperti ini pikirannya sudah tidak waras.
Anehnya dalam keadaan seperti ini Zidane malah benar-benar menghubungi Lexi. Rupanya dia juga ikut tidak waras.
"Halo Bro."
"Obat macam apa yang kau berikan pada calon istriku!" dengan suara membentak.
"Bukan aku Bro tapi nikmati saja!" Lexi langsung menutup teleponnya.
"Lakukanlah tanpa melepas pakaian kita!" Zidane tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dia naik ke atas ranjang dan memposisikan dirinya telentang. Isyana naik di atasnya dan terus menggesek-gesekkan tubuhnya. Deru nafas Isyana terdengar tersengal-sengal hingga akhirnya tubuhnya melemah dan tumbang di samping Zidane.
__ADS_1
Zidane mengelus rambut Isyana dan menciumi puncak kepalanya lalu menyelimuti tubuhnya.
"Maafkan aku Sya, tapi aku tahu ini yang terbaik untukmu."
Zidane turun dari ranjang meninggalkan Isyana yang tertidur pulas karena kelelahan. Dia menghubungi seseorang untuk membawakan pakaian mereka. Tidak mungkin Zidane membawa Isyana keluar dalam keadaan pakaiannya yang basah dan pakaiannya sendiri pun sudah kotor. Setelah menelpon seseorang dia menghubungi pelayan hotel untuk membawakan mereka makanan.
Selang tidak begitu lama pintu kamar di ketuk. Zidane membuka pintu secara perlahan.
"Ini pesanan bajunya Tuan."
Zidane mengambil baju tersebut dan mendekati Isyana.
"Sya, bangun Sya!"
"Eugh." Isyana hanya melenguh kemudian terlelap lagi. Sebenarnya Zidane tidak enak untuk membangunkannya tapi terpaksa dia lakukan karena Isyana tertidur dengan pakaian basahnya.
Zidane mengguncang tubuh Isyana, "Bangun Sya kamu ganti baju dulu!"
"Ah iya." Tiba-tiba Isyana terduduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya dia benar-benar malu, ingin sekali rasanya ia menangis saat ini.
"Kenapa kau menutup wajahmu?"
"Aku malu Mas," ucapnya sambil masih menutup wajahnya.
"Kenapa harus malu? Sebentar lagi kita akan melakukan yang lebih dari sekedar itu. Anggap saja ini sebagai pemanasan. Sudah ayo ganti baju." Ucap Zidane sambil menyodorkan pakaian kepada Isyana.
"Setelah itu gantian aku yang ganti baju," lanjutnya.
"Maaf ya Mas membuat bajumu kotor."
"Tidak masalah daripada Lexi yang melakukannya."
"Mas!" rengek Isyana wajahnya memerah karena malu.
"Sudah sana setelah ini kita makan, aku sudah memesan tadi."
"Baiklah." Isyana beranjak ke kamar mandi dan mengganti pakaian.
Di luar pintu terdengar di ketuk kembali. Setelah Zidane buka ternyata seorang pelayan mengantar makanan mereka.
Setelah sama-sama sudah Menganti pakaian akhirnya mereka makan bersama. Setelah kejadian tadi kedua orang tersebut tampak terlihat lebih mesra saling suap- menyuap makanan. Sejenak melupakan bahwa di bawah sana ada dua orang anak yang masih cemas memikirkan nasib orang tuanya.
Bersambung....
Ya, tak sesuai harapan ya!๐๐๐
Bantu vote-nya ya teman- teman untuk menaikkan popularitas.๐โค๏ธโค๏ธโค๏ธ
__ADS_1