Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 48. Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan tiba. Beberapa hari setelah bertemu di butik keduanya tidak pernah bertemu lagi karena sama-sama dipingit.


Nindy tampak dipoles oleh seorang MUA, begitupun dengan Louis tetapi di ruangan yang berbeda.


"Sudah jangan nangis terus! Kasian si Mbak-nya nggak kelar-kelar tugasnya," ucap Farah.


"Iya Bun." Nindy mengusap air matanya dengan tisu lalu menarik nafas panjang-panjang dan mengembuskan secara kasar.


"Sudah selesai kan Mbak?" tanya Farah pada tukang rias tersebut.


"Sudah," jawab perempuan yang ditanya.


"Kalau begitu ayo keluar! Pengantin prianya pasti sudah menunggu," ujar Farah sambil mengulurkan tangan kepada Nindy dan langsung disambut oleh Nindy. Farah langsung membawa putrinya ke meja ijab qabul.


Sampai di sana pengantin prianya sudah menunggu bersama pak penghulu. Posisinya yang membelakangi tidak bisa melihat siapa calon istrinya.


Nindy duduk di sebelah Louis tanpa mau melihat pria itu, begitupun dengan Louis enggan melihat calon istrinya. Mereka melihat ke arah yang berlawanan seolah sama-sama tidak perduli.


"Mana ini walinya?" tanya pak penghulu.


"Sebentar pak masih di dalam, saya panggilkan dulu," ujar Farah. Nindy maklum ayahnya pasti akan kesusahan kalau duduk terlalu lama di tempat itu. Apalagi ayahnya saat ini tidak bisa berjalan sendiri harus pakai kursi roda kalau tidak ya harus dituntun biar bisa berjalan.


"Ingat ya nama calon istrimu Safa Ar Ramlan binti Ramlan," ujar mama Ani berbisik di telinga Louis. Bukan karena apa-apa lelaki itu malah tidak pernah menanyakan siapa calon istrinya pada mama Ani maupun ayahnya. Dia juga tidak pernah latihan mengucapkan ijab qabul. Baginya sah atau tidak sahnya pernikahan ini tidak jadi masalah yang penting dia menuruti perkataan mamanya saja. Toh dia sudah berjanji tidak akan menyentuh wanita itu.


Sesaat kemudian pak Ramlan datang dengan berjalan tegap. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu sakit. Nindy tercengang melihat ayahnya sudah sembuh total, padahal kemarin dia masih melihat ayahnya menggunakan kursi roda.


Nindy berdiri lalu mendekap sang ayah. "Ayah sudah sembuh? Kok nggak bilang-bilag sih?"


"Ayah sudah lama sembuhnya."


"Jadi selama ini?"


"Ayah ngerjain kamu."


"Ah ayah, tega banget sih," protes Nindy.


"Itu usul dia tuh," tunjuk Ramlan pada sang istri dan Farah hanya tersenyum saja.


Sedangkan Louis, betapa kagetnya mendengar suara calon istrinya itu. Iya segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah gadis itu karena begitu penasaran.


Louis menyingkap hijab yang menutupi wajah Nindy. Dia langsung kaget melihat wajah itu benar-benar wajah gadis yang dicintainya. Tanpa aba-aba dia langsung mendekap tubuh gadisnya dan langsung menangis.


Nindy kaget mendapatkan serangan mendadak padahal dirinya sedang serius mengobrol dengan sang ayah. Ia mengurai pelukan Louis dan wajah mereka langsung bersitatap.


"Lou, benarkah ini kamu?" Nindy menatap wajah Louis tidak percaya kemudian beralih ke pakaian Louis yang senada dengannya.


"Iya Nin ini aku." Keduanya berpelukan kembali dan sama-sama menangis.


"Sudah-sudah jangan menangis terus, malu dilihatin orang-orang." Farah mengingatkan.


"Jadi Louis yang bunda ingin jodohkan sama Safa?"


"Iya."

__ADS_1


"Ah bunda kok nggak ngomong sih?" Nindy memeluk manja sang bunda.


Louis menatap mama Ani seolah ingin meminta penjelasan. Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Louis pun langsung memeluk erat sang mama.


"Makasih banyak ya Ma, tetapi kenapa mama nggak pernah bilang sih bahwa yang ingin mama jodohkan sama Louis adalah Nindy Kalau tahu begini kan Louis tidak akan menolak."


"Siapa suruh kalian berdua pada ngotot, nggak mau lihat foto masing-masing yang mau kita tunjukkan."


"Ya sudah kita kerjain saja, iya nggak Jeng."


"Iya Jeng," sahut Farah.


"Iseng banget sih Ma kalian berdua, tetapi apalah itu Louis ucapkan terima kasih banyak buat kalian semua." Louis kembali memeluk sang mama.


"Sudah-sudah acara harus segera dimulai. kasihan para tamu sudah menunggu dari tadi," ujar tuan Zaki mengingatkan sambil menepuk pundak putranya.


"Ah iya Pa." Louis langsung duduk kembali.


"Bagaimana sudah bisa dimulai sekarang?" tanya pak penghulu setelah semua duduk kembali.


"Silahkan Pak," jawab tuan Zaki.


"Sudah siap?" tanya pak penghulu langsung pada Louis.


"Siap Pak."


"Sudah tahu namaku?" Nindy berbisik sambil menggoda Louis.


Nindy hanya mengangguk dan tersenyum.


"Sebentar pak," ujar Louis lagi.


"Loh masih mau menunggu apa lagi Lou?" tanya mama Ani heran.


"Aku mau mengobrol sebentar dengan Nindy Ma."


"Baiklah jangan lama-lama."


"Iya Ma sebentar kok."


"Yuk Nin kita ke sana dulu."


"Safa," ucap Nindy mengingatkan.


"Iya aku panggil Nindy aja ya soalnya panggil Safa masih belibet tidak terbiasa."


"Iya nggak apa-apa asal nanti pas ijab jangan sampai salah ucap nama."


"Kalau salah gimana?"


"Malu-maluin. Pokoknya kalau sampai salah tidak ada malam pertama," ancam Nindy.


"Berarti kalau lancar kamu sudah siap dong," goda Louis hingga membuat pipi gadis itu bersemu merah.

__ADS_1


"Ingat janjimu tidak akan pernah menyentuh istrimu nanti." Mama Ani mengingatkan ucapan Louis beberapa waktu lalu sambil terkekeh.


"Ma!" protes tuan Zaki


"Ah mama nggak asyik," ujar Louis.


"Sudah sana Lou cepetan!" perintah tuan Zaki.


"Iya Pa."


"Ayo Nin!"


Nindy mengernyitkan dahi. "Kemana?"


"Sebelum kita melanjutkan pernikahan kita, aku ingin menjelaskan masa laluku dulu. Nanti kamu bisa memutuskan akan terus melanjutkan hubungan ini ataukah tidak." Louis berucap dengan serius. Berharap Nindy bisa menerima masa lalunya tetapi kalau tidak, dia bisa apa. Dia akan menerima kenyataan itu walaupun pahit, yang jelas dia tidak ingin Nindy kecewa nanti bila mengetahui kebenarannya.


"Baiklah kita ke sana." Nindy menarik pergelangan tangan Louis menjauh dari orang-orang.


"Sekarang jelaskan!"


Louis pun menceritakan masa kelamnya dahulu.


"Bagaimana? Apakah kau masih mau menerimaku?"


Nindy tampak berpikir sejenak membuat Louis menjadi khawatir.


"Iya asalkan kamu janji akan menjadi pasangan yang setia dan tidak akan pernah bermain wanita lagi."


"Aku janji, bahkan sebelum aku kenal kamu, aku sebenarnya sudah berhenti. Foto yang kau lihat itu adalah foto yang sudah lama sekali."


"Ah sudahlah jangan bahas itu lagi. Aku cemburu sama wanita itu karena telah berhasil mengeksplor tubuhmu." Nindy terlihat cemberut.


"Kenapa harus cemburu? Bukankah sejak hari ini kamu juga bisa melakukan itu? Nanti kamu bisa request mau gaya yang bagaimana."


"Ih otak mesum, ayo ke sana kasihan para tamu harus menyaksikan drama kita sedari tadi."


"Oke, yuk!" Louis mengandeng tangen Nindy. Mereka duduk kembali di depan pak penghulu.


"Sudah? Bisa dimulai?"


"Iya pak sudah."


Pak penghulu pun memulai acara dan mempersilahkan pak Ramlan untuk mengucapkan kalimat ijab. Karena saking bersemangatnya Louis sampai lupa sehingga sebelum pak Ramlan menghentakkan tangannya Louis sudah mengucapkan kalimat qabul duluan.


"Diulang!" perintah pak penghulu.


"Yah Lou," ujar Nindy memelas dia merasa malu.


Louis menghela nafas. "Baik Pak sekarang saya siap."


Kalimat nikah pun diulang kembali dan kali ini kalimat sah terdengar dari semua sudut ruangan. Kedua pengantin itu hanya saling pandang sambil tersenyum sedangkan kedua besan tersebut saling merangkul dan memeluk karena bahagia cita-cita mereka untuk berbesanan terkabul sudah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2