
Dion memijit pelipisnya. "Astaga apa lagi yang kalian rencanakan?"
Nathan lalu menceritakan rencananya pada Dion.
"Kalau begitu kalian harus memberi tahu Papa kalian. Om Dion tidak bisa mendukung kalian tanpa izin kedua orang tua kalian. Ini cukup berbahaya. Bisa dibunuh papa kalian om Dion kalau sampai diantara kalian ada yang celaka."
"Om Dion tenang saja semua sudah kami pikirkan matang-matang."
"Tetap saja Om Dion tidak mau kalau tanpa seizin papa kalian."
"Baiklah kalau begitu Om tidak usah ikut biar kami bergerak dengan anak buah papa yang lain. Tapi ingat kami akan mencari cara supaya Om bisa dipecat oleh Papa."
"Ya ampun kalian mengancam saya? Kalau suatu saat kalian yang menggantikan papa kalian di perusahaan om lebih baik mundur saja deh dan bekerja di perusahaan lain."
"Siapa juga yang mau pakai jasa Om? Dan Om tahu saat itu pasti tidak akan ada perusahaan yang menerima Om Dion karena saat itu pasti Om tidak produktif lagi."
"Lebih baik Itan asisteni perusahaan itu sendiri."
"Emang mau jadiin perusahaan papa kalian industri musik dan perfilman?"
"Boleh juga kita merambah ke sana." Ide itu malah disambut baik kedua anak tersebut padahal Dion kan hanya ingin menyindir Tristan yang kemampuannya hanya di bidang itu.
"Baguslah kalau begitu kalian minta aja sama papa kalian adik cewek terus jadikan dia sekretaris di perusahan kalian. Jadi tidak ada posisi penting yang jatuh ke orang luar."
"Hihihi... Om Dion ada-ada saja. Terus Om Dion ikut nggak?"
"Iya-iya om Dion ikut."
"Ingat jangan kasih tahu Papa."
...****************...
Semua sudah siap di posisi masing-masing. Dion dan Zidane tampak mengawasi keberadaan kedua anaknya lewat komputer. Di leher kedua anak tersebut sudah terpasang kalung dengan kamera kecil berbentuk liontin.
Sesuai rencana Tristan dan Nathan duduk di sebuah taman, matanya fokus menatap layar iPad. Tangannya sibuk mengotak-atik keyboard. Kali ini dia mencoba menerobos sistem keamanan perusahaan Andy tak lupa dia meninggalkan jejak di sana.
Beberapa hari sebelumnya Nathan dan Tristan dengan diantar Dion berjalan-di sekitar perusahaan itu setelah habis dari rumah Lana. Mereka mencoba menerobos WiFi sekitar agar mendapatkan password dan membajak cctv yang ada di ruangan Andy dan menghubungkannya pada ponsel.
"Cepat lacak siapa orang yang telah berani merusak sistem keamanan jaringan kita." Perintah Andy pada salah satu anak buahnya.
Setelah mencari tahu akhirnya mereka menemukan lokasi seseorang yang telah menghack komputer atasannya.
"Sepertinya posisi orang itu ada di taman kota."
"Ayo segera kita tangkap orang itu," ajak yang lain.
"Atan kamu sembunyi sebentar lagi mereka akan menangkap ku."
"Baik Itan kamu hati-hati ya!"
"Oke."
"Itu dia, tangkap dia!"
Sebelum anak buah Andy sampai ke tempat Tristan duduk, terlebih dahulu Tristan pura-pura berlari menjauh. Anak buah Andy akhirnya bisa menangkapnya dan membawaanya ke mobil. Sedangkan Nathan yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon meraih iPad dan ponsel Tristan yang sengaja ditinggal dan kembali ke posisi semula ikut dengan Dion dan papanya menguntit orang-orang yang telah berhasil menculik Tristan.
"Tuan kita sudah mendapatkannya ternyata dia hanya seorang anak kecil." Lapor anak buah Andy melalui handphone.
"Bawa dia ke rumah kosong itu dan ikat dia di sana!"
"Baik Tuan."
Anak buah Andy membawa Tristan ke rumah kosong dan mengikatnya pada sebuah tiang.
__ADS_1
Tak lama kemudian Andy datang memasuki ruangan.
"Wah ternyata kamu hebat ya! Mau mencoba bermain-main dengan ku? Tapi baguslah aku jadi tidak perlu repot-repot menyusun rencana untuk menangkap mu."
"Apa maksud Om?"
"Kamu tahu ini tempat apa?"
Tristan menggeleng, "Tidak Om."
"Ini adalah tempat dimana ayahmu telah menghabisi istriku dan kamu tahu? Karena ulah ayahmu itu telah membuat anakku lumpuh dan membuat mamaku stroke sampai sekarang. Dan satu lagi karena kejadian itu telah membuat keadaan kacau maka kami tidak memperhatikan adikku satu-satunya hingga membuat dia kecelakaan."
"Om bohong Papa Zidane bukan pembunuh!" Tiba-tiba saja Tristan merasa shock mendengar berita ini .
"Apa-apaan ini!"
Zidane yang menatap komputernya berdiri ingin menghampiri Andy tapi ditahan oleh Dion.
"Jangan dulu Pak."
"Kenapa? Kamu kecewa karena kenyataannya papa kalian adalah seorang pembunuh?"
"Tidak aku tidak boleh lekas percaya, aku tidak boleh terpancing," kata Tristan dalam hati mencoba untuk menenangkan diri.
"Om tidak boleh menuduh sembarangan kalau tidak punya bukti."
"Kamu ingin bukti? Baiklah saya akan tunjukkan."
Andy mengambil ponselnya dan memutarkan rekaman yang didapat dari seorang saksi mata.
"Cuma sebuah mobil?"
"Memang sebuah mobil tapi mobil itu keluar dari tempat ini diwaktu kejadian itu berlangsung karena biasanya tidak pernah ada mobil yang masuk ke tempat ini dihari-hari biasa dan kamu tahu pemilik mobil itu siapa?"
"Siapa Om?"
"Itu tidak cukup Om untuk dijadikan bukti karena bisa saja yang mengendarai mobil tersebut adalah orang lain, bukan Papa."
"Asal kamu tahu Papa mu itu tidak pernah mengizinkan orang lain untuk membawa mobilnya karena mobil itu adalah kesayangannya. Kamu ingin bukti yang lain?"
Andy mengambil ponsel dari kantong jasnya dan menunjukkan ponsel istrinya yang menerima panggilan terakhirnya dari Zidane.
"Papa kamu yang terakhir menelpon istri saya untuk bertemu dan setelah itu terjadi penembakan terhadap istri saya. Apakah itu belum cukup bukti bahwa orang terakhir yang menemui istri saya adalah pembunuhnya." kata Andy
menekankan pada kalimat terakhirnya. Matanya berapi-api karena amarah.
"Terus Om mau apa sekarang?"
"Kamu ingin tahu apa yang sangat ingin aku lakukan?" Andy tersenyum menyeringai sambil menyentuh pipi Tristan.
"Membunuh mama kalian secara perlahan dan membuat kalian lumpuh seperti istri dan anak saya. Hahaha...."
"Jadi selama ini yang menjebak mama di Paris dan menyuruh orang memperkosa mama adalah Om?"
"Tepat sekali dan sekarang giliran mu."
"Mana sih orang-orangnya papa," ucap Tristan dalam hati dia mulai merasa takut.
Sedangkan Andy mengambil balok kayu dan mulai mengambil ancang-ancang untuk menghantamkannya ke tungkai Tristan.
"Hia..."
Zidane yang melihat dari komputer bangkit, "Apa-apaan ini kenapa kalian membiarkan anak saya celaka! Zidane hendak beranjak namun ditahan oleh Dion.
__ADS_1
"Jangan gegabah Pak anak buah kita sedang bergerak di sana melumpuhkan anak buah Andy."
"Mana mungkin saya diam melihat putra saya dalam keadaan terancam."
"Pa, tenanglah!"
"Tunggu Om! Om akan menyesal kalau sampai mencelakai saya."
Andy menghentikan pergerakan tangannya.
"Menyesal? Kamu salah bocah, yang ada saya malah puas dan bahagia."
"Karena Om salah orang. Saya ... sebenarnya bukan anak papa Zidane," ucap Tristan cepat dan jelas.
Mendengar perkataan Tristan Zidane kembali duduk di depan komputer dan fokus kembali menatap kedua orang dalam video.
"Apa? Kamu berbohong kan?"
"Saya tidak berbohong Om saya diseting oleh seseorang agar bisa masuk ke dalam keluarga Zidane Karena kebetulan wajah kami mirip. Kalau memang Om mau balas dendam maka sebaiknya kita bekerjasama." Tristan berbicara begitu meyakinkan.
Mendengar pernyataan Tristan Zidane bangkit kembali dan menggebrak meja. "Apa-apaan ini Nathan?"
"Pa sabarlah Itan itu hanya akting untuk mengulur waktu, makanya yang ditugaskan untuk memancing om Andy Itan bukan Atan karena Atan tidak bisa akting."
"Hah baiklah saya pikir...." Zidane mulai tenang.
Nathan menatap tajam ke arah Dion seolah menyalahkan Dion atas itu. Bisa-bisanya Dion memberitahukan rencana ini kepada papanya. Padahal kedua anak tersebut sudah melarangnya. Ini yang tidak diinginkan kedua anak tersebut Zidane gampang emosian sehingga masalah akan sulit diselesaikan. Dion yang mendapat tatapan membunuh dari Nathan pura-pura tidak melihat dan membuang muka tapi dalam hati dia tertawa.
"Kecil-kecil sudah ganas," pikirnya.
'Brak.' Tiba-tiba pintu didobrak paksa dari luar. Anak-anak buah Zidane lalu meringkus Andy dan menyelamatkan Tristan.
"Hah akhirnya aku bisa bernafas lega, good job semuanya," ucap Tristan sambil memamerkan dua jari jempolnya.
Selang beberapa waktu Zidane datang bersama Dion. Zidane yang sedang emosi langsung menghajar Andy.
"Aarkh." Andy mengerang kesakitan.
"Sudah Pa hentikan! Om Andy bisa mati di tangan papa."
Mendengar kedua anaknya menjerit Zidane menghentikan gerakannya.
"Jadi selama ini yang mengganggu hidup kami adalah dirimu? Abang macam apa kamu? Siapa yang membunuh istrimu? Aku tidak pernah melakukannya! Dan dirimu ingin balas dendam dengan kami? Ternyata Abang bodoh membiarkan pembunuh yang sebenarnya berkeliaran dengan tenang di luaran sana sedangkan keluarga sendiri Abang usik ketenangannya."
"Kamu pikir aku percaya dengan ucapan mu? Kamu munafik. Kamu masih mencintai istri saya kan?"
"Cinta gila macam apa Bang yang membuat saya harus membunuh istri Abang. Kalau mau saya bisa memaksa dia hidup dengan saya bukan malah membunuhnya."
"Itu karena dia tidak mau kan?"
"Terserah kalau Abang tidak percaya yang terpenting saya telah memiliki rekaman untuk menjerat Abang masuk ke jeruji besi."
"Kalau aku dipenjara kamu pun dipenjara dan takkan kubiarkan keluargamu tenang."
"Dengan bukti apa? Bukti tidak beralasan itu? Tapi aku sudah punya dua bukti. Bukti pengakuan orang suruhan mu yang bernama Derly dan pengakuan mu sendiri tadi."
"Sudah hentikan perdebatan kalian! Kalian sama-sama bodoh mau diadu domba oleh orang lain," ucap Tristan murka melihat kedua orang dewasa itu saling menyalahkan sedari tadi.
"Kalau aku jadi om Andy aku tidak akan pernah membiarkan kasus ini berlarut-larut seperti ini. Saya akan langsung menghajar papa saat itu juga dan masalahnya mungkin sudah terungkap lama dan kalau saya jadi Papa saya akan mencari tahu kenapa Om Andy tidak pernah pulang ke rumah dan berinteraksi dengan keluarga."
Mendengar perkataan Tristan Kedua orang itu mematung, malu sekaligus membenarkan perkataan anak itu.
"Dan satu lagi aku punya bukti baru," sambung Nathan menyodorkan Ipad-nya ditengah-tengah Andy dan papanya.
__ADS_1
"Bukti apa?" ucap mereka bersamaan.
"Kalian lihat saja sendiri."