
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya Zidane dan Isyana kini sampai ke Milan. Mereka mendatangi keluarga Zidane terlebih dahulu sebelum berbulan madu dengan alasan setelah bulan madu mereka langsung bisa pulang apalagi Laras sempat menitipkan oleh-oleh kepada keluarga suaminya yang ada di Milan. Setelah dari sana mereka mereka menaiki kereta menuju Stasiun Venesia Santa Lusia yang akan membawa mereka ke Venice yang memilki kanal dan berada di perairan.
Sampai di Venice Zidane langsung membawa Isyana ke sebuah hotel yang telah di booking jauh-jauh hari. Niatnya ingin beristirahat namun sayang Zidane terlena dengan keadaan itu sehingga membuat dirinya tak pernah mengajak Isyana jalan-jalan ke luar.
"Mas untuk apa kita ke sini kalau seharian terkurung di kamar," protesnya pada sang suami karena Zidane lebih memilih menghabiskan waktu di dalam kamar seolah tidak ada bosan-bosannya mengajak dirinya bercinta.
"Biar cepat jadi adiknya si kembar." Selalu saja menggunakan alasan kedua anaknya.
"Alah kalau kita cuma sekedar melakukan beginian mah kita bisa melakukannya di sana."
"Tapi kan ini permintaan mereka lagian made in-nya biar bagus,"alasan Zidane.
"Bagusan Made in Indonesia karena aku suka produk lokal." Bicara ngelantur kemana-mana.
"Lagian kalau cuma mereka sih bisa disiasati kita nginep aja di hotel sana terus nggak usah-usah keluar-keluar, beres."
"Kamu kayak nggak tahu mereka aja."
"Tapi aku bosen Mas di sini terus. Sudah tiga hari kita di sini tapi Mas Zidane nggak pernah mengajak aku kemana-mana. Jadi kangen anak-anak, kita pulang aja ya Mas!"
"Jangan dong! Ya udah besok pagi kita jalan- jalan."
"Janji ya! Kalau nggak nanti aku pulang sendiri," ancam Isyana.
"Oke Mas janji sekarang kita tidur dulu yuk!"
Isyana meringis mendengar perkataan Zidane karena kalau suaminya mengajak tidur pasti Zidane tidak akan membiarkan dirinya terlelap sebelum melakukan hubungan badan dengannya.
"Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu? Jangan berpikir macam-macam! Ayo cepat tidur sudah malam ini!"
Mendengar perkataan suaminya Isyana bernafas lega lalu berbaring di dekat suaminya dan memejamkan mata. Zidane pun meraih tubuh Isyana ke dalam pelukannya dan ikut memejamkan mata. Akhirnya mereka berdua terlelap dalam posisi saling berpelukan dan untuk pertama kalinya tidur tanpa harus melakukan ritual terlebih dahulu.
Esok hari pun tiba, sesuai janji hari ini dia akan mengajak istrinya jalan-jalan. Tempat pertama yang mereka datangi adalah jembatan Rialto Bridge, sebuah jembatan yang membantu orang-orang untuk menyeberangi Canale Grande. Di jembatan ini kita bisa akan dapat langsung melihat Canale Grande atau big canal. Kanal ini adalah kanal terbesar yang membelah Venice dan lalu lintas utama kapal-kapal yang melalui Venice. Venice sendiri terdiri dari sekumpulan pulau-pulau kecil yang dipisahkan oleh banyaknya kanal dan dihubungkan dengan jembatan-jembatan kecil yang terletak di Laguna Venesia.
Saat melihat Canale Grande dari jembatan Rialto Bridge, disitulah orang-orang sadar bahwa kota Venice benar-benar berada di atas air. Dekatnya gedung-gedung dengan permukaan air membuat gedung-gedung di Venice seolah terapung di atas air.
Jembatan Rialto Bridge( Venice, Venesia, Italia)
"Wah bagus sekali ya Mas berarti benar ya kota Venice terletak di atas air," ucap Isyana terkagum-kagum sambil memikirkan betapa hebatnya orang-orang Venesia yang telah membuat kota berdiri gagah di tengah air sehingga membuat Venesia terlihat cantik dan unik.
Canale Grande.
__ADS_1
"Ya bisa dibilang begitu. Di sekitaran sini ada beberapa toko yang menjual pernak-pernik khas Venesia apakah kau tertarik untuk membelinya?"
"Ia Mas aku mau beli buat oleh-oleh nanti."
"Ya sudah ayo kita ke sana!" Dan mereka pun memasuki toko demi toko untuk berburu barang-barang khas Venesia.
Setelah selesai berbelanja barang-barang tersebut Zidane mengajak Isyana ke sebuah mall di dekat jembatan Rialto Bridge.
"Apakah kita ingin berbelanja lagi Mas?" tanya Isyana.
"Terserah kamu tapi yang pasti dari mall ini kita bisa melihat pemandangan 360 derajat kota Venice dari ketinggian."
"Benarkah?"
"Ia, kalau begitu ayo kita masuk!"
"Baiklah."
Seharian berjalan-jalan membuat kaki Isyana pegal-pegal.
"Mas apakah di sini tidak ada kendaraan bermotor ya?"
"Tidak ada sayang dibsini yang ada cuma taxi air. Kalau kamu capek bagaimana kalau kita naik gondola?"
"Gondola itu apa ya Mas?"
"Oh gitu ya Mas. Memang nggak ada kendaraan yang lain?"
"Ada sih yaitu motor boat. Terserah kamu deh mau naik yang mana."
"Gondola aja deh Mas."
"Oke."
Beberapa hari berlalu Isyana tampak puas karena Zidane telah membawanya berkeliling di kota tersebut, mengunjungi banyak tempat-tempat wisata dan juga tempat bersejarah di daerah lainnya.
"Mas pulang yuk!" ajaknya terhadap sang suami.
"Hm, mentang-mentang sudah puas jalan-jalan tapi Mas belum puas pacaran sama kamu."
"Pacaran apaan orang kita udah nikah."
"Ya pacaran setelah nikah bukankah kita dulu tidak sempat pacaran ya?"
"Apaan sih Mas kok ngomongnya gitu? Tapi perasaan aku kok nggak enak ya Mas, saya takut terjadi sesuatu sama anak-anak."
__ADS_1
"Ya udah telepon sana atau kalau perlu video call mereka!"
"Udah Mas tapi tidak diangkat, aku periksa akun medsos mereka pun tidak ada update sama sekali. Kamu tahu sendiri kan biasanya si Tristan paling rajin tuh posting-posting tapi beberapa hari ini kok akun mereka sepi ya!"
"Lagi males kali dia, ya udah telepon Naura aja."
"Sudah Mas juga nggak diangkat."
"Ya udah telepon mama saja kalau begitu."
"Baiklah semoga aja mama belum tidur."
"Halo Ma."
"Ya halo Nak ada apa?"
"Kabar anak-anak gimana Ma?"
"Baik kok, kalian gimana?"
"Baik juga kok Ma. Tolong ya Ma berikan hp Mama ke anak-anak, Syasa ingin bicara!"
"Mereka sudah tidur Nak."
"Ya udah Syasa minta tolong mama videoin aja mereka, Syasa kangen ingin melihat wajah mereka."
"Baiklah Nak kalau begitu." Terpaksa Laras memasuki kamar kedua cucunya dan memvideokan cucunya yang sudah tertidur dengan Naura yang juga tertidur di tengah-tengah mereka. Kebetulan panggilan sudah Isyana rubah ke video call.
"Mereka sakit Ma?" tanya Isyana khawatir melihat di dahi keduanya ada kain kompres.
"Cuma demam biasa sayang," ucap Laras menenangkan menantunya.
"Mereka tidur sama Naura?"
"Ia Nak mereka maunya cuma sama Naura bahkan dikompres dan minum obat pun maunya sama gadis itu. Jangankan sama bibi sama aku aja mereka nggak mau."
"Kalau begitu kasihan Naura nya Ma pasti kecapean dia. Sudah berapa hari mereka demam?"
"Sudah dua hari Nak."
"Baiklah kalau begitu kami akan segera pulang Ma."
"Mas kita pulang ya!"
"Ia sayang." Zidane pun tidak bisa menahan Isyana lagi kalau alasannya sudah karena kedua anaknya apalagi dirinya juga khawatir. Dengan cekatan dia membereskan barang-barangnya dan menyuruh seseorang untuk mengurus tiket dan segala macamnya. Hari itu juga mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Bersambung....