
Anisa terbangun saat kepalanya yang berat sudah mulai terasa ringan namun dia terkejut tatkala melihat tubuhnya sendiri sudah tidak terbungkus oleh pakaiannya. Anisa mengucek kedua matanya barangkali dirinya bermimpi. Matanya memandang ke seluruh ruangan tenyata bukan kamarnya dengan Adrian, tapi tunggu dulu bukankah dia semalam bersama Lani dan Sinta, kemana mereka berdua? Dan kamar siapa ini? Mengapa mereka meninggalkan dirinya di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya ini.
Anisa masih mencoba berpikir menerka-nerka apa yang terjadi pada dirinya semalam. Mungkinkah mereka menelpon Adrian dan Adrian membawa dirinya ke hotel.
Namun mata Anisa terbelalak ketika seseorang keluar dari kamar mandi dan menghampirinya di ranjang.
"Sudah bangun?" tanya pria tersebut.
"Kamu, ngapain kamu di sini?" tanya Anisa gelagapan ternyata yang tidur dengannya semalam bukanlah Adrian melainkan pria lain.
Anisa meraup wajahnya kasar. "Apa yang terjadi denganku, mengapa aku malah tidur dengan pria ini?"
Anisa menarik selimut menutupi tubuhnya agar pria tersebut tidak dapat melihatnya.
"Kenapa mesti ditutupi? Aku bukan hanya telah melihat tubuhmu bahkan semalam aku sudah menikmatinya."
"Pergi! Pergi kamu dari sini, aku tidak sudi melihat wajahmu lagi," ucap Anisa dengan penuh amarah dia sangat membenci laki-laki di hadapannya ini. Dulu sebelum Anisa menikah dengan Adrian lelaki ini selalu meminta Anisa untuk menjadi kekasihnya tetapi Anisa selalu menolak bahkan Anisa memilih Adrian untuk menjadi suaminya. Rupanya laki-laki ini tidak terima dengan keputusan Anisa hingga harus berbuat licik seperti ini.
"Baiklah sesuai permintaan mu aku akan pergi, ini untukmu sebagai rasa terima kasihku karena kau telah memuaskan ku malam ini," ucap pria tersebut sambil menyodorkan sejumlah uang.
"Kamu pikir aku ****** hah!" bentak Anisa.
"Ambil uang mu aku tidak sudi menerimanya," ucap Anisa sambil melempar uang itu ke wajah pria tersebut.
Pria tersebut memungut uangnya kembali kemudian meninggalkan Anisa seorang diri. Setelah pria tersebut pergi Anisa menangis sejadi-jadinya.
"Apa yang harus aku katakan sama Adrian? Haruskah aku jujur padanya? Ah tidak Adrian tidak boleh tahu, aku tidak ingin menjadi janda di umur pernikahanku yang masih sebulan ini." Kemudian Anisa mengingat kedua sahabatnya. Anisa yakin merekalah yang merencanakan ini semua.
Anisa mengepalkan tangannya. " Awas kalian ya! Jangan panggil aku Anisa kalau tidak bisa balas dendam."
Anisa memungut pakaiannya kemudian bergegas pulang ke rumah.
"Kemana saja semalam kok baru pulang?" Adrian langsung menginterogasinya saat Anisa membuka pintu.
"Oh itu ... aku... ketiduran di rumah Lani," ucap Anisa gugup.
__ADS_1
"Benar kamu tidak bohong?" tanya Adrian tidak percaya.
"Benar kok kalau tidak percaya kamu bisa bertanya langsung pada Lani."
"Baiklah aku percaya sana mandi dulu hari ini kita berangkat bersama saja," ujar Adrian.
"Baik." Anisa berlari ke kamarnya sedangkan Adrian mencoba menelpon Lani.
"Halo Lan ini Adrian ada yang ingin aku tanyakan sama kamu."
"Iya Dri ada apa?" tanya Lani gugup sebenarnya dia khawatir karena kalau terjadi sesuatu pada Anisa pasti Adrian langsung akan mencurigainya.
"Apa Anisa semalam menginap di rumahmu?"
"Oh iya-iya benar semalam memang dia di rumahku."
"Oh, ya sudahlah kalau begitu aku hanya ingin memastikan saja. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya!"
"Iya," ujar Lani sambil bernafas lega.
Setelah sarapan selesai mereka berangkat bersama. Adrian terlebih dahulu mengantarkan Anisa ke kantornya sebelum pergi ke rumah sakit.
Sampai di kantor Anisa bersikap biasa terhadap kedua temannya seolah semalam tidak terjadi apa-apa tapi dalam hati sebenarnya dia merencanakan sesuatu.
"Lan, Sin nanti malam kita ke club lagi yuk!" ajak Anisa pada kedua sahabatnya.
Kedua sahabatnya terbelalak dan berpikir apakah tidak terjadi sesuatu semalam pada diri Anisa sehingga dia tidak kapok ingin ke club lagi.
"Kamu tidak bercanda kan Nis?" tanya Sinta tak percaya pasalnya mana mungkin tidak terjadi sesuatu padahal pria semalam sudah mentransfer bayaran mereka tadi pagi.
"Aku serius Sin, kamu tahu aku ketagihan dengan hal semalam, minuman membuatku benar-benar melayang ke angkasa," ujar Anisa tersenyum manis padahal dihatinya ingin muntah karena ucapannya sendiri.
Lani dan Sinta tersenyum menyadari bahwa Anisa tidak marah malah sahabatnya itu menikmati hal semalam. Keduanya kompak mengangguk.
"Baiklah kalau begitu tapi jangan langsung dari sini ya kita pulang dulu biar bisa ganti pakaian dan berdandan cantik dan kalian tenang saja untuk malam ini aku yang traktir semuanya."
__ADS_1
"Oke Nis kalau begitu nanti malam kita jemput ya!"
"Sip, udah sekarang kita kerja lagi nanti dimarahi pak Bos."
"Oke siap." Mereka kembali ke posisi masing-masing untuk bekerja.
Sepulang kerja Anisa menolak diantar Lani pulang dengan alasan akan dijemput Adrian padahal Adrian sudah mengatakan tidak bisa menjemput dirinya karena malam ini dia ada tugas malam di rumah sakit yang berbeda.
Anisa pulang ke rumah dengan menaiki ojek online, tapi bukannya langsung pulang dia malah menghampiri gerombolan preman yang biasa' mangkal di dekat jalan menuju rumahnya. Dia membayar preman itu agar mau membantunya. Tentu saja preman tersebut tertarik dengan penawaran Anisa sudah dapat uang juga dapat wanita.
Setelah sampai di rumah Anisa mandi dan makan malam seorang diri karena Adrian memang benar-benar tidak pulang. Beberapa saat kemudian Lani dan Sinta datang ke rumahnya dan langsung mengajaknya pergi.
Sampai di club mereka langsung memesan minuman. Anisa meminta keduanya untuk berlomba minum banyak, siapa yang berhasil meminum terbanyak akan dia kasih hadiah. Mereka pun yang tidak curiga sama sekali langsung setuju dengan permintaan Anisa.
Setelah keduanya mabuk berat Anisa membawa mereka ke sebuah hotel yang dekat dengan klub tersebut sambil menjentikkan jarinya agar ketiga preman tersebut mengikuti langkah mereka.
Sampai di hotel Anisa langsung memesan dua kamar dan membawa mereka ke masing-masing kamar.
"Silahkan kalian bersenang-senang dengan mereka, terserah kalian mau bagi-bagi atau keroyokan," ujar Anisa.
"Benar kami bisa melakukan apa saja terhadap mereka?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya lakukan apapun yang ingin kalian lakukan dan ingatlah tinggalkan mereka sebelum mereka sadar seutuhnya agar mereka tidak tahu siapa yang meniduri mereka," ujar Anisa sambil berjalan meninggalkan ketiganya kemudian berbalik arah.
"Kalau berhasil sisa bayarannya akan aku kasih besok," ucapnya sambil berjalan menjauh.
"Siap Bos."
Para preman tersebut tersenyum menyeringai lalu tanpa aba-aba langsung masuk ke kamar hotel untuk menyantap sajian yang telah dihidangkan. Mereka berpikir mimpi apa semalam sudah dapat yang enak-enak malah dibayar lagi.
Sedangkan Anisa pulang dengan rasa puas. "Sekarang kalian rasakan pembalasanku!"
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐
__ADS_1