Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 37. Lisfi 2


__ADS_3

Baiklah," jawab Lisfi sambil memandangi punggung Mala yang terlihat semakin menjauh.


Lisfi tersenyum sendiri membayangkan dirinya akan bergelimang uang, pasti Ramlan akan semakin menyayanginya dan semakin melupakan putrinya sendiri yang dia anggap tak berguna itu. Rasanya Lisfi tidak sabar menunggu malam tiba.


Tunggu ayah kau akan selalu bangga terhadap Lisfi.


Malam menjelang, langit merah sudah terganti gelap namun senyuman di bibir Lisfi tidak pernah luntur. Malam ini sesuai permintaan Mala dia akan menemui Mala di rumahnya.


Dengan pakaian terbaik dan polesan bedak yang tipis namun tidak menutup kesan kecantikannya ia memutar tubuhnya di depan kaca.


"Sepertinya sudah pas, bukankah Mala menginginkan aku berdandan cantik. Ini sudah cantik 'kan?" Bertanya kepada cermin di depannya seolah cermin itu bisa menjawabnya.


"Iya benar sudah cantik." Menjawab sendiri. Lisfi kemudian mengalungkan tas di lehernya kemudian berjalan ke luar rumah. Di luar ojek online yang ia pesan sebelumnya sudah standby.


Setelah tukang ojek menyerahkan helm, Lisfi memakainya dengan hati-hati takut merusak tatanan rambutnya yang sudah rapi.


"Pelan-pelan Mas!" serunya pada tukang ojek saat ia sudah duduk di belakang kemudi.


"Iya Mbak," tukang ojek menjawab sambil mengangguk. Lalu sesuai permintaan melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mencapai rumah Mala yang memang tidak begitu jauh dari kosan.


"Terima kasih Mas ini ongkosnya," ucap Lisfi sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada tukang ojek.


"Sama-sama Mbak," jawab tukang ojek sambil meraih uang yang Lisfi sodorkan.


Saat turun dari motor Lisfi berjalan ke arah pagar rumah. Matanya terbelalak saat melihat rumah Mala terlihat cukup besar.


B**enar-benar tuh si Mala ya beruntung banget. S**udah cantik, seksi, dan punya rumah gede lagi. Kalau aku mah punya rumah begini nggak apa-apa deh meski tidak tinggal dengan orang tua.


"Hei sudah lama sampainya? Mengapa tidak mengabari aku?" sapa Mala dari balik pagar sambil membuka pintu pagar tersebut.


"Eh tidak, baru saja kok." Lisfi tersadar dari lamunannya.


"Ayo masuk!" aja Mala kemudian menutup pagar kembali saat tubuh Lisfi sudah berada di dalam pekarangan rumah.


"Ini rumahku sendiri?" tanya Lisfi masih dengan ekspresi yang kagum.


"Iya tempat tinggal orang tuaku jauh dari sini."


"Wah hebat kamu ya sudah bisa punya rumah sendiri."

__ADS_1


"Kamu juga bisa seperti aku asalkan mau bekerja keras. Dulu aku tinggal di perumahan milik perusahaan tapi sekarang ya beginilah sudah bisa membeli rumah sendiri karena pekerjaan sampinganku itu."


"Oh ya?" Semakin penasaran saja Lisfi dibuatnya.


Mala mengangguk kemudian menarik pergelangan tangan Lisfi dan membawanya ke ruang tamu.


"Kamu duduk dulu biar aku buatkan minuman," ucap Mala dijawab anggukan oleh Lisfi. Mala pun beranjak ke dapur, beberapa saat kemudian kembali dengan segelas minuman dan setoples camilan untuk Lisfi.


"Kamu nikmatilah itu sambil menunggu diriku. Aku akan bersiap-siap dulu." Sekali lagi Lisfi hanya menjawab dengan anggukan.


Beberapa saat kemudian Lisfi terlihat turun dari tangga dan berjalan mendekati Lisfi kembali.


"Yuk kita pergi sekarang sepertinya taksi online yang ku pesan sudah sampai di depan."


"Baiklah," ucap Lisfi seraya bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Mala keluar rumah menuju taksi yang sudah standby di depan pintu pagar.


"Pak ke tempat seperti biasa," perintah Mala pada sopir taksi.


"Oke siap Mbak."


Mobil pun melaju ke tempat tujuan mereka. sesampainya di gedung tersebut malah mengajak istri untuk turun dan masuk ke dalamnya. Lisfi kaget mendapati gedung yang akan dimasukinya.


"Benar kamu mau ngajak aku ke sini?" Lisfi terlihat ragu.


Ya clubbing tidak pernah dia masuki karena kalau sampai ayahnya tahu bisa dipotong lehernya.


"Tenanglah tempat ini tidak mengerikan seperti yang kamu pikirkan." Mala merayu Lisfi.


"Tapi aku takut, aku tidak pernah masuk ke tempat seperti ini. Kalau ayah tahu aku ke tempat ini pasti aku akan kena marah."


"Lagi pula stigma buruk yang mengecap tempat ini tidak selamanya benar apalagi ayahmu tidak ada di sini 'kan? Jadi untuk apa khawatir? Kalau selalu berpatokan sana keinginan orang tua mana bisa kamu punya pengalaman?" Mala masih berusaha membujuk Lisfi yang sepertinya ingin berjalan mundur.


"Ayolah kalau tidak dicoba dulu mana kamu tahu."


"Kamu tidak ingin mengajak ku mengedarkan narkoba 'kan?"


"Ya ampun kok sampai jauh ke situ sih pikirannya."


"Bukan ya?"


"Bukanlah, udah yuk kita masuk saja dulu."

__ADS_1


"Baiklah akhirnya Lisfi luluh."


Setelah masuk ke dalam segera Mala mengajaknya ke sebuah table.


"Mau pesan meminum apa?"


"Es jeruk aja."


Mala tertawa tepatnya menertawakan Lisfi. "Kayak di kafe aja pesannya begituan."


"Eh tidak ada ya?" Lisfi tampak malu. "Kalau begitu pesan coca cola saja. Ada 'kan?" lanjutnya tanpa mau mendengarkan ucapan Mala.


Mala mengangguk. "Baiklah." Lalu Mala memanggil pelayan untuk memesan minuman.


Setelah minuman telah tersuguhkan di atas meja mereka langsung meneguk minumannya masing-masing.


Saat sedang asyik menikmati minumannya tiba-tiba ada seseorang pemuda yang ikut nimbrung diantara mereka.


"Hai sudah lama?"


"Nggak kok baru saja," sahut Mala. "Kamu?"


"Baru sampai. Itu toh yang ingin kamu kenalkan padaku?" tanya pria itu pada Mala.


Lisfi hanya mengernyit tidak mengerti dengan pembicaraan keduanya. Apa yang dimaksud keduanya adalah dirinya sendiri? Entahlah Lisfi tidak mau ikut campur dengan pembicaraan keduanya. Dia memilih menjadi pendengar yang baik saja.


"Hai!" Pria itu mengulurkan tangannya dan mengenalkan diri. Lisfi pun menerima uluran tangan pria itu dan ikut memperkenalkan dirinya.


"Kalian mengobrol lah berdua aku pergi ke toilet dulu," pamit Mala dan berlalu pergi dari hadapan keduanya padahal dia hanya ingin membiarkan mereka mengenal satu sama lain.


Sepeninggalnya Mala, Lisfi tampak canggung karena ditinggal dengan orang yang baru dikenalnya. Untung saja pria tersebut supel sehingga tidak butuh waktu lama bagi dia untuk mengakrabkan diri terhadap Lisfi. Mereka akhirnya terlibat perbincangan panjang hingga akhirnya Lisfi tidak menyadari bahwa sekian lama bercerita Mala belum kembali juga.


"Eh Mala mana ya?" tanya Lisfi setelah menyadari bahwa Mala belum balik-balik juga.


"Biar saya hubungi." Pria itu mengambil ponselnya kemudian menghubungi Mala. Beberapa saat kemudian terlihat ia menutup teleponnya dan berkata, " Mala memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu karena tadi dia sakit perut sehingga harus meninggalkan tempat ini."


"Ckk, kok nggak ngajak-ngajak sih? Kalau tahu begitu aku 'kan pasti ikut pulang."


"Biar aku yang mengantarmu pulang," ucap pria itu.


"Baiklah kalau begitu antarkan aku pulang sekarang," ucap Lisfi seraya bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2