
"Eh kamu menangis? Apa aku terlalu keras padamu?"
Eh bisa nangis juga tuh orang. Batin Louis.
"Sudah sana biar aku yang goreng ikannya!" Niatnya mau mengerjai Nindy dengan meminta Mira untuk belanja pagi-pagi tapi nyatanya dirinya yang malah repot sendiri karena tidak tega melihat gadis itu menangis. Memang Louis merasa senang melihat gadis itu ngedumel sendiri saat ia kerjai tapi kalau gadis itu menangis rasanya begitu berbeda.
Saat Louis mendekat ke kompor, Nindy mundur ke belakang tapi tidak keluar dari dapur, ia memilih menyaksikan Louis memasak lauk untuk sarapan.
Dengan cekatan Louis mengambil daging ayam dari dalam kulkas, memotong-motongnya sesuai ukuran yang dikehendakinya. Kemudian dia membersihkan potongan ayam tersebut dan menyisihkan sebentar.
Setelah itu ia mulai menghaluskan bumbu. Nindy menelan ludah melihat Louis begitu cekatan mengupas dan menghaluskan bumbu karena kecepatannya yang bahkan mengalahkan pembantu di rumahnya sendiri. Dia menjadi tertampar. Malu sendiri karena Louis yang laki-laki bisa memasak tapi dirinya yang perempuan malah tidak bisa apa-apa.
"Apa dia koki ya?" Bergumam kecil.
"Kamu ngomong apa tadi?" Louis menghentikan gerakannya sebentar sepertinya ia sedikit mendengar ucapan Nindy walaupun tidak terlalu jelas.
"Ah nggak aku tidak ngomong apa-apa," sahut Nindy.
"Ooh." Dia fokus kembali pada pekerjaannya. Melumuri ayam dengan bumbu dan meletakkan daging ayam tadi ke dalam wajan. Setelah itu diberi air dan ditumis hingga bumbu meresap.
"Apa tidak perlu diungkap dalam kulkas ya?"
"Kelamaan saya sudah lapar."
"Kenapa tidak pesan online saja Tuan?"
"Terus apa gunanya kamu dan Mira?"
Nindy menjadi tertohok dengan ucapan Louis lalu dia memilih diam.
"Kenapa diam?" Entah mengapa Louis suka dengan kecerewetan gadis ini.
"Maaf aku tidak berguna, tapi aku janji aku akan belajar memasak."
"Bagus, jangan sampai aku rugi mempekerjakan kamu di sini. Kamu tahu kan berapa uang yang harus ku keluarkan karena kecerobohan kamu?"
"Iya aku tahu."
"Baguslah kalau kamu paham."
Beberapa saat kemudian terlihat air dalam wajan sudah menyusut pertanda bumbu ayam sudah meresap. Louis mematikan kompornya.
"Sekarang teruskan! Goreng daging nya, awas jangan sampai gosong lagi."
"Kenapa tidak Tuan saja yang teruskan, nanggung."
"Di sini aku atau kamu yang pembantu sih?" protes Louis.
"Maaf."
"Hindarkan selalu berkata maaf dengan mengurangi kesalahan!" Louis berkata sambil beranjak keluar dari dapur.
Nindy mengangguk kemudian menggantikan Louis menggoreng ayam. Dia menaruh wajan lain di atas kompor dan menyalakan kompornya. Setelah minyak goreng panas ia mulai memasukkan potongan ayam ke dalam wajan.
"Auw, auw auw." Terdengar suara kegaduhan dari dalam dapur karena ayam yang Nindy goreng meletup-letup.
Louis yang belum beranjak jauh menoleh ke arah dapur. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kehebohan Nindy di dapur. Dia kemudian pergi ke kamarnya sendiri. Mengeluarkan baju-baju dari koper yang belum sempat ia masukkan ke dalam lemari.
__ADS_1
"Kok kayaknya ada yang kurang ya? Tapi apa? Apa cuma perasaanku saja?" Louis tampak berpikir sejurus kemudian dia mengingat akan dompetnya yang ia tinggalkan di kamar pengantin. Dia lalu berinisiatif menelpon Adrian agar mau mengambilkan dompetnya tersebut. Jika ia datang sendiri dia merasa tidak enak kepada kedua pengantin. Kebetulan Annete yang mengangkatnya dan menyatakan siap untuk membantu.
Setelah menutup telepon Louis memasukkan baju-baju itu kembali. Tiba-tiba sebuah kemeja di depannya mengingatkan dirinya akan kebersamaannya dengan Angel. Ya baju itu Angel yang memilihnya waktu berbelanja bersama.
"Gel semoga kamu bahagia, aku ikhlas kok." Dia menciumi baju tersebut kemudian menyandarkan kepalanya di depan lemari sambil memejamkan mata. Suara yang keluar dari mulut ternyata tidak sama dengan suara hati. Walaupun berulangkali ia mengatakan ikhlas nyatanya hatinya masih terasa sakit.
Sementara di dapur setelah menyelesaikan menggoreng daging ayam, Nindy lalu menata makanan di meja makan. Dia sempat berpikir apakah Louis memang seperti itu setiap hari makan makanan yang sederhana ataukah ini hanya gara-gara dirinya yang payah tidak bisa memasak.
"Mulai sekarang aku harus pandai memasak. Selain agar bisa cepat keluar dari tempat ini juga agar ayah tidak lagi membanding-bandingkan aku dengan kak Lisfi." Tekadnya sudah begitu bulat.
Selesai menata masakan dia langsung memanggil Louis di kamarnya.
Tok tok tok. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Louis.
"Tuan makanannya sudah siap."
"Iya tunggu sebentar!" Louis pun bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju pintu. sampai di depan pintu dia langsung memutar handle pintu sedangkan Nindy yang penasaran masih mengintip Louis dari balik pintu sambil tangannya terus mengetuk.
Pintu terbuka dan Nindy tiba-tiba terjengkang ke dalam membuat Louis segera menangkapnya. Namun tak disangka karena itu, tidak sengaja wajah mereka saling bertaut. Louis memejamkan mata merasakan gelenyar aneh yang sudah lama tidak dirasakannya.
"Aaakkkh!" Nindy berteriak sambil mendorong tubuh Louis ke belakang lalu berlari menjauh.
Bersamaan dengan itu Mira datang dengan menenteng tas belanjaan dan sebungkus kresek.
"Nindy tolong siapkan ini di meja makan! Mas Louis belum makan kan?" Mira menyerahkan bungkusan atau kresek kepada Nindy sedangkan dirinya menata belanjaan.
"Hah hah hah, iya Mbak." Nindy berucap sambil ngos-ngosan, dia masih belum bisa menetralisir detak jantungnya.
"Kenapa sih kamu kok kayak dikejar hantu saja?" tegur Mira.
"Hehe... nggak apa-apa sih Mbak." Nindy mencoba bersikap seperti biasa. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi, bisik hatinya.
"Iya Mbak."
Saat Nindy sedang menata makanan Louis berjalan ke arah meja makan. Nindy menatap sebentar wajah Louis, sepertinya ekspresi wajah pria tersebut biasa seolah tidak pernah terjadi sesuatu.
Nindy bernafas lega, semoga saja Louis tidak mempermasalahkan dirinya yang mengintip tadi. Walaupun jantungnya serasa jedag-jedug kala mengingat momen ciuman tadi.
"Sudah siap?"
"Sudah Tuan."
"Sepertinya tadi di dapur ada menu sayur bening, mana?"
"Itu...itu...." Nindy berkata ragu-ragu. Dia tahu pasti masakannya itu tidak enak. Kenapa Louis malah mengingatnya? Bukankah sayur yang dibelikan Mira sudah bermacam-macam? Dia memang sengaja tidak mengeluarkan itu karena takut akan mendapatkan ejekan seperti di rumahnya sendiri.
"Ambil dan bawa ke sini!"
Dengan ragu Nindy mengangguk dan terpaksa mengambil sayur yang ia olah tadi kemudian menghidangkan di meja makan. Setelahnya dia beranjak pergi.
"Mau kemana?" Louis mencegah langkah Nindy.
"Mau bersih-bersih," jawabnya.
"Nanti saja, sekarang kita makan dulu."
"Apa?" Nindy kaget, bagaimana pembantu bisa makan semeja dengan majikannya?
__ADS_1
"Mbak Mira ayo makan!" panggil Louis.
"Sebentar Mas lagi tanggung ini," jawab Mira dari balik dapur.
"Ayo duduk!" perintah Louis pada Nindy yang masih terlihat tidak percaya apalagi saat Louis menepuk kursi di sampingnya.
Dengan masih ragu-ragu Nindy duduk meski detak jantungnya belum bisa normal.
"Layani aku! Ambilkan aku nasi sama ikan yang itu!" perintah Louis pada Nindy.
Kenapa nggak sekalian minta disuapin? Mana ada pembantu yang disuruh-suruh begitu? Sabarlah Nindy mungkin ini rasanya kalau punya majikan jomblo, jadi nggak ada yang ngurus.
Nindy mengingat momen kemarin saat-saat Louis memintanya untuk mengambil koper di kamar pengantin. Sekarang dia bisa menarik kesimpulan bahwa Louis memang gagal menikah dan sekarang sedang stres sehingga masih berkhayal sudah punya istri. Oleh karena itu meminta orang lain berperan, melayani layaknya istri.
"Iya Tuan." Nindy pun melakukan apa yang diperintahkan.
Dari jauh Mira berjalan ke arah mereka. Dia tersenyum melihat Louis mengerjai Nindy.
"Awas jatuh cinta Mas Louis," batinnya.
"Ambilkan sayur yang itu!" perintahnya lagi.
"Jangan Tuan itu..."
"Kenapa, apa karena ada racunnya?"
"Bukan tapi..."
"Ya sudah kalau begitu tidak perlu membantah!"
Nindy mengambil mangkok berisi sayuran buatannya dan meletakkan mangkok tersebut di depan Louis.
Saat Louis menyendok sayurannya Nindy menunjukkan ekspresi meringis membayangkan rasa sayuran yang dibuatnya.
"Enak."
Kata-kata Louis membuat Nindy terbelalak. "Maaf, Tuan mengejek saya ya?"
"Apa kata enak bisa dikatakan mengejek?"
"Benarkah?" Nindy merasa girang. Baru sekarang ada orang yang mengatakan masakannya enak. Dulu dia pernah belajar memasak tapi karena semua orang yang menyicipi masakannya selalu mengatakan tidak enak dia putus asa dan berhenti belajar.
"Kalau tidak percaya cicipi sendiri."
Nindy mengerutkan dahi masih tidak percaya dengan perkataan Louis. Walaupun dia tadi sempat senang tapi dia takut Louis hanya mengerjainya.
Mira yang melihat Nindy masih ragu akhirnya turut menyicipi sayur tersebut. Sesaat kemudian dia menunjukkan dua jempol pada Nindy.
Karena penasaran akhirnya Nindy pun mencicipi masakan tersebut dan ternyata dia kaget karena itu beneran enak padahal bumbu yang ia masukkan sembarang dan ia yakin pasti tidak enak.
Dia tersenyum kembali meski ini hanya memasak sayur tapi ini adalah pencapaian darinya yang memang tidak pernah bisa memasak.
"Iya kok bisa enak ya?"
"Iya enak, ada manis-manisnya kayak bibir kamu," goda Louis membuat pipi Nindy memerah bak kepiting rebus karena mengingat kejadian tadi.
"Ekhem...ekhem, kayaknya ada yang terlewat nih."
__ADS_1
"Mbak Mira kepo," ujar Louis sambil terkekeh.
Bersambung .....