Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis part 61. Hamil Lagi


__ADS_3

Keguguran yang dialami Nindy membuat wanita itu sedikit stres Apalagi Nindy pernah mengalami depresi sebelumnya.


Karena hal itu Louis selalu meluangkan waktu untuk menemani sang istri berjalan-jalan agar Nindy bisa melupakan kesedihannya.


Saat berjalan-jalan mereka melintasi sebuah baby shop. Nindy memandang tempat itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ada apa Sayang?" tanya Louis saat tiba-tiba Nindy menghentikan langkahnya.


Nindy tidak menjawab, ia malah termenung melihat penampakan baju bayi dari balik kaca. Karena tidak ada respon, Louis memandang wajah Nindy dan mengikuti arah pandangan Nindy lagi.


"Kamu mau aku ajak ke luar negeri?" tanya Louis dengan harapan Nindy mengalihkan perhatiannya.


Benar saja Nindy langsung merespon. "Keluar negeri?"


"Iya sekalian kita bulan madu di sana."


Mendengar kata bulan madu Nindy termenung kembali. Bulan madu bagi Nindy identik dengan kehamilan.


"Kenapa, kamu tidak mau hamil lagi?" tanya Louis, dia mengerti arah pemikiran Nindy saat ini. Jadi sekalian Louis bicarakan.


"Mau lah Mas, mau banget malah," jawab Nindy antusias.


"Kalau begitu kita buat diluar negeri sana. Siapa tahu anak kita pengen made in luar negeri kayak putri Zidane si Chila itu."


"Maksudnya?" tanya Nindy tak mengerti.


"Dulu Zidane sama Isyana pengen punya adik buat si kembar tapi belum hamil-hamil juga. Setelah pulang dari bulan madu baru dia hamil. Siapa tahu nasib kita samaan dengan mereka."


"Oh ya? Kalau begitu kita coba," ucap Nindy antusias.


Louis mengangguk. "Nah gitu dong senyum, kalau kamu senyum tambah cantik."


"Ah Mas Louis bisa aja."


"Kamu mau ke negara mana?"


"Harus aku yang nentukan ya?"


"Iyalah biar kamu puas. Kira-kira kamu suka negara apa?"


"Jepang," jawab Nindy spontan.


"Baiklah dua hari lagi kita berangkat. Biar aku suruh Kenan nanti untuk menyiapkan keperluan kita dulu. Kita juga harus membicarakan juga kan sama papa, mama, dan ayah juga bunda."


"Iya Mas atur aja gimana baiknya kalau perlu cari hari baik."


"Kayak mau nikah aja cari waktu baik." Louis terkekeh.


Dua hari kemudian Louis dan Nindy sudah siap berangkat. Kedua orang tua mereka sama-sama menyempatkan diri untuk mengantarkan anak-anaknya ke Bandara.


"Hati-hati ya Lou jangan bikin istrimu capek."


"Iya Ma."


Mereka melambaikan tangan dan naik ke atas pesawat.


Sampai di Jepang kedatangan mereka disambut oleh mekarnya bunga sakura yang membuat Nindy antusias dan melupakan kesedihannya.


Setelah sampai di hotel dan meletakkan pakaian mereka, Louis langsung mengajak Nindy berjalan-jalan sebentar mengitari kota Tokyo. Setelah sedikit lelah mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan karena perut mereka sudah keroncongan.

__ADS_1


"Mau makan apa?" tanya Louis pada Nindy sambil memberikan buku menu yang diberikan oleh seorang waiters laki-laki.


"Kamu aja yang pilihkan," jawab Nindy.


"Kamu aja deh yang pilih, kamu kan penggemar masakan Jepang jadi aku yakin kamu pasti lebih tahu menu mana saja yang enak."


Nindy mengangguk lalu memesankan makanan untuk Louis dan juga untuk dirinya.


Setelah selesai makan-makan mereka kembali ke hotel dan beristirahat.


Sampai satu bulan mereka masih ada di Jepang. Mengitari tempat-tempat wisata yang ada di Tokyo maupun yang ada di luar kota tersebut. Tuan Zaki tidak pernah membebani Louis dengan pekerjan. Selama Louis di Jepang ia dengan ikhlas mengerjakan tugas-tugas perusahaannya. Louis dan Nindy pun selalu menghubungi kedua orang tua mereka dengan video call untuk mengurangi kerinduan.


"Pulang," pinta Nindy suatu hari pada Louis.


"Udah puas di sini? Kalau belum puas-puasin aja dulu."


"Udah, lagipula buat apa lama-lama di sini kalau tidak membuahkan hasil." Nindy tampak cemberut.


"Ish masih mikir anak. Kenapa ngebet banget sih punya anak? Kita harus yakin suatu saat nanti kita bakal dikaruniai seorang anak."


"Tapi kelamaan, takutnya nanti anak kita manggil kamu kakek," ujar Nindy membuat Louis tepuk jidat.


"Nggak bakalan aku kan awet muda. Pasti orang-orang menganggap aku masih anak kuliahan," kelakar Louis.


"Cih anak kuliahan." Nindy mencebik.


"Apa kita pulang besok saja?" tanya Louis.


"Ide bagus," jawab Nindy.


"Baiklah kalau begitu aku kemas barang-barang kita sekarang."


"Baiklah ucap Nindy pasrah lalu naik ke atas ranjang dan memejamkan mata.


Louis mengepak semua barang-barangnya kemudian menghampiri sang istri di atas ranjang. Louis menatap wajah istrinya dan tersenyum kala mengingat akhir-akhir ini istrinya bersemangat untuk bercinta. Ia mengecup kening Nindy kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan akhirnya terlelap.


Esok hari mereka langsung bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Setelah melakukan penerbangan sekitar kurang lebih 8 jam akhirnya mereka sampai ke Bandara Soetta Hatta. Sampai di sana semua keluarga sudah standby menunggu kedatangan mereka kecuali Tuan Zaki yang tidak bisa ikut karena ada rapat penting di kantor.


Nindy langsung memeluk Farah dan ayahnya. Setelah itu baru ke mama Ani. Saat dipeluk mama Ani tiba-tiba Nindy pingsan. Untuk saja mama Ani sigap kalau tidak pasti Nindy sudah terjatuh.


"Kenapa dia Lou?" tanya Farah panik. Louis langsung menggotong tubuh istrinya dan membawa ke mobil.


Pak Ramlan masuk ke belakang kemudi sedang mama Ani sibuk mengoleskan minyak kayu putih di pelipis Nindy.


"Ke rumah sakit dulu ya Yah." Pinta Louis dan pak Ramlan langsung tancap gas.


...****************...


"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?"


"Selamat istri Anda hamil." Dokter tersebut mengulurkan tangannya pada Louis.


"Terima kasih Dok." Louis menerima uluran tangan dokter tersebut.


"Tap...."


"Tapi apa Dok?"


"Mari ikut ke ruangan saya. Biar saya jelaskan di sana."

__ADS_1


"Baiklah." Louis mengikuti langkah dokter tersebut.


"Silahkan duduk!"


"Terima kasih Dok." Louis pun duduk.


"Istri Bapak hamil tetapi kandungannya lemah. Jadi istri bapak tidak boleh kelelahan dan harus banyak beristirahat. Satu lagi dia tidak boleh terbebani pikiran ataupun stres. Kalau tidak dia bisa keguguran kembali."


Ya Tuhan cobaan apalagi ini?


Louis menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara kasar. Dia tidak tahu harus bahagia ataupun sedih mendengar kabar ini.


"Apa yang harus saya lakukan Dokter?"


"Ya itu tadi, harus benar-benar menjaga istri bapak agar tidak capek dan stres."


"Baiklah Dok, akan saya lakukan."


Dokter itu mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi Dok."


"Iya, sebaiknya istri Bapak tidak perlu tahu akan kabar ini."


"Iya Dok saya mengerti."


Louis keluar dari ruangan dokter dan masuk ke ruang rawat Nindy.


"Apa kata dokter Mas? Apa aki punya penyakit para?"


"Ngaco, enggak lah."


"Terus kenapa tadi aku bisa tiba-tiba pingsan?"


"Kamu mau tahu?"


Nindy mengangguk walau masih terlihat cemberut.


"Kamu hamil."


"Benarkah?" Kini wajahnya tampak berseri-seri.


"Iya dong masak aku bohong."


"Aaakh." Nindy langsung memeluk Louis karena saking bahagianya.


"Benar Nak Louis?" tanya Farah.


"Iya bunda."


"Aaakh." Kali ini dua besan wanita saling berpelukan.


"Tapi ingat harus hati-hati dan jangan bawa gerak dulu. Janinnya masih kecil takut tidak kuat," unar Louis.


"Baiklah kali ini aku akan benar-benar hati-hati." Nindy berucap dengan sungguh-sungguh.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!"๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2