
Namun belum sempat orang-orang menangkap ular itu kaki Zidane telah lebih dulu dipatuk ular tersebut.
"Aargh." Zidane mengerang kesakitan.
"Paman!" Kedua anak dalam gendongannya berteriak sambil menangis. Mereka merosot turun dari gendongan Zidane.
Sedangkan orang-orang yang ada di tempat tersebut panik ada yang tetap mengejar ular tersebut ada yang menghampiri Zidane.
"Om Dion tolong paman! Dia digigit ular," ucap Tristan sambil terisak.
Dion segera menggotong Zidane menuju mobil diikuti kedua anak tersebut.
"Nathan, Tristan kalian mau kemana?" tanya Lexi yang melihat mereka memasuki mobil Dion.
"Ke rumah sakit Uncle."
Mendengar kata rumah sakit Lexi ikutan panik walau dia melihat kedua anak itu baik-baik saja. Segera ia membawa mobilnya meluncur mengikuti mobil Dion.
Sampai di rumah sakit mereka sudah disambut oleh beberapa perawat di parkiran rumah sakit. Mereka membawa brankar dorong. Segera mereka membantu Dion membaringkan Zidane dan mendorong brankar tersebut ke dalam ruang IGD.
Setelah sampai di dalam segera Zidane mendapat penanganan termasuk penyuntikan serum anti bisa ular (SABU) atau snake antivenom immunoglobulin untuk menetralkan racun dalam tubuhnya. Setelah selesai Zidane dipindahkan ke ruang perawatan.
"Paman maafkan Itan gara-gara Itan paman menjadi begini," ucap Tristan yang kini sudah dibanjiri air mata dia sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
"Sudahlah paman tidak apa-apa. Kamu tidak perlu menangis, tidak perlu menyesal juga karena semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Sini!"
Tristan merapat ke arah Zidane.
"Anak laki-laki tidak boleh cengeng!" bisik Zidane di telinga. Tristan. Tristan pun mengangguk.
"Nathan danTristan sudah waktunya, ayo berangkat!" ucap Lexi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Kedua anak yang dipanggil tidak bereaksi.
"Sudah sana kalian berangkat paman sudah tidak apa-apa. Lagipula kalian harus profesional terhadap kerjaan kalian."
Untuk kesekian kalinya Tristan mengangguk. "Ayo Atan!"
"Aku nggak ikut aja ya mau nemenin paman di sini."
"Baiklah aku titip paman sama kamu Atan."
"Iya."
"Kita pergi dulu Bro, semoga kamu lekas sembuh. Kami nitip Nathan juga ya!" ucap Lexi sambil menepuk bahu Zidane.
Zidane hanya mengangguk dan Lexi meninggalkan ruangan bersama Tristan.
"Boy kenapa kamu tidak ikut?"
"Nggak paman saya kan di sana nggak bakal ngapa-ngapain juga cuma nemenin Itan aja."
"Kamu nggak tampil?"
"Nggak mereka kan cuma ngundang Itan aja."
"Oh gitu ya?"
"Iya."
Tiba-tiba Dion datang dengan seorang wanita tua dan wanita itu mendekati Zidane.
__ADS_1
"Kenapa bisa ada ular di dalam kantor?"
"Zidane tidak tahu Ma yang pasti ada orang yang sengaja mengirimkan ular tersebut ke ruangan saya."
"Apa kalian belum bisa menemukan pelakunya?"
"Belum Nyonya." Sekarang Dion yang menjawab.
"Cepat usut siapa pelakunya! Ini nih kalau kalian mengabaikan hal-hal kecil. Kemarin-kemarin dia mengirimkan bangkai hewan sekarang ular besok-besok bisa saja mereka mengirimkan bahan peledak. Kalian mau perusahaan menjadi hancur? Kalian mau kalian dan semua karyawan menjadi korban?"
"Maaf Nyonya tapi kami belum bisa menemukan pelakunya." Dion merasa bersalah.
"Memangnya di kantor kita tidak ada cctv-nya? Mengapa tidak ada yang mengeceknya?"
"Sudah Ma tapi jejak pelaku tidak terekam di cctv."
" Kok bisa Paman?"
"Aku tidak tahu boy tapi itulah kenyataannya hanya kejadian itu yang tidak terekam di kamera tetapi aktivitas lainnya tetap terekam."
"Mungkinkah cctv perusahaan paman ada yang meretas?"
"Kata Jimmy sih tidak. Mungkin pelaku mematikan sebentar cctv di ruangan itu."
"Masalahnya di setiap ruangan kan cctv-nya berbeda?"
"Iya kamu benar mana mungkin dia tahu semua letak cctv yang tersembunyi."
"Kalo begitu apakah paman merasa ada yang tidak beres?"
Mendengar suara anak kecil yang berbicara dengan nada suara yang serius nyoya Alberto menoleh ke arah anak tersebut. Dia terkejut mendapati anak tersebut mirip dengan Zidane.
"Dion...." Tatapan mata nyonya Alberto mengisyaratkan bahwa dia ingin bertanya 'Apakah anak ini yang kamu maksud?'
"Kamu yang namanya Nathan? Kini nyonya Alberto beralih bertanya pada Nathan.
"Eh iya Nyonya." Nathan bangkit dan menyalami tangan ibu tersebut.
"Jangan panggil Nyonya panggil Oma aja. Gimana?"
"Baik Oma."
Zidane tersenyum mendengar pembicaraan Nathan dan mamanya. Kalau mamanya tahu anak kecil yang ada di depannya itu benar-benar cucunya pasti dia akan melihat mamanya yang berjingkrak senang karena teramat bahagia. Namun Zidane bertekad tidak akan memberitahu mamanya sebelum dia melakukan tes DNA karena takut dugaannya salah.
"Baiklah karena nyonya sudah di sini saya permisi kembali ke kantor."
"Om Dion tunggu aku mau ikut!"
"Paman karena sudah ada oma, Atan pergi sama om Dion dulu ya!"
"Iya, kamu hati-hati ya!"
"Iya paman semoga paman lekas sembuh."
Dion dan Nathan pergi dan menuju kantor.
"Om Dion mau kemana?" tanya Nathan ketika menyadari Dion tidak masuk ke ruangannya melainkan masuk ke ruang bagian IT.
"Saya ingin menemui Jimmy. Dia kepala bagian IT di sini. Paman ingin mengecek cctv hari ini siapa tahu pelaku dapat diketahui."
"Tapi kok tidak ada orangnya Om?"
__ADS_1
"Sebentar om Dion tanya sama tante Lala dulu."
Dion keluar ruangan menemui Lala untuk menanyakan keberadaan Jimmy sedangkan Nathan melihat-lihat ruangan tersebut.
"Lala, kemana Jimmy?"
"Tadi dia keluar pas bapak keluar saya pikir dia menyusul pak Zidane ke rumah sakit."
"Tidak ada. Dia tidak ada di sana."
"Kalau begitu saya tidak tahu Pak."
"Oke kalau begitu nanti kalau dia datang suruh menyusul ke ruangan IT."
"Baik Pak."
Dion kemudian kembali ke ruangan tersebut.
"Nathan kamu ngapain?"
"Cuma lihat-lihat aja Om. Gimana pak Jimmy sudah ketemu?"
"Belum."
"Apa boleh saya yang mengeceknya?"
"Emang kamu bisa?"
"Bisa kalau cuma ngecek cctv."
"Oke kalau begitu kamu cek saja."
Nathan mulai mendekati komputer dan duduk di kursi depan komputer tersebut. Jari-jari lentiknya menari-nari di atas keyboard.
"Ini Om rekamannya."
Dion mendekat melihat rekaman yang ditunjukkan Nathan.
"Kok aku tidak lihat bagian orang yang menaruh kado itu?"
"Iya Om tidak ada saya pikir yang menaruh kado tersebut adalah wanita yang katanya mantannya paman Zidane itu tapi ternyata dia malah datang tidak membawa apa-apa," celoteh Nathan sambil melihat rekaman cctv.
"Dulu juga seperti itu seseorang ada yang menaruh kado yang isinya bangkai ayam tapi juga tidak terdeteksi oleh cctv."
"Tunggu! Tunggu Om! Sepertinya ada sebagian rekaman yang sengaja dihilangkan. Saya akan mencoba memulihkan rekaman tersebut."
"Oke, oke silahkan!"
Kembali jari-jemari tangan kanan Nathan dengan lihainya bergerak di atas keyboard sedang tangan kirinya menggerakkan mouse.
"Berhasil."
Mereka pun menonton kembali video rekaman tersebut yang sudah utuh.
"Ketemu. Dialah pelakunya Om," ujar Nathan sambil menunjuk gambar seorang lelaki dalam rekaman cctv tersebut.
"Apa! Dia?" Dion terbelalak melihat siapa yang melakukan teror tersebut.
"Pantas saja tidak pernah terendus ternyata pelakunya adalah orang dalam. Benar-benar musuh dalam selimut."
To Be Continue...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca jangan lupa like komen dan hadiahnya kalo ada votenya juga boleh💓🙏