Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 50. Bertemu Mertua


__ADS_3

Hari sudah siang ketika Isyana keluar dari rumahnya. Hari ini dia akan meninjau langsung pembangunan butiknya yang berada tidak jauh dari rumah ayahnya.


Setelah sampai di depan rumah, Isyana dikejutkan dengan penampakan mobil Alphard yang terparkir di garasi rumahnya.


Isyana menghampiri satpam yang ia rekrut untuk menjaga rumah ayahnya.


"Pak Didik ini mobil siapa?"


"Ini mobil kiriman buat si Nathan sama Tristan Nyonya."


"Dari siapa Pak?"


"Dari siapa tadi ya?" Pak Didik tampak berpikir.


"Saya lupa, tapi yang mengantar masih menunggu Nyonya di pos satpam. Biar saya panggilkan Nyonya."


"Tidak usah Pak biar saya yang ke sana."


Isyana melangkahkan kakinya menuju pos satpam. Sampai di sana dia berbicara dengan orang yang mengantar mobil itu.


"Jadi Nyonya ibunya?"


"Iya Pak."


"Itu mobil kiriman dari tuan Zidane untuk Nathan dan Tristan Nyonya. Surat-surat dan kunci mobilnya ada di dalam mobil. Silahkan Nyonya cek dulu!"


Isyana kembali menghampiri mobil tersebut dan membuka mobil itu. Sesuai dengan saran laki-laki pengantar mobil itu Isyana memeriksa surat-suratnya.


"Gimana Nyonya lengkap?"


"Iya Pak makasih."


"Kalau begitu Nyonya tolong tanda tangan di sini sebagai bukti kalau mobil sudah diterima."


"Baiklah."


"Kalau begitu saya permisi."


"Iya Pak makasih banyak."


"Wow mobil siapa tuh Sya? Kok nggak ngajak-ngajak sih beli mobilnya." Tiba-tiba Lexi menghampiri Isyana yang sedang melihati mobil tersebut.


"Ini mobil anak-anak Lex bukan mobilku."


"Mobil si twins? Kapan mereka beli? Atau jangan-jangan mereka dapat hadiah dari fansnya."


"Iya itu hadiah dari fansnya tapi fansnya papanya sendiri."


"Apa! Jadi mereka sudah ketemu sama papa mereka?"


"Iya Lex bahkan mereka bisa membuktikan sendiri kalau dia papa kandungnya."


"Anak-anak kamu memang hebat Sya, tapi apakah kamu sendiri sudah ketemu dengan papa mereka?"


"Sudah Lex."


"Apa yang dia omongin sama kamu?"


"Dia ngajak aku nikah." Isyana sudah terbiasa terbuka dengan Lexi karena sudah menganggap Lexi sebagai keluarga.


"Terus kamu menerimanya?"


Isyana mengangguk.


"Selamat ya Sya ternyata kamu sudah menemukan cinta sejati mu."


"Lex kamu...."


"Aku tahu Sya kamu memang menunggu ayah kandung dari anak-anak kamu kan?"


Isyana menghela nafas. Hanya perihal siapa yang dia cintai yang tidak pernah dia ceritakan pada Lexi. Nyatanya Lexi sudah tahu dengan sendirinya sekarang.


"Ma ini mobil siapa?" Tristan muncul bersama Nathan dan Annette.

__ADS_1


"Mobil kalian."


"Mobil kami?"


"Iya dari papa kalian."


"Asyik Atan kita punya mobil." Tristan kegirangan.


"Itu gara-garanya kamu mimpi dapat mobil terus papa denger jadi dia kasian sama kamu," ucap Nathan.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Nathan.


"Bagus dong berarti mimpi Atan jadi berkah buat kita semua. Lain kali aku mau mimpi lagi di depan papa, tapi mau mimpi apa ya?"


'Pletok.' Nathan menggetok kepala Tristan. "Mimpi kok dikarang."


"Biarin," ucap Tristan sambil mengambil ponselnya menghubungi Zidane.


"Pa terima kasih ya mobilnya."


"Kalian suka?"


"Iya Pa."


"Itu untuk bayaran kalian yang membantu papa waktu itu."


"Makasih Pa bayarannya lebih dari cukup. Lain kali kalau butuh bantuan lagi hubungi kami ya?" ucap Tristan sambil menutup teleponnya.


"Kok aku jadi penasaran siapa papa kalian."


"Uncle nggak usah penasaran karena Uncle udah sering ketemu dia."


"Sering ketemu? Siapa sih?"


"Papa Zidane."


"Ya ampun! Jadi dia papa kalian? Pantas saja wajah kalian bak pinang dibelah dua dengan Zidane, saya pikir hanya kebetulan saja nggak tahunya benar papa kalian. Kalau papa kalian Zidane kenapa tidak minta mobil dua kan kalian dua orang atau kalau tidak kalian minta Lamborghini aja."


"Lex ngajarin anak-anak yang benar ah."


"Kamu kenal sama Zidane?" tanya Isyana mencoba menghentikan tawa Lexi. Bisa-bisanya dia tertawa seperti itu padahal tidak ada yang lucu.


"Kenal lah Sya. Hampir setiap hari mereka minta dianterin ke kantor Zidane. Saya kadang iri melihat keakraban mereka karena mereka terlihat lebih dekat dengan Zidane dibandingkan saya padahal kan saya bersama mereka sejak kecil sedangkan dengan Zidane mereka baru bertemu."


"Mungkin itulah yang dinamakan ikatan batin Lex."


"Ya kamu benar."


##


"Ma, ini Zidane bawa calon mantu Mama!" ucap Zidane dari luar pintu.


"Eh mantu Mama sudah datang?" ucap Laras sambil memandang wajah cantik Isyana.


Isyana meraih tangan Laras dan menyalaminya.


"Jadi ini toh wanita yang hampir bikin anak mama jadi gila," godanya pada Zidane.


"Maafkan saya Tante," ucap Isyana sambil menunduk merasa tidak enak dengan ucapan Laras. Jantungnya dag-dig-dug tidak karuan takut mertuanya tidak menyukainya. Bayangan mertua jahat memenuhi otaknya.


"Kenapa harus minta maaf sayang? Ini bukan salah kamu kok. Ini kesalahan anak Tante yang begitu bodoh."


"Huf." Isyana bernafas lega ternyata calon mertuanya adalah orang baik sedangkan Zidane mencebik mendengar ucapan mamanya.


"Ayo masuk sayang!" ajak Laras sambil menggandeng lengan Isyana.


"Oh ya cucu-cucu Mama mana?"


"Itu masih di luar sama papa masih nengokin ikan-ikan peliharaan Opanya," jawab Zidane.


"Oke kalau begitu Nak Isyana duduk dulu biar saya buatkan minuman."


"Tumben Mama buatkan minuman sendiri biasanya nyuruh bi Ina."

__ADS_1


"Sudah jangan protes mama mau bikin yang spesial buat calon mantu mama."


Laras beranjak ke dapur dan selang tak begitu lama dia kembali dengan beberapa gelas minuman dan camelan.


"Silahkan diminum Nak Isyana!"


"Makasih Tante."


"Iya tapi mulai sekarang jangan panggil Tante ya. Panggil Mama saja."


"Baik Tante, eh Ma."


"Kapan kalian akan menikah?" Tanpa basa-basi Laras langsung bertanya pada intinya.


"Minggu depan juga boleh Ma," celetuk Zidane.


"Uhuk." Isyana yang sedang meneguk minumannya jadi terbatuk mendengar pernyataan Zidane.


"Pelan-pelan sayang." Laras meraih tissue dan menyodorkannya pada Isyana.


"Ih maunya tapi tanya dulu Nak Isyana-nya siap apa nggak?"


"Iya pasti siap. Ia kan Sya?"


"Ngebet banget sih Dan emangnya kamu pikir nikah itu gampang? Mesti banyak yang dipersiapkan. Apa Nak Isyana sudah siap?"


Isyana memandang wajah Zidane lalu beralih ke Laras. Dia berkata dengan ragu, "Bagaimana kalau aku minta waktu satu bulan? Dalam bulan ini aku masih sibuk mengawasi pembangunan butik dan dan akan mengisinya juga. Lagipula kalau Minggu depan persiapannya pasti gerusa-gerusu."


"Bagaimana Dan?" tanya Laras meminta pendapat Zidane.


"Kalau menurut Mama?" Zidane balik menyerahkan pertanyaan itu pada mamanya.


"Kalau menurut Mama sih pendapat Nak Isyana benar juga. Banyak yang harus kita persiapkan. Walaupun menyuruh orang-orang untuk mempersiapkan segalanya tapi kalau mendadak takut hasilnya tidak maksimal."


"Kenapa mesti ribet sih Ma. Kita tinggal datang ke KUA terus bawa wali dan dua orang saksi beres." Zidane berucap sambil cengengesan.


"Ya ampun Zidane nak Isyana ini anak orang loh."


"Siapa yang bilang dia bukan anak manusia?"


"Mama tidak bisa ngebayangin kalau kamu melakukan itu pasti orang-orang akan menganggap kita rendah dan pelit atau malah disangka jatuh bangkrut lagi. Pokoknya mama tidak mau tahu pesta pernikahan kalian harus dirayakan besar-besaran. Jadi mulai sekarang harus dipersiapkan segala sesuatunya."


"Iya kan nggak harus bareng Ma akad dan resepsinya." Zidane menawar.


"Pokoknya harus bareng kalau nggak kurang greget."


"Terserah Mama lah."


"Nak Isyana mumpung besok hari Minggu kamu dan Zidane ikut mama ya ke butik langganan mama untuk fitting pakaian pengantin kalian."


"Maaf Ma apakah saya bisa membuat sendiri pakaian pengantin kami?" tanya Isyana ragu. Memang dia punya impian untuk menjahit pakaiannya sendiri kalau menikah.


"Memang kamu bisa?"


"Bisalah Ma, orang dia sering buatin pakaian orang lain yang mau nikahan."


"Dia designer Ma," lanjut Zidane berbisik di telinga mamanya namun masih bisa di dengar oleh Isyana.


"Ah nggak kok Ma, Mas Zidane berlebihan saya hanya penjahit biasa."


"Ya nggak apa-apa kamu selesaikan tugas kamu mengurus butikmu sambil menjahit pakaian pernikahan kalian sendiri biar mama yang mengurus yang lainnya."


"Baik Ma terima kasih atas pengertiannya."


"Oh ya Dan kita kan belum melamar dia bagaimana kalau besok malam kita melamar dia sekaligus mendiskusikan tanggal baik pernikahan kalian?"


"Lamaran, apakah itu perlu Ma? Bukankah sebentar lagi kami akan menikah?" tanya Isyana.


"Ya perlulah sayang walaupun kamu bukan gadis tapi yang mengambil kegadisan kamu kan anak Mama. Jadi sudah sepatutnya kami memperlakukanmu seperti seorang gadis. Jadi kami harus melamar kamu sebelum menikahkan kalian."


Mendengar perkataan Laras wajah Isyana bersemu merah karena malu sedangkan Zidane tampak cemberut. Bisa-bisanya mamanya membawa-bawa masa lalu.


"Bagaimana baiknya saja menurut Mama."

__ADS_1


"Baiklah Nak Isyana sampaikan sama orang tuamu bahwa besok malam kami akan datang melamar Nak Isyana."


"Baik Ma."


__ADS_2