Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 67. Gagal (Part 2)


__ADS_3

Malam merangkak semakin larut pesta pun berakhir. Semua tamu mulai kembali ke rumah masing-masing hanya menyisakan beberapa teman dekat dan kerabat dekat dari Zidane.


Atmaja beserta Lusy dan Edward serta Darren sudah pamit pulang. Yuna, Maura, Vania dan Adel sudah tepat di salah satu kamar tamu. Mereka memilih untuk tidur dalam satu kamar padahal Laras sudah menyarankan agar mereka tidur dalam kamar yang terpisah karena di rumah tersebut memiliki banyak kamar.


Para teman dan kerabat laki-laki memilih berkumpul di ruang tamu dan bermain kartu sambil sesekali meneguk kopi yang disediakan.


Lexi tampak terlibat obrolan serius dengan Tuan Alberto. Entah apa yang mereka bicarakan.


Sedangkan Annete yang duduk di sofa ruang tamu tampak gelisah. Sudah berulang kali dia keluar masuk kamar mencoba untuk tidur tapi tidak bisa hingga akhirnya memutuskan duduk di sofa mendengar ocehan para pria di sana. Sesekali melirik ke arah Lexi namun ketika Lexi meliriknya juga dan wajah mereka bertemu Annete malah memalingkan muka.


"Kamu mau kemana Dan nggak mau main kartu sama kita?" tanya Edrick ketika melihat Zidane berjalan terburu-buru menaiki tangga. Namun Zidane tampak acuh terhadap para sahabatnya karena begitu lelah ingin segera beristirahat.


"Mana mungkin dia mau main sama kita sekarang kan ada istri yang bisa dibuat mainan." Louis mengatakan itu sambil cekikikan.


"Pengen unboxing kali, hahaha...." sambung yang lain.


"Ish ... ngomong apa sih kalian," protes Adrian.


"Sayang kamu belum mandi?" tanya Zidane ketika melihat Isyana masih duduk di tepi ranjang belum berganti pakaian.


"Belum Mas susah bukain bajunya." Padahal Isyana sudah berniat ingin membuat gaun yang akan dia pakai terakhir dengan model resleting di depan tapi ternyata dia kelupaan. Jadi terpaksa dia menunggu Zidane di tepian ranjang mau minta tolong kepada Annete atau pun Vania tidak berani turun ke lantai bawah takut diledek teman-teman Zidane.


"Sini aku bantuin!"


Isyana menghampiri Zidane dan berdiri membelakanginya. Dengan perlahan Zidane membantu melepaskan pakaian Isyana. Setelah resleting terbuka sempurna bukannya menyuruh Isyana mandi malah mengelus-elus punggung Isyana yang putih kemudian menciuminya. Kemudian mendekap dan menciumi tengkuk lehernya yang jenjang.


"Mas geli, udah ah aku mau mandi dulu."


"Sebentar sayang." Zidane menahan tubuh Isyana dan semakin erat memeluk istrinya. Menciumi wajah Isyana lalu meraup bibirnya dengan lembut lantas menidurkannya di atas ranjang. Kedua tangannya sudah tidak dapat dikendalikan berjalan menyusuri tiap lekuk tubuh Isyana.


"Mas jangan aku bau, mau mandi dulu," rengek Isyana manja.


Zidane tidak memperdulikan ucapan Isyana malah semakin memperdalam ciumannya. Nafasnya sudah memburu, hasratnya melambung tinggi namun tiba-tiba moodnya terjun bebas dan kepalanya terasa berdenyut. Zidane terdiam seketika.


Isyana yang sudah larut dalam permainan Zidane tiba-tiba merasa aneh karena Zidane menghentikan pergerakannya secara mendadak. Dia malah protes, "Mas mengapa berhenti?"


"Sya apakah kamu perawan lagi?" tiba-tiba pertanyaan konyol dari mulutnya keluar begitu saja ketika melihat percikan darah di dalaman Isyana.


Isyana mengernyitkan dahi tidak mengerti apa yang dimaksud Zidane. Segera Isyana duduk dan memeriksa segitiga berenda nya.


"Astaga." Tiba-tiba Isyana merasa malu sekaligus tidak tega melihat wajah suaminya. Dia merutuki dirinya sendiri, bagaimana mungkin dia tidak merasakan itu.

__ADS_1


"Mas maafkan aku, aku tidak sadar kalau aku datang bulan lagi padahal baru kemaren aku mandi wajibnya.


"Ya Tuhan cobaan apalagi ini? Mengapa setelah sekian lama aku menunggu aku, harus menunggu lagi?" keluh Zidane dalam hati.


"Mas aku...."


"Sudahlah aku tidak apa-apa. Kamu mandi sana." Padahal kepalanya masih terasa sakit.


Isyana beranjak dari tempat tidur, tapi bukannya ke kamar mandi dia malah beranjak ke luar kamar.


"Mas kamu mandi duluan aja ya aku mau menemui Annete dulu."


"Baiklah Zidane beranjak ke kamar mandi mengguyur kepalanya dengan air barangkali sedikit menghilangkan rasa sakit kepalanya akibat kegagalan tadi.


Sedangkan Isyana memanggil Annete dari atas tangga.


"Net sini dulu!"


Annete yang sedang bersiap-siap untuk pulang dengan Adrian mengurungkan diri dan menghampiri Isyana.


"Ya Mbak ada apa?"


"Net boleh aku minta tolong?"


"Tolong belikan aku pembalut ya!"


"Baiklah Mbak."


"Nanti tolong bawakan ke depan kamar ya Net?"


"Oke Mbak, siap."


Annete pun keluar dan meminta bantuan Adrian untuk mengantarnya ke Alfamart yang letaknya tidak jauh dari kediaman Zidane. Kemudian mengantarkan pesanan Isyana ke kamarnya.


"Mas katanya mau pulang mana Adel nya?"


"Nggak jadi deh malam ini kita nginap di sini aja ya! Soalnya Zidane nanti pasti turun ke bawah dan bergabung dengan kami. Kamu tidurlah duluan!"


"Baiklah kalau begitu," ucap Annete pasrah padahal entah kenapa dia tidak bisa tidur dari tadi namun ia mencoba masuk kamar lagi dan merebahkan tubuhnya, berharap kali ini dia bisa terlelap tidur.


"Kenapa nggak jadi pulang Bro?" tanya Louis.

__ADS_1


"Nggak jadi kayaknya bentar lagi Zidane bakalan gabung ke kita-kita deh."


"Dia sedang enak-enak Bro mana mungkin ingat sama kita-kita."


"Kita tunggu sajalah, apakah praduga ku salah atau benar,"ucap Adrian santai.


Benar kata Adrian tidak lama kemudian Zidane muncul dan bergabung dengan mereka.


"Sudah acara enak-enaknya Bro?"


"Boro-boro," ucap Zidane.


"Boro-boro kenapa Bro? Jangan-jangan Lo udah impoten ya? Atau lupa bagaimana cara mainnya karena lama sudah tak terpakai? Mau aku ajarin?"


"Sentolo." Zidane mendorong kepala Louis.


"Sakit Bro."


"Gini-gini gue perkasa tahu. Kalau nggak, nggak mungkin ada si kembar," lanjutnya.


"Ya terus Lo kenapa cepat banget turunnya? Jangan-jangan ejakulasi dini ya!"


"Astaga Louis mau ku sumpal mulut mu pakai asbak ini?" Zidane meraih asbak di depannya dan menyodorkannya ke mulut Louis.


"Ampun Bro, ampun!"


"Kamu tahu kenapa saya ke sini? Ya pengen nemenin kalian lah. Mana mungkin aku tega ninggalin kalian semua."


"Cih bukannya karena istri Lo kedatangan si bintang ya? Ups," Adrian keceplosan.


"Dri!"


"Sorry Dan."


"Kedatangan si bintang? Maksud Lo di bulan? Hahaha ... kasihan Lo Dan, apes banget nasib Lo," ujar Edrick sambil tertawa mengejek.


"Sabar Bro sabar nanti kalau sudah waktunya Lo hajar aja jangan di beri ampun." Louis masih belum jera juga barangkali dia memang kepengen makan asbak.


Mendengar ocehan sahabatnya Dion hanya memilih diam begitupun dengan Lexi sedangkan Tuan Alberto hanya geleng-geleng kepala mendengar pembicaraan teman-teman putranya yang seolah tidak canggung membicarakan hal tabuh di depan orang tua.


Bersambung....

__ADS_1


Terima Kasih sudah membaca. Jangan Lupa tinggalkan jejak. Like, Vote, Komentar dan Hadiah dan rate bintang 5 oke! Terima Kasih. Love you all๐Ÿ™๐Ÿ’–


__ADS_2