
Sekedar Spoiler
Setelah gagal dalam urusan percintaannya akhirnya Annete memilih kembali ke negaranya dengan alasan untuk untuk melanjutkan hidupnya dan mencari kebahagiaan sendiri. Namun bukannya menjumput sebuah kebahagiaan dirinya malah dihadapkan dengan berbagai hal yang membuat dirinya menderita.
"Aku tidak tahu Tuhan akan membawa takdirku kemana, yang aku tahu hanyalah jiwa dan ragaku sudah benar-benar lelah." Annete Anastasya Joana.
"Aku tidak yakin setelah hujan ada pelangi tapi aku yakin bila hujan reda mentari pasti akan bersinar cerah." Adrian Maulana.
Part 116. Annete Kecil
Seorang gadis kecil berlari-lari menyusuri gang sempit di sebuah pedesaan sambil menangis kemudian masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah yang terlihat kecil dan sempit.
"Ayah, hiks hiks hiks...." Annete kecil berlari menghampiri ayahnya yang sedang menyiapkan dagangannya lalu seketika berhamburan ke pelukan ayahnya tersebut.
Johan sang ayah kaget mendapati sang anak menangis pasalnya tidak biasanya Annete kecil menangis sepulang sekolah apalagi saat ini belum waktunya dia pulang sekolah.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Johan sambil mengelus-elus rambut sang anak.
"Ayah apakah benar ibuku bukan wanita baik-baik?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tentu saja Johan kaget mendengar pertanyaan dari sang anak.
"Benarkah ibu meninggalkan kita dan pergi dengan pria lain?"
Johan terdiam tidak tahu harus berkata apa, haruskah dia jujur pada anak sekecil itu? Tidak, dia tidak tega. Bagaimanapun keburukan ibunya seharusnya tidak menjadi beban buat gadis kecilnya itu.
Gadis kecil itu mendongakkan wajahnya. "Kenapa Ayah tidak menjawab?"
"Tidak sayang itu tidak benar kamu dapat berita itu darimana?"
"Kata teman-teman begitu."
"Akh, itu kan cuma omongan anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa, pasti bicaranya cuma ngawur saja."
"Tapi itu bukan cuma kata teman-teman, kata ibu-ibu yang mengantar teman-teman pun demikian. Kata mamanya Lutfi ibu adalah wanita murahan dia mengambil ayahnya Lutfi dan membawanya pergi."
__ADS_1
Johan meraup wajahnya kasar tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia tidak menyangka perbuatan istrinya akan berdampak pada psikologis anaknya.
"Annete mau naik pesawat nggak?" Berusaha mengalihkan perhatian anaknya. Ya Johan memutuskan untuk meninggalkan negara kelahiran anaknya ini dengan harapan tidak akan ada yang mengusik ketenangan hidup diri dan anaknya ini.
Tinggal di kampung ini sekarang sudah tidak aman karena memang berisiko mendengar ghibahan dari para tetangga tentang istrinya oleh karena itu meninggalkan tempat ini adalah keputusan yang paling tepat untuk menghindari omongan yang tidak penting apalagi sudah lima tahun cukup lah dia berharap istrinya kembali namun yang ditunggu tak pernah kembali juga.
"Naik pesawat, benarkah Ayah? Memangnya kita mau kemana?" tanya Annete kecil begitu antusias karena dia memang bercita-cita ingin naik pesawat sejak kecil.
"Mau pulang ke rumah ayah, lusa kita berangkat dan besok ayah akan mengurus kepindahan sekolah kamu."
Annete mengangguk.
"Tapi ada syaratnya Annete harus berjanji satu hal sama ayah."
"Berjanji apa Ayah?"
"Mulai saat ini jangan pernah bertanya lagi tentang kemana ibumu. Nanti kalau sudah waktunya ayah akan menceritakan dengan sendirinya tanpa kamu minta."
Annete memandang wajah ayahnya, sangat terlihat ada gurat sedih yang nampak di sana. Annete pun akhirnya mengangguk.
"Kenapa kamu pulang jam segini bukankah ini bukanlah jam pulang?"
"Oh ya mana Bu gurunya?"
"Sudah kembali ke sekolah. Annete minta diturunkan di gang depan tadi."
"Kenapa tidak disuruh mampir dulu?"
Annete menggeleng. "Malu ayah rumah kita kan jelek lagipula Bu guru harus kembali mengajar teman-teman."
"Hus kok ngomong begitu sih, apapun yang kita miliki saat ini kita harus bersyukur. Jadi jangan pernah merasa malu dengan keadaan kita selama kita tidak melakukan hal yang merugikan orang lain. Yang penting kita sehat kita sudah kaya Nak."
"Iya Ayah."
"Sudah sana ganti baju dulu, Ayah mau dagang keliling. Kamu mau ikut?"
Annete menggeleng. "Aku mau di rumah aja Ayah."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu Ayah berangkat kamu jangan kemana-mana ya. Jangan lupa kunci pintunya!"
"Baik Ayah," ucap gadis kecil itu sambil mencium tangan ayahnya kemudian masuk ke dalam rumah.
Dua hari berlalu saat ini Annete dan Johan tiba di bandara. Annete begitu senang karena hari ini dia akan melakukan penerbangan untuk yang pertama kalinya. Senyumnya sedari tadi begitu merekah. Berharap nasibnya akan berubah di tempat yang berbeda nantinya.
Setelah melakukan penerbangan berjam-jam akhirnya mereka sampai di Paris. Dari bandara mereka langsung meluncur ke kediaman orang tua Johan dengan kendaraan umum.
"Ini rumah Ayah?" tanya Annete dengan senyum yang masih mengembang. Ternyata rumah ayahnya ini lebih besar dari yang di kampung kemarin namun kelihatan tak terawat karena tidak ada yang menempati.
"Iya kamu istirahat dulu ya biar Ayah beres-beres dulu." Johan berlalu meninggalkan Annete di sofa dan membersihkan kamar sang anak setelah selesai dia memanggil Annete untuk beristirahat ke kamarnya.
"Kamarmu sudah bersih lebih baik kamu pindah ke sana, biar Ayah beres-beres di tempat yang lainnya dulu."
"Iya Ayah." Annete beranjak ke kamarnya kemudian menata pakaiannya sendiri ke dalam lemari kemudian karena kelelahan dia tertidur. Lama Annete tertidur sampai Johan selesai bersih-bersih dan sekarang mulai memasak.
Annete terbangun ketika mencium aroma makanan dari luar. Dia turun dari ranjang dan mencari ayahnya. Sampai di meja makan melihat beberapa makanan sudah terhidang di meja membuat perutnya tiba-tiba saja berteriak minta diisi.
"Ayah Annete lapar!" teriaknya pada sang Ayah. Johan yang masih berada di dapur langsung meraih dua piring kosong dan mengajak putrinya untuk makan.
"Ayo makan Ayah juga sudah lapar," ajaknya pada putrinya tersebut sambil meletakkan piring di hadapan sang anak.
Annete yang memang sudah kelaparan langsung memindahkan makanan itu ke piring lalu menyendok makanannya ke mulut.
"Ayah! Ayah akan bekerja apa di sini? Apakah berdagang seperti di kampung akan laku di sini?" tanyanya sambil mengunyah makanannya.
"Kamu makanlah tidak usah berpikir jauh biar Ayah yamg memikirkan segalanya."
"Iya Ayah." Annete fokus melanjutkan makannya sedang Johan nampak berpikir usaha apa sekiranya yang bisa dia lakukan agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya tanpa harus meninggalkan putrinya untuk bekerja.
Dia menatap ke depan rumahnya melihat sebuah gedung yang dulu sempat dijadikan garasi oleh orang tuanya lalu timbul keinginannya untuk memodifikasi tempat itu menjadi sebuah toko.
Akhirnya Johan menggunakan toko tersebut untuk menjual roti dan macam-macam kue yang bisa dibuatnya. Bahkan terkadang dia sering belajar dari internet cara memasak kue yang saat itu sedang menjadi incaran para pemburu kuliner. Akhirnya dari usaha itulah dia bisa mencukupi kebutuhan diri dan putrinya dengan layak karena tokonya saat itu bisa dikatakan berkembang.
Bersambung....
Yang belum baca part 114 dibaca dulu ya sebab banyak yang langsung lompat ke part 115( Pengumuman)
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.🥰