Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 130. Kedatangan Ruri


__ADS_3

Setelah berembug dengan sang ayah dan keputusannya sudah final Annete langsung memutuskan untuk memberitahukan sang dokter bahwa dirinya bersedia mengoperasi sang ayah. Akhirnya hari itu Annete pulang ke rumah untuk menawarkan rumah ayahnya kepada siapapun yang mungkin saja tertarik pada rumah tersebut.


Annete menghubungi teman-temannya dan orang-orang yang dikenalnya untuk meminta tolong siapa tahu mereka bisa membantu Annete menghubungkan pada pembeli yang mungkin saja akan membeli rumahnya itu.


Suatu hari ketika Annete ingin menjenguk ayahnya di rumah sakit sudah ada tiga pembeli yang menawar rumahnya itu tapi sayang mereka menawar terlalu rendah, jangankan melebihi target Annete untuk biaya rumah sakit ayahnya saja tidak cukup. Akhirnya Annete memutuskan menunggu pembeli lainnya.


"Semoga saja secepatnya bisa laku sesuai target," gumam Annete. Dia masih berharap rumah dan tokonya laku dengan harga yang tinggi namun walaupun tidak lebih dari biaya pengobatan ayahnya pun pasti Annete kasih kalau sudah tidak ada yang mau menawarnya lebih dari itu, terpaksa demi operasi ayahnya yang harus segera dilaksanakan.


"Bagaimana Net sudah ada yang menawar?" tanya ayahnya melihat wajah Annete yang lesu.


"Sudah Yah tapi tawaran mereka masih rendah belum cukup untuk biaya ayah, tapi tenang saja Annete tetap akan berusaha," pungkasnya.


"Kamu yang sabar ya Nak," ucap Johan.


"Pasti Yah," jawab Annete sambil mengangguk dan mencoba tersenyum pada sang ayah. "Tapi ayah juga harus sabar dan berjanji akan bertahan demi Annete."


"Ayah akan berusaha bertahan tapi itu tergantung sama Tuhan, jadi ayah akan selalu berdoa agar diberikan umur panjang supaya ayah bisa terus mendampingi kamu sampai kamu menikah dan sampai ayah punya cucu nanti," ujar Johan sambil tersenyum namun matanya tampak berkaca-kaca membayangkan hal yang akan mungkin terjadi pada dirinya. Dia sangat mengkhawatirkan Annete kalau sampai ia harus meninggalkannya putrinya itu seorang diri untuk selamanya.


"Amin," ucap Annete sambil memeluk sang ayah. Namun kemudian ayahnya merasa kesakitan lagi. Dia memegangi perutnya yang sebelah kanan dan mengaduh kesakitan. Kali ini benar-benar sakit sehingga membuat Johan bergerak-gerak gelisah di ranjang. Dengan segera Annete menghubungi dokter.


"Harus dilakukan operasi secepatnya," ucap sang dokter.


"Tapi biayanya belum ada Dok, rumah kami belum laku."


"Tidak masalah kamu tanda tangani persetujuan untuk melakukan tindakan operasi terlebih dulu mumpung sekarang ada donor yang tersedia, masalah biaya nanti kamu urus belakangan biar saya yang menjaminnya pada pihak rumah sakit."


"Terima kasih Dok!"


Hari itu akhirnya Johan melakukan operasi transplantasi hati berkat kebaikan sang dokter yang menangguhkan pembayarannya sampai Johan keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


Sementara Johan di dalam ruang operasi Annete nampak gelisah di luar ruangan. Pikirannya pecah jadi dua satu sisi dia memikirkan apakah operasi tersebut bakal sukses atau tidak.


"Ya Tuhan semoga operasinya berjalan lancar dan ayah bisa sembuh seperti semula," ucapnya penuh harap.


Namun ada yang tak kalah membuatnya khawatir bagaimana kalau sampai uang hasil penjualan rumahnya nanti tidak mencukupi untuk membayar biaya ayahnya. Darimana dia akan mendapatkan uang tambahannya?


Annete mendesah, "Ah andai saja aku punya tabungan pasti tidak akan sulit seperti ini atau saat ini aku sudah bekerja pasti akan lebih mudah buatku mendapatkan tambahannya," batinnya. Ya kalau dia sudah bekerja bukan saja punya tabungan tapi dia pun bisa meminjam uang di tempatnya bekerja. Kemarin saat dia pulang ke rumah ternyata tabungan ayahnya masih sedikit.


"Gimana Net keadaan ayahmu?" tanya Angel yang tiba-tiba berjalan ke arahnya.


"Nggak tahu, dia masih di ruang operasi," jawab Annete wajahnya terlihat sendu.


"Sabar Ya Net ayah kamu pasti sembuh." Sebagai sahabat baik Annete, Angel hanya bisa menyemangati Annete tapi tidak bisa membantu keuangannya karena keluarganya pun tidak lebih baik dari Annete.


"Gimana Gel apa ada yang ingin menawar rumahku lagi?" tanya Annete pada Angel karena ternyata orang-orang yang datang kemarin atas recomendasi Angel.


"Emang kemarin belum deal?" tanya Angel penasaran padahal kemarin orang itu mengatakan pada Angel mampu membeli rumah itu dengan harga delapan ratus juta, bukankah sudah cukup menurut Angel.


Angel mengernyit, "kenapa tidak cukup?" batinnya. "Bukankah biaya ayah Annete cuma sekitar enam ratus jutaan dan orang tersebut mau membelinya dengan harga delapan ratus juta, apa ada tambahan biaya yang lain?"


"Memangnya kemarin dia nawar berapa?" tanya Angel penasaran.


" Tawaran tertinggi empat ratus juta," jawab Annete.


"Rumah sebesar itu cuma ditawar segitu?" tanya Angel keheranan. Akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang kemarin mau membeli rumah Annete.


"Hallo." Terdengar suara jawaban di sana.


"Hallo Mr. mengapa tiba-tiba anda merubah harga anda bukankah kemarin ketika melihat-lihat rumah itu dengan saya Mr. mengatakan akan mengambilnya dengan harga 800 juta mengapa malah berubah menjadi 400 juta?"

__ADS_1


"Maaf Nona kemarin saya tidak tahu kalau rumah tersebut ternyata anker jadi setelah tahu, saya tidak bisa membeli rumah tersebut dengan harga itu karena saya ingin membeli rumah tersebut dengan maksud untuk menjualnya lagi tapi kalau kondisinya seperti itu saya tidak bisa membelinya dengan harga tersebut."


"Angker? Mengapa Mr. bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Kenapa?" tanya Annete pada Angel yang tidak bisa mendengar pembicaraan Angel dengan orang tersebut karena posisi Angel yang menjauh.


Angel memberi kode pada Annete supaya diam dulu dan Annete pun mengangguk.


"Kemarin ada salah satu tetangga di sana yang mengatakan rumah itu akan dijual oleh pemiliknya karena banyak hantunya," terdengar suara pria itu dari balik telepon.


"Itu tidak benar Mr. rumah itu akan dijual karena orangnya butuh biaya untuk pengobatan bukan karena banyak hantunya," jelas Angel.


"Maaf Nona saya tidak bisa membeli dengan harga setinggi itu," ucap pria tersebut sembari langsung menutup teleponnya.


Angel menarik nafas berat. "Huh." Rasanya udara disitu berubah pengap seketika. Dia meremas kedua tangannya. "Siapa orang yang tega melakukan ini?" pikirnya.


Melihat raut wajah Angel yang tidak biasa Annete menjadi curiga.


"Ada apa Gel?"


"Kamu harus sabar ya Net ternyata penyebab rumahmu ditawar rendah karena ada yang mengatakan rumah itu banyak hantunya," ujar Angel.


"Apa?!" ucap Annete terbelalak. "Siapa yang tega mengatakan itu?"


"Entahlah," jawab Angel sambil mengangkat kedua bahunya.


"Apa yang harus aku lakukan Gel? Kalau sampai gosip tentang rumahku yang banyak hantunya itu menyebar siapa yang akan berani membeli rumah itu?" tanya Annete kebingungan.


"Aku yang akan membelinya." Terdengar suara wanita dari arah depan mereka berdiri.

__ADS_1


Kedua wanita yang sedang berbincang-bicang serius itu menoleh. "Ruri?"


Bersambung....


__ADS_2