Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 53. Kewajiban


__ADS_3

"Kak Lisfi bagaimana?"


"Belum ditemukan Nona."


"Kalau begitu cari sampai ketemu!" perintah Nindy.


"Siap Nona." Anak buah Louis berbalik dan melanjutkan pencariannya mencari Lisfi.


"Kita pulang yuk!" ajak Nindy sambil menarik tangan Louis. Pernikahan mereka memang hanya diadakan di sebuah gedung saja dan mama Ani memang tidak menyiapkan kamar hotel karena setelah akad ingin langsung memboyong mantunya ke rumah.


"Kenapa? Udah nggak sabar ya," goda Louis sambil mengerlingkan mata ke arah Nindy.


"Ih siapa juga ya nggak sabar. Ingat malam ini aku tidur sama mama."


"Iya deh iya," jawab Louis pasrah.


Hari itu juga mereka langsung pulang ke rumah utama. Farah dan pak Ramlan pun ikut mengantar anak dan menantunya ke rumah besannya.


"Eh kita berhenti di sini dulu ya sebentar, ada yang pengen bunda beli dulu. Boleh kan Nak Louis?" Farah bertanya sambil melihat ke arah Louis saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan sebuah minimarket.


"Boleh kok Bun," sahut Louis.


"Pak berhenti dulu!" perintah Louis.


Pak sopir pun mengangguk dan menepikan mobilnya kemudian berbelok ke arah minimarket dan masuk ke parkiran.


Farah turun dari mobil dan hendak melangkah ke arah pintu minimarket tetapi berbalik. "Kalian nggak ada nitip beli apa gitu?" tanyanya pada Louis dan Nindy.


"Safa nitip permen Bun."


"Oke yang merek itu kan?"


"Iya."


"Nak Louis?" Farah beralih bertanya pada Louis.


"Tidak ada Bun."


"Baiklah kalau begitu." Farah melangkah ke dalam dan mulai mencari bahan-bahan yang ingin dibelinya. Beberapa saat kemudian kembali ke dalam mobil dengan menenteng plastik belanjaan.


"Nih." Farah mengulurkan permen yupi kesukaan putrinya dari kecil ke arah belakang. Kebetulan Nindy dan Louis duduk di jok belakang sedangkan dirinya duduk di samping pak sopir. Pak Ramlan sudah ada di depan karena ikut mobil besannya, mereka sudah sampai terlebih dahulu.


"Kamu suka permen itu?" tanya Louis.


"Iya," jawab Nindy sambil membuka bungkus permen tersebut.


"Kamu mau?" Nindy mengulurkan permen tersebut ke arah Louis dan pria itu menggeleng.


"Ya sudah kalau nggak mau." Nindy mengunyah permennya sendiri.


"Kenapa bisa suka sama permen itu?" tanya Louis lagi.


"Hmm, kenapa ya!" Nindy tampak berpikir.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kepo ah, yang jelas enak dan bentuknya unik. Banyak love-nya," ujar Nindy sambil tersenyum.


"Hmm, love-ku lebih banyak buatmu daripada permen itu," ujar Louis.


Nindy mencebik. "Nggak bagus ngebucinya." Nindy langsung tertawa, tepatnya menertawakan Louis.


"Ya ampun Saf nggak baik menertawakan suami," nasehat Farah.


"Iya Bun." Nindy langsung diam. Dia pun membuka bungkusan permen satu demi satu dan melahapnya.


"Kayak permen kapas ya rasanya?"


"Mas Louis pernah makan permen kapas?" Nindy balik bertanya.


"Nggak aku nggak suka permen begituan. Paling yang aku suka permen yang rasa kopi aja, tetapi adik sepupuku yang masih TK kalau ke rumah sering minta permen itu makanya mama suka nyetok permen kapas."


"Oh, padahal ini enak juga loh, lembut kenyal."


"Ada yang lebih kenyal dan enak," ucap Louis dengan serius.


"Apaan?"


"Ini." Louis mengambil tangan Nindy dan menempelkan di antara kedua pahanya.


Plak.


Reflek Nindy memukul apa yang dipegangnya karena kaget.


"Auw ini mah bukan permen tapi sosis," ujar Nindy dan langsung memalingkan muka.


Niatnya ingin mengerjai Nindy tetapi dirinya yang jadi malu karena sosis miliknya langsung menegak tatkala mendapatkan sentuhan yang tidak sengaja dari tangan Nindy.


"Siapa yang mau sosis? Biar saya belikan mumpung di depan ada agennya," ujar Farah membuat keduanya saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


"Kok malah tertawa?" tanya Farah kebingungan.


"Nggak ada Bun, Mas Louis katanya suka sosis tapi stoknya di rumah masih banyak," ujar Nindy berbohong.


"Oh." Farah mengangguk, sedangkan Louis melotot ke arah Nindy.


"Kenapa?" tanya Nindy balas menatap mata Louis.


"Kejam, kau bilang aku suka sosis," bisik Louis di telinga Nindy.


"Emang kenapa? Apa salahnya?" tanya Nindy tak mengerti.


"Masa sosis makan sosis sih," protes Louis.


"Ekhem." Farah tampak berdeham membuat keduanya langsung bungkam. Tak ada lagi yang bicara sampai mereka sampai di depan rumah Louis.


Sampai di sana pak Ramlan dan kedua besannya sudah tampak berbincang-bincang. Farah bergabung dengan suaminya sedangkan Nindy dan Louis langsung melangkah ke arah kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Aku mandi duluan ya," ujar Nindy setelah memeriksa pakaian dirinya yang sudah tersedia dalam koper. Siapa lagi yang menyediakan kalau bukan Farah dan mama Ani.


"Iya sana, tapi jangan lama-lama," ujar Louis yang kini tengah berbaring di atas ranjang yang tampak bertabur kelopak mawar merah. Kamarnya pun kini disulap menjadi benar-benar indah dan romantis.

__ADS_1


"Mama memang tahu aja yang aku mau." Louis tersenyum sendiri sambil menatap seluruh ruangan.


Beberapa saat kemudian Nindy keluar dari kamar mandi dengan bathrobe-nya dan duduk dipinggiran ranjang. "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya pada Louis yang tidak lepas dari senyumannya sedari tadi.


"Enggak aku cuma ingat aja pas awal-awal kita bertemu. Nggak nyangka ya kita bisa ke tahap ini."


Nindy mengangguk. "Kamu ingat koper yang kamu suruh bawa ke dalam mobil waktu itu? Senada dengan koper ini," sambung Nindy dengan mata yang tampak berkaca-kaca, mengingat kenangan mereka berdua sebelum akhirnya menikah.


"Karena itu memang koper itu, mungkin mama tahu sejarah kita hingga akhirnya memutuskan menggunakan koper itu untuk mengepak bajumu."


"Iyakah?"


"Iya, sudah ya aku mau mandi dulu. Gerah," ucap Louis sambil bangkit dari tidurnya dan berjalan ke dalam kamar mandi.


"Jangan kemana-mana dulu ya," pesannya pada Nindy.


"Iya." Nindy menjawab sambil menyisir rambutnya yang basah kemudian meraih hair dryer yang kebetulan berada di atas meja rias. Sepertinya mama Ani sudah menyiapkan segalanya.


Beberapa saat kemudian Louis keluar dari kamar mandi dengan pelan-pelan dan langsung memeluk pinggang Nindy dari belakang membuat tubuh Nindy menjadi meremang.


"Mas mau ngapain?" tanya Nindy khawatir. Jantungnya menjadi bertalu-talu.


"Nggak mau ngapa-ngapain. Cuma mau pertanggung jawaban darimu."


"Pertanggung jawaban apa?" tanya Nindy tampak sedikit bergetar.


"Sepertinya aku mulai menyukai permen yupi." ujar Louis sambil melihat ke arah dada Nindy membuat gadis itu semakin khawatir.


"Jangan macam-macam ini masih siang," ucap Nindy mengingatkan.


"Justru karena masih siang, kan nanti malam kamu tidur sama mama."


"Tapi ... tapi ...."


"Kenapa takut sih Nin? Aku ini suami kamu loh. Takut gitu kayak lihat hantu," protes Louis.


"Aku memang lihat hantu," ujar Nindy.


"Mana?" tanya Louis.


"Itu hantu Mala," tunjuk Nindy pada dinding di samping tempat mereka berdiri.


Louis mengernyit lalu menoleh. "Mana?"


Ternyata sang istri sudah melepaskan diri dan hendak kabur.


"Nin!" panggil Louis. Nindy tidak mengindahkan, tangannya sudah meraih handle pintu.


"Dosa loh nolak suami." Nindy langsung diam di tempat mendengar perkataan Louis. Louis tersenyum karena kini punya senjata untuk membuat istrinya menurut.


"Melayani suami adalah salah satu kewajiban istri," imbuh Louis


Nindy berbalik dan menganggu. Bukan maksud dia ingin menolak Louis tetapi bagi Nindy sekarang bukanlah waktu yang tepat mengingat kedua orang tuanya pun belum pulang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2