Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 114. Kebahagiaan Yang Sempurna


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke tujuh kelahiran dari bayi Zidane-Isyana yang diberi nama dengan Aurora Belle Fazila Alberto nama yang diambil dari beberapa bahasa yang berbeda oleh sang ayah -Zidane Alberto- diharapkan benar-benar menjadi anak yang cantik dan membuat keindahan dan kesempurnaan dalam keluarga Alberto.


Oleh karena itu di rumah Zidane hari ini sedang diadakan acara aqiqah buat bayi Aurora tersebut. Keluarga memang tidak memilih untuk memesan catering untuk acara tersebut karena selain pembantu di sana banyak dan pintar-pintar memasak, keluarga tersebut memang mengutamakan kebersamaan dan suka dengan keramaian yang ada di rumah mereka. Biasanya keluarga akan suka berbaur dengan para pembantu untuk membantu sebisanya dan juga biasanya kalau ada acara-acara seperti itu teman-teman Zidane akan berkumpul ya walaupun lebih banyak mengobrol daripada membantu tapi itu justru menambah semarak di rumah tersebut.


Biasanya kalau seorang bayi berjenis kelamin perempuan hanya dibutuhkan menyembelih satu ekor kambing saja tapi karena si kembar menuntut ingin di aqiqahi juga karena waktu lahirnya mereka Isyana tidak sempat mengaqiqahi mereka maka hari ini keluarga tersebut memutuskan menyembelih lima kambing sekaligus apalagi keluarga besar dan beberapa teman-teman Zidane memang begitu menyukai daging kambing kecuali Tuan Alberto yang tidak menyukainya. Jangankan makan mencium baunya saja dia tidak tahan dan tensi darahnnya langsung naik. Oleh karena itu dia memilih diam di ruangan kerjanya untuk mengecek beberapa berkas.


"Buat kambing guling aja Tan," usul Edrick pada Laras.


"Iya betul Tan," sambung Kiara.


"Iya satu aja kan cukup ya palingan cuma kalian berdua yang makan itu."


"Cukuplah Tan, buat ramai-ramai juga cukup."


"Jangan suka makan daging kambing banyak-banyak sayang nanti dedeknya pas lahir berlemak," goda Lexi.


"Masih lama juga lahirannya. Terus baiknya aku makan apa Mas?"


"Makan ini aja lebih sehat," ujar Lexi sambil menyodorkan potongan buah ke mulut Kiara. "Aaaa..."


"Hup." Kiara langsung melahap potongan buah tersebut.


Laras menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ara, Ara! Kandunganmu masih kecil kok rakus sih." Pasalnya Kiara selalu melahap makanan apa saja yang disodorkan ke mulutnya.


"Oh ya Bi, Zidane tadi minta dibuatkan nasi kebuli juga," ujar Laras pada Bi Ina.


"Nanti kami buatkan Nyonya." Laras hanya mengangguk.


"Ma nggak kurang ya kambingnya kalau dimasak macam-macam. Nanti takutnya tidak cukup buat tamu undangan. Kalau kurang Syasa mau nyuruh pak Agus buat beli lagi.


"Cukuplah Nak nggak usah beli lagi kan ada daging yang lain."


"Baiklah kalau begitu Ma."


Sementara makanan dimasak teman-teman Zidane memilih berkumpul di teras sambil mengobrol sedangkan Isyana memilih mendandani bayinya di kamar.


Sedang asyik mengobrol tiba-tiba saja Adrian datang.


"Hai Dri kenapa sudah pulang, sudah ketemu Annete nya?" tanya Lexi.


"Kenapa dia kucel banget?" tanya Zidane melihat penampilan Adrian yang tidak seperti biasanya. Hari ini dia terlihat lesu tak bergairah serta penampilannya acak-acakan.


"Biasa, permaisuri hatinya belum ketemu," jawab Dion.


"Belum Lex padahal anak buahmu sudah bantu tapi nihil tidak ketemu."


"Kenapa sudah balik?"


"Mengapa sudah balik?"


"Bagaimana aku tidak balik mendengar kabar sahabatku koma."


"Iya sorry aku lupa ngasih kabar kalau dia sudah sadar," ucap Lexi.


"Iya nggak apa-apa, aku juga khawatir dengan Adel soalnya aku titipkan dia sama Yuna. Rencananya pas balik aku mau bawa dia sekaligus."


Isyana yang sudah selesai mendandani bayinya ikut nimbrung bersama mereka semua.


"Jangan dibawa lah Dri biar di sini aja sekolah sama si kembar," timpal Isyana mendengar penuturan Adrian tadi.


"Iya tinggal di rumahku juga tidak apa-apa biar Juju ada temannya," sambung Kiara.


"Terima kasih ya kalian pada baik."

__ADS_1


"Itulah Dri gunanya sahabat walau mungkin tidak bisa menolong tapi paling tidak bisa meringankan beban."


Adrian hanya mengangguk mendengar ucapan Zidane.


"Kamu tenang saja kami semua akan membantu sebisa mungkin."


"Iya nanti aku akan minta anak buahku untuk melacak bandara-bandara mungkin dia keluar dari Paris."


"Memangnya kamu yakin Annete pulang ke sana?" tanya Isyana.


"Kata mommynya Lexi sih ia mereka kan pulangnya bareng." Lexi mengangguk membenarkan ucapan Adrian.


"Tenang Dri gue akan bantu juga, kebetulan gue punya teman di sana." Edrick ikut berbicara.


"Jangan deh nanti kamu malah..."


"Ya ampun masih nggak percaya sih sama gue. Dri udah berapa kali gue jelasin sama elo bahwa gue itu memang brengsek tapi gue tidak suka mengembat milik teman sendiri."


"Itu apa maksudnya Mas?" tanya Isyana karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Adrian.


"Biasa cuma salah paham dia."


"Dri sebaiknya kamu tinggal di sini untuk beberapa waktu soalnya bulan depan bang Andy sama Yuna akan menikah. Apa kamu nggak mau hadir?" ucap Zidane.


"Iya Dri, kita coba sambil cari-cari di sini siapa tahu Annete kembali ke negara ini." sambung Lexi.


"Baiklah akan saya coba cari di sini dulu," ujar Adrian.


"Wah bayi kamu udah lahir?" tanya Adrian karena baru sadar bahwa Isyana sedang menggendong bayi. Lalu ia mendekati dan melihat-lihat bayi Zidane.


"Cantik Dan putrimu. Kapan ya aku memiliki kebahagiaan yang sempurna seperti dirimu."


Zidane menepuk pundak Adrian. "Sabar Dri semua ada waktunya. Yakinlah semua usahamu pasti akan membuahkan hasil, ya walaupun kamu tidak bisa menemukannya siapa tahu suatu saat ada seseorang yang mengantarnya kepadamu. Kau tahu dulu aku sudah mencari Isyana kemana-mana tidak pernah berhasil sampai di Dion pun waktu itu sudah menyerah. Kamu tahu malah si kembar yang membawanya kepadaku."


"Iya kamu juga tapi kan kamu sudah ku beri hadiah."


"Hadiah?" Lexi mengernyitkan dahi mencoba berpikir Zidane pernah memberi dirinya apa. "Hadiah apa?"


"Tuh," tunjuk Zidane ke arah Kiara.


"Enak aja aku bukan barang Bang," protes Kiara.


"Cih itu aku berjuang sendiri kok buat ngedapatinnya."


"Itu Yuna sama Adel," tunjuk Vania ke arah Yuna dan Adel yang sedang melangkah ke arah mereka.


Menyadari ayahnya ada bersama orang-orang yang berkumpul, "Ayah!" Adel berteriak sambil berlari ke arah ayahnya.


"Adel apa kabarnya sayang?"


"Baik Ayah, bunda Annete sudah ketemu?" Sejak tahu Annete putus dengan Lexi Adel memutuskan untuk memanggil Annete bunda karena dia berharap Annete kembali pada ayahnya.


Adrian menggeleng. "Nanti Ayah cari lagi."


Bersamaan dengan itu muncul sesosok orang yang mirip dengan Annete.


"Dri ternyata kamu ada di sini pantesan beberapa hari ini aku cari di rumah kamu tidak ada ternyata ada di sini."


Adrian dan Adel menoleh.


"Annisa?"


"Dia Adel kan?" tanyanya.

__ADS_1


"Adel bunda kangen, sini!" panggilnya pada Adel.


"Sejak kapan kamu punya anak?" sindir Adrian.


"Dri maafkan aku. Aku mohon kamu terima aku kembali ya. Aku janji akan menebus kesalahanku pada kalian berdua."


"Maaf tidak bisa waktu telah mengubah segalanya termasuk perasaanku padamu."


"Dri tapi..."


"Kalau kau ingin kembali kembalilah pada Edrick." tukas Adrian.


"Ada hubungan apa sih Edrick sama mantan istri Adrian?" tanya Vania.


"Om Edrick selingkuh sama istri orang ya?" sambung Kiara.


"Dri sebenarnya aku dan Edrick tidak ada hubungan apa-apa, waktu itu aku cuma..."


"Aku tidak peduli mau kamu punya hubungan kek tidak kek sudah bukan urusanku lagi."


Mendengar perkataan Adrian sedari tadi Edrick garuk-garuk kepala. "Mending gue bantuin Tante Laras sama bibi-bibi deh buat kambing guling daripada gue yang dijadikan kambing guling di sini." ujar Edrick sambil melangkah pergi.


Dion hanya terkekeh. "Kasihan Edrick jadi korban."


"Baiklah Dri kalau kita tidak mungkin bersama izinkan aku untuk memeluk Adel."


"Sini Nak!"


Adel menggeleng sambil mendekap erat Yuna. "Tidak mau!"


"Adel itu bunda kamu," ucap Yuna memberi pengertian.


"Bukan dia bukan bunda aku," ucap Adel seperti orang ketakutan.


"Aku hanya mau Bunda Annete," lanjutnya.


"Iya Tante mengerti tapi dia bunda yang telah melahirkan kamu." ucap Yuna dengan suara halus.


"Tidak dia tidak menginginkan kelahiranku kan? Kalau tidak mengapa dia meninggalkanku sama ayah berdua? Lagipula wanita itu jahat dia kemarin yang membuat bunda Annete menangis lalu meninggalkan Adel pergi. Dia bukan bundaku dia wanita jahat!" teriak Adel sambil menangis.


"Kamu pergi sana, jangan buat anakku ketakutan!" ucap Adrian menekankan pada kata 'anakku.'


Akhirnya karena di sana mulai ramai karena banyak tamu undangan berdatangan Annisa memilih untuk pergi dari sana tapi di dalam hati dia geram sekali.


"Awas ya kalau aku ketemu dengan wanita itu lagi akan aku


hancurkan sampai dia tidak ingin lagi ada di samping Adrian dan Adel!" batinnya sambil melangkah pergi.


Akhirnya acara pun tiba pak ustad membuka acara lalu membacakan doa sambil mencukur rambut si bayi kemudian melantunkan sholawat sambil menimang-nimang bayi Aurora yang sudah terlelap sedari tadi.


"Alhamdulillah acaranya lancar ya Mas," ucap Isyana.


"Iya sayang benar kata Adrian hari ini kebahagiaan kita serasa sempurna," ucap Zidane sambil memeluk kedua putranya kemudian mencium kening istri dan pipi dari bayi mungilnya itu.


"Iya Pa hari ini kita benar-benar bahagia," ucap Nathan dan Tristan serempak sambil tersenyum manis.


Setelah acara selesai mereka semua makan-makan kemudian membagikan makanan dan olahan daging kepada para tetangga di sana.


END.


Lanjut ke Kisah Annete yuk, di bab-bab berikutnya!🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, hadiah, vote, rate bintang lima dan favorit tentunya. Terima kasih🙏 Love you all.🥰

__ADS_1


__ADS_2