Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 175. Hari Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan yang direncanakan antara Adrian dan Annete pun sebentar lagi akan digelar. Hari ini Annete, Adrian, Zidane dan Isyana meninjau tempat acara pernikahan akan dilangsungkan. Mereka lebih memilih hotel milik Zidane untuk acara tersebut.


Sementara Annete dan Adrian sedang mengecek seberapa persen persiapan sudah dilakukan Isyana justru merasa melow ketika masuk ke hotel tersebut. Bayangan kejadian di masa silam berputar di benaknya.


Meskipun dia sudah lama menyandang sebagai nyoya pemilik hotel ini tapi Isyana tidak pernah mau sekalipun kalau Zidane mengajaknya ke tempat ini. Tempat ini membuatnya mengingat kenangan buruknya bersama Zidane. Bagi Isyana biarlah dia hanya mengingat kenangan baiknya bersama sang suami tanpa mengingat kenangan buruknya. Itulah alasan kenapa dia tidak pernah mau ke tempat ini.


Namun karena pernikahan Annete dan Adrian diadakan di tempat ini terpaksa dia ikut meninjau barangkali ada sesuatu yang tidak sesuai dengan konsepnya.


Zidane yang menyadari ekspresi sang istri lewat matanya yang berkaca-kaca dia tahu Isyana pasti mengingat momen ketika dirinya memaksakan kehendaknya dengan kasar.


"Sayang kamu ingat tidak momen saat kita mengadon si kembar?" Bukannya menghibur Zidane malah menggodanya.


"Iya pasti ingatlah Mas, saat itu kamu menarik ku ke kamar dan melakukannya secara kasar."


"Iya maaf ya sayang waktu itu aku mabuk berat dan tidak bisa mengendalikan diri."


"Dan kamu mencumbu diriku karena kamu mengganggap aku Belva." Bagi Isyana tak mengapa meski Zidane melakukannya secara kasar tapi hal yang paling menyakitkan bagi Isyana adalah ketika menyadari Zidane menganggap dirinya orang lain pada saat itu.


Mendengar perkataan Isyana Zidane menelan ludah. Dia sadar kini telah membangunkan singa yang telah tidur. Kalau Isyana dalam keadaan cemburu seperti ini pasti ada konsekuensi yang harus dia tanggung.


"Sayang kalau aku kenal sama kamu waktu itu dan aku tidak mabuk pasti tidak akan mengganggap mu Belva. Dan kamu tahu aku malah bersyukur wanita itu adalah dirimu bukan Belva. Belva tuh tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Kamu tuh berkali-kali lipat cantiknya dibandingkan Belva," rayu Zidane.


"Preet." Laras yang kebetulan lewat menggoda Zidane.


"Mama ah bukannya mendukung Zidane malah memperparah keadaan."


"Belajar merayu yang lebih elegan jangan lebai kayak gitu, selamat berjuang!" Laras langsung beranjak dari tempat tersebut.


Mendengar ucapan Laras Isyana yang tadinya cemberut malah tertawa melihat kekonyolan mertuanya.


Melihat Isyana tertawa Zidane jadi lega dia lalu membisikkan sesuatu di telinga pelayan dan pelayan tersebut mengangguk lalu pergi dan dengan sigap melakukan hal yang diperintahkan.


"Ngapain bisik-bisik sama pelayan," protes Isyana.


"Ada aja." Zidane tidak mau memberitahu Isyana dan Isyana terlihat cemberut lagi.


"Sudah Tuan." Pelayanan yang tadi bergerak dengan cepat.

__ADS_1


"Terima kasih, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu."


"Baik Tuan."


"Yuk sayang ikut aku!"


"Kemana Mas?"


"Sudah tidak usah banyak nanya ikut saja." Isyana pun menurut mengikuti langkah Zidane lalu menaiki lift sampai lantai teratas.


Sampai di ruangan atas tubuh Isyana tampak gemetar melihat kamar yang dulu pernah menjadi saksi bisu bagaimana kegadisannya direnggut. Walaupun Zidane kini sudah menjadi suaminya tetap saja dia masih trauma mengingat semuanya.


"Ngapain sih Mas kamu membawa ku ke tempat ini?"


"Aku ingin mengulang saat-saat itu tapi dalam kondisi yang berbeda. Kamu jangan takut kali ini aku akan melakukannya dengan lembut dan penuh cinta bahkan nanti aku akan menyebut namamu saat kita melakukannya sebagai bukti kalau hanya ada namamu di hatiku."


"Nggak ah Mas aku tidak mau."


"Ayo dong sayang biar saat kita ke hotel ini momen sekarang yang kamu kenang bukan momen masa lalu yang kelam."


"Tuh si kembar datang." Isyana mengalihkan perhatian.


"Mas lepas malu dilihat orang!"


"Tidak akan ada orang di sini."


Isyana menganga mendapati kamar tersebut sudah seperti kamar pengantin saja. Bahkan kelopak bunga mawar bertaburan di atas ranjang.


"Ini kamar Adrian dan Annete?"


"Bukan ini kamar kita. Kamar Annete dan Adrian itu yang di sebelah. Hari ini kita akan MP lebih dulu sebelum Adrian."


"Mp apaan? Paling ada sudah berapa ratus malam."


"Sudah jangan protes seorang istri harus nurut sama suami."


"Mau ya sayang!" Kali ini suara Zidane sudah terdengar berat dan serak.

__ADS_1


"Baiklah." Akhirnya Isyana menurut.


Sedang asyik-asyiknya terdengar ketokan pintu dari luar.


Tok tok tok...


"Ma, Pa, apa kalian ada di dalam?" terdengar suara Tristan memanggilnya. Isyana hendak menjawab namun ditahan oleh Zidane.


"Jangan dijawab!"


"Atan, Itan sepertinya orang tua kalian sedang memeriksa bagian yang di sana." Terdengar suara Annete membuat Zidane menjadi lega begitupun Isyana.


"Dimana Aunty?"


"Di bagian dapur, ayo saya antar."


"Ayo Aunty." Mereka berdua pun meninggalkan tempat tersebut mengikuti arah langkah Annete membawanya.


Hari pernikahan telah tiba semua pelayan sudah siap di tempat. Kali ini tema pernikahan mereka mengusung tema musim semi. Banyak bunga-bunga yang menjadi hiasan di dinding dan tempat-tempat lainnya. Suasana di dalam dan luar hotel tampak sejuk.


Semua tamu undangan sudah siap di tempat. Bahkan Wilson juga hadir karena sebelumnya sudah di jemput oleh Lexi. Annete dan Adrian duduk di kursi kecil untuk melakukan acara akad nikah. Karena Annete sudah tidak memiliki wali maka ijabnya diserahkan pada pak penghulu.


Semua yang hadir ikut senang dan terharu melihat keduanya terutama Angel yang sedari tadi menemani Annete yang tampak grogi. Bersyukur mereka berdua kini akhirnya bisa bersatu setalah banyak rintangan yang dilaluinya. Namun ada sepasang mata yang memandang tidak suka ke arah keduanya siapa lagi kalau bukan Anisa mantannya Adrian.


"Bagaimana para saksi sah?" tanya pak penghulu.


"Sah, sah, sah." Suara tamu undangan menggema di seluruh ruangan.


"Alhamdulillah."


Pak penghulu pun membacakan doa yang diaminkan oleh para tamu undangan.


Sementara yang lain fokus menatap kedua mempelai beda halnya dengan Edrick dia malah fokus menatap Angel yang kini tangannya di genggam erat oleh Louis karena gemetar. Angel ikut grogi melihat Annete yang sedari tadi tidak percaya diri pun dengan Adrian yang saat Angel lihat waktu latihan tadi suaranya bergetar.


Tapi syukurlah Angel menjadi tenang setelah acara mereka ternyata terbilang sukses karena Adrian bisa berucap dengan tenang dan tegas dan tidak ada belibet sedikitpun.


Bersambung....

__ADS_1


Author menyelesaikan bab ini di detik-detik menuju tahun baru.15 menit lagi pergantian tahun 2021 menjadi tahun 2022. Happy New Year semuanya ๐Ÿงจ๐ŸŽ‡. Semoga di tahun 2022 ini kalian semua diberi kesehatan, rezeki yang melimpah dan perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Salam manis semuanya. Terima kasih. ๐Ÿ™


__ADS_2