
"Kejar mereka!" perintah Louis.
Anak buah Louis pun mengejar keduanya. Louis lalu duduk di sebuah kursi diikuti Nindy dan kedua orang tuanya. Pak Ramlan masih tampak syok dengan berita yang baru didengarnya sedangkan Farah masih berusaha menstabilkan emosi dengan bersandar pada sebuah kursi.
"Bunda tidak mengerjai kak Lisfi kan?" Nindy masih tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya tadi.
"Tidak Saf itu kenyataannya." Farah menghembuskan nafas berat.
Pak Ramlan hanya memandang wajah istrinya tanpa ekspresi.
"Ma ada apa dengan mereka?" tanya Nathan yang penasaran dengan kejadian yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Karena jaraknya yang jauh membuat mereka tidak mendengarkan perdebatan antara Farah, Lisfi dan yang lainnya tetapi sedari tadi Nathan sempat melihat pertengkaran mereka.
"Mama juga tidak tahu Atan biar nanti papa yang tanya sama Om Louis, ada apa sebenarnya," jawab Isyana sedangkan Zidane hanya mengangguk kemudian memberikan kode dengan dagunya supaya anak sulungnya itu melihat ke arah adiknya.
Nathan meraup wajah Tristan karena sedari tadi tidak berkedip memandang ke arah Dilvara yang kini diapit oleh kedua orang tuanya yaitu Vania dan Dion. Sedang mulut Tristan tampak mengunyah makanan dengan santai.
"Apa sih Atan, ganggu pandangan aja," protes Tristan setelah menelan makanannya.
"Dia masih bocil dan kamu juga masih bo ... cil," ujar Nathan mengingatkan.
"Kalau bocil-nya saja udah cantik macam gitu gimana dengan dewasanya ya Atan?"
Adel dan Juju hanya geleng-geleng kepala mendengarkan pertanyaan Tristan.
"Auh ah gelap," ujar Nathan sambil mendorong sedikit kepala Tristan membuat Isyana dan Zidane cekikikan. Sedangkan Juju dan Adel langsung tertawa terbahak-bahak.
Di sudut lain Annete yang sudah selesai makan menghampiri Adrian yang tengah menggendong baby Ayden. "Sini Ayden sama bunda, biar ayah makan dulu." Annete meraih Ayden dari gendongan Adrian.
"Dek!" Tiba-tiba seseorang wanita memanggil dan melambaikan tangan ke arah Annete. Namun sepertinya orang itu tidak sendiri, dia juga membawa dua orang di sisi kanan dan kirinya.
Annete memicingkan mata. Penampakan wanita yang beradu dengan cahaya matahari membuat Annette tidak bisa melihat wajah orang yang memanggilnya karena silau.
"Siapa ya Mas?" tanyanya pada Adrian.
Adrian mengangkat bahu dan berkata, "Tidak tahu."
Annete dan Adrian diam di tempat menunggu orang-orang tersebut sampai ke sisi mereka.
"Oh Anisa, sayang," ucapnya pada Annete.
"Mas Adri masih ingat ya dengan cara jalan mbak Anisa?"
"Mana ada? Aku sempat lihat mukanya tadi."
"Hei apa kabar kalian?" tanya Anisa setelah sampai di samping Annete dan Adrian.
__ADS_1
"Baik. Mbak sama mas Farhan apa kabar juga?"
"Baik juga," sahut Anisa dan Farhan serentak.
"Ponakan tante apa kabar?" Anisa menoel hidung baby Ayden, bayi itu tampak tertawa senang.
"Baik juga Tante," jawab Annete mewakili baby Ayden.
Anisa meraih baby Ayden dari gendongan Annete. "Kakak Adel mana?"
"Belum selesai makan tuh sama si kembar."
"Ooh, kalau begitu jangan diganggu dulu."
"Mbak Anisa baru sampai?"
"Iya, mbak sudah minta maaf tadi sama Louis karena telat soalnya baru saja dari kampung dan langsung ke sini. Oh iya Dek ini ibu." Anisa memperkenalkan wanita yang sedari tadi berdiri di sampingnya dengan mata yang berkaca-kaca memandang ke arah Annete.
"Ibu?" Annete tampak kaget. Beberapa bulan yang lalu ia telah berjanji pada Anisa untuk menemui Tasya tetapi dia benar-benar lupa karena terlalu fokus pada kehamilan dan bayinya. Anisa pun tidak pernah mengingatkan akan hal itu.
"Kemarin saat pernikahanku sama Farhan beliau tidak bisa hadir karena sakit."
Tasya tidak tahan lagi, ia segera mendekap tubuh Annete sambil menangis.
"Maafkan aku ya Nak." Tasya berucap dengan penuh sesal. "Maafkan ibu yang tidak pernah merawatmu hingga sedewasa ini." Tangis Tasya semakin menjadi membuat Annete pun ikut menangis bahkan baby Ayden yang ada dalam pangkuan Anisa ikut menangis pula. Baby Ayden memang sensitif, kalau melihat orang menangis dia pasti ikut menangis.
Adel yang sedang melanjutkan makannya setelah menertawakan Tristan tadi disenggol oleh Juju.
"Kenapa?" tanya Adel.
"Tuh keluarga kamu," tunjuk Juju ke arah Annete.
Adel langsung menghentikan makannya dan menoleh kemudian bergegas menuju ke tempat ayahnya berdiri.
"Ada apa Bunda?" tanyanya pada Annete.
"Dia nenek kamu," ujar Anisa.
"Nenek?"
"Iya."
"Dia Adel?"
"Iya Bu."
__ADS_1
"Udah besar ternyata ya."
Adel pun menyalami neneknya begitupun dengan Adrian.
"Ayo kita duduk di sana Bu." Ibu belum makan kan?"
"Aku mau gendong anakmu dulu boleh?" tanya Tasya pada Annette dan Annete mengangguk. Anisa memberikan Ayden pada Tasya.
"Mas kamu makan duluan sana!" pinta Annete pada Adrian.
"Nggak enak, masa ngedahului ibu," ucap Adrian.
"Tidak apa Nak Adrian kamu makan terlebih dahulu. Aku masih mau main sama cucu nenek dulu." Tasya berucap sambil mengangguk-angguk pada Ayden.
"Siapa namanya?"
"Ayden."
"Oke Ayden kamu main sama nenek dulu ya." Tasya membawa Ayden berjalan-jalan, berkeliling di tempat itu sedangkan Annete dan Adel tampak menemani Adrian makan.
Louis berjalan ke arah mereka. Nis, Farhan silahkan dicicipi hidangannya dulu ya. Maaf saya tidak bisa berlama-lama menemaninya karena ada masalah kecil yang harus segera diselesaikan." Anisa dan Farhan mengangguk kemudian menarik kursi di samping Annete. Duduk kemudian menyantap menu yang dihidangkan.
Di tempat lain Lisfi dan Mala terus berlari ketika dikejar oleh anak buah Louis.
"Kita sudah dikepung Lisfi, lebih baik kita berpencar." Lisfi mengangguk sedangkan Mala berlari tak tentu arah. Karena kepanikannya ia sampai berlari ke tengah jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Hingga tiba-tiba,
Brak.
Sebuah mobil yang melaju kencang menabrak tubuh Mala hingga terpental ke pinggir jalan.
"Tidak Mala!" Lisfi berteriak lalu hendak beranjak ke tempat Mala, tetapi dia urungkan tatkala melihat anak buah Louis bergerak ke arahnya.
"Dia sekarat."
"Kritis."
"Meninggal."
Ucapan orang-orang yang mengerumuni Mala sampai ke telinganya. Lisfi menggeleng, dirinya kini tinggal sendiri. Dengan cekatan ia berlari dan naik ke pagar rumah seseorang untuk bersembunyi.
Namun malang, niatnya yang ingin terlepas dari hukuman Louis membawanya kepada kesialan lainnya.
"Tangkap dia. Dia pasti mau memata-matai rumah ini." Terdengar samar-samar perintah seseorang di telinganya dan beberapa saat kemudian dirinya ditangkap oleh beberapa orang yang membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di rumah ini kisah pilu Lisfi mulai terjadi.
Bersambung.....