
Beberapa saat kemudian Rian datang. "Siapa yang sakit?" tanyanya.
"Aku sama istriku," jawab Zidane.
"Kok kompakan sih? Kebanyakan bercocok tanam kali. Siapa yang duluan mau diperiksa?"
"Istriku aja Yan."
"Dia dulu aja deh Dok," jawab Isyana.
"Baiklah ayo pak Zidane kamu duluan," pinta Rian.
"Apa keluhannya?"
"Mual Yan terus sesuatu yang biasanya wangi jadi bau. Kayak parfum dan sabun bikin aku muntah."
"Kok aku curiga ya sama kamu?" ucap Rian sambil memeriksa Zidane.
"Curiga apaan sih? Jangan nakut-nakuti, kamu!"
"Kok nakut-nakuti sih? Aku curiga kamu morning sick soalnya aku periksa kamu baik-baik aja nggak ada penyakit. Istri kamu lagi hamil?"
"Nggak tahu makanya kamu periksa sekarang."
"Baiklah Ayo."
Isyana naik ke atas ranjang dan dokter Rian memeriksanya.
"Apakah Nyonya sering muntah-muntah atau mual?"
"Ia Dok."
"Sejak kapan?"
"Baru tadi pagi Dok."
"Saya lihat sepertinya istri kamu memang hamil tapi saya tidak bisa memastikan bagaimana kalau saya memanggil teman saya? Kebetulan dia dokter kandungan dan sekarang dia ada di mobil saya."
"Boleh Dok."
"Cih temen kok malah di ungkep dalam mobil," ledek Zidane.
"Bukan begitu kebetulan kami kan searah jadi dia nebeng sama aku. Dia tadi sudah ku ajak ke sini tapi menolak karena merasa tidak enak sama tuan rumah."
"Ya sudah panggil sana!"
Setelah memeriksa dokter perempuan itu berkata, "Kalau tidak salah umur kehamilan Nyonya sudah dua Minggu tapi untuk lebih meyakinkan Nyonya pakai tespect saja ya!" ucapnya sambil menyodorkan sebuah tespect ke tangan Isyana.
Isyana pun berlalu ke kamar mandi dengan tespect di tangannya. Matanya membulat tatkala melihat tespect di tangannya menunjukkan garis dua. Isyana keluar dari kamar mandi sambil tersenyum sumringah.
"Mas garis dua," katanya sambil menunjukkan hasilnya pada Zidane.
"Berarti dokter ini tidak bohong," pikir Zidane.
"Itu maksudnya apa Pa?" tanya Nathan.
"Itu artinya sebentar lagi kalian bakal punya adik,"jawab Zidane.
"Hore kita bakal punya dedek," sorak si kembar sambil melompat kegirangan.
"Kalau begitu kami permisi dulu," ujar dokter perempuan itu.
"Baik terima kasih, nanti bayarannya akan aku transfer lewat Rian dan plus kami juga akan mengirimkan hadiah untuk dokter."
"Wah terima kasih Pak."
__ADS_1
"Aku?" protes Rian.
"Nggak ada, kamu tidak membawa kabar gembira."
"Alah padahal yang membawa dokter ini kan aku. Ya sudah kita pamit."
"Ia hati-hati."
Selepas kedua dokter itu pergi sebenarnya Zidane ingin mandi namun dia ragu untuk masuk ke kamar mandi takut akan muntah lagi.
"Kenapa Mas?" tanya Isyana yang melihat Zidane mondar-mandir dari tadi.
"Pengen mandi tapi takut muntah."
"Sudah Mas dilawan aja nanti kalau Mas nggak mau mandi entar dedeknya jorok lagi."
"Itu kan kalau kamu."
"Tapi Mas kan juga morning sicknes."
"Ia juga ya Bismillahirrahmanirrahim." Akhirnya Zidane memutuskan untuk .asik ke kamar mandi.
"Lo kok nggak bau lagi?" Zidane keheranan padahal baru saja dia muntah karena bau sabun tapi sekarang kok kembali wangi lagi. Karena sudah harum kembali dia malah berlama-lama di kamar mandi.
"Gimana Mas, nggak mual?" tanya Isyana ketika keluar dari kamar mandi.
"Sudah nggak bau lagi sayang," ujarnya.
"Kok bisa ya Mas?"
"Nggak tahu, mungkin karena si dedek hanya ingin mengabarkan kalau ia sudah datang jadi setelah tahu kamu hamil aku tidak merasa bau lagi." Zidane berucap sambil mencium perut Isyana.
"Kamu baik-baik ya di sana jangan merepotkan Mama." Bicara pada calon bayinya.
Sementara Nathan dan Tristan setelah mendengar kabar mamanya hamil tidak sabar ingin membagi kebahagiaan kepada Naura. Namun dicari-cari Kak Naura nya tidak ketemu.
"Nenek! Nenek melihat Kak Naura?" tanyanya pada Nisa.
"Tidak nenek pikir dia bersama kalian."
"Kemana ya?"
"Mungkin sudah di kamarnya Itan."
"Ya sudah ayo ke sana!"
"Kak, Kak," Memanggil sambil mengetuk pintu.
Mendengar suara Nathan dan Tristan Naura terbangun dari tidurnya. Ya akhirnya dia tertidur setelah kelelahan menangis.
"Ia sebentar." Naura bangun dan segera membasuh wajahnya dengan air dingin lalu mengompres matanya dengan es agar bengkaknya terlihat samar. Kebetulan di kamarnya ada lemari es kecil.
"Ada apa Nathan?"
"Kami bahagia Kak sebentar lagi kami bakal punya adik."
"Oh ya? Selamat ya Nathan dan Tristan."
"Makasih Kak, tapi Kakak nangis ya? Kok mata Kakak bengkak?"
"Oh ini? Mungkin karena kelamaan tidur jadi mata kakak jadi bengkak kayak gini."
"Oh gitu ya Kak. Udah Kak siap-siap entar lagi kita makan malam."
"Makan malam? Jadi sekarang sudah malam? Astaga aku sedari tadi belum makan apa-apa. Pantas saja perutku sudah keroncongan dan juga lelah ternyata menangis juga menghabiskan tenaga."
__ADS_1
Pada suatu hari Isyana ngidam makan rujak nanas tapi pengennya di kupas langsung oleh Zidane.
"Sayang ini nanasnya, bumbu rujaknya sudah aku nyuruh bibi yang buatkan. Gimana kalau nanasnya aku nyuruh Bibi juga yang ngupas?"
"Jangan Mas sih dedek kan pengennya papanya yang ngupasin."
"Baiklah." Dengan terpaksa dia mulai mengupas nanas walaupun ia tidak tahu bagaimana caranya.
"Nanas, buat apa?" tanya Laras.
"Calon cucu mama nih minta rujak nanas."
"Jangan sayang jangan makan nanas!"
"Memang kenapa Ma?"
"Nggak boleh sayang kata orang jaman dulu kalau makan nanas pas lagi hamil muda bisa keguguran apalagi umur kandungan kamu belum genap sebulan."
"Emang menurut kedokteran juga tidak memperbolehkan Ma?"
"Mama tidak tahu kalau soal itu yang Mana tahu jaman dulu pas manusia belum mengenal kontrasepsi kalau mereka telat datang bulan mereka menkonsumsi nanas karena takut hamil dan akhirnya datang bulan."
"Sudah kalau begitu nggak jadi deh Mas rujak nanasnya mending aku rujak buah yang lainnya aja."
Zidane bernafas lega.
"Tapi aku ingin Mas Zidane mengumpulkan teman-teman Mas Zidane untuk lomba mengupas nanas?"
"Apa?!"
"Ia Mas sekalian syukuran karena aku telah berhasil mengandung anak Mas Zidane lagi."
"Hem, baiklah kalau begitu."
##
Hari yang ditentukan pun tiba semua teman-teman Zidane sudah berkumpul di taman belakang.
"Astaga jadi kamu mengumpulkan kami sebuah hanya demi mengupas nanas?" protes Edrick.
"Ayolah bantu aku istriku ngidam seperti itu."
"Tapi hadiahnya apa?"
"Tv," jawab Zidane sekenanya.
"Emang Lo pikir gue nggak ada tv di rumah," protes Edrick.
"Mesin cuci," jawab Isyana.
"Emang Lo kata gue ibu-ibu kegirangan kalau dikasih mesin cuci."
"Emang Lo pikir lomba kayak gini hadiahnya mobil? Bisa dosa kalau gue kasih mobil dan yang menang kamu. Bisa-bisa tuh mobil digunakan buat bercocok tanam lagi."
"Ya udah terserah deh hadiahnya apa yang penting ada yang ngedukung saya. Yuna mau kan kasih dukungan buat saya?" ucap Edrick sambil mengedipkan mata ke arah Yuna.
"Ah nggak ah aku mau dukung Adrian aja secara kan Annete sekarang pasti dukung Lexi."
"Awas entar lama-lama berpaling pada Adrian tuh."
"Nggak akan aku mah sama Adrian dari dulu sampai sekarang tetap sahabat dan untuk selamanya ya Dri?"
"Yup benar."
"Nggak semangat ah kalau nggak ada yang dukung."
__ADS_1
"Tenang Om aku yang bakalan dukung Om," ucap Naura sambil melirik ke arah Lexi dan Annete.
Bersambung....