
Zidane yang sudah dikuasai amarah langsung menghampiri Isyana.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku Sya?!"
Isyana menoleh, "Mas kamu, ... ini tidak yang seperti yang kamu pikirkan."
"Ya memang tidak seperti yang aku pikirkan. Aku pikir kau wanita baik-baik tapi nyatanya....''
"Mas kamu salah paham, aku...."
"Berapa laki-laki yang sudah kamu jerat hah!"
"Apa karena ini kau mau menerima dia?" Zidane menyentak kalung yang melingkar di leher Isyana.
"Aku bahkan bisa membelikan kalung yang harganya sepuluh kali lipat dari kalung ini."
"Mas!" Isyana membentak Zidane karena tidak terima dengan perkataannya.
"Kenapa, kamu marah?" Zidane tak kalah membentak.
Isyana tidak menjawab hanya memunguti kalungnya yang jatuh di lantai.
"Mas tidak tahu bahkan kalung ini sangat berharga untuk saya," katanya sambil bercucuran air mata. Hatinya sakit melihat kalung peninggalan bundanya terputus.
"Apa karena dia yang memberimu?"
Isyana tidak menjawab, selesai memunguti kalung itu ia segera pergi meninggalkan Zidane dengan amarahnya.
"Sya jangan pergi kamu!"
"Hai Brother sabar, Anda hanya salah paham, kalung itu ...," ucap Kenan berusaha menjelaskan namun tangannya ditepis dan omongannya dipotong oleh Zidane, "Jangan pernah ikut campur urusanku!" Selesai mengatakan itu Zidane berlalu pergi.
Sampai di kamar Isyana benar-benar menumpahkan air matanya. Dia kecewa terhadap Zidane. Terlepas dari kalung bundanya yang terputus dia juga kecewa dengan tuduhan Zidane bahwa dirinya bukanlah wanita yang baik. Isyana merasa terhina. Kalau saja Laras belum datang ke rumahnya untuk melamarnya dia akan memilih mengikhlaskan hubungannya berakhir. Tapi kenyataannya banyak hati yang harus dia jaga bukan hanya hatinya sendiri terutama hati kedua putranya yang akan terluka kalau dia mengambil keputusan itu. Namun demikian dia mengambil keputusan untuk menghindari Zidane sementara waktu sambil memulihkan hatinya sendiri.
Sejak saat itu Isyana menjaga jarak dengan Zidane. Meskipun kedua putranya sering memintanya untuk mengantar mereka ke rumah Zidane tapi dia selalu menyuruh Lexi untuk mengantar mereka. Bahkan setiap panggilan dan chat dari Zidane dia tidak mau membalasnya. Entah mengapa perkataan Zidane waktu itu masih terngiang di telinganya.
Suatu hari Zidane datang ke rumah Atmaja untuk bertemu Isyana namun Isyana tak pernah mau menemuinya. Tidak ada yang tahu akan masalah yang menimpa keduanya termasuk kedua putranya.
"Mama kenapa tidak menemui Papa, apa kalian bertengkar?"
"Tidak sayang kami tidak bertengkar."
"Terus kenapa Mama tidak mau menemui papa?"
"Itu karena kami masih dipingit sayang jadi nggak boleh bertemu."
"Dipingit itu apa Ma?"
"Tidak boleh bertemu sayang sampai kami menikah."
"Oh." Keduanya percaya saja atas perkataan Isyana.
Sampai suatu hari Zidane yang tidak tahu lagi bagaimana caranya bisa bertemu Isyana meminta tolong kedua putranya untuk membujuk Isyana agar mau menemuinya.
"Kata Mama nggak boleh ketemu Pa, katanya papa sama mama lagi dipingit."
"Mama kalian bilang begitu?"
"Iya Pa."
__ADS_1
Pandai sekali dia membohongi anak-anak.
"Tapi bisa nggak sih kalian bantu papa untuk merayu mama kalian agar mau menemui papa satu kali saja."
"Kenapa papa memaksa, apakah papa tidak tahu apa itu dipingit? Dilarang bertemu Pa!"
"Please satu kali aja! Papa ingin meminta maaf sama mama kalian."
"Meminta maaf?"
"Iya papa pernah berkata kasar sama papa kamu. Pasti sekarang mama kalian sakit hati sama papa. Waktu itu papa lagi emosional jadi bicara papa tidak terkontrol."
"Papa memarahi mama? Karena apa?" tanya Nathan.
"Pantas beberapa hari ini mama lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar," sela Tristan.
"Karena suatu hal."
"Katakan sama kami apa masalahnya baru kami akan membantu."
"Karena mama kalian berselingkuh dari papa."
"Apa maksud papa? Mana buktinya?"
"Ada seseorang yang mengirimkan foto ini pada papa." Zidane terpaksa menunjukkan foto-foto dari seseorang dengan nomor yang tak dikenalnya itu.
Kedua anak itu mengamati foto tersebut.
"Dan Papa percaya?"
"Karena setelah itu papa melihat dengan mata kepala papa sendiri mama kalian berduaan dengan seorang pria."
"Papa coba cek foto itu asli apa nggak, kalau Atan kira itu pasti editan," lanjutnya.
"Ada apa?" Tiba-tiba Laras menghampiri mereka.
"Oma bantu papa untuk membuktikan bahwa foto yang ada pada papa itu palsu."
"Foto apa?"
"Biar papa yang cek sendiri nanti." Zidane tidak mau menunjukkan foto tersebut pada mamanya.
Laras hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan. Lebih baik dia mengajak cucu-cucunya jalan-jalan dulu siapa tahu mereka akan bercerita.
"Kalian mau jalan-jalan sama Oma nggak?"
"Kemana Oma?"
"Kemana saja yang kalian mau. Mungkin mau menambah koleksi mainan di kamar kalian nanti Oma belikan."
"Oke Oma kami mau."
Mereka meninggalkan Zidane yang sedang merenung seorang diri. Kata-kata Nathan masih terngiang di telinga. Anak itu terlalu yakin bahwa mamanya tidak akan melakukan hal buruk. Kalau memang benar apa yang dikatakan Nathan apa yang harus dia lakukan agar bisa mendapatkan maaf dari Isyana. Zidane tahu perkataannya tempo hari pasti akan membuat hati Isyana hancur, tapi kalung itu? Mengapa kalung itu begitu berharga untuk Isyana? Apakah benar tidak ada hubungan antara Isyana dengan lelaki pemilik kalung tersebut?
Zidane bangkit dari duduknya menghubungi seseorang yang bisa membawanya kepada orang yang bisa membuktikan foto tersebut apakah foto tersebut asli atau editan seperti prasangka Nathan.
Di tempat lain Laras yang sudah mendengar cerita dari kedua cucunya menyarankan agar tidak terlalu ikut campur dengan urusan orang tuanya agar keduanya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan agar saling introspeksi diri.
"Nanti kalau papa sama Mama kalian belum akur juga lebih baik kalian diemin keduanya." Sebuah saran dari nenek untuk cucunya yang tidak patut dicontoh.
__ADS_1
Setelah membuktikan bahwa foto tersebut adalah editan. Zidane duduk di meja kebesarannya sambil memikirkan cara terbaik untuk membujuk Isyana. Dia tahu wanita itu adalah wanita keras kepala yang tidak mungkin bisa langsung memaafkannya apalagi perkataannya waktu itu memang benar-benar keterlaluan.
'Tok-tok-tok'. Tiba-tiba Maura mengetuk pintu ruangan Zidane.
"Pak ada yang mau bertemu Bapak."
"Suruh masuk!"
Sepersekian detik Kenan memasuki ruangan.
"Kamu...."
"Maaf Brother izinkan saya meluruskan kesalahpahaman ini."
"Silahkan duduk!"
Kenan duduk di depan Zidane.
"Isyana itu teman saya dari kecil. Ingat hanya teman tidak lebih. Kemarin dia hanya membantu saya. Mengajari bagaimana cara saya menembak seorag gadis yang saya sukai."
Zidane diam memilih lelaki dihadapannya menyelesaikan penjelasannya.
"Perkara kalung itu, itu memang milik Isyana sendiri. Dia dulu sempat menggadaikannya padaku dan waktu itu ia ingin menebusnya tapi saya malah menggunakan kalung itu sebagai praktek saya untuk menembak cewek."
"Lalu kenapa Isyana mengatakan kalung itu sangat berharga untuknya?"
"Itu karena kalung itu peninggalan bundanya. Dulu Isyana sempat bercerita padaku bahwa bundanya di akhir hayatnya sempat meminta agar kalung itu harus dia pakai ketika dia sedang ijab qobul di hari pernikahannya sebagai ganti bundanya yang tidak bisa hadir."
"Oh God, aku sudah berdosa kepadanya," ucap Zidane dalam hati.
Mendengar pernyataan Kenan Zidane langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari are perusahaan dan menyetir mobilnya menuju rumah Atmaja meninggalkan Kenan yang duduk mematung Karena ditinggal begitu saja oleh Zidane. Namum sesampainya di sana Isyana tetap menyueki Zidane.
Karena Isyana tetap diam dan meninggalkan begitu saja ketika Zidane menyampaikan kata maafnya Atmaja menghampiri Zidane.
"Nak Zidane saya harap bisa bersabar atas perilaku anak saya. Saya yakin dia hanya butuh waktu untuk menyendiri saja dulu. Nanti saya akan coba berbicara padanya agar dia memaafkan Nak Zidane walaupun sebenarnya saya pun tidak tahu permasalahan kalian itu sebenarnya apa."
"Terima kasih Yah, kalau begitu saya permisi dulu."
Melihat kedua orang tuanya yang sampai saat ini belum akur juga akhirnya Nathan dan Tristan melakukan yang disarankan Omanya.
"Sayang kalian mau makan apa, biar mama ambilkan," ucap Isyana terhadap kedua anaknya ketika mereka sudah berkumpul di meja makan.
Kedua putranya tidak ada yang mereflek ucapan mamanya malah meminta Annete yang mengambilkan.
"Aunty tolong ambilkan pepes ikan pesmol yang itu."
Annete pun mengambilkan yang diminta.
"Aku mau cumi pedasnya Aunty."
Isyana melihat muka kedua anaknya yang terlihat tidak memperdulikan keberadaannya.
"Sayang hari ini mama mau belanja kain apa kalian mau ikut?"
"Aunty nanti kita ikut Aunty ke rumah Adel saja ya!"
"Ah iya," ucap Annete.
Isyana meraup wajahnya kasar dia tahu anak-anaknya sedang dalam mode ngambek. Tiba-tiba kepalanya terasa pening.
__ADS_1
"Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan?"