Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 126. Hati Yang Hancur


__ADS_3

Sejak malam itu Anisa dan Rayyan memutuskan untuk menjadi kekasih gelap. Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan hubungan seperti layaknya suami istri di kantor.


Anisa sudah tidak peduli lagi dengan rumah tangganya bahkan cintanya kepada Adrian dulu sudah berbelok arah. Baginya dia sudah tidak membutuhkan Adrian. Rayyan sudah bisa memenuhi segala kebutuhannya baik itu materi maupun batin bahkan jika harus berpisah dengan Adrian dirinya pun rela.


"Waw kayaknya harus ada yang tahu nih scandal seorang karyawan dengan atasannya," sindir Lani ketika melihat Anisa melewati tempat duduknya di kantor namun Anisa pura-pura menulikan telinga.


"Sis kayaknya Adrian harus tahu nih, kita lapor yuk!"


Siska memandang ke arah Lani lalu gantian ke arah Anisa. Dia melihat Anisa yang masih duduk dengan tenang tanpa terganggu sedikitpun dengan ocehan Lani lalu Siska menunduk lagi sambil mengerjakan pekerjaannya dia tidak mau ikut campur lagi dengan urusan keduanya. Baginya sejak malam itu kedua orang yang ada di sampingnya itu bukanlah sahabatnya lagi. Dia sudah mengganggap mereka orang lain jadi untuk apa ikut campur apalagi kalau sampai ia ikut campur bisa saja pekerjaannya akan terancam.


"Sis!" panggil Lani kesal.


"Sorry aku tidak mau ikut campur."


Mendengar ucapan Siska, Anisa tersenyum mengejek ke arah Lani.


"Brengsek Lo Sis," gumam Lani dalam hati, geram karena Siska sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.


Melihat Lani yang masih terlihat menahan amarahnya Anisa menghampirinya.


"Kenapa? Elo ingin Adrian? Ambil sana! Gue relakan deh dia buat Elo biar tidak galau lagi," ejeknya.


Mendengar perkataan Anisa hati Lani menjadi terbakar namun dia hanya bisa mengepalkan tangannya tapi tidak berani berbuat keributan di sana. Sekuat mungkin dia menahan amarahnya supaya dia tidak mengamuk di sana karena kalau sampai itu terjadi pasti dia akan kena masalah apalagi yang menjadi lawannya sekarang adalah selingkuhan bosnya sendiri. Bisa-bisa dia dipecat sekarang juga. Lani butuh pekerjaan ini untuk menutupi pekerjaannya sebagai wanita panggilan dari kedua orang tuanya.


Lani diam bukan berarti dia kalah, dalam hati dia berjanji akan menghancurkan Anisa namun dia harus pintar-pintar mencari cara yang tepat agar tidak berpengaruh terhadap pekerjaannya.


Hingga suatu malam ketika dia datang ke club lagi bersama Rayyan sang pemilik club terpaksa menghampirinya.


"Nis aku minta kamu hentikan permainan kamu ini ya!" pinta Edrick pada Anisa. Ya waktu itu Edrick yang memergoki Anisa sedang berdua dengan Rayyan dia pikir hanya kebetulan tapi nyatanya Anisa benar-benar selingkuh dengan Rayyan karena sudah beberapa kali Edrick memergokinya tapi selalu gagal saat ingin menghampiri Anisa tapi kali ini dia harus memberi peringatan agar Anisa berhenti mengkhianati sahabatnya, Adrian. Edrick tidak tega melihat Adrian dikhianati seperti ini apalagi saat dirinya susah payah memperjuangkan kesehatan anaknya.


Rayyan memberi kode pada Anisa lewat matanya seolah menanyakan 'dia siapa?'


"Dia pemilik club ini. Biasa hanya teman suami," bisik Anisa di telinga Rayyan namun masih bisa di dengar oleh Edrick.

__ADS_1


Edrick mengernyit. "Apa! Hanya suami teman? Berarti dia tahu dong kalau kamu sudah punya suami?"


"Benar saya menang sudah tahu." Rayyan yang menjawab.


Edrick geleng-geleng kepala "Dasar ya kalian manusia-manusia licik bisa-bisanya membohongi pasangan. Kamu tuh ya Nis, Adrian begitu percaya sama kamu tapi kamu malah mengkhianati kepercayaannya. Kau tega disaat seperti ini, disaat anakmu sakit parah kau malah lebih memilih bersenang-senang dengan pria ini. Kau benar-benar seorang ibu yang tidak memilki perasaan berbahagia di atas penderitaan anak dan suami mu," ucap Edrick geram.


Mendengar ucapan Edrick Anisa terdiam.


"Kami saling mencintai jadi saya mohon Anda tidak menggangu kesenangan kami. Oh ya ini klub milik Anda? Tenang saja saya akan bayar berapapun yang Anda minta," ujar Rayyan.


"Itu namanya bukan cinta Bro tapi nafsu," ujar Edrick sambil menepuk pundak Rayyan.


"Dan maaf saya tidak butuh uang Anda," lanjutnya.


Mendengar perkataan Edrick kemarahan Anisa jadi terpancing. "Jangan sok suci Lo Rick elo tuh sama kita sama saja sama-sama budak nafsu," ucap Anisa tak terima.


"Beda Nis kita beda porsi kalau aku mah mau gonta-ganti pasangan tiap malam nggak ada yang sakit hati sedangkan kamu tuh sudah punya suami yang harus kamu jaga perasaannya. Meskipun aku seperti ini sekarang tapi kalau aku nanti kalau sudah punya pasangan aku pasti akan setia."


"Cih, pergilah Rick aku tidak butuh nasehatmu!"


Edrick masih berharap Anisa bisa berpikir jernih agar bisa mengakhiri semuanya sehingga ia tidak perlu melapor kepada Adrian dan menyakiti perasaan sahabatnya itu apalagi di saat genting seperti ini dia tahu beban pikiran Adrian yang memikirkan keadaan Adel sangat berat jangan sampai ditambah lagi dengan mendengar kabar perselingkuhan istrinya.


Setelah Adrian pergi Anisa melihat wajah Rayyan.


"Apa kau takut dengan ancamannya?" tanya Rayyan yang melihat ekspresi Anisa yang sulit ditebak.


Anisa tersenyum." Aku tahu apa yang harus aku lakukan kalau sampai dia melapor ke Adrian."


"Bagus itu baru namanya wanitaku," ujar Rayuan sambil mengacak-acak rambut Anisa dan keduanya pun tertawa lepas.


Setelah kejadian itu Edrick mencoba mengawasi Anisa dari jauh dia hanya ingin tahu apakah Anisa sudah berhenti berselingkuh karena takut dengan ancamannya ataupun sebaliknya. Namun yang dia dapat Anisa masih saja berhubungan dengan Rayyan. Rupanya wanita itu tidak pernah memperdulikan ancaman Edrick.


Karena ancamannya tidak mempan akhirnya Edrick memutuskan untuk memberitahukan pada Adrian tentang hal ini. Edrick lalu mendatangi rumah sakit tempat Adel dirawat. Kebetulan saat itu Adrian sudah berkemas Karena Adel keadaannya sudah mulai membaik dan sudah diizinkan pulang. Edrick berinisiatif mengantarkan mereka pulang dengan mobil miliknya. Saat diperjalanan Adel tertidur, di saat itu pula Edrick memberitahukan tentang perselingkuhan Anisa kepada Adrian.

__ADS_1


Hati Adrian bergemuruh mendengarkan penuturan Edrick sahabatnya. Dia tidak habis pikir Anisa akan mengkhianatinnya pada saat-saat seperti ini. Hati Adrian benar-benar terluka rupanya selama ini Anisa membohonginya dengan mengatakan dirinya sibuk di kantor, ada lembur dan semacamnya. Rupanya dia malah bersenang-senang dengan pria lain saat dirinya harus menguras banyak air mata karena terlalu mengkhawatirkan putri satu-satunya.


"Awas ya kamu Nis," ucapnya dalam hati.


"Dri kamu bicarakan baik-baik dulu ya Dri!" saran Edrick karena melihat wajah Adrian memerah menahan amarah.


Adrian tidak menjawab kemarahannya sudah membuncah hingga saat Anisa datang tanpa aba-aba Adrian langsung menamparnya sedangkan saat itu Edrick sudah pulang.


"Plak!"


"Dri, kenapa kau menampar ku!" protes Anisa sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan.


"Masih bertanya? Apa yang lakukan dibelakang ku hah!" bentak Adrian.


"Apa maksudmu Dri?"


"Tega kamu. Aku membiarkan kamu bebas tidak mengurusi Adel karena aku tahu kau tidak menyukainya meskipun sampai saat ini aku masih ragu benarkah kau membencinya hanya gara-gara penyakitnya ataukah gara-gara yang lainnya? Aku diam karena aku menyayangimu. Membiarkan dirimu mencari kebahagiaanmu dengan tidak pernah mengekang mu tapi rupanya kau menyalahgunakan kebebasan yang keberikan itu." Adrian menjeda ucapannya sebentar kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Mulai besok kau harus berhenti bekerja!" tegasnya.


"Tidak akan, aku tidak akan pernah berhenti."


"Kalau tidak aku akan..."


"Apa kau akan menceraikanku?"potong Anisa.


"Ceraikan lah aku tidak takut," ucap Anisa menantang.


Adrian meraup wajahnya kasar. "Kamu ... Ah!" ucapnya sambil melayangkan bogemnya ke dinding kemudian meninggalkan Anisa menuju kamar Adel.


"Haruskah aku berpisah dengan bundamu dalam keadaanmu yang seperti ini?" tanya Adrian pada Adel yang masih tertidur pulas sambil mengusap kepala sang putri. Tak terasa air mata menetes di pelupuk matanya.


"Ah, haruskah kebersamaan kami sesingkat ini?"

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih🙏.


__ADS_2