Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 154. Menyusul


__ADS_3

Sore hari langit Jakarta di selimuti awan hitam. Adrian yang baru pulang dari tugasnya segera melajukan mobilnya membelah jalanan. Hari ini ia tidak ingin terkena hujan meskipun membawa mobil karena jalanan bisa saja licin.


Sampai di rumah ia langsung menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah berganti dengan pakaian santai dia menghampiri Adel yang sudah siap di meja makan.


"Del kenapa kamu belum makan?" tanya Adrian karena melihat Adel tidak mau menyentuh makanannya, dia merengut sambil memandangi piring di hadapannya yang masih kosong.


Adel menoleh pada Adrian. "Yah kalau nanti ada bunda Annete sama bunda Anisa ayah pilih siapa?" Pertanyaan macam apa ini mengapa Adel tiba-tiba mengingat Anisa pikir Adrian. Dan kenapa sekarang dia malah memanggil Annete dengan sebutan bunda?


"Kenapa Adel bertanya seperti itu?"


"Ayah jawab saja."


Adrian menghela nafas. "Maaf ayah pilih bunda Annete walaupun bunda Anisa yang melahirkan kamu."


"Kalau begitu Ayah tidak perlu minta maaf karena itu juga keinginan Adel."


"Ya sudah ayo makan atau masih ada yang mau ditanyakan sama ayah?"


Adel menggeleng. "Tapi sayang Yah bunda Annete sudah ninggalin kita."


"Ninggalin, maksud kamu?"


"Bunda Annete sudah pergi Yah, dan mungkin dia tidak akan kembali lagi." Ada air mata yang menetes di sudut mata Adel sedangkan Adrian menjadi gusar.


"Kamu kata siapa Del?"


"Kata Nathan sama Tristan. Dia tadi pagi mengantarkan alat-alat makan ini. Katanya bunda Annete yang nitip buat Adel."


Adrian memeriksa piring keramik yang ada di depan Adel yang masih kosong ada tulisan 'Jangan lupa makan sayang' dibalik piring tersebut. Ada juga mug yang ada gambarnya Annete dan Adel sedang tersenyum.


Benarkah Annete pergi?


Melihat benda-benda yang ditinggal kan Annete buat Adel, Adrian berpikir Annete memang sudah berniat meninggalkan dirinya dan Adel namun sayang hatinya tidak mempercayai pikirannya itu. Dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi Annete namun sayang beberapa kali menelpon nomor Annete belum aktif juga. Adrian menjadi bertambah gusar. Ia langsung meraih kunci mobilnya dan berjalan ke luar rumah.


"Adel tenang saja, ayah akan mencari bunda Annete dan membawanya pada Adel," ucapnya dengan setengah berteriak dan Adel hanya mengangguk.


Adrian lalu menyetir mobilnya ke rumah pak Atmaja tanpa mempedulikan cuaca di luar yang sangat buruk. Angin kencang dan hujan deras tak menjadi penghalang untuknya membuktikan bahwa Annete tidak benar-benar pergi. Namun pada akhirnya informasi yang dia dapatkan dari Atmaja adalah info yang sama sekali tidak ingin ia dengar.

__ADS_1


"Benar Nak Adrian, Nak Annete memang sudah kembali ke negaranya. Kemarin saya sempat menahannya namun dia tetap pada keputusannya untuk pergi dari negara ini.


"Baiklah Pak kalau begitu saya permisi." Adrian pamit pada Atmaja kemudian melajukan kembali mobilnya di jalanan. Kali ini tujuannya adalah kafe Yuna. Entah mengapa dia masih tidak percaya pada perkataan pak Atmaja.


"Ada apa Dri tumben kamu ke sini sendiri?"


"Yun kamu tahu Annete dimana?"


"Annete? Emang dia nggak pamit sama kamu?"


Pyiar....


Adrian sudah dapat menebak perkataan Yuna. "Jadi dia beneran pergi?" Bicara sendiri.


"Kenapa kamu nggak kasih tahu aku Yun?"


"Aku pikir dia sudah ngomong sama kamu Dri. Aku sebenarnya tidak tahu langsung hanya sekilas mendengar pembicaraan si kembar kemarin di pernikahan Lexi sama Naura bahwa Annete mau pergi."


"Apa? Lexi dan Naura menikah? Kok aku nggak diberitahu sih?"


"Pernikahannya dilaksanakan secara tertutup Dri karena Naura masih sekolah jadi tidak banyak yang diundang. Aku saja dikasih tahu hanya karena pernah dekat dengan Naura.


"Iya hati-hati Dri sepertinya cuaca malam ini nampak tak bersahabat."


"Iya terima kasih atas perhatiannya." Adrian masuk ke dalam mobilnya kembali dan melajukan mobilnya untuk pulang. Perkataan Atmaja bahwa Annete telah pergi terngiang-ngiang di telinganya mengiringi perjalanan pulang pun dengan perkataan bahwa Lexi telah menikahi Naura.


"Pasti Annete sangat kecewa pada Lexi hingga harus memutuskan untuk pergi," gumamnya. Adrian pikir kepergian Annete ada hubungannya dengan Lexi.


Tak berselang lama mobil sudah terparkir di garasi rumah. Ketika masuk ke dalam pemandangan yang sama masih terlihat. Adel masih saja memandangi makanannya tanpa mau menyentuhnya. Adrian berjalan ke arah Adel.


"Kenapa masih belum makan?"


"Adel rindu disuapi bunda Annete Yah. Gimana bunda Annete nya ketemu?"


Dengan berat Adrian menggeleng. "Belum tapi biar besok ayah cari lagi. Sekarang Adel makan dulu ya."


Adel menggeleng.

__ADS_1


"Apa mau ayah yang siapin?" Adel masih saja menggeleng.


"Makanlah kalau bunda Annete tahu kamu nggak makan dia pasti akan kecewa. Lihat ini!" Adrian membalikkan piring dan menunjukkan tulisan di belakang nya.


"Makan Yah biar biar bunda Annete senang. Kamu tahu tujuan bunda Annete ngasih benda ini supaya kamu tidak meninggalkan jam makan kamu. Anggaplah piring dan mug ini sebagai ganti bunda Annete untuk sementara yang menemani kamu makan." Adel mengangguk dan mau makan walaupun hanya sedikit.


Esok hari Adrian langsung datang ke rumah Zidane dan menyalahkan Lexi atas kepergian Annete. Namun Lexi menyadarkannya bahwa Annete pergi karena ada wanita yang mengaku masih berstatus istri Adrian dan mengancam Annete. Lexi pun mengatakan bahwa Annete sudah tidak mencintai dirinya bahkan hati Annete pun sudah berpaling padanya.


Adrian meraup wajahnya kasar. "Mengapa aku begitu bodoh sehingga tidak pernah menyadarinya?"


"Ah mengapa aku melupakan sesuatu hal yang krusial dalam hidup saya. Bodoh, bodoh, bodoh bisa-bisanya aku melupakan bahwa surat cerai itu masih belum ditandatangani." Adrian menyalahkan diri sendiri sambil menjambak rambutnya frustasi.


"Bagaimana kalau sampai Adel bertemu Anisa dan hati Adel berpaling ingin dirinya kembali ke Anisa?"


"Ah tidak Adel kan tadi mengatakan akan memilih Annete juga seperti diriku."


"Tapi untuk sekarang aku harus mencari Annete terlebih dahulu. Entah mengapa aku begitu khawatir terhadapnya."


Ia meraih ponselnya dan segera menelpon Lexi karena dia sudah ada dalam mobil dalam perjalanan pulang. "Lex berikan alamat rumah Annete."


Tak begitu lama Lexi mengirimkan alamat Annete melalui ponselnya. "Baiklah An aku akan mencari mu di manapun engkau berada." Segera Adrian melakukan mobilnya dengan kencang. Sampai di rumah ia memanggil Adel untuk bersiap-siap karena ia akan menitipkan Adel pada Yuna.


Sementara Adel bersiap-siap Adrian menelpon seseorang untuk membelikan tiket pesawat ke Paris sekarang juga.


"Sudah Yah," ucap Adel yang kini sudah berpakaian rapi.


"Sayang untuk sementara kamu saya titipkan sama Tante Yuna ya, soalnya di Paris nanti ayah takut tidak langsung menemukan bunda Annete dan ayah harus berkeliling mencarinya. Kalau kamu ikut ayah takut kamu kecapekan."


"Iya Ayah Adel mengerti kok. Semoga ayah bisa secepatnya bertemu dengan bunda Annete ya."


"Amin, kamu doakan saja ya." Adel hanya mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita ke rumah Tante Yuna."


Adrian pun menitipkan Adel pada Yuna dan dirinya melakukan penerbangan ke Paris hari itu juga.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Vote-nya. Terima kasih.๐Ÿ™


__ADS_2