
"Terima kasih Paman." Mereka berhamburan ke dalam pelukan Zidane.
Tiba- tiba ponsel Zidane berbunyi. "sebentar!" Zidane melepaskan pelukan kedua anak tersebut dan berjalan menjauhi mereka untuk menerima panggilan.
"Halo bagaimana?"
"Ternyata pak Edward tidak pernah memiliki anak kembar bersama istrinya Lusyana tetapi dia mengadopsi anak kembar orang lain. Berdasarkan info di rumah sakit tempat persalinan wanita yang melahirkan anak kembar tersebut bernama Isyana."
"Kamu yakin?"
"Yakin Bos bahkan kami harus mengancam dokter tersebut untuk buka mulut."
"Baiklah kalau begitu kalian boleh beristirahat." Zidane menutup telepon dan menghampiri Nathan dan Tristan.
"Paman mau tanya, kali ini paman berharap kalian jujur sama paman, " ucap Zidane dengan penuh harap. Dia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Benar kalian anak kandung mommy Lusy?" tanya Zidane sambil memandang wajah kedua anak tersebut secara bergantian.
Mereka berdua kompak menggeleng.
"Terus siapa ibu kandung kalian yang sebenarnya?"
"Mama Syasa." Akhirnya mereka memilih jujur karena melihat wajah Zidane yang nampak serius tidak tega lagi membohongi orang yang telah menganggapnya sebagai anak sendiri.
"Kenapa selama ini kalian bohong?"
"Mama tidak mengizinkan kami bercerita pada siapapun tentang orang tua kami." Kini Nathan yang bicara.
"Baiklah paman tanya Sekali lagi. Apakah kalian tahu siapa ayah kalian?"
Lagi-lagi mereka menggeleng.
"Jadi mama Syasa nggak bilang sama kalian?"
"Tidak Paman."
"Apakah setahu kalian mama Syasa pernah menikah? Atau kalian pernah melihat foto pernikahan mama Syasa di rumah kalian?" Padahal katanya mau bertanya sekali saja tapi nyatanya berkali-kali.
"Tidak Paman."
Zidane menghela nafas kalau begitu harusnya mereka adalah anak-anakku tapi kenapa bukan? Begitu pikirnya dalam hati.
"Nanti malam kalian masih nginap di sini kan?"
"Iya Paman."
"Emangnya mama kalian ngizinin?"
"Nggak paman mama kan lagi tidak ada."
"Emang mama kalian kemana?"
"Balik ke Prancis katanya mau mengecek butiknya dan mau mengurus kepindahan kami."
"Kalian mau pindah kemana?"
"Kami mau sekolah di sini aja."
"Jadi kalian mau tinggal di sini seterusnya?"
"Iya Paman."
"Baguslah kalau begitu. Ya udah kita makan siang dulu abis itu kalian istirahat di kamar ya!"
"Iya paman."
Selepas mereka masuk kamar Zidane menelpon Rama.
"Ram coba kamu ke rumah sakit tanyakan hasil tes DNA saya sama Nathan apakah ada kesalahan!"
"Baik Tuan."
Selang tak begitu lama Rama menelpon kembali. "Tuan dokter Lukman yang menangani tes DNA anda tadi pagi sudah berangkat ke luar kota katanya lusa dia baru kembali."
"Apakah tidak ada yang lain yang bertanggung jawab dengan hasil tes DNA saya?"
"Takutnya kalau tanya yang lain hasilnya tidak akurat."
"Ya sudah kalau begitu kita tunggu dokter Lukman saja."
Di tempat lain.
"Tante udah mau pulang ya?" tanya Adel ketika melihat Annete berkemas.
"Iya kamu baik-baik sama Bibi!"
"Benar Tante nggak mau nginap lagi? Padahal Adel masih pengin tidur sama Tante," ucap Adel dengan mata berkaca-kaca.
Annete mengambil ponselnya dan menghubungi Nathan.
"Ada apa Aunty?" Terdengar suara Nathan dari seberang telepon.
"Kalian kapan pulang?"
"Besok pagi."
"Ya udah besok pagi aunty jemput ke sana."
"Ya Aunty."
Annete meletakkan tasnya kembali dan duduk di samping Adel.
"Tante nggak jadi pergi?" tanya Adel bibirnya tersenyum sumringah.
"Nggak jadi mau nemenin Adel aja." Sambil mengusap rambut Adel.
__ADS_1
"Adel punya nggak cita-cita atau keinginan Adel yang sangat Adel harapkan?"
"Melihat keadaan Adel yang seperti ini apakah Adel masih berhak bercita-cita Tante? Kalo memang boleh Adel cuma punya satu keinginan besar Tante."
"kenapa? Semua orang berhak kok memiliki cita-cita. Terus keinginan besar Adel itu apa?"
"Sebelum Adel meninggal Adel pengin melihat ayah bahagia."
"Huss Adel kok ngomong gitu sih! Adel harus optimis dong Adel bakalan sembuh. Lagipula Tante yakin kebahagiaan ayah Adel ya Adel sendiri."
"Adel cuma merasa bersalah sebab gara-gara Adel bunda ninggalin ayah."
"Itu bukan salah Adel. Emang Adel yang mau punya penyakit begini?"
Adel menggeleng.
"Itu namanya sudah takdir. Walaupun Adel tidak sakit seperti ini kalau takdir ayah dan bunda kalian memang berpisah ya tetap saja mereka akan berpisah. Jadi Adel nggak usah nyalahin diri Adel sendiri. Kalau Adel sayang sama ayah, Adel harus semangat ngejalani hidup biar ayah bahagia."
"Iya Tante."
"Terus keinginan Adel yang lain?"
"Apa ya?" Adel nampak berpikir.
"Sebenarnya Adel tuh pengin nonton konsernya artis cilik
pendatang baru yang kembar itu loh Tante tapi kata ayah nggak boleh takut berdesakan sedangkan kondisi Adel kan kayak gini."
"Artis cilik pendatang baru? Maksud kamu Nathan dan Tristan?"
"Iya-iya benar itu Tante. Selama ini aku cuma bisa lihat di tivi padahal aku pengin lihat mereka di dunia nyata."
"Besok-besok
Tante bawa mereka ke sini."
"Beneran Tante?"
"Iya Tante janji."
"Terima kasih ya Tante." Adel memeluk Annete erat dan Annete pun mengusap-usap punggung Adel.
Kasihan Adel pasti dia merindukan bundanya. Aku jadi inget sama si kembar yang selalu mengharapkan kehadiran ayahnya. Nasib mereka hampir sama hanya saja nasib Adel lebih menyedihkan karena harus berteman penyakitnya.
Dari luar Adrian tersenyum melihat keakraban keduanya.
Esok hari Annete menjemput Nathan dan Tristan di rumah Zidane dengan diantar dokter Adrian Namun sebelum pergi pengasuh Adel membisikkan sesuatu di telinga Annete.
"Besok aku usahakan ke sini Bi."
Setelah sampai di rumah Annete memberitahukan kepada kedua anak asuhnya tentang Adel yang ingin sekali bertemu mereka tak lupa Annete juga menceritakan penyakit Adel dan juga menyampaikan kalau besok Adel berulang tahun yang ke enam.
"Kalau begitu besok pagi kita ke sana aja ya Aunty mungkin dengan ikut merayakan ulang tahunnya Adel bisa bahagia," ucap Tristan
"Iya tapi kita jangan sampai lupa membawa kado untuk dia," sambung Nathan.
"Oke Aunty, tapi apakah kita harus memberitahukan Uncle? Kan dia yang biasanya jadi sopir kita."
"Nggak usahlah biar aunty aja yang nyetir."
"Emang Aunty bisa? Selama ini kan kami tidak pernah lihat Aunty nyetir." Mereka meragukan Annete.
"Bisalah cuma kan selama ini ada uncle Lexi jadi Aunty ngalah lah sama dia."
"Sekarang kan Uncle juga masih ada."
"Tapi Aunty lagi males sama dia."
"Ooh." Mereka hanya ber oh ria sambil senggol-senggolan.
Waktu yang ditunggu pun tiba kini mereka berangkat ke rumah Adrian. Mereka sengaja berangkat pagi karena harus mampir dulu ke toko untuk membeli kado.
...************...
Di rumah Adrian.
"Ayah kok balik lagi?"
"Surprise!" Adrian menunjukkan kue ulang tahun kepada Adel.
"Selamat ulang tahun ya sayang. Ayah bersyukur ternyata ayah bisa membesarkan kamu sampai ke tahap ini." Adrian menaruh Kue tart itu di atas meja.
Semoga umur kamu masih panjang Nak. Ayah tidak tahu harus bagaimana kalau sampai kamu meninggalkan ayah.
"Terima kasih ya Ayah." Adel memeluk Adrian kemudian melepaskan pelukan itu dan berlari ke belakang rumah.
"Adel panggil bibi-bibi dulu ya Yah!"
Adrian hanya mengangguk. Ada tetes air mata yang jatuh di pipinya. Sebenarnya dia tidak sanggup melihat Adel yang menderita namun dia berusaha tegar di depan Adel namun di belakang Adel dirinya sering menangis.
Kemudian Adel datang dengan para pembantu dan pengasuhnya. Begitulah setiap tahun dia merayakan ulang tahunnya bersama ayah dan para pembantu nya. Adel tak pernah mau ulang tahunnya dirayakan secara besar-besaran. Karena baginya setiap umurnya bertambah kematiannya pun semakin dekat.
Ketika semua orang ingin memulai menyanyikan lagu ulang tahun terdengar pintu diketuk.
"Siapa Ayah?"
Adrian mengendikkan bahu tanda tak tahu kemudian melangkah ke arah pintu. Ketika membuka pintu dia melihat Annete dengan membawa sebuah kado yang berukuran besar.
"Kamu?"
"Tante!" Adel berlari ke arah Annete.
"Tante tahu dari siapa Adel sekarang ulang tahun?"
"Dari ... pengasuh kamu."
__ADS_1
"Wah makasih ya Bibi!"
"Iya Non."
"Makasih ya Tante udah hadir di ulang tahun Adel."
"Iya sayang semoga panjang umur dan sehat ya!"
"Makasih Tante. Ayo yah di mulai pesta kecil-kecilannya!"
"Tunggu Tante punya kejutan buat Adel!"
"Kejutan?"
Bersamaan dengan itu Nathan muncul bersama Tristan yang memangku gitarnya. Mereka melangkah masuk sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
"Tante." Adel menangis sesenggukan karena teramat bahagia.
Hingga lagu berakhir Adel diminta untuk memotong kue. Kali ini potongan pertama kue bukan lagi untuk Adrian tapi malah untuk Annete.
"Wah ternyata ayah bukan yang pertama lagi ya di hati Adel," protes Adrian pura-pura kesal.
"Maaf ayah tapi hari ini Tante Annete benar-benar membuat Adel bahagia."
Setelah pesta ulang tahun kecil-kecilan itu usai mereka menyantap makanan yang dihidangkan para pembantu di sana.
Selesai makan mereka duduk-duduk di gazebo belakang rumah.
"Hari ini kalian telah membuat Adel bahagia tapi kenapa kalian sendiri malah cemberut?" Annete heran karena tak seperti biasanya, kedua anak itu terlihat sedih.
"Kami cemburu melihat keakraban Adel sama ayahnya."
"Kalian ingin banget ya ketemu ayah kalian?"
"Sebenarnya ya Aunty kami pikir kami sudah ketemu ayah kami tapi ternyata setelah di tes DNA malah kami tidak ada kecocokan."
"Kalian melakukan tes DNA?"
"Bukan kami sih Aunty yang melakukannya tapi paman Zidane."
"Jadi pak Zidane juga curiga kalau kamu anaknya?"
"Iya Aunty."
"Memangnya pak Zidane menunjukkan hasil tes DNA itu pada kalian?"
"Tidak tapi paman Zidane membiarkan kertas itu terserak di lantai jadi aku ambil."
"Coba lihat!"
Nathan memberikan kertas itu pada Annete. Dokter Adrian yang mendengarkan pembicaraan mereka merasa penasaran dan meminta kertas itu pada Annete.
"Jadi kalian kecewa sama hasil tes DNA ini?"
"Iya Om dokter tapi lebih tepatnya nggak percaya," ucap Tristan.
"Kalau begitu mengapa tidak melakukan tes ulang?"
"Emang kalau tes ulang hasilnya akan berubah Om?"
"Belum tentu tapi kalau kalian memang anak dia ya berarti tes ini ada kesalahan dan hasilnya akan berubah."
"Om dokter bisa membantu kami untuk melakukan tes ulang?"
"Bisa tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya?"
"Pertama kamu harus mau menjadi teman Adel gimana?"
"Oh kalau cuma itu kami siap paman, tapi syarat keduanya apa?"
"Sini! sini! Kalian mendekat!" Adrian membisikkan sesuatu di telinga mereka.
"Jangankan cuma membuat aunty Annete sama Adel tambah akrab membuat aunty Annete dekat Sama Om dokter pun kami bisa," Ujar Tristan berbisik di telinga Adrian.
"Kok perasaan Aunty nggak enak Ya!" ujar Annete yang mendengar seolah namanya di sebut-sebut.
"Ayah bisik-bisik apa sih sama mereka?" Adel jadi penasaran.
"Ini urusan laki-laki jadi Adel sama Aunty nggak perlu tahu," ujar Tristan.
"Cih, urusan laki-laki!" Annete berdecih.
"Itan kenapa kamu mau menjodohkan aunty sama om dokter? Bukankah kamu dulu ingin menjodohkan dia dengan uncle Lexi?" bisik Nathan di telinga Tristan.
"Itu dulu Atan. Kamu tahu sendiri kan uncle Lexi sudah membuat aunty Annete kesal. Jadi aku nggak jadi deh yang mau comblangin mereka. Lagipula sekarang kita butuh om dokter nanti kalau sudah tidak butuh ya terserah nanti."
"Ekhem." Dokter Adrian berdeham.
"Kalian jangan coba-coba curang ya sama saya!"
"Ah nggak kok Om dokter. Terus aku harus ngambil rambut paman Zidane ya Om dokter?" Tristan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya kalau tidak rambut ya kukunya."
"Baik lah Om dokter besok aku akan bawa rambut atau kuku paman Zidane sama om dokter."
"Kira-kira berapa lama hasilnya akan di ketahui?" Annete ikut bicara.
"Biasanya sekitar satu sampai dua minggu tapi kalau ingin cepat sih bisa satu hari."
"Kalau begitu kami mau yang satu hari tapi biayanya?" Tristan takut biayanya akan mahal.
"Kalian ngebet banget ya! Untuk biaya nggak usah kalian pikirkan biar saya yang bayar yang penting janji kalian harus ditepati."
__ADS_1
"Oke Om dokter."