
Sebelum memutuskan untuk jujur pada Annete, Adrian selalu mencoba memberikan perhatian perhatian kecil pada Annete. Namun sepertinya Annete tidak peka dan menganggap perhatian Adrian itu hanyalah perhatian biasa karena dia yang sudah merawat Adel selama ini.
Hingga suatu hari ketika Adrian sudah menyiapkan kejutan untuk mengungkapkan perasaannya pada Annete ternyata dia dihadapkan oleh kenyataan pahit bahwa sebenarnya Annete menyimpan perasaan terhadap orang lain.
Di pernikahan Isyana dan Zidane Lexi mengungkapkan perasaannya pada Annete namun ia menolak cinta Lexi walau kenyataannya Adrian paham bahwa penolakan Annete itu sepertinya berbeda dari yang diinginkan hatinya. Dari sorot matanya Adrian tahu bahwa Annete juga mencintai Lexi namun nyatanya keinginan Adel lah yang menjadi penghalang keduanya untuk bersatu.
Adrian menghembuskan nafas lega kala Annete mengambil keputusan memilih Adel ketimbang Lexi. Mungkin Adrian egois tapi rasanya dia tidak rela kalau Annete menjadi milik orang lain. Dia tidak akan melepaskan Annete begitu saja pada orang yang dicintainya sekalipun.
Setelah pulang dari pesta sepertinya sikap Annete berubah. Dia yang biasanya selalu ceria dan suka tertawa-tawa dengan Adel kini lebih banyak diam dan murung. Adrian yang paham dengan suasana hati Annete terpaksa membatalkan kejutannya untuk melamar Annete apalagi dia sudah tahu Annete tidak mencintainya walaupun dia sudah susah payah menyiapkan segalanya. Dia lebih memilih bersabar menunggu hati Annete berpaling padanya dengan memberikan perhatian yang lebih lagi terhadapnya.
"An kita jalan-jalan yuk!" ajak Adrian, dia tahu Annete pasti masih kepikiran Lexi.
"Ah nggak Mas aku di rumah aja, Mas Adri pergi sama Adel aja dulu ya." tolak Annete.
"An kamu kenapa sih coba cerita sama saya, mungkin saya bisa bantu." Adrian yang awalnya ingin jalan-jalan sama Adel jadi duduk di samping Annete. Bagaimana mereka bisa pergi kalau Annete tidak ikut. Bukankah mereka mau jalan- jalan hanya untuk mengalihkan perhatian Annete atas apa yang dia rasakan sekarang sekaligus menghiburnya.
Satu hari, dua hari Adrian masih bertahan dengan semuanya. Dengan asumsinya bahwa suatu saat Annete pasti bisa membalas perasaannya. Namun seiring bergantinya hari Adrian merasa tidak tega melihat keadaan Annete yang nampak selalu bersedih. Akhirnya dia memutuskan untuk mengalah demi kebahagiaan Annete.
"Del ayah mau ngomong sama kamu," ucap Adrian pada Adel yang kini sedang merias diri di kamarnya sehabis mandi.
Adel menoleh. "Mau ngomong apa Yah?"
"Maaf sepertinya ayah tidak bisa mengabulkan permintaan kamu untuk menjadikan tante Annete sebagai bundamu."
"Kenapa Yah? Apa Ayah sudah tidak mencintai Tante Annete lagi?"
Adrian menggeleng. "Perasaan ayah masih tetap sama tapi Tante kamu itu yang sepertinya tidak mencintai ayah. Ayah tidak mau dia mau menikah dengan ayah hanya karena terpaksa."
"Ayah kok ngomong begitu sih?"
"Itu kenyataannya Del dan ayah minta kamu tidak usah memaksanya oke."
"Ayah pokonya aku mau Tante Annete jadi bunda Adel." Adel merengut.
"Del dengarkan ayah!" Adrian mencoba memberi pengertian pada Adel. "Tante Annete sebenarnya mencintai om Lexi tapi kemarin dia menolak om Lexi untuk jadi kekasihnya hanya gara-gara sudah terlanjur berjanji sama kamu. Kasihan dia Del selama ini dia selalu berusaha membahagiakan kita, menemani kita tapi masa gara-gara kita Annete tidak bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri."
"Maksud ayah Tante Annete tidak bisa bahagia jika bersama kita?"
"Bukan begitu tapi Tante Annete akan lebih bahagia kalau sama om Lexi."
"Ah itu sama saja, tapi kenapa ayah malah menyimpulkan seperti itu?"
__ADS_1
"Karena setelah kejadian dia menolak om Lexi dia malah jadi pendiam dan murung. Kau lihat! Sekarang saja Tante Annete masih sedih." Adrian mengajak Adel melihat Annete yang kini sedang duduk di taman memandangi kupu-kupu yang beterbangan mengitari bunga-bunga namun Pandangan matanya terlihat kosong.
"Tante! Tante!" Adel berlari ke arahnya sedangkan Adrian memilih meninggalkan mereka berdua.
"Tante kenapa?" tanya Adel ingin memastikan.
"Ah, ada Adel." Annete tersadar dari lamunannya.
"Tante kenapa?" tanya Adel lagi. "Kenapa Tante menangis?" lanjutnya. Melihat wajah Annete yang memerah bekas menangis.
"Tante tidak apa-apa Del, Tante hanya ingat ayah Tante saja." Annete berkilah walaupun memang akhir-akhir ini dia sering bermimpi didatangi ayahnya tapi ia lebih sedih dengan nasib dirinya sendiri. Dia merasa terjebak dalam keadaan. Di satu sisi dia mencintai Lexi dan di sisi lain dia menyayangi Adel dan sudah kadung berjanji padanya untuk mau menjadi bundanya tapi sampai sekarang dia belum tahu perasaan Adrian terhadapnya dan sebenarnya perasaan dirinya sendiri pada Adrian itu seperti apa dia pun masih tidak tahu.
"Tante kalau ada apa-apa ngomong ya sama Adel atau sama ayah jangan dipendam sendiri saja." Annete hanya menjawab dengan anggukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya ia ingin pulang ke negaranya untuk berbicara di pusara sang ayah tentang kegundahannya tapi ia pun tidak bisa meninggalkan orang-orang yang selama ini sudah mewarnai perjalanan hidupnya. Karena sekali dia pergi mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi ke tempat ini.
"Tante Adel minta maaf ya kalau Adel yang sudah membuat Tante sedih."
Annete langsung mendekap tubuh Adel dan berkata, " Ngomong apa sih sayang. Adel tidak salah apa-apa kok sama Tante. Maaf ya akhir-akhir ini Tante merasa lelah. Katanya mau panggil Tante bunda kok masih panggil Tante?"
"Nggak jadi deh Tante nanti panggil bundanya kalau Tante udah beneran jadi bunda Adel." Mendengar jawaban Adel Annete tersenyum getir.
Sedangkan di sudut rumah yang lain Adrian menelpon Ara agar mau mempertemukan dirinya dengan Lexi. Adrian sudah memutuskan untuk menyatukan mereka berdua. Persetan dengan perasaannya sendiri sekarang dia hanya ingin melihat Annete bahagia dengan orang yang dicintainya.
Suatu hari Adrian mengajak Annete ke cafe Yuna.
"Adel nanti akan ada temannya yang akan datang berkunjung jadi nggak bisa ikut," bohong Adrian.
"Apa tidak sebaiknya kita tunda saja kepergian kita setelah Adel bisa ikut?"
Adrian menggeleng. "Tidak bisa Yuna meminta kita datang ke sana sekarang katanya dia membutuhkan bantuan kita.
"Baiklah kalau begitu." Annete menurut saja.
Sampai di sana Adrian langsung membawa Annete menuju meja Lexi dan Naura. Setelah sebentar mengobrol dengan Adrian, Ara langsung pergi ke belakang.
Deg. "Ada apa ini kok perasaanku tidak enak?" batin Annete. Tidak biasanya Adrian menemui Lexi tapi sekarang malah ia membawa dirinya ke hadapan laki-laki tersebut. Annete hanya bisa menunduk karena masih tidak enak hati pada Lexi atas penolakannya beberapa waktu yang lalu.
"Lex aku mengundangmu ke sini karena ada yang ingin aku katakan." Adrian memulai percakapannya.
"Silahkan." Lexi mempersilahkan Adrian untuk berbicara.
"Langsung saja ya. Aku tahu kalian saling mencintai tapi anakku yang sudah menjadi penghalang hubungan kalian, untuk itu aku mohon maaf atas segalanya. Dan mulai hari ini Lex aku serahkan dia padamu, aku tahu kebahagiaan Annete ada padamu."
__ADS_1
Deg. Darah Annete berdesir mendengar perkataan Adrian. Jadi ini alasan mengapa Adrian mengajaknya tanpa membawa Adel, rupanya ada hal serius yang ingin dia sampaikan di tempat ini. Sebenarnya Annete kesal tidak terima dengan cara Adrian mengambil sikap tanpa berdiskusi dengannya dulu namun dengan sekuat hati dia menahan amarahnya. Bukannya bahagia Annete disatukan dengan Lexi dengan cara seperti ini tapi Annete malah merasa terluka.
"An maafkan aku karena selama ini aku dan Adel selalu merepotkan mu, tapi hari ini waktunya kamu mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku tahu kamu menyukai Lexi maka dari itu aku ingin agar kalian bersatu." Adrian lalu bangkit dari kursinya dan berjalan ke belakang meninggalkan keduanya dan memilih menemui Yuna. Sebenarnya hati Adrian sakit mengatakan semuanya tapi tidak apa-apa itu semua untuk kebahagiaan Annete.
"Mas!" Annete mau protes pada Adrian tapi Adrian meninggalkan dirinya begitu saja dengan Lexi.
"Net bagaimana penawaranku waktu itu apa kamu akan merubah keputusanmu?"
"Hmm entahlah Lex." Annete menarik nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tiba-tiba saja kemarahannya pada Adrian tadi bangkit lagi. "Baiklah kita bisa mencobanya dulu, kalau cocok kita teruskan kalau tidak kita bisa mengambil keputusan." Sebenarnya Annete sudah mulai ragu dengan perasaan Lexi karena melihat kedekatan Lexi dan Naura selama ini.
"Oke Deal," sahut Lexi.
"Lex bagaimana kabar si twins?"
Lexi pun menceritakan semuanya tentang si twins yang ada-ada saja kelakuannya. Sejenak mereka mengingat saat-saat mereka hidup dengan Isyana dan si kembar. Keduanya tertawa-tawa mengingat momen itu yang kadang berisi kekonyolan si kembar. Tanpa mereka sadari di belakang sana ada dua hati yang merasa sesak dan terluka menyaksikan gelak tawa keduanya.
Beberapa saat setelah itu Ara keluar dari tempat itu dengan ekspresi yang tidak biasa membuat Lexi mengejarnya. Annete menarik nafas berat. Melihat keakraban keduanya Annete pun curiga jangan-jangan Lexi mulai menyukai Ara.
Annete langsung menelpon Isyana, dia meminta izin untuk tinggal di rumahnya bersama Atmaja, ayah Isyana. Tentu saja Isyana setuju bahkan merasa senang karena ayahnya ada yang menemani. Isyana langsung menelpon ayahnya dan menyampaikan bahwa Annete ingin tinggal di sana lagi. Atmaja pun tidak keberatan malah meminta Isyana untuk mengijinkan mengangkat Annete sebagai anak angkatnya.
Saat Lexi kembali Annete langsung bangun dari duduknya.
"Mau kemana Net?"
"Mau pulang Lex."
"Kalau begitu aku antar."
"Iya, antarkan aku ke rumah pak Atmaja saja ya!" Annete tidak ingin kembali lagi ke rumah Adrian karena terlanjur kecewa.
"Kamu yakin Net?"
"Iya." Annete langsung menyambar tasnya di atas meja kemudian keluar tanpa banyak bicara lagi diiringi Lexi yang mengejar di belakangnya.
Adrian melongo melihat Annete yang cuek terhadapnya dan meninggalkannya begitu saja tanpa mengajaknya pulang. Diapun langsung berlari mengejar Annete juga dan mengikuti kemana arah mobil Lexi melaju. Dia pikir Annete akan pulang ke rumahnya nyatanya dia salah Annete malah turun di rumah Isyana. Secepat kilas Adrian langsung menelpon Annete yang kini telah masuk ke dalam rumah namun Annete tidak mau mengangkat teleponnya lagi.
Adrian mengusap wajahnya. "Apa aku salah lagi An?" batinnya namun kemudian dia memutar kemudi dan melajukan mobil kembali ke rumahnya sendiri.
Setelah Adrian dan yang lainnya pergi Yuna hanya geleng-geleng kepala mengingat ekspresi Naura dan Adrian tadi memandang ke arah Lexi dan Annete. "Hubungan yang rumit."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak: like, Vote, komentar, dan hadiahnya. Makasih. ๐