
Ini untuk yg minta cerita Louis. Aku ceritakan mulai dia gagal menikah dengan Angel.🙏
⭐⭐Happy Reading ⭐⭐
Setelah menyerahkan Angel pada Edrick dan mendengarkan kalimat nikah ada rasa sesak dan lega secara bersamaan. Louis tidak tahu harus berkata apa. Setelah ijab qabul selesai dia langsung meninggalkan tempat dan menuju kamar pengantin miliknya yang sebentar lagi akan menjadi milik Edrick. Ia berjalan tergesa-gesa hingga tak sengaja tubuhnya menabrak seseorang.
"Aaakkhhh."
"Kamu!" ujar Louis geram sambil menuding wajah gadis di depannya dengan jari telunjuknya karena telah menumpahkan minuman pada kemejanya.
"Hati-hati kalau jalan! Sendirinya yang nabrak malah orang lain yang disalahin." Gadis itu malah ngedumel.
"Berani ya kamu, siapa atasan kamu? Biar aku suruh pecat nanti."
"Cih sombong mentang-mentang orang kaya tapi sayang aku tidak takut, huek." Gadis itu menjulurkan lidah kemudian berlalu pergi.
"Hei minta maaf nggak?!"
Gadis itu menoleh. "Nggak."
"Rifki!" Panggil Louis pada salah satu anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengelola hotel milik ayahnya yang kebetulan melintas di depan mereka.
"Iya Pak?"
"Kamu tahu siapa kepala pelayan yang menampung gadis tidak sopan seperti itu?"
"Dia bawahannya ibu Winda Pak."
"Oke suruh bu Winda menemui saya di depan kamar pengantin."
Selang beberapa waktu bu Winda datang menemui Louis. Ada yang bisa saya bantu Pak?"
"Ini bawahan Anda?" ucap Louis sambil menunjukkan foto yang sempat ia ambil tadi.
"Iya pak maaf ada apa ya?"
"Dia telah membuat pakaian saya kotor seperti ini dan malah tidak mau meminta maaf. Saya minta kamu pecat dia dari hotel ini!"
Winda tampak terdiam, sepertinya memikirkan sesuatu.
"Kenapa malah bengong!" bentak Louis.
"Ah iya Pak maaf, tapi tidak ada hukuman yang lebih ringan dari pemecatan? Maaf Pak bukannya lancang tapi dia membutuhkan pekerjaan ini."
"Kalau dia tidak ingin dipecat suruh dia minta maaf dan siap menerima hukuman dari saya."
"Baik Pak akan saya bicarakan dulu."
"Kalau dia setuju suruh dia langsung ke sini!"
"Baik Pak."
Winda berlalu pergi dari tempat tersebut dan menemui gadis tadi.
"Apa! Aku harus minta maaf?" Nggak mau lah Bik kan dia yang salah. Dia yang nabrak tubuhku seharusnya dia yang minta maaf." Nindy ngotot.
"Tidak ada cara lain kalau kamu ingin tetap bekerja di sini. Ya kalau kamu tidak mau, kamu boleh pulang ke rumahmu."
"Jangan gitu dong Bik, aku tidak mau kembali ke rumah bisa-bisa aku langsung dinikahkan."
"Ya sudah ikuti saran saya, temui dia. Minta maaf dan terima hukumannya."
"Apa! Hukuman? Emang dia siapa sih, sok berkuasa di sini. Main mau hukum orang segala."
"Kamu mau tahu siapa dia?" Gadis itu mengangguk.
"Dia itu pemilik hotel ini, mengerti?"
Gadis itu manggut-manggut. "Pantesan."
"Ya sudah cepat temui dia di depan kamar pengantin, nomor berapa ya, aku lupa."
"Kalau begitu anterin," pinta gadis tersebut manja.
"Oke ayo cepat!"
Setelah sampai di depan pintu tersebut Louis sudah menunggu dengan senyuman smirk nya. "Lumayan aku punya mainan buat melupakan kesedihan," gumamnya sedangkan gadis nampak tersenyum kaku sambil berjalan pelan ke arahnya.
"Ya ampun Nindy, cepetan dong jangan lambat kayak siput jalannya. Aku masih banyak kerjaan."
"Iya Bik, iya." Nindy mempercepat langkahnya.
"Aku permisi ya Pak," pamit Winda.
"Silahkan." Winda pun berlalu pergi.
Selepas Winda pergi.
"Oh Nindy namamu?" Gadis itu tidak menjawab masih sebal.
"Kamu tahu kenapa aku memanggil kamu ke sini?" Nindy hanya mengangguk.
"Kalau begitu lakukan!"
"Aku minta maaf," ucapnya datar.
"Apa? Aku tidak dengar."
"Budeg kali," gumam Nindy.
"Apa kamu bilang?"
"Ah nggak aku nggak ngomong apa-apa kok."
"Kamu pikir aku tuli. Cepat minta maaf!"
"Tuh kan dia tidak dengar, padahal aku sudah meminta maaf tadi tapi dia malah menyangkal kalau dia itu tuna rungu." Mengoceh sendiri.
__ADS_1
"Hemm, kayaknya kepalamu minta digetok pakai pecahan kaca ya?"
"Ah, jangan! Jangan!"
"Makanya minta maaf."
" Iya aku minta maaf."
"Minta maaf yang elegan!"
"Kayak apa coba minta maaf yang elegan itu?" Masih mengomel sendiri.
Ya ampun lama-lama sama wanita ini aku bisa sawan.
"Ya sudah cepat bantu aku mengambil barang-barangku di dalam sana. Tolong bawa koper yang warna merah ke luar!"
"Baiklah." Nindy masuk ke dalam kamar tersebut. Namun bukannya langsung melaksanakan perintah dia malah terbengong melihat kamar pengantin.
Wah indah banget! Gimana rasanya menikah? Ah tidak-tidak, aku tidak mau menikah kalau harus sama bapak-bapak.
Nindy bergidik ngeri mengingat dirinya akan dijodohkan dengan pria yang usianya jauh di atasnya oleh orang tuanya. Bayangan lelaki keriput melintas di hadapannya.
Amit-amit.
"Kenapa kamu kok malah bengong?"
"Ah tidak, kopernya yang mana tadi?"
"Yang warna maroon."
"Jangan-jangan kamu mau mencuri pakaian orang ya? Ini kan kamar pengantin?"
"Iya ini kamarku."
"Tunggu, tunggu! Berarti kamu pengantinnya?"
"Iya."
"Tapi itu pak penghulu masih baca doa mana mungkin pengantin prianya bisa ada disini?"
"Ah terlalu banyak bicara, cepat bawa keluar kopernya!"
"Oke siap." Nindy pun mencari barang yang dimaksud. Setelah ketemu ia langsung menyeretnya keluar.
"Ini kopernya," ucap Nindy sambil menyerahkan koper tersebut ke tangan Louis.
"Bawa ke mobil!"
"Apa?!"
"Itu hukuman mu," ucap Louis sambil melempar kunci mobil ke arah Nindy.
"Terus mobil Tuan yang mana? Mana aku tahu?"
"Gampang kamu tinggal pencet aja tuh kunci, yang mana yang kebuka mobilnya itu adalah mobil saya."
Saya sudah tahu bodoh tapi bagaimana caranya mencari satu mobil di tempat yang luas? Nindy mengeram apalagi parkiran tidak hanya ada satu yang di bawah tapi parkiran di atas juga ada. Tentu saja dia hanya bisa bicara dalam hati tidak berani berkata langsung bisa-bisa dia langsung dikirim ke rumah kembali oleh Winda.
"Itu urusanmu, itu hukuman dariku!"
Gadis itu berdecak lalu menghentak-hentakan kakinya ke lantai karena saking kesalnya kemudian dia menyeret koper dan membawanya ke luar.
Louis tersenyum. "Lucu juga gadis itu."
Nindy beranjak ke luar dengan menyeret koper. "Duh berat banget, apa sih isinya?" Nindy menghentikan langkahnya ingin mencoba memeriksa koper tersebut siapa tahu pria itu hanya maling yang menyamar menjadi pemilik hotel dan bisa saja dalam koper itu isinya bukan baju semua tapi berlian. Nindy masih curiga dengan Louis yang mengaku pengantin di saat acara sedang berlangsung.
"Nona sedang apa?" Saat hendak membuka koper ada petugas yang lewat membuat dia mengurungkan niatnya.
"Ah tidak Mas, hanya memeriksa koperku saja." Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka. Buru-buru Nindy masuk ke dalamnya.
"Ah leganya," ujarnya sambil mengelus dada. Takut-takut yang dibawanya benar-benar barang berharga apalagi petugas tadi pandangannya seperti mencurigainya. Bisa-bisa dia yang jadi tersangka.
Di dalam lift Nindy masih ragu-ragu. "Buka nggak ya, buka nggak ya? Kalau dibuka dan memang isinya barang-barang berharga aku harus apa? Apa harus lapor polisi? Bagaimana kalau isinya malah bom?" Pikirannya dibuat kacau sendiri.
"Tapi kalau dibuka aku bisa dibilang tidak amanah. Ah sudahlah, persetan dengan isinya apaan yang penting aman dan secepatnya harus ditaruh ke dalam mobil."
Beberapa saat pintu lift terbuka, Nindy menyeret koper itu kembali, kemudian keluar dari lobby hotel menuju parkiran.
Setengah jam berlalu tapi Nindy tidak juga menemukan mobil Louis. Dia menjadi kesal. "Mana sih mobilnya?" Nindy sudah kelelahan, parkiran yang luas membuatnya kesulitan mencari mobil Louis meskipun sudah ada kunci otomatis.
Nindy mengecek mobil di sana satu-persatu dengan putus asa. "Kenapa nggak ada yang kebuka pintunya? Apa dia menipuku?"
Dia diam sejenak kerongkongannya terasa kering. Dia mengusap lehernya yang sudah terasa haus.
"Haus Mbak? Nih aku punya air." Seorang pria menyodorkan air mineral ke arahnya.
"Terima kasih Mas." Nindy menerimanya lalu memutar tutup botol tersebut dan langsung meneguknya.
"Gluk gluk gluk." Suara tegukan air terdengar begitu jelas membuat pemberinya menatap ke arah Nindy.
"Hehe... maaf terlalu haus," ujarnya pada pria itu dan pria tersebut hanya mengangguk.
"Apa aku harus bayar?" tanya Nindy karena pemuda tersebut masih terus menatapnya dan enggan pergi.
"Ah nggak usah, permisi." Pria itu berlalu pergi.
Selesai mengobati rasa hausnya Nindy melakukan pencarian kembali. Karena tidak ada yang cocok Nindy berkesimpulan bahwa mobil Louis pasti berada di parkiran atas.
"Cari apa Neng?" Akhirnya petugas parkir bertanya setelah beberapa saat tadi hanya memilih mengawasi dari jauh saja.
"Ini Pak cari mobil teman saya tapi kok nggak ketemu-ketemu."
"Mungkin saya tahu teman Eneng, siapa namanya?"
"Itu...itu..." Nindy ragu. "Aku tidak tahu namanya tapi katanya dia anak pemilik hotel ini."
Pria setengah baya itu mengernyit. "Tuan Louis?" petugas parkir ingin memastikan.
"Ya, ya benar itu namanya." Sepertinya Nindy tadi mendengar seorang wanita memanggil nama pria itu demikian.
__ADS_1
"Oh kalau Tuan Louis biasanya parkirnya di atas."
"Ya ampun kenapa Bapak tidak bilang dari tadi sih?!"
"Loh si Eneng kan tidak nanya."
"Hehe...iya ya Pak saya yang salah. Maafkan ya Pak," ujar Nindy cengengesan sambil melangkah pergi, membuat petugas parkir tepuk jidat.
Sesampainya di parkiran atas Nindy sudah kelelahan karena harus turun-naik dari hotel dengan membawa koper.
"Ah lelah sekali," ucapnya sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah mobil sport berwarna kuning. Dengan iseng dia memencet kunci mobil di tangannya. Matanya terbelalak tatkala melihat pintu mobil yang berada di sampingnya langsung terbuka.
"Wah berarti ini mobilnya," ucapnya dengan pandangan yang kagum. Dia pernah meminta ayahnya untuk membelikan mobil seperti ini tapi ditolak karena takut dibawa balapan oleh Nindy. Ayahnya tidak suka melihat Nindy bergabung dengan anak-anak motor. Belum dibelikan mobil sudah banyak tingkah apalagi kalau sampai dibelikan mobil sport pasti tidurpun Nindy bakal di dalam mobil pikir sang ayah.
Timbul niat licik di hatinya, berhubung Louis sudah mengerjainya sedari tadi dia ingin balas dendam. Dia ingin membawa mobil itu pergi agar Louis juga ada kerjaan untuk mencarinya.
Nindy meletakkan koper yang dibawanya kemudian masuk di kursi kemudi. Setelah itu ia menyalakan mobil dengan kunci remote.
Mobil pun meluncur dari parkiran atas menuju lantai bawah. Sesaat kemudian mobil sudah keluar dari area hotel dan berjalan mulus di jalan raya.
"Wah enak nih." Nindy mulai mengencangkan laju mobilnya. Dia lupa tujuan utamanya. Dia malah asyik bermain-main dengan mobil itu hingga,
Brakk.
Tanpa sengaja dia menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di depannya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Ia memejamkan mata sambil bersandar pada sandaran kemudi.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk kaca mobil. "Keluar!"
Nindy memijit pelipisnya, akibat pusing membuat matanya berkunang-kunang.
"Sebentar Pak," ujarnya sambil turun dari mobil.
"Kamu harus ganti rugi! Mobil saya rusak karena anda tabrak."
"Apa?!" Netra Nindy langsung terbelalak.
"Anda harus bertanggung jawab!"
"Saya tidak mau, anda yang salah. Kenapa berhenti mendadak di tempat yang dilarang parkir seperti ini?!"
"Saya tidak mau tahu pokoknya Anda harus bertanggung jawab. Anda tahu mobil ini masih belum lunas nyicil kenapa anda malah tabrak? Padahal saya mencari nafkah dengan mobil ini. Bagaimana nasib istri dan anak-anak bapak kalau mobil ini tidak diperbaiki?"
"Bapak tahu mobil saya bahkan lebih parah dari Bapak dan Bapak harus tahu harga mobil ini lebih mahal dari punya Bapak." Nindy tiba-tiba menjadi pusing kembali melihat bagian depan mobil sport yang ia kemudikan tadi menjadi penyok apalagi harus menghadapi bapak-bapak yang cerewet ini. Kalau minta ayahnya pasti dia langsung dinikahkan dengan pilihan orang tuanya yang sudah tua itu. Nindy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus berbuat apa.
Di tempat lain Louis yang sedang berfoto-foto dengan mama Ani dan juga Angel serta Edrick menjadi gusar.
"Jadi nggak Ma foto-fotonya, kok malah ngomong dari tadi. Tuh masih banyak yang menunggu giliran."
"Iya Lou sewot amat sih, toh mereka bisa menunggu."
"Tapi aku harus segera pergi Ma, ada kepentingan yang mendesak."
"Kepentingan apa sih, bukankah kamu sudah ambil cuti ya hari ini?"
"Kepentingan lain Ma bukan pekerjaan."
"Apa dong?"
"Ada aja pokoknya, ayo cepat Ma!" Entah mengapa Louis mengkhawatirkan gadis tadi.
"Kenapa belum balik-balik sih. Kalau ada sesuatu sama gadis itu aku yang harus bertanggung jawab," gumamnya.
"Siapa?" tanya mama Ani.
"Ah bukan siapa-siapa."
Setelah berfoto-foto, Louis langsung bergegas menuju parkiran untuk mencari Nindy. Namun dia tidak menemukan jejak Nindy di sana. Mobilnya juga tidak ada. Berarti Nindy pergi bersama mobil miliknya. Louis langsung mengambil ponselnya dan hendak menghubungi seseorang namun sebelum dia memencet nomor telepon, handphone-nya lebih duku berdering.
"Halo."
"Maaf Pak, mobil Bapak dibawa oleh gadis yang bernama Nindy dan kini sedang menabrak mobil lain."
"Apa?!"
"Iya benar Pak."
Tubuh Louis bergetar bagaimana kalau gadis itu tewas?
"Rifki tolong antarkan aku!"
"Baik Pak ayo."
Merekapun bergegas menuju tempat. Ketika turun dari mobil hati Louis jedag-jedug. Apalagi saat melihat mobil depannya bonyok dan Nindy tidak terlihat di sana.
Louis turun dari mobil Rifki dan berjalan ke arah mobil dengan pikiran kacau namun pikirannya menjadi tenang tatkala melihat Nindy masih berdebat dengan bapak-bapak itu di samping mobilnya.
"Biar aku yang bayar," ujar Louis tatkala mendengar bapak itu masih ngotot. Padahal dia juga bisa menuntut bapak itu tapi karena kasihan dan malas memperpanjang masalah akhirnya dia yang mengalah.
"Rifki!" panggilnya pada Rifki dan Rifki yang mengerti langsung menuju mobil. Beberapa saat kembali dengan kertas dan bolpoin di tangannya.
"Ini Pak." Rifki menyodorkan kertas dan bolpoin itu.
"Louis menulis nominal angka di kertas tersebut dan menunjukkan cek tersebut pada bapak-bapak tadi. "Apa ini cukup?"
"Cukup Tuan, cukup bahkan mungkin lebih."
"Ya sudahlah pergi sana, jangan sampai ketahuan polisi."
"Baik Tuan terima kasih banyak semoga Tuan murah rezeki," ucap pria tersebut.
"Terima kasih atas pertolongannya dan maafkan aku yang tidak sengaja telah merusak mobilmu."
"Hah, minta maaf dan terima kasih? Kamu pikir itu cukup? Di dunia ini tidak ada yang gratis."
"Aku belum punya uang mungkin nanti kalau sudah ada aku akan ganti rugi."
"Aku tidak mau nanti tapi sekarang juga."
__ADS_1
"Jadi aku harus apa?" tanya gadis itu tertunduk, takut dilaporkan pada polisi.
Bersambung......