
"Aku harus mencari tahu apakah wanita ini benar-benar Nindy ataukah Safa seperti yang aku pikirkan," batin mama Ani.
Beberapa saat kemudian pintu kamar rawat terbuka. Louis muncul dengan menenteng bungkusan.
"Kamu bawa apaan tuh Lou?"
"Makanan Ma soalnya Louis lapar belum sempat makan siang. Kita makan bareng ya."
"Baiklah kalau begitu biar mama yang menyiapkan." Mama Ani mengambil bungkusan dari tangan Louis kemudian keluar ruangan dan kembali dengan peralatan makan setelahnya menuangkan makanan itu ke dalam wadah.
"Ayo nak Nindy kita makan bareng," ajak mama Ani setelah mengisi piring-piring mereka.
"Terima kasih Tante tapi Nindy sudah makan tadi," tolak Nindy dengan halus.
"Jangan menolak, Tante tidak suka penolakan," ujar Mama Ani sengaja mengatakan itu untuk melihat ekspresi gadis itu sambil menyodorkan piring berisi makanan pada Nindy. Nindy hanya mengangguk dan menerima piring tersebut.
"Makanlah! Tante tahu kamu pasti sudah lapar."
Nindy mengangguk lagi lalu tanpa bicara dia menyendok makananya. Louis hanya melirik ke arah keduanya. Sambil menebak-nebak sekiranya apa yang telah terjadi diantara keduanya saat ia meninggalkan rumah sakit tadi.
"Kenapa kamu melirik mama seperti itu?" Protes mama Ani.
"Nggak ada apa-apa Ma."
"Nggak ada-nggak ada tapi tatapan kamu seperti mengintimidasi buat mama."
"Salah sendiri kenapa Mama berpikir begitu," ujar Louis acuh sambil terus menyendok makanan ke dalam mulutnya. Dia ingin menikmati makanannya tanpa diganggu karena perutnya sudah benar-benar terasa lapar.
Nindy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Louis terlihat rakus menyantap makanannya karena tidak seperti biasanya.
"Dia memang begitu kalau telat sedikit saja makan." Mama Ani seolah ingin menjawab rasa penasaran Nindy.
Nindy hanya menjawab ucapan mama Ani dengan senyuman. Selanjutnya mereka bertiga melanjutkan makanan tanpa ada yang bicara.
Selesai makan mama Ani langsung membereskan peralatan makan yang mereka gunakan. Kemudian kembali ke samping Louis.
"Ada apa di kantor?"
"Tidak ada apa-apa."
"Mesti jawabnya gitu."
"Terus harus jawab apa dong Ma?"
"Jawab yang jujur!"
Louis menarik nafas berat. Rasanya begitu sulit menceritakan tentang Pras di samping Nindy.
"Kita bicara di luar saja ya Ma, buat Nindy istirahatnya tidak terganggunya."
"Baiklah kita keluar saja."
"Nin kamu tidurlah aku mau mengobrol sama mama sebentar." ucap Louis.
"Iya." Nindy berkata iya padahal dirinya juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi di kantor Louis.
"Jangan banyak pikiran, aku sudah menyuruh orang-orangku untuk membeli apa saja yang kamu butuhkan. Jadi nanti begitu kamu sehat bisa langsung memulai kegiatan usahamu."
__ADS_1
Nindy tersenyum dan mengangguk.
Louis dan mana Ani akhirnya memilih duduk di kursi depan kamar rawat Nindy sambil bercerita.
"Jadi yang menyerang kamu dan gadis itu juga kerja di perusahaanmu?" tanya Mana Ani saat Louis sudah menyudahi ceritanya.
"Iya Ma, aku baru tahu. Pantas saja saya seperti pernah melihat orang itu sebelumnya.
"Ya sudahlah yang penting dia sudah ditangkap oleh polisi jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."
"Mama benar tapi tugasku masih belum selesai dan ini rasanya lebih berat."
"Tugas apa lagi? Bukankah kamu selalu bisa menyelesaikan pekerjaan kantor dengan mudah? Kalau kamu tidak mampu kamu kan bisa minta tolong sama papa kamu."
"Bukan tugas kantor Ma," sahut Louis lirih.
"Terus tugas apaan?" tanya mama Ani heran.
"Menjaga Nindy Ma."
"Bukankah dia sudah baik-baik saja? Mungkin sebentar lagi dokter memperbolehkan dia pulang dan kamu bisa membayar orang untuk menjaganya agar kamu tidak repot."
Louis menggeleng. "Aku harus menjaganya sendiri."
"Maksud kamu, kamu akan menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada papa kamu lagi?"
"Untuk sementara Ma sampai dia benar-benar sembuh."
"Sebenarnya dia siapa kamu sih? Bukankah dia hanya pembantu seperti halnya Mira?"
Louis menggeleng. "Dia lebih dari itu Ma dan Louis mencintai dia."
"Iya Ma hari ini saya minta mana merestui hubungan kami dan membatalkan perjodohan yang mana rencanakan."
"Mana bisa Lou, mama tidak enak sama Tante Farah. Mama sudah kadeng janji."
"Pokoknya mama harus batalkan kalau tidak Louis akan kawin lari sama dia."
"Kamu mengancam mama nih ceritanya?"
"Terpaksa."
Mama Ani hanya menggeleng. "Nanti mama usahakan tapi mama tidak Janji." Louis Dian tidak menjawab sepatah katapun.
Semoga dugaanku benar gadis ini beneran Safa.
"Sudah ah Ma, Louis mau balik ke kamar Nindy saja." Louis bangkit dan berjalan masuk ke ruang rawat Nindy kembali. Sedangkan mama Ani segera merogoh ponsel dalam tasnya dan menghubungi Farah.
๐ฑ"Halo jeng ini Ani."
๐ฑ"Eh jeng Ani ada apa?"
๐ฑ"Saya hanya mau tanya apakah Safa sudah kembali?"
๐ฑ"Belum jeng, ada apa ya?"
๐ฑ"Aku sudah tidak sabar untuk mempertemukan dia dengan putra saya. Kalau tidak saya akan menikahkan dia dengan gadis lain."
__ADS_1
๐ฑ"Jangan ya Jeng maaf kalau Putri saya belum kembali hingga saat ini. Nanti kalau saya sudah bisa membujuk dia untuk pulang saya janji akan langsung membawa dia bertemu jeng Ani langsung."
๐ฑ"Farah ada yang ingin saya tanyakan sama kamu."
๐ฑ"Bertanya saja jeng nanti days jawab kalau tahu.
๐ฑ"Putri kamu ada berapa?"
๐ฑ"Dua Jeng."
๐ฑ"Selain Safa siapa namanya lagi?"
๐ฑ"Lisfi, ada apa jeng?"
๐ฑ"Lisfi apa Nindy?"
๐ฑ" Lisfi jeng, siapa Nindy? Aku tidak kenal.
๐ฑ"Sebentar aku kirim fotonya setelah itu kamu baru putuskan kenal tidak sama gadis ini."
Farah mengernyit tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Ani. Namun beberapa saat kemudian terdengar notif di ponselnya. Segera Farah memeriksanya. Matanya langsung terbelalak melihat foto yang dikirimkan oleh mama Ani. Air matanya langsung menetes dari kedua pelupuk matanya melihat putri bungsunya meringkuk di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangannya.
maafkan bunda sudah dzalim terhadapmu. Bunda tidak tahu harus berbuat apa.
"Bagaimana jeng kenal?"
"Katakan itu di rumah sakit mana! Saya akan langsung ke sana." Farah tampak gusar.
"Baiklah saya akan kirimkan alamat rumah sakit ini."
Mama Ani langsung mengetikkan alamat rumah sakit di ponselnya.
Send.
Setelah mengirimkan alamat rumah sakit mama Ani langsung kembali ke samping Louis yang kini sedang mengusap-usap kepala Nindy yang telah tertidur.
"Sudah tidur dia Lou?"
"Iya Ma, kasihan dia." Louis menatap Nindy dengan sendu.
"Hmm, kamu sebenarnya cinta sama dia atau hanya kasihan saja sih?"
"Dua-duanya Ma."
"Sebenarnya dia kenapa sih hingga kamu terlalu khawatir sama dia. Bukankah Pras yang kami bilang suka mengganggu dia sudah dipenjara."
"Kalau mama lihat fisiknya mama akan melihat dia baik-baik saja tapi mama tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya dia sedikit mengalami gangguan psikis akibat tekanan batin yang dibuat keluarganya sendiri. Kadang dia nampak gusar, kadang mendadak ketakutan, kadang nangis tiba-tiba. Makanya Louis ingin selalu berada di sampingnya."
"Kamu yakin mau menikahi gadis yang seperti itu?"
"Kenapa Ma, dia tidak gila kok."
"Iya mama tahu tapi..."
"Aku akan menikahi dia setelah dia benar-benar sembuh. Mungkin butuh waktu tapi tidak apalah Louis akan menunggu. Kalau perlu Louis akan ajak dia ke psikiater.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐