Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 47. Panggil Saja 'Mas'.


__ADS_3

"Hore....." Kedua anak itu berjingkrak kegirangan sedangkan Zidane menyematkan cincin di jari manis Isyana dan menciumi tangan itu.


"Terima kasih telah menerimaku."


Mereka kemudian menikmati makan malam bersama. Menikmati steak berbalut saos adalah kesukaan Isyana. Saat Isyana begitu serius menikmati makanannya dia sampai tidak sadar kalau ada saos yang menempel di sudut bibirnya.


Zidane mengelap saos itu dengan jarinya kemudian dia menjilati tangan yang terkena saos tadi.


Kedua anaknya memandangi sikap Zidane terhadap mamanya. Muncul sikap Tristan yang jahil. Dia sengaja makan steak dengan belepotan kemudian berkata kepada Zidane, " "Pa, apakah Papa tidak ingin mengelap mulut Itan?"


"Zidane memandangi wajah kedua anaknya. Nathan yang cuek dengan keadaan dan Tristan yang tersenyum ke arah papanya.


Zidane kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Isyana. Isyana hanya tersenyum dan menggelengkan-gelengkan kepala.


Zidane mengambil tissue dan mengelap mulut Tristan.


"Kok pakai tissue sih Pa. Tadi sama mama pakai tangan," sungut Tristan.


Kali ini Zidane yang menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu Tristan sedang mengerjainya. Zidane mengelap sudut bibir Tristan yang masih ada saosnya sambil berkata," Mulut kamu belepotan Boy makanya papa pakai tissue tapi kalo mama kamu kan nggak."


"Kamu pengen di lap juga ?" tanya Zidane kepada Nathan.


"Nggak Pa, Atan bisa sendiri kok."


Isyana memandangi Zidane sambil senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Zidane yang menyadari Isyana sedang tersenyum ke arahnya.


"Apakah ada yang lucu dariku atau sikapku tadi terlihat lebay?"


"Ah nggak cuma aku nggak habis pikir ternyata Bapak tega ya mengeksploitasi anak sendiri."


"Mengeksploitasi?" Zidane mengernyitkan keningnya tidak mengerti yang dimaksud Isyana.


Namun kemudian dia paham apa yang dimaksud Isyana."Oh itu ya! Itu kemauan mereka sendiri. Kalau tidak percaya tanya saja sama mereka. Tadinya saya ingin menyewa orang lain untuk menyanyikan lagu tadi tapi mereka melarangnya. Kata mereka, mereka siap menyanyikan lagu itu. Iya nggak Boy?"


"Iya Ma daripada papa bayar orang lain mending papa bayar kami. Kan sayang uangnya Ma."


"Astaga! Jadi kalian mau minta bayaran sama Papa?"


"Iyalah Pa di dunia ini mana ada yang gratis. Numpang pipis aja bayar apalagi nyuruh orang nyanyi," kelakar Tristan.


"Nggak nyangka ya ternyata anak Papa perhitungan banget."


"Iyalah mereka anak Bapak kalau anak saya nggak mungkin pelit kayak gitu," ucap Isyana sambil tersenyum.


"Mama!" ucap keduanya merajuk.


"Ya sudah nanti Papa bayar."


"Ditunggu ya Pa bayarannya," canda Tristan.

__ADS_1


"Tristan!" ucap Isyana sambil melotot.


"Bercanda Ma," ucap Tristan sambil menunduk takut sama mamanya.


"Sudah Boy kita makan lagi," ucap Zidane sambil mengusap punggung Tristan.


"Iya Pa." Kedua anak itu makan tanpa bicara.


"Sya boleh aku minta sesuatu?"


Isyana mengangguk. "Asalkan saya bisa melakukannya."


"Jangan panggil saya 'Pak'." Aku kan bukan bapak kamu," canda Zidane.


"Memang sih Bapak bukan bapak saya tapi kan bapak anak-anak," kelakar Isyana.


"Terus aku mau manggil Bapak dengan sebutan apa?"


"Ya terserah yang penting jangan panggil 'Bapak'." Panggil darling kek atau honey kek terserah kamu."


Mendengar perkataan papanya makanan yang ada di dalam mulut Nathan menyembur keluar karena menahan tawa.


"Lebay banget sih Pa." Nathan yang jarang bicara akhirnya bersuara karena geli dengan ucapan ayahnya.


"Gini banget ya kalau pacaran sudah punya anak." Zidane pura-pura ngambek.


"Ayo Atan kita jalan-jalan lagi!" ajak Tristan sambil menarik pergelangan tangan Nathan. Kebetulan mereka sudah selesai makan.


"Santai aja Pa! Kami nggak apa-apa kok cuma mau keliling-keliling aja. Kami kan tadi belum sempat jalan-jalan di atas kapal ini."


"Baiklah kalau begitu kalian hati-hati. Jangan lupa ajak pak Tirta takut kalian tersesat."


"Iya Pa."


"Sampai dimana pembicaraan kita tadi?" tanya Zidane ketika kedua putranya sudah pergi.


"Sampai honey," ucap Isyana sambil terkekeh.


"Gimana kalau panggil nama saja?" tawar Zidane.


"Nggaklah Pak kayak nggak sopan gitu." tolak Isyana.


"Gimana kalau kamu panggil 'Mas' saja?"


"Boleh," ucap Isyana.


"Kamu kapan balik ke Jakarta?"


"Besok."


"Kalau begitu kita bareng aja ya! Tapi kita pulangnya sore aja soalnya kamu kan belum berkemas. Malam ini kita nginap di hotel di sini saja."

__ADS_1


"Terserah baiknya aja deh Pak, eh Mas. Emang Mas sudah pesan hotelnya?"


"Sudah, dua kamar. Terserah anak-anak mau tidur sama saya atau sama kamu atau kalau mau kamar lain nanti saya pesankan."


"Kayaknya nggak usah pesan kamar lain lagi deh biar anak- anak tidur sama kita aja. Terus gimana pak Tirtanya?"


"Dia sudah pesan kamar sendiri." Yasudah sekarang kita nyusul anak-anak yuk keliling-keliling!"


Isyana mengangguk setuju.


Zidane menggandeng tangan Isyana dan membawanya jalan-jalan di atas kapal. Puas berjalan-jalan mereka kembali ke kamar masing-masing.


Nathan dan Tristan memilih ikut Isyana ke kamarnya. Mereka menolak untuk dipesankan kamar lain.


Zidane tak berhenti tersenyum. Dia begitu bahagia karena perjuangannya selama ini membuahkan hasil. Dia bersenandung kecil sambil memasuki kamar mandi hotel.


Selesai mandi dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Membuka ponselnya barangkali ada pesan yang masuk.


Dia terperanjat melihat chat dari Dion dan mamanya. Mamanya menulis pesan 'Semangat' diimbuhi banyak emoticon tangan dan lengan yang berotot. Sedangkan Dion menuliskan kata: 'Ku kira Bapak ke Prancis untuk kerja kantoran eh ternyata malah milih jadi babu' sambil di sertai emoticon ngakak.


"Brengsek si Dion darimana dia tahu kalau aku jadi babu. Mama juga apa maksudnya ngasih semangat gitu."


##


Ketika mendapat notif bahwa Tristan mengirimi dirinya chat Laras langsung membuka pesan di ponselnya. Dia terkejut melihat penampakan Zidane tanpa baju sedang membersihkan sebuah ruangan.


Laras berlari menghampiri suaminya.


"Pa, pa, Papa!" Dia berteriak memanggil Alberto suaminya.


Tuan Alberto yang sedang berada di ruang kerjanya keluar mendengar teriakan istrinya.


"Ada apa sih Ma teriak-teriak gitu?"


"Papa liat ini!" Dia menyodorkan ponselnya ke arah suaminya.


Tuan Alberto memperhatikan gambar di ponsel istrinya.


"Bukankah ini Zidane sama Nathan ya Ma, ngapain mereka begitu?"


"Ya bersih-bersih lah Pa. Papa lihat sendiri foto mereka lagi bersih-bersih."


"Iya Papa tahu, penglihatan papa masih normal kok. Yang papa tanyakan ngapain mereka melakukan itu? Yang kita tahu jangankan bersih-bersih masuk dapur buat ambil makanan aja dia ogah."


"Jelasnya Mama tidak tahu Pa tapi mama menebak dia sedang pedekate sama mamanya si kembar."


"Jadi dia mau bersih-bersih tuh cuma modus? Oh ternyata ada udang dibalik rempeyek."


"Bentar Pa, Mama mau ngasih dia semangat," ucap Laras sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentarnya. Terima Kasih.


__ADS_2