Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 44. Sama-Sama Rindu dan Rencana Para Orang Tua


__ADS_3

Louis pikir kemarahan Nindy hanya akan bertahan sebentar nyatanya Nindy bahkan tidak mau menjawab teleponnya bahkan tidak pernah mau menemuinya. Bahkan dia terkesan menghindarinya.


Louis memandang chat di ponselnya yang masih bercentang dua abu pertanda chat masuk namun tidak terbaca.


"Ckck, ada apa ini sebenarnya? Apa dia benar-benar marah padaku? Tapi apa kesalahanku?"


Louis mencoba mendatangi sahabat-sahabat Nindy untuk menanyakan kepada mereka apa gerangan yang membuat Nindy marah padanya. Menurut Louis pasti Nindy curhat pada kedua sahabatnya itu.


"Kami tidak tahu-menahu, dia tidak pernah bicara kepada kami tentang masalahnya kali ini."


"Masa sih? Kalian sahabat terbaiknya kan?"


"Tapi beneran dia tidak pernah cerita sama kami."


"Saya minta tolong kalau kalian bertemu dengannya, tanyakan ada apa, soalnya aku tidak punya kesempatan untuk bicara padanya karena dia selalu menghindar jika aku mendekatinya. Kalian tenang saja saya pasti akan memberikan imbalan buat kalian."


"Bukan begitu Pak tapi Nindy benar-benar tidak mau bercerita saat kami paksa tapi Bapak tenang saja kami akan tetep berusaha siapa tahu nanti dia mau bicara juga."


"Iya terima kasih ya. Kalau begitu aku permisi."


"Iya-iya Pak."


Setelah Louis pergi, Putri dan Kinara saling pandang.


"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Putri karena tidak biasanya Nindy seperti ini.


Kinara mengangkat bahu."Mana aku tahu, tapi sepertinya masalahnya serius hingga Nindy benar-benar menghindari pak Louis dan juga tidak mau cerita pada kita."


"Sepertinya sih iya," timpal Putri lagi.


Satu hari, dua hari Louis masih tahan namun di hari ke tiga Louis mulai tidak tahan. Dia langsung menunggu Nindy di depan rumahnya ketika sampai pada jam pulang kerja. Ini dilakukan karena saat menyamperi gadis itu di kantornya Nindy selalu tidak ada, entah dimana dia bersembunyi semua karyawannya selalu menutupi keberadaannya. Bahkan saat ia nekat mencari di seluruh ruangan gedung itu Nindy ternyata memang tidak ada. Di rumahnya juga tidak ada tapi hari ini Louis yakin bahwa Nindy akan pulang ke rumah.


Prediksi Louis benar pada jam-jam seperti ini Nindy pasti pulang. Nampak Nindy turun dari sebuah taksi dan berjalan ke arah Louis. Louis bersembunyi di balik pagar agar saat melihat dirinya Nindy tidak langsung kabur.


Ketika Nindy membuka gembok pagar, Louis langsung menangkap tangan Nindy.


"Kamu!"


"Dimana kamu selama ini?"


"Bukan urusanmu."


"Kamu kenapa sih Nin?"


"Aku tidak apa-apa!"


"Tidak apa-apa kamu bilang? Setelah telepon dan chatku tidak pernah kamu balas? Setelah selama beberapa hari ini kamu mencoba selalu menghindar dariku? Ada apa sih sebenarnya? Katakan apa salahku padamu!" Louis sudah tidak tahan dengan semuanya.


"Tidak ada apa-apa hanya aku saja yang terlalu sensitif."


"Maksudnya?"


"Ah tidak ada. Izinkan aku masuk aku mau beristirahat." Nindy mencoba melepaskan tangan yang digenggam erat oleh Louis.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau jelaskan semuanya." Louis semakin erat memegang tangan Nindy takut gadis itu kabur lagi.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan."


"Nin aku mohon!" Louis menatap wajah Nindy dengan penuh harap, dia benar-benar tidak tahu apa kesalahan dirinya hingga membuat Nindy semarah ini.


"Sudah ku bilang tidak ada yang perlu di jelaskan. Lepaskan aku! Biarkan aku pergi."


"Haaah." Louis menarik nafas panjang. "Baiklah kalau kamu ingin aku pergi. Mulai hari ini aku tidak akan pernah mengganggu mu lagi." Louis melepaskan pegangan tangannya pada tangan Nindy dan memutar tubuhnya kemudian dengan langkah yang cepat dia berjalan ke arah mobil yang terparkir agak jauh dari rumah Nindy.


Nindy menoleh, melihat Louis menendang benda apa saja yang dilaluinya membuat Nindy tahu bahwa laki-laki itu sedang marah. Batu dan kaleng minuman menjadi pelampiasan akan kemarahan Louis.


Tak terasa air mata Nindy menetes. "Maaf aku tidak tahu darimana aku harus menjelaskan bahwa aku sudah tahu bahwa kamu sebenarnya telah berselingkuh dariku." Nindy mengusap air matanya yang menggenang, lalu berjalan gontai dan masuk ke dalam rumah.


Hari demi hari mereka lalui sendiri-sendiri. Tak ada lagi panggilan telepon ataupun chat dari Louis dan anehnya selama ini Nindy berharap ada notifikasi di ponselnya yang mengatakan bahwa Louis menghubungi dirinya namun harapan tidak pernah terkabulkan.


Saat uring-uringan di dalam kamar tiba-tiba ponsel Nindy bergetar. Tanpa melihat siapa yang menelepon, gadis itu langsung menyambar dan mengatakan halo dengan bersemangat. Namun dia kecewa ketika suara yang didengarnya bukanlah suara Louis melainkan Putri sahabatnya..


Nindy membolak-balikkan ponselnya, rasanya ia ingin menghubungi Loius. Sebenarnya dia sangat merindukan lelaki itu tapi gengsi untuk menelponnya terlebih dahulu.


Begitu pun dengan Louis dia berharap Nindy menyadari bahwa sikapnya sangatlah menyakitkan bagi dirinya. Pria itu sedang menunggu gadis itu menelpon dirinya dan menjelaskan semuanya. Namun dia kecewa Nindy tak kunjung menghubunginya.

__ADS_1


Mira yang melihat majikannya uring-uringan langsung mencari ide bagaimana cara mempertemukan keduanya. Dia lalu menelpon Nindy dan mengatakan dirinya sakit dan saat ini sedang membutuhkan orang untuk merawat dan menemaninya.


Nindy yang merasa pernah berhutang budi pada Mira karena selama tinggal di rumah Louis begitu telaten merawat dirinya ketiga sakit segera bergegas menuju rumah Louis.


"Wah tumben kamu ke sini, sudah tidak sibuk kah? Saya dengar-debgar dari tuan Louis kamu sudah menjadi wanita karir ya?"


"Pak satpam ada-ada saja. Doakan saja ya pak usaha saya sukses. Oh ya katanya mbak Mira sedang sakit?"


"Wah kalau itu aku tidak tahu Nin tapi saat tadi mengantarkan makanan memang wajah Mira terlihat pucat sih."


"Kalau begitu antarkan aku ke kamarnya dong pak."


"Kenapa nggak langsung masuk sendiri sih? Biasanya kan gitu?"


"Enggak enak Pak soalnya aku kan sudah tidak tinggal di sini."


"Baiklah ayo aku antar." Merekapun berjalan menuju kamar Mira.


"Mbak Mira sakit apa? Sudah ke dokter?" Nindy berjalan ke arah ranjang Mira dan duduk di samping Mira yang terbaring.


Mira yang berada dibawah selimut ketar-ketir. Ia memeriksa dahinya apakah ia panas atau tidak. Ternyata dia memang panas. "Kebetulan," batinnya sambil menyingkap selimut.


Nindy meraba dahi Mira. "Panas aku ambil kain kompres dulu ya Mbak Mira." Mira mengangguk dan membiarkan Nindy mengompres dahinya.


"Sudah minum obat?"


"Sudah tadi." Mira berbohong, buat apa minum obat, pikir Mira. Toh dirinya hanya sakit bohongan. Panas di tubuhnya pasti hanya akibat bawang merah yang dia manfaatkan tadi.


"Sudah makan? Biar Nindy ambilkan."


"Sudah."


"Ya sudah Mbak tidur saja biar Nindy yang jagain mbak sambil ngompres."


Mira mengangguk dan memejamkan mata. Akhirnya dia kebablasan dan benar-benar tertidur.


Nindy terus saja mengompres kemudian meletakkan kain basah di dahi Mira itu dan keluar dari kamar.


Ia berjalan ke kamar tamu, mencari Louis walaupun tidak berniat untuk menampakkan dirinya. Dia hanya ingin melihat Louis dari jauh saja, hanya sekedar mengobati kerinduannya.


Ia berjalan ke arah kamar yang dulu pernah menjadi tempatnya tidur. Melihat-lihat keadaannya yang masih belum berubah sedikitpun. Namun saat melihat kamar Louis terbuka Nindy merasa tertarik untuk masuk ke dalamnya.


Sampai di dalam ia mengingat akan foto yang diselipkan seseorang di dalam tasnya.


"Siapa ya yang kira-kira menaruh foto itu di dalam tasku?" Nindy bergumam.


Kemudian timbul keinginan untuk mencari kebenarannya. Tanpa izin, Nindy langsung mengotak-atik kamar Louis. Hingga tak sengaja dia menemukan sebuah kotak berisi balon-balon kecil yang membuat Nindy kaget dan jantungnya langsung berdentum keras karena amarah.


"Cari apa?" Louis yang baru saja datang dari luar terkejut melihat seorang wanita ada di kamarnya Sehingga langsung reflek bertanya.


Nindy menoleh.


"Kamu?" Louis tersenyum senang. Namun senyumannya langsung pudar tatkala melihat ekspresi wajah Nindy yang masam.


"Ada apa?"


"Ini apa?" Nindy langsung memperlihatkan barang temuannya.


"Itu ... itu milik Edrick." Louis kaget hingga bicaranya menjadi gugup.


"Oh punya Edrick ya, kenapa bisa ada di sini?"


"Iya dulu dia nitip tapi langsung kelupaan untuk membawanya."


"Oh begitu ya? Kalau ini siapa?" tanya Nindy sambil meraih sesuatu dalam tasnya.


Louis mengernyit, tidak paham yang dibicarakan oleh Nindy. Nindy langsung memberikan foto di tangannya pada Louis.


Louis menerima dan langsung memeriksa foto tersebut. Mukanya langsung terlihat pucat.


"Darimana kamu mendapatkan foto ini?" Pertanyaan Louis penuh penekanan.


"Tidak penting darimana foto itu. Yang penting adalah kamu jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa benar laki-laki itu kamu?"


Louis menarik nafas panjang. "Iya itu memang aku."

__ADS_1


Duarr.


Bagaikan tersambar petir hati Nindy mendengar pengakuan Louis.


"Jadi benar kamu selingkuh?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Aku bisa jelaskan Nin."


"Tidak perlu, semuanya sudah jelas. Lebih baik kita akhiri hubungan kita sampai di sini." Nindy langsung bangkit dan berlari keluar kamar.


"Nin tunggu aku akan jelaskan semuanya!" Nindy tidak mendengarkan perkataan Louis sampai saat Mira menyapanya Nindy pun tidak menghiraukan.


"Haruskah aku berbohong? Akh...." Louis nampak gusar. Dia melempar benda apa saja yang ada di hadapannya. Dia kemudian memungut foto itu kembali dan memeriksanya.


"Mala kau harus bertanggung jawab atas semuanya," ucap Louis geram setelah membaca apa yang tertulis di belakang foto. Dia meremas foto tersebut kemudian menyobeknya menjadi serpihan.


"Apa yang terjadi Mira?" Mama Ani yang melihat Nindy berlari ke luar rumah dan tidak mau menjawab sapaannya menjadi curiga dan langsung bertanya pada Mira.


"Sepertinya mas Louis sama Nindy sedang marahan Nyonya."


"Sudah berapa lama?"


"Sudah agak lama sih, sudah beberapa hari ini."


"Tolong Mira ceritakan semuanya. Aku lalai selama ini, aku pikir hubungan mereka masih baik-baik saja."


Mira pun menceritakan yang diketahuinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus menghubungi Farah dan mengatur semuanya."


Mama Ani langsung menelpon Farah.


๐Ÿ“ฑ"Halo Jeng."


๐Ÿ“ฑ"Sepertinya rencana kita harus dipercepat. Apa sudah siap semuanya?"


๐Ÿ“ฑ"Iya Jeng sudah siap."


๐Ÿ“ฑ"Oke kalau begitu kita kerjai mereka. Menangis dah menangis mereka suruh siapa pakai acara marahan segala."


๐Ÿ“ฑ"Emang mereka kenapa Jeng?"


๐Ÿ“ฑ"Pada ngambek, pada gengsi. Aku pikir hanya karena salah paham. Kalau tidak segera dinikahkan saya takut mereka akan benar-benar menjauh dan pastinya akan ada banyak lagi rintangan untuk menyatukan mereka lagi."


๐Ÿ“ฑ"Baiklah Jeng kita atur semuanya."


๐Ÿ“ฑ"Kamu ada dimana sekarang? Di rumah kah?"


๐Ÿ“ฑ"Iya Jeng."


๐Ÿ“ฑ"Kalau begitu aku segera ke sana."


๐Ÿ“ฑ"Baik aku tunggu Jeng."


Telepon terputus.


"Kamu kenapa Mira?" tanya mama Ani ketika melihat Mira menggigil.


"Tadinya aku pura-pura sakit Nyonya ternyata sekarang malah sakit beneran."


"Oalah kamu ke dokter saja ya sama pak sopir biar aku naik taksi saja."


"Iya Nya."


"Ya sudah ayo ke mobil. Maaf ya saya tidak bisa mengantarkan mu karena ada kepentingan yang mendesak."


"Ya nggak apa-apa Nyonya."


"Pak sopir antarkan Mira ke rumah sakit ya biar aku naik taksi saja!"


"Iya Nya."


Mira pun naik ke dalam mobil dan menuju rumah sakit sedangkan mana Ani menyetop taksi dan pergi ke rumah Farah.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2