
"Ayah meskipun aku sempat kesal padamu tapi aku berharap semoga kau baik-baik saja di sana," ucap Nindy dalam hati penuh harap.
Malam itupun juga mereka langsung menuju ke kota B. Sesampainya di sana hati sudah mulai pagi. Mereka langsung menuju rumah sakit.
"Hai Lou apa kabar?" sapa salah seorang dokter di sana.
"Baik Lan kamu apa kabar?"
"Baik juga, boleh aku bicara sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu. Mumpung kamu lagi ada di kota ini."
"Gimana ya tapi saya harus...."
"Nggak apa-apa Lou kamu temani dokter itu bicara biar saya masuk duluan, jenguk ayah."
"Ya sudah kalau begitu nanti aku nyusul," ujar Louis. Nindy hanya mengangguk dan berjalan menjauh menuju kamar sang ayah.
Setelah Nindy pergi Louis terlibat pembicaraan serius dengan dokter Alan, entah apa yang mereka bicarakan.
Tok tok tok.
Nindy mengetuk pintu.
"Masuk!" perintah Farah.
Nindy membuka pintu dengan perlahan.
"Kamu sudah datang Nak?" tanya mama Ani sambil berjalan mendekat kemudian memeluk calon menantunya.
"Iya Tante."
Mendengar suara Nindy Farah menoleh. Matanya terlihat membengkak karena semalaman tidak tidur dan hanya menangis saja.
"Safa." Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati sang anak. "Bunda kangen," katanya sambil mendekap erat tubuh si bungsu.
"Safa juga kangen." Hilang sudah amarah yang sempat mengusik hati melihat mata sang ibu yang tidak berhenti mengucurkan air mata dan sang ayah yang berbaring tak berdaya.
Farah semakin mengeratkan pelukannya. Rindunya
kepada sang anak sudah terlalu menggebu karena selama ini hanya berani melihat putrinya dari jauh saja.
"Sudah bunda, Safa ingin melihat ayah." Farah mengangguk kemudian mengurai pelukannya.
Nindy mendekat dan duduk di samping ayahnya. "Ayah kenapa?" Pak Ramlan hanya memandang putrinya dengan perasaan bersalah.
"Ayahmu stroke Nak."
"Kenapa bisa seperti itu Bun?"
"Ini ulah kakakmu si Lisfi. Ayahmu memergoki dia di kamar hotel dengan seorang pria."
Nindy hanya menggeleng tak percaya. "Dia tidak pernah berubah masih saja seperti dulu."
"Maafkan Bunda ya, maafkan ayah juga. Selama ini lebih mempercayai dia dibandingkan kamu."
Nindy mengangguk. "Saya sudah memaafkan kok Bun, bagaimana pun juga kalian tetap orang tua saya. Sebenarnya saya maklum kalau kalian lebih menyayangi dia. Safa sadar Safa dari kecil suka bandel dan menyusahkan kalian semua. Namun satu hal yang ingin Safa katakan jangan pernah mendengarkan cerita dari salah satu pihak saja karena itu tidak adil bagi Safa. Safa sadar Safa juga tidak mempunyai kemampuan otak seperti kak Lisfi."
"Jangan bicara seperti ini Nak, bunda sudah tahu semuanya. Kamu bahkan berkali-kali lipat lebih hebat dari kakakmu. Bunda tahu sekarang kamu sudah sukses. Usahamu berjalan lancar. Bunda juga minta maaf tidak ada maksud membanding-bandingkan dirimu dengan kakakmu, Lisfi."
"Darimana bunda bisa tahu saya sudah punya usaha?"
__ADS_1
"Karena bunda senantiasa mengawasi mu dari jauh."
"Ah Bunda. Jadi bunda tahu semuanya? Mengapa bunda tidak menghampiri Safa?"
"Bunda malu kalau harus mendekat saat kau sudah sukses sementara kemarin-kemarin bunda tidak bisa membantumu saat kau butuh bantuan bunda. Bunda juga takut kamu membenci bunda dan tidak mau memaafkan kami."
"Ah Bunda jangan ngomong seperti itu ah."
"Mas kamu tahu anak kita ini ternyata sudah sukses tanpa bantuan kita sedikitpun. Dia memang tidak kerja kantoran seperti Lisfi dan kamu tapi kamu tahu anak kita sekarang malah jadi bos."
"Bunda nggak usah berlebihan. Bos apaan coba?"
"Iya anak kamu itu memang hebat pak Ramlan." timpal mana Ani. Membuat pak Ramlan tersenyum dalam hati.
"Ah itu kan karena bantuan anak Tante juga."
"Jadi kamu kenal sama anak Tante Ani?" tanya Farah menggoda Nindy.
"Menurutmu dia bagaimana?" tanyanya lagi.
"Ah bunda kayak wartawan aja menginterogasi segala."
"Dia baik banget kok Bunda," lanjutnya.
"Apa kamu ada hubungan sama dia?"
"Teman, ya dia teman saya," ucap Nindy sambil memandang wajah mama Ani dan yang dipandanginya hanya tersenyum saja.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
Di tempat lain setelah polisi mengintrogasi dirinya Lisfi langsung menelpon Mala untuk memintai pertolongan. Pagi itu juga Mala langsung pergi ke kantor polisi. Entah bagaimana caranya hari itu juga Maka langsung bisa membebaskan Lisfi.
"Tidak aku mau ke rumah sakit dulu."
"Loh siapa yang sakit?" heran Mala. Bukankah keluarga Lisfi ada di Jakarta pikirnya.
"Ayah. Dia pingsan saat melihat ku di kamar hotel semalam."
"Memang benar-benar tuh si Vicky ya." Mala pura-pura geram.
"Oh ya aku tidak menyangka dia bakal tega menjual ku padahal aku sudah memberikan segalanya untuk dia," sesal Lisfi.
"Sudah yuk kita ke rumah sakit saja."
"Oke yuk!"
Mereka pun masuk ke dalam taksi yang akan membawanya ke rumah sakit.
"Mala sebenarnya maksudmu mendekati ku untuk apa?" tanpa Lisfi saat mereka sudah duduk di dalam taksi.
"Ya berteman lah untuk apa lagi?"
"Tidak ada yang lain?" Lisfi tampak ragu.
"Sebenarnya ada sih. Kamu kan tinggal di Jakarta. Kamu pasti tahu kan dengan rumah bos kita?"
"Bos?"
"Iya pemilik perusahaan tempat kita bernaung."
__ADS_1
"Pak Zaki?"
"Bukan, pak Louis."
"Pak Louis siapa sih?"
"Putranya pak Zaki."
"Oh. Kalau rumah tuan Zaki aku tahu tapi kalau rumah putranya aku tidak tahu. Kabarnya mereka tinggal terpisah rumah karena pak Louis itu biasa mandiri. Memang kenapa sih?"
"Apa kamu tahu siapa kekasih pak Louis?" tanya Mala to the point.
Lisfi mengangkat bahu. "Jangankan sama kekasihnya sama wajah pak Louis saja saya tidak tahu."
"Payah Lo, Emang tidak pernah bertemu gitu di kantor?"
"Tidak, gedung tempat ku bekerja terpisah dengan gedung induk. Mungkin dia pernah berkunjung tetapi saya tidak tahu orangnya yang mana."
"Oh begitu ya."
"Iya ngomong-ngomong kenapa kamu ingin tahu tentang kekasih pak Louis itu?"
"Aku harus menghancurkannya sebab karena dia pak Louis memutuskan hubungan denganku."
"Jadi pak Louis itu pacar kamu?" Mala mengangguk.
"Dan aku harus mendapatkannya kembali."
"Eh sudah sampai, ayo turun," ajak Lisfi.
Mereka pun berjalan memasuki area rumah sakit. Sampai di lobby rumah sakit Mala terkejut melihat Louis ada di depan matanya.
"Pak Louis!" teriak Mala.
Louis yang sedang fokus bicara dengan Alan tidak mendengar teriakan Mala. Ia lalu bangkit dan mengikuti langkah dokter Alan ke sebuah ruangan.
"Kamu memanggil dia?" tunjuk Lisfi pada Louis.
"Iya. Itu yang namanya pak Louis."
"Oh itu?"
"Iya memangnya kenapa?"
"Kalau dia sih sepertinya saya tahu siapa kekasihnya."
"Siapa?"
"Sabar kamu harus cari cara dulu untuk membuat gadis itu pergi sendiri dari pak Louis."
"Apakah kamu mau membantu ku Lisfi?"
"Pasti, kan kamu sudah membantu ku keluar dari kantor polisi tadi. Sekarang giliran ku untuk membantu mu."
"Wah good girl. Tos dulu," ucap Mala sambil menggerakkan tangannya ke atas dan tos dengan Lisfi.
"Semoga berhasil," ucap Lisfi terkekeh kemudian mereka tertawa bersama.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐