
Mendengar kabar bahwa menantunya keguguran mama Ani dan tuan Zaki langsung berangkat ke rumah sakit. Sampai di sana ternyata Farah sudah sampai terlebih dahulu. Terlihat Nindy sudah menangis tergugu dalam pangkuan sang bunda.
"Nak Nindy yang sabar ya." Mama Ani mengusap-usap punggung Nindy dan wanita itupun menoleh.
"Mama." Nindy berbalik dan beralih memeluk mama Ani. Sang mertua hanya membelai rambut Nindy sambil dan meminta menantunya untuk bersabar.
"Maafkan Safa ya Ma. Kalau saja Safa tidak ceroboh dengan berlari-lari tadi ini semua tidak akan terjadi," ucap Nindy dengan air mata yang belum mau berhenti mengalir.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Kamu jangan nangis terus, kamu harus bisa ikhlas ya! Mungkin Tuhan belum mempercayai kalian untuk punya anak sekarang. Daripada kalian harus kehilangan anak setelah kamu melahirkan lebih baik kehilangan sekarang saja. Karena kalau kehilangan setelah kalian melihat bayi kalian lahir, itu akan lebih menyakitkan," ujar mama Ani menenangkan Nindy.
"Tapi Ma, mama pasti kan berharap...."
"Sudah tidak usah dipikirkan mama masih bisa kok untuk menunggu kehadiran cucu. Lagi pula kanu juga masih muda untuk memiliki seorang anak. Waktumu masih panjang untuk memberikan mama cucu."
"Iya Ma," jawab Nindy sambil mengangguk.
"Ya sudah kamu istirahat dulu biar keadaanmu cepat pulih." Mama Ani membantu Nindy untuk tiduran.
"Nanti kalau sudah diperbolehkan pulang oleh dokter kalian pulang ke rumah mama saja dulu."
Nindy mengangguk kemudian memejamkan matanya.
"Ya sudah tidurlah," ucap mama Ani sambil menarik selimut dan menyelimuti Nindy sampai ke perut.
Tidak lama kemudian Nindy terlelap, mungkin karena kelelahan akibat terlalu banyak menangis.
"Jeng Farah nanti kalau khawatir dengan keadaan Nindy bisa tinggal bersama kami untuk sementara waktu."
Farah menatap wajah pak Ramlan yang tampak mengangguk.
"Tinggal lebih lama juga tidak apa-apa," sambung tuan Zaki dan mama Ani hanya mengangguk.
__ADS_1
Mereka pun berpindah tempat ke pojok ruang rawat dan mengobrol di sana karena takut mengganggu tidur Nindy. Awalnya mereka menanyakan bagaimana kejadiannya hingga membuat Nindy keguguran pada Louis. Namun pembicaraan berkembang ke hal-hal lainnya.
Saat asyik-asyik mengobrol ponsel Louis berdering. "Sebentar ya Yah, Bun, papa mama aku angkat telepon dulu."
"Iya Nak Louis," jawab
pak Ramlan sedang yang lainnya hanya mengangguk.
Louis keluar dari ruangan, ternyata anak buah yang menelponnya sudah ada di depan pintu ruang rawat Nindy, membuat Louis langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Louis langsung.
"Ada kabar baik tuan, eh kabar buruk." Mereka sampai bingung mau menyimpulkan berita yang akan dikabarkannya adalah kabar baik atau buruk untuk majikannya.
Louis mengerutkan dahi. "Apa sebenarnya yang ingin kalian sampaikan?"
"Anu Tuan anu...."
"Anu Tuan ... nona Mala ... meninggal dunia hari ini juga."
"Apa! Kalian tidak bercanda kan?" tanya Louis tak percaya. Pasalnya dua hari yang lalu Mala baru saja sadar dari komanya dan langsung meminta perawat dan menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Louis dan Nindy.
Setelah mendapat kabar dari anak buah Louis, Nindy langsung mengajak Louis hari itu juga untuk menemui Mala di rumah sakit ini.
Saat itu Mala meminta maaf pada Louis dan juga Nindy. Wanita itupun sempat memeluk Nindy sambil menangis. Louis tidak habis pikir bahwa pertemuannya waktu itu adalah pertemuan yang terakhir baginya. Padahal Louis berharap wanita itu tetap hidup dan menjalani kehidupannya depan bertobat atas pekerjaannya. Mungkin saat itu Mala sudah merasakan bahwa ajalnya sudah dekat sehingga sempat memaksa suster untuk segera mempertemukan dirinya dengan Louis dan Nindy. Dia juga sempat meminta Nindy menyampaikan permohonan maafnya pada Lisfi.
"Innalilahi. Kalian urus saja jenazahnya dan kabari keluarganya. Jangan bebani apapun terhadap keluarganya. Biarkan semua biaya rumah sakit dan pemakamannya aku yang tanggung."
"Baik Tuan, tapi tuan tidak akan menjenguknya dulu kah sebelum dikuburkan?"
Louis melihat Nindy dari arah luar pintu. Wanita itu terlihat masih tidur dengan pulas.
__ADS_1
"Untuk sementara jangan sampai istriku tahu akan kabar buruk ini. Aku tidak mau keadaannya tambah buruk kalau mendengar kabar yang tidak baik."
"Baik Tuan."
"Baiklah ayo." Louis pun berjalan ke kamar rawat Mala diiringi para anak buah. Kebetulan jenazah Mala belum dipindahkan ke kamar jenazah."
Louis membuka wajah Mala yang sudah ditutup dengan kain. "Maafkan aku Mala, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosamu dan kau menemukan kebahagiaanmu di alam sana. Amin."
"Lisfi apa kabarnya?" tanyanya kemudian pada anak buahnya sebelum pergi dari kamar tersebut.
Semua orang tidak ada yang menjawab. Mereka memilih diam karena merasa malu untuk menyampaikan bahwa mereka masih belum menemukan wanita itu, setiap kali Louis bertanya.
"Apa belum ketemu juga?"
Mereka menggeleng dan dengan serempak mengatakan, "Belum Tuan."
"Kalian cari kemana saja sih tuh Lisfi sampai selama ini belum ketemu juga?!" Louis merasa kecewa karena pencarian mereka sampai saat inipun belum ada hasilnya.
"Kami sudah mencari kemana-mana Tuan. Menurut perkiraan kami nona Lisfi masih ada di kota ini mengingat semua bandara dan akses keluar daerah lainnya tidak ada data bahwa non Lisfi memang pernah memakai jasa mereka."
Louis menghembuskan nafas kasar. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi saat Nindy dan mertuanya selalu menanyakan keberadaan Lisfi. Louis hanya berharap agar wanita itu baik-baik saja dan tentunya masih hidup, tidak seperti Mala.
"Ya sudah kalian cari lagi sampai ketemu!"
"Baik Tuan."
Setelah itu Louis langsung pergi dari kamar tersebut dan membiarkan anak buahnya yang mengurus segalanya. Ia kemudian kembali ke kamar Nindy dan mengabarkan pada semua orang terkecuali Nindy, dengan berbisik.
Semua orang keluar dari ruangan tersebut dan melihat Mala, sedangkan Louis duduk di bangku dekat ranjang Nindy. Ia menggenggam tangan Nindy dan menyandarkan kepalanya di ranjang dekat wajah Nindy. Louis pun memejamkan mata hingga akhirnya ikut tertidur pulas.
Bersambung....
__ADS_1