Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 205. Bayi Kuning


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Adrian menerima telepon dari Andy untuk mengkonfirmasi apakah benar dirinya ingin ikut ke Paris menjenguk Ara.


"Oke aku ikut." Terdengar suara Adrian dari balik ruang ganti.


"Siapa Mas?" tanya Annete yang kini juga menuju ruang ganti sehabis mandi.


"Andy ngajak aku ke Paris karena dua hari lagi katanya Ara mau lahiran. Kamu kan bulan lalu katanya mau jenguk rumah ayah sekalian kita bulan madu di sana."


"Kapan berangkatnya?"


"Katanya besok pagi."


"Oh kalau begitu aku telepon Angel dulu katanya dia juga mau pulang biar bareng."


"Oke, bilang sama dia semua tiket sudah disiapkan oleh Andy." Adrian bergegas memasang pakaiannya. Dia pagi ini harus bergegas ke rumah sakit karena ada pasien yang harus dioperasi.


"Telepon siapa lagi?" tanya Adrian ketika Annete sesudah mengakhiri Panggilannya dengan Angel malah tampak menghubungi orang lain.


"Mbak Anisa," sahut Annete.


"Apa tidak sebaiknya dia tidak usah ikut saja?"


"Aku sudah janji mau mengantar dia ke makam ayah."


"Baiklah terserah kamu tapi sepertinya Andy tidak menyiapkan tiket untuknya jadi kalau dia mau ikut suruh beli sendiri."


"Adel Mas?"


"Kalau buat Adel sudah ada."


"Baiklah."


"Yasudah aku berangkat dulu ya, hari ini kamu sarapan sendiri dulu soalnya aku ada tugas mendadak," ucap Adrian yang kini sudah siap dengan pakaian dan tas kerja di tangannya.


"Hati-hati Mas," ujar Annete sambil menyalami tangan suaminya.


"Iya kamu baik-baik di rumah ya!"


"Iya Mas."


Annete pun menelpon Anisa dan memberitahukan bahwa besok pagi dia dan sahabat-sahabat Adrian akan melakukan penerbangan ke Paris.


Esok hari semua teman-teman Zidane sudah berkumpul di kediaman Alberto tak terkecuali Dion beserta sang istri.


"Ikut juga Lo Yon?" tanya Zidane.


"Ayolah man aku kan juga butuh liburan."


"Terus kalau kamu ikut siapa yang urus perusahaan?" protesnya.


"Sudah ada Rama, ayolah beri dia kesempatan bekerja di perusahaan, aku tahu dia bisa diandalkan."


"Hm, baiklah tapi kalau sampai terjadi masalah kamu yang harus mengurusnya."


"Siap Bos!" jawab Dion sambil mengangkat tangan ke dahi seperti orang memberi hormat.


"Louis belum datang?"


"Katanya dia nggak bisa ikut karena ada kepentingan mendesak."


"Lalu kita masih menunggu siapa?" tanya Isyana.


"Mbak Anisa sama Adel," jawab Annete.


"Yakin Lo Dri mau bawa mantan?" tanya Dion.


"Permintaan dia," jawab Adrian datar sambil menunjuk Annete.


"Ooh."


Selang tidak begitu lama Anisa datang bersama Adel dan Farhan. Dia sengaja membawa Farhan karena tidak enak jika ikut Annete dengan Adrian tanpa membawa teman. Dia takut akan menggangu keduanya. Terlebih dia tidak mau pandangan teman-teman Adrian akan kembali buruk terhadapnya.


Syukurlah dia bawa Farhan. Batin Adrian. Dia tidak mau rencana bulan madunya terganggu.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Andy.


"Sudah," jawab semuanya serempak.


"Emang kalian nggak apa-apa ya melakukan penerbangan, soalnya kalian kan sama-sama hamil muda?" tanya Isyana pada Angel dan Yuna.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kita serahkan saja semuanya pada Tuhan," sahut Yuna.


"Baiklah kalau begitu kita berangkat, para sopir sudah pada menunggu," ujar Zidane.


Akhirnya mereka semua berpamitan kepada Laras dan Alberto.


"Kalian sudah telepon nggak sama Lexi bahwa mau ke sana bersama rombongan?"


"Belum Ma biar kejutan," sahut Zidane.


"Loh-loh kok belum kasih tahu sih! Jangan-jangan nanti Laurens jantungan lihat kalian semua kayak orang demo saja."


"Apa-apaan sih Ma!"


"Ya udah Tante saya telepon Lexi saja," ujar Edrick.


"Iya nak Edrick biar mereka ada kesiapan kalau akan ada tamu."


Edrick mengangguk dan langsung menghubungi Lexi namun sayang panggilan teleponnya tidak masuk.


"Gimana Rick?"


"Teleponnya nggak aktif."


"Ya sudah kita telepon lagi nanti," ujar Zidane sambil naik ke dalam mobil.


Akhirnya mereka diantar para sopir dengan tiga mobil. Dua sopir Zidane dan satu sopir Andy.


Jauh di sana Lexi sedang gelisah menunggui sang istri yang sejak tadi sakit perut karena kontraksi. Sebenarnya prediksi dokter masih dua hari lagi tapi ternyata bayi dalam kandungan Ara sudah mendesak ingin keluar.


"Mas sakit." Ara meringis kesakitan membuat Lexi semakin khawatir.


"Kita operasi saja ya sayang, aku tidak tega melihat kamu kesakitan seperti itu!" pinta Lexi. Dia tidak tega melihat istrinya sejak semalaman tersiksa.


Sejak semalam Ara mengeluh perutnya mulas dan hingga saat ini dia kelihatan tambah parah. Sampai tadi pagi dia masih tidak bisa tenang. Duduk berdiri, duduk berdiri begitu seterusnya sambil mengeluhkan sakit perut dan sakit pinggang.


"Aku mau lahir normal," rengek Ara. Sebelumnya Lexi memang memintanya untuk melahirkan operasi saja mengingat bayi yang akan dikeluarkan Ara bukannya cuma satu tapi tiga sekaligus. Lexi takut Ara tidak mampu namun wanita itu terus saja ngotot memaksakan dirinya untuk melahirkan normal.


"Aku mau jadi wanita yang sempurna," lanjutnya.


"Sama saja sayang. Kata siapa melahirkan dengan operasi dikatakan wanita tidak sempurna. Ibu yang melahirkan secara normal dan operasi itu sama saja, sama-sama bertaruh nyawa," bujuk Lexi.


"Tapi aku mau yang normal saja, kata orang-orang kalau operasi sakitnya tetap terasa meski sudah lama, auw." Ara kembali mengaduh


"Apa tidak beresiko ya Dok?"


"Persalinan secara normal ataupun operasi sama-sama beresiko sih Tuan, walaupun memang dianjurkan operasi karena istri Tuan hamil tiga bayi kembar. Namun melihat kondisi istri Tuan sepertinya tidak masalah kalau ia memaksa harus lahiran normal."


"Sudah Nak Lexi serahkan saja pada dokternya," ujar Lana. Seminggu yang lalu dia sudah datang bersama Reyhan, mantan suaminya. Meskipun memilih berpisah namun mereka masih kompak untuk menemani sang anak di saat-saat melahirkan."


"Iya Ma. Aku keluar sebentar ya mau menenangkan diri." Pikirannya terasa kacau karena memikirkan sang istri.


"Iya Nak Lexi."


Lexi keluar dari ruang persalinan, menurut dokter pembukaan istrinya masih belum sempurna.


Melihat Lexi keluar Laurens, Abraham dan Reyhan mendekat. "Bagaimana Lex apakah Ara sudah mau dioperasi?"


Lexi menggeleng. "Tidak Mom kayaknya tekadnya sudah bulat tidak mau merubah keputusannya, dia tetap mau lahiran normal."


"Ya sudah kita doakan saja semoga semuanya berjalan lancar ya. Tugasmu sekarang hanya menemani dan memberi semangat untuknya."


"Iya Mom."


"Tenangkan dirimu!" ujar Reyhan sambil menepuk-nepuk pundak menantunya.


"Iya Pa," jawab Lexi sambil mengangguk.


"Lex kamu mau kemana?" tanya Laurens ketika Leksi beranjak menjauh dari tempat itu.


"Saya mau ke mushola Mom, mau menenangkan otakku yang selalu berpikiran buruk dari tadi dan meminta kebaikanNya untuk keselamatan anak-anak dan istriku."


"Baiklah itu lebih baik, tapi jangan lama-lama ya takutnya Ara membutuhkanmu."


"Iya Mom."


Laurens menghela nafas, andai dia bisa membujuk menantunya agar mau di sesar dia tidak akan se-khawatir ini.


"Auuwww." Di dalam ruangan Ara mulai mengaduh lagi. Dia mulai mengatur pernafasannya seperti yang disarankan dokter tadi karena sekarang rasa sakitnya lebih sakit dan terasa lebih lama dari sebelumnya.


"Huft ...Huft...Hufft.... Auuwww...Aaakkhhh." Rasa sakit semakin bertambah.

__ADS_1


"Mas Lexi mana Ma?" Ara mulai merengek karena suaminya tidak ada di tempat.


"Tenang sayang dia masih keluar sebentar." Laurens masuk dan menghibur menantunya.


"Tapi Mom si dedek pasti tidak mau keluar kalau tidak ada daddy-nya."


Lana geleng-geleng kepala mendengar perkataan Ara. Rupanya putrinya masih sangat polos.


"Aaakkhh.... Auwww...Hufft...." Rasa sakit seakan menjalar ke seluruh tubuh.


"Ara!" Lexi melihat Ara mengaduh dengan wajah yang pucat ikut menjadi pucat. Dengan setengah berlari ia mendekati istrinya.


Ya Rabb aku pasrahkan pada Mu. Semoga Engkau memberikan yang terbaik untuk keluarga kami.


"Mas bantu pijit dong punggungku, sakit banget ini. Huft...Huft...Hufft...."


Lexi melakukan apa yang diminta.


"Mas aku mau pup!"


Lexi melirik ke arah dokter.


"Mungkin sudah waktunya Tuan soalnya pas saya VT tadi pembukaannya sudah sempurna."


Lexi mengangguk dan asisten dokter menyiapkan semuanya.


"Berbaringlah Nyonya!" Ara pun menurut katanya mamanya, Lana melahirkan bayi itu rasanya seperti buang air besar.


"Siap Nyonya?"


Ara mengangguk.


"Tarik nafas hembuskan, tarik nafas hembuskan setelah itu langsung dorong!" perintah sang dokter.


Ara pun melakukan sesuai yang diperintahkan.


"Aarrgghhh!" Ara mencoba mendorong sekuat tenaga. Rasanya bayinya sudah terasa keluar. Tapi kenapa tidak menangis? Ara takut bayinya terlahir cacat.


"Kenapa nggak nangis Ma?"


Tidak ada yang menjawab dokter dan asistennya pun tertegun. Lana mencoba melihat cucunya.


"Astaga Ara, bayimu kuning," ucap Lana sambil menutup wajahnya dan geleng-geleng kepala."


"Kenapa Ma?" Lexi yang posisinya berada di kepala Ara pun berusaha menengok takutnya bayinya terkena penyakit kuning.


"Astaga sayang kenapa kamu pup beneran sih!"


Ara yang mendengar perkataan suaminya pun bingung, dia memiringkan tubuhnya dan melihat ke bawah. Wajahnya jadi pucat pasi. "Maaf Mas nggak sengaja." Matanya mulai berkaca-kaca. Malu sekaligus merasa bersalah. Untung saja Laurens tadi ia suruh keluar karena merasa malu kalau melahirkan didampingi mertuanya.


"Sudahlah jangan dipikirkan! Kamu fokus saja sama proses lahirannya. Sekarang bangun bias suster membereskan tempat ini dulu!" Ara mengangguk walaupun pikirannya masih kacau dia langsung berjalan ke kamar mandi.


"Suster nanti saya bayar lain untuk kekacauan ini," ucap Lexi kepada asisten dokter yang sedang merapikan tempat tidur.


"Tidak usah Tuan ini memang tugas saya."


"Tidak apa-apa kami tetap akan membayar sebagai imbalan Anda."


"Kalau begitu terima kasih."


Lexi mengangguk sambil bernafas lega. Suasana tegang tadi berganti dengan tenang bahkan Lana terdengar tertawa.


"Apa sih mama ketawa-ketawa gitu!" protes Ara yang kini tampak keluar dari kamar mandi.


"Habisnya kamu mau ngelahirin tiga baby atau empat sih?"


"Mama!" Ara mulai merengek lagi.


"Iya-iya, sudah jangan nangis mama minta maaf."


"Ada apa sih ketawa-ketawa?" Kepala Laurens menyembul dari balik pintu.


"Nggak ada Ma," sahut Lexi cepat.


"Apa cucu mommy sudah lahir?" tanyanya lagi.


"Belum Ma."


"Oh gitu ya!" Laurens menutup pintu kembali dengan perasaan bingung. Sudah jelas-jelas tadi Lana tertawa bahagia tapi mengapa cucunya belum lahir?


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa komentarnya Readers!๐Ÿ™๐Ÿฅฐ


__ADS_2