Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 66. Gagal ( Part 1)


__ADS_3

"Baiklah lanjutkan!"


"Nama lengkapnya Derly Sebastian. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai tour guide. Dia memiliki dua anak kembar wanita yang masih duduk di bangku sekolah SD yang bernama Richi dan Richa, istrinya bernama Salma pramudita. Mereka tinggal di salah satu desa di Bandung."


"Apakah kalian sudah berhasil menangkapnya?"


"Itulah Tuan yang kami bingung. Derly menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Kami bingung apakah perlu melapor ke Tuan Zidane sekarang atau haruskah ditunda dulu?"


"Jangan Paman saat ini papa pasti lelah lebih baik jangan diganggu dulu," ujar Tristan.


"Tristan benar ini adalah hari bahagianya pak Zidane kita tidak boleh mengganggunya apalagi membebani pikirannya," lanjut Dion.


"Lebih baik kita selidiki sendiri," usul Tristan.


"Caranya?"


"Paman tahu alamat lengkap rumah orang itu?"


"Tahu Tuan kecil, ini alamatnya." Orang tersebut menyodorkan kertas.


"Punya foto anak dan istrinya?"


"Ada." Dia pun menyodorkan beberapa foto ibu dan anak tersebut yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Kedua anak tersebut tersenyum menyeringai melihat foto-foto tersebut.


"Lusa kita ke sana."


"Jangan bilang kamu ingin memancing Derly melalui anak dan istrinya?" Dion dapat menebak arah pikiran kedua anak tersebut. Apalagi mereka sekarang suka memancing-mancing.


"Tepat sekali," ujar kedua anak tersebut serentak.


"Jangan gegabah kita harus menyiapkan rencana yang matang agar tindakan kita tidak dicurigai. Kita tidak tahu siapa orang yang berada di belakang Derly. Om Dion hanya takut ada yang ditugaskan untuk melindungi mereka.


"Tenang kita sudah memikirkannya Om," ucap Nathan.


"Astaga Kapan mereka memikirkannya?" tanya Dion dalam hati.


Sementara di ruangan dansa Annete tampak panik ketika mengetahui bahwa yang berdansa bersamanya adalah Lexi pas lampu dihidupkan kembali. Pantas saja sedari tadi pegangannya lain, seolah pria yang menjadi pasangannya tidak mau melepaskan dirinya. Dia mencoba untuk pergi dari Lexi tapi Lexi malah semakin mengencangkan pegangannya bahkan kini dia menarik tubuh Annete ke dalam pelukannya.


"Lex lepas, kita dilihatin banyak orang."


"Aku tidak akan melepaskan mu. Kau hanya boleh jadi milikku."


"Lepas! Kamu gila ya!"

__ADS_1


"Aku memang gila, tergila-gila padamu."


Adrian hanya memandang ke arah mereka dengan perasaan tak menentu.


Secepatnya Annete melepaskan diri dari Lexi dan kembali pada Adrian.


"Maaf kami cuma...." Annete mencoba menjelaskan pada Adrian namun ucapannya segera dipotong oleh Adrian.


"Tidak masalah."


Adrian meraih kembali tangan Annete dan kembali berdansa dengannya sedang Lexi kembali meraih Naura.


"Tugas saya sudah kan Om?"


"Belum, kamu harus membuat Annete cemburu dengan kita. Mari kita berdansa lagi."


Naura menampakkan muka sebalnya. "Sampai kapan ini berakhir? Semoga tante Annete cepat kembali pada om Lexi biar aku tidak harus terlibat lebih jauh," ucapnya dalam hati. Kalau saja dia tidak butuh uang lebih mana mungkin dia mau mengikuti keinginan Lexi.


Di sisi lain Yuna yang telah menyadari siapa lelaki yang menjadi pasangannya enggan melepaskan Andy hingga Andy merasa pergerakannya terbatas padahal kedatangannya ke sini bukan untuk berdansa tapi untuk menculik kedua anak Zidane sekaligus ingin melihat kawan-kawannya walaupun tidak berniat menampakkan dirinya pada mereka.


Raganya tetap berdansa dengan Yuna tapi hatinya tidak, berkelana entah kemana. Hanya matanya yang tampak terlihat mencari sesuatu dalam pesta tersebut tapi sayangnya yang dicarinya tak nampak batang hidungnya. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi dari pesta tersebut sebelum pesta berakhir. Yuna hanya menatap punggung laki-laki yang sudah beranjak meninggalkannya.


"Kalau benar orang yang Nathan sebutkan adalah Andy mungkin saja yang dicarinya adalah kalian," ucap Dion ketika melihat pergerakan mata Andy yang nampak mencari sesuatu.


Kedua anak tersebut tersenyum devil. " Belum waktunya Om."


Mereka tidak sempat berpikir bahwa diri mereka lah yang diincar Andy. Mereka pikir yang akan diincar pasti kedua orang tuanya. Untuk mengumpankan diri mereka belum mengaturnya.


"Apa! Jadi kalian berniat akan mengumpankan diri kalian?"


"Ya kalau semua rencana tidak ada yang berhasil dengan senang hati kami akan melakukannya."


"Apa? Kalian benar-benar gila."


"Dret-dret- dret." Tristan tampak mengangkat ponselnya.


"Tuan kecil target sepertinya sedang meninggalkan ruangan."


"Ikuti dia!"


"Baik Tuan kecil. Apakah kami perlu menangkapnya?"


"Kalau dia tidak melakukan kejahatan maka biarkan dia pergi. Kita tidak punya bukti untuk menjeratnya."

__ADS_1


"Baik Tuan kecil."


Telepon ditutup.


Melihat Andy yang pergi dari tempat tersebut tanpa melakukan sesuatu Dion meledek kedua anak dihadapannya.


"Sorry bocil semua rencana kalian gagal total," ledek Dion sambil menggerakkan telapak tangannya yang tengkurap dihadapannya dari kiri ke kanan sambil tertawa.


Mereka berdua hanya mencabik mendengar perkataan Dion.


"Jangan-jangan kalian salah orang," lanjutnya lagi.


"Atan yakin tapi kalau Om Dion nggak percaya sih nggak masalah yang penting kita sudah tahu dengan siapa kami harus berhati-hati."


"Dan gagal hari ini belum tentu gagal untuk besok kan Om," timpal Tristan.


Dion hanya mengangguk.


"Daripada Om Dion di suruh cari mama aja sampai bertahun-tahun nggak becus, nggak pernah ketemu," lanjut Tristan mengejek Dion.


"Astaga nih anak malah berani mengejekku ya! Ayo bilang lagi," ucap Dion sambil menggelitik Tristan.


"Ampun Om ampun!" Tristan tertawa cekikikan begitupun dengan Nathan.


##


Malam merangkak semakin larut pesta pun berakhir. Semua tamu mulai kembali ke rumah masing-masing hanya menyisakan beberapa teman dekat dan kerabat dekat dari Zidane.


Atmaja beserta Lusy dan Edward serta Darren sudah pamit pulang. Yuna, Maura, Vania dan Adel sudah tepat di salah satu kamar tamu. Mereka memilih untuk tidur dalam satu kamar padahal Laras sudah menyarankan agar mereka tidur dalam kamar yang terpisah karena di rumah tersebut memiliki banyak kamar.


Para teman dan kerabat laki-laki memilih berkumpul di ruang tamu dan bermain kartu sambil sesekali meneguk kopi yang disediakan.


Lexi tampak terlibat obrolan serius dengan Tuan Alberto. Entah apa yang mereka bicarakan.


Sedangkan Annete yang duduk di sofa ruang tamu tampak gelisah. Sudah berulang kali dia keluar masuk kamar mencoba untuk tidur tapi tidak bisa hingga akhirnya memutuskan duduk di sofa mendengar ocehan para pria di sana. Sesekali melirik ke arah Lexi namun ketika Lexi meliriknya juga dan wajah mereka bertemu Annete malah memalingkan muka.


"Kamu mau kemana Dan nggak mau main kartu sama kita?" tanya Edrick ketika melihat Zidane berjalan terburu-buru menaiki tangga. Namun Zidane tampak acuh terhadap para sahabatnya karena begitu lelah ingin segera beristirahat.


"Mana mungkin dia mau main sama kita sekarang kan ada istri yang bisa dibuat mainan." Louis mengatakan itu sambil cekikikan.


"Pengen unboxing kali, hahaha...." sambung yang lain.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2