Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 15. Godaan


__ADS_3

Warning 21+


Tidak panas, tapi takut membuat otak traveling, bagi yang belum cukup umur di skip aja!


⭐ Happy Reading ⭐


Jam tujuh pagi dia sudah berada di perusahaan. Sebelumnya dia sudah menghubungi BM ( Branch Manager) untuk mengumpulkan Semua karyawan yang berada di divisi yang bermasalah untuk menyelesaikan konflik yang menjadi perselisihan tersebut.


"Tolong jelaskan apa yang menjadi permasalahan dalam perusahaan ini!" perintah Louis dia sama sekali tidak diberitahu detail masalahnya oleh tuan Zaki dan dia pun berangkat tanpa sempat mencari tahu terlebih dahulu.


"Silahkan jelaskan!" Pimpinan cabang perusahaan itu meminta pada ketua divisi sales untuk menyampaikan keluhannya.


"Kami meminta agar biaya operasional harus ditambah karena dirasa kurang untuk mencapai target. Namun divisi keuangan tidak meloloskan permintaan kami, jadi bagaimana caranya kami bisa mengembangkan diri jika biaya saja tidak memadai."


"Maaf tapi kami melakukan ini semua karena sudah menyesuaikan dengan budget perusahaan kalau dipaksakan takutnya nanti perencanaannya akan keluar jalur," sambung pimpinan divisi keuangan.


"Jadi itu masalahnya?"


"Iya Pak." Mereka menjawab serempak.


"Dan Bapak manager tidak bisa mengatasi?" tanya Louis kepada pimpinan BM.


"Saya sudah berkali-kaki mengajak mereka berdiskusi tapi masing-masing divisi masih saja ngotot dengan keputusannya sendiri-sendiri jadi terpaksa saya memberitahu perusahaan induk dari perusahaan ini agar bisa turun tangan langsung," terang pak branch manager.


"Baiklah kita diskusikan bersama bagaimana baiknya," ujar Louis dan semua yang hadir hanya menjawab dengan anggukan.


Satu jam mereka berdiskusi hingga akhirnya mencapai keputusan bersama. Setelah itu rapat dilanjutkan dengan membicarakan cara pengembangan perusahaan agar mencapai tujuan yang diinginkan.


Selesai rapat mereka langsung menikmati makan bersama yang sudah disiapkan perusahaan. Bagi Louis tidak ada perbedaan antara atasan dan bawahan sehingga dia memilih berbaur dengan yang lainnya saat makan padahal pihak perusahaan sudah menyiapkan makanan khusus untuknya.


"Akhirnya selesai juga." Louis menghela nafas lega. Kemudian dia kembali ke ruangan miliknya yang biasanya ia tempati saat bertugas di cabang perusahaan ini.


Sampai di dalam ruangannya dia menyandarkan diri sambil memejamkan mata. Rasa lelah masih menguasainya, apalagi semalam dia hanya tidur beberapa jam dan paginya harus dihadapkan dengan diskusi yang benar-benar menguras pikiran.


Dia mencoba memeriksa ponselnya barangkali ada panggilan masuk, tapi sayang ponselnya sepi tak ada satupun panggilan ataupun chat masuk ke dalam ponselnya itu.


Louis memainkan ponselnya dengan cara membolak-balik ponsel tersebut dengan malas. Dia pikir Nindy akan menelpon atau mengirimkan chat padanya. Sekedar bertanya kabar ataupun bertanya apakah dia sudah sampai atau belum. Namun nyatanya dia merasa kecewa gadis itu tak pernah mengkhawatirkannya seperti dirinya yang selalu mengkhawatirkan gadis itu.


"Apa aku harus kembali sekarang?" Bagaimana kabar Nindy?" Sehari saja dia sudah kangen dengan kecerewetan gadis itu apalagi harus berlama-lama di sana. Mau menelpon, dia merasa gengsi karena tidak punya alasan untuk bertanya apa.


Dengan iseng ia membuka ponselnya dan melihat-lihat galeri di ponsel tersebut. Sudah lama dia tidak membukanya.


Saat pertama album galeri terbuka dia melihat foto Angel yang tersenyum padanya. Dia mengelus-elus wajah Angel dalam ponsel tersebut. "Ternyata aku masih menyimpan fotomu. Semoga kau selalu bahagia bersama Edrick."


Dia menggeser-menggeser album selanjutnya, terlihat foto Nindy yang ia ambil secara diam-diam waktu di hotel saat pertama kali bertemu dengan gadis tersebut.


Louis tersenyum mengingat saat-saat ia mengerjai gadis itu apalagi tatkala mengingat dengan kesal Nindy memandang dirinya.

__ADS_1


"Ternyata kau tidak suka ngeyel seperti yang kupikirkan." Louis tersenyum sambil mengelus-elus foto Nindy. Dia mengingat bagaimana dia meminta Nindy untuk menggunakan pakaian yang sedikit lebih tertutup dan tak disangka perempuan itu malah menurut. "Sedang apa kamu sekarang?"


Louis terus menggeser album selanjutnya, terlihat semua teman- temannya sudah punya pendamping. "Enggak nyangka aku yang terakhir." Dia terkekeh sendiri menyadari dirinya yang masih jomblo sendirian, bahkan Edrick yang paling anti dengan pernikahan sekarang malah sudah menikah dan sedang menunggu kelahiran buah hatinya.


Terus ia geser-geser sampai kemudian sampailah ia pada foto Pras bersama Nindy.


Louis memandangi wajah Pras. Keningnya berkerut, ia seolah tidak asing dengan pria tersebut. Dia tampak berpikir dimana dia pernah bertemu dengan pria tersebut tapi sayang dia benar-benar tidak bisa mengingatnya.


Saat sedang berpikir keras mengingat Pras tiba-tiba pintu ruangan ada yang mengetuk.


"Masuk!" perintahnya.


Pintu terbuka tampak seorang wanita dengan berpenampilan seksi berjalan ke arahnya. Louis menelan salivanya. Dia tidak habis pikir kenapa dirinya selalu dikelilingi dengan wanita-wanita seksi. Angel yang kini sudah berhijab dan Nindy yang ia paksa untuk memakai pakaian sedikit lebih tertutup dan sekarang wanita ini lagi.


"Hai!" Wanita tersebut melambaikan tangan pada Louis.


"Mala? Ngapain kamu ke sini?" Mala adalah salah satu karyawan bagian divisi pemasaran.


"Boleh sih, tapi ada apa?"


"Nggak ada apa-apa cuma kangen aja, udah lama ya kita tidak bertemu," ujar Mala sambil bergelayut manja di lengan Louis.


"Terus?"


"Ih bapak tidak kangen apa sama saya?" Mala cemberut mendapati ekspresi Louis tidak seperti biasanya saat-saat dia berkunjung ke perusahaan ini.


"Kenapa lama nggak ke sini?" Wanita tersebut masih bergelayut manja.


"Karena aku kerja di perusahaan induk menggantikan papa. Ini aja aku ke sini karena asistenku tidak bisa mewakilkan," terang Louis.


"Oh begitu ya."


"Iya."


"Nanti malam ada acara nggak?"


"Nggak ada," jawab Louis singkat.


"Kalau begitu seperti biasa kita makan malam bersama." Wanita tersebut berkata sambil mengedipkan mata.


"Kamu semakin nakal ya?" Louis mencubit gemas pipi Mala.


"Oke aku tunggu di rumah," ujarnya kemudian. Rumah yang dimaksud adalah perumahan yang disediakan perusahaan. Mala juga tinggal di kompleks tersebut namun rumahnya lebih kecil karena beda kelas.


"Oke, kalau begitu aku pamit dulu, sampai ketemu nanti malam." Mala pergi sambil melambaikan tangan.


Jam delapan malam Louis sedang mengecek laporan perusahaan yang dikirimkan oleh sekretarisnya sedangkan asistennya sepertinya masih mengambil cuti.

__ADS_1


Di luar, pintu terdengar diketuk


Tok tok tok.


"Masuk, pintunya tidak dikunci!"


Mala masuk dengan membawa bungkusan di tangannya. Ia berjalan menuju sofa kemudian meletakkan makanan tersebut di meja.


"Itu apa?" Louis bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop, hanya melirik sekilas saja.


"Makanan, kamu belum makan kan? Sebentar aku ambil piring dan mangkok dulu."


Louis menghentikan aktifitasnya dan menatap ke atas meja. "Sorry aku lupa bahwa ada janji denganmu. Jadi aku belum sempat pesan makanan."


"No problem, aku sudah menyiapkan segalanya." Mala berkata sambil berjalan ke arah dapur.


"Ayo makan dulu," ujarnya setelah makanan sudah tertata rapi di atas meja.


Louis meletakkan laptopnya dan berjalan ke arah Mala. Beberapa saat kemudian mereka berdua tampak asyik menikmati santapan makan malam.


Selesai makan Mala membawa peralatan makan mereka ke dapur kemudian membersihkannya. Mala melakukan ini semua agar bisa mengambil hati Louis agar pria tersebut bisa menganggap dirinya lebih, bukan hanya sekedar wanita one night stand untuknya.


Sebenarnya Mala sudah lama mencintai Louis dan ingin memiliki pria itu seutuhnya namun dia sadar waktu itu Louis tidak bisa diajak serius mengingat Louis adalah pria nakal yang suka bergonta-ganti wanita. Dia pun tidak berarti mengatakan perasaannya karena Louis adalah atasannya. Dia hanya berharap suatu saat setelah Louis sadar dia akan memilih dirinya diantara wanita-wanita yang lainnya.


Selesai mencuci piring Mala kembali ke samping Louis yang kini sudah membuka laptopnya kembali, terlihat ia mengetikkan sesuatu di sana.


"Pak."


"Hem."


Mala diam melihat Louis tampak sibuk. Ia duduk anteng sambil bertopang dagu.


"Iya Mala, ada apa?"


Mendengar Louis sudah memasukkan laptop ke dalam tasnya Mala menjadi bersemangat. Dia lalu bangkit dan menghampiri Louis. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Louis dengan erat. Tangannya mulai nakal meraba-raba bagian tubuh Louis.


Louis terlena dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan Mala. Wanita itu memang selalu pandai memainkan jari-jarinya di tubuh Louis.


"Arggh..." Louis Mende*sah saat jari-jari nakal Mala mampu membangunkan perkututnya. Matanya terpejam menikmati kenikmatan yang disuguhkan oleh Mala. Sudah lama Louis tidak menikmati ini. Hanya dengan sentuhan tangan saja mampu membawanya terbang tinggi apalagi kalau sampai ia bisa menerobos gua yang sudah lama tak dikunjunginya.


Louis melek merem, lidahnya langsung menelan saliva dengan kasar tatkala baju yang dipakai oleh Mala sudah terlepas, hanya menyisakan lingerie merah maroon di kulitnya.


Louis sudah tidak tahan. "Buka!" Ia menarik lingerie Mala dan menyuruh wanita tersebut untuk melepasnya. Hilang sudah dengan kerinduannya pada Nindy di sana.


"Dengan senang hati," ucap Mala sambil melepaskan pakaian kemudian mengajak Louis ke dalam kamar.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2