Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 52. Salah Paham


__ADS_3

Setelah tanggal ditentukan mereka kini bersantai ria sambil menyantap hidangan yang di sediakan.


"Sini sayang ayo makan!" ajak Laras ketika melihat cucunya sedari tadi hanya diam saja.


"Sini sayang kenapa hanya diam saja, apakah kalian tidak suka mama kalian papa lamar?" tanya Zidane sambil merentangkan kedua tangannya agar kedua anaknya masuk ke dalam pelukannya namun sayang keduanya tetap diam tak bergeming.


"Tumben kalian seperti ini." Zidane terpaksa bangun dari duduknya dan mendekati kedua putranya.


"Kenapa hmm?"


"Apakah kehadiran kami adalah sebuah kesalahan Pa?"


"Hei apa maksud kalian?"


"Apa kehadiran kami sebenarnya tidak diinginkan?"


"Boy apa yang kalian omongin? Tentu saja tidak. Papa dan mama malah bahagia dengan kehadiran kalian. Apalagi dengan kehadiran kalian bisa menyatukan papa sama Mama."


"Benarkah Pa?" Tristan mulai bersemangat.


"Tentu saja."


"Tapi Oma tadi kok ngomong kesalahan?"


"Ya ampun sayang yang Oma bilang itu adalah kesalahan Papa kalian yang tidak mau bertanggungjawab bukan kesalahan yang menyebabkan lahirnya kalian. Kalian kenapa sih kok jadi melow seperti ini? Kalian tahu kan Oma begitu menyayangi kalian?" ucap Laras.


"Papa juga," ucap Zidane.


"Mama juga, bahkan mama tidak pernah menyesali atas kejadian itu karena mama bersyukur diberikan anak-anak seperti kalian," ucap Isyana menimpali.


Mendengar penuturan ketiganya kedua anak tersebut ceria kembali.


"Ayo Oma dimakan hidangannya!" ucap Nathan.


"Iya tapi sini biar Oma suapi kalian!"


"Nggak Oma biar Atan makan sendiri."


"Ayolah Oma nggak suka penolakan."


Akhirnya Nathan makan dengan disuapi Laras dan Tristan makan dengan disuapi Zidane.


Setelah menyuapi kedua anak tersebut akhirnya Laras dan Zidane makan sendiri. Selesai makan Zidane berkumpul dengan dokter Adrian dan Lexi dan para lelaki lainnya. sedangkan Laras berkumpul dengan para wanita yang hadir di sana diikuti kedua cucunya.


"Nak Syasa boleh mama bawa si kembar nginap di rumah mama?"


"Boleh Ma kalau mereka mau."


"Eh Oma kenapa barang-barang yang Oma bawa tadi semua buat wanita tidak ada yang buat kami?" sungut Tristan karena setelah membuka seserahan tadi Isinya tidak ada yang diperuntukkan mereka.


"Ya memang sayang hantaran itu kan memang untuk mama kalian bukan untuk kalian."


"Jadi pas bungkus barang-barang itu Oma nggak ingat kami?"


"Ingat kok sayang tapi kado untuk kalian tidak Oma bawa."

__ADS_1


"Benar Oma?" tanya Tristan antusias.


"Iya."


"Kalau begitu pas nanti Oma mau pulang kita langsung ikut."


"Oh Tuhan kenapa aku jadi tidak menginginkan mereka ikut aku sekarang?"


Zidane datang menghampiri mereka. Mama Laras seolah meminta bantuan pada Zidane melalui tatapannya namun Zidane mengangkat bahu seolah tidak peduli dengan mamanya.


"Nak Syasa di mana kamar mandi nya?"


"Ayo Ma saya antar." Isyana mengantarkan Laras ke kamar mandi tapi bukannya pipis atau apa tapi Laras malah menelepon salah satu asisten rumah tangganya dan menyuruhnya membuatkan kado untuk kedua cucunya. Sontak mereka kelimpungan karena tidak tahu hadiah apa yang harus dibeli.


"Pokoknya yang disenangi anak-anak atau cocok dengan mereka," ujar Laras terhadap pembantunya.


"Baik Nyonya tapi Nyonya tidak usah balik dulu sebelum mendapat kabar dari kami bahwa kadonya sudah selesai."


"Kenapa malah kamu yang memerintah saya?"


"Ya itu kalau Nyonya tidak mau ketahuan mereka bahwa kadonya baru dibeli kalau mau ketahuan ya terserah Nyonya."


"Baik kali ini saya nurut sama kalian demi kebahagiaan cucu-cucu saya, tapi ingat jangan lama-lama!"


"Iya Nyonya."


##


Kini Isyana bisa bersantai ria setelah butiknya sudah siap ditempati. Pakaian pengantinnya pun sudah ada dua pasang yang selesai tinggal satu pasang lagi.


Entah kenapa hari ini dia teringat akan bundanya. Pagi-pagi sekali dia berziarah ke makam bundanya seorang diri. Dia tidak membawa kedua putranya karena sedang menginap di rumah papanya.


"Bunda Isyana senang sekali karena sebentar lagi Syasa akan menikah. Syasa ingin bunda merestui pernikahan kami. Andai saja bunda masih hidup dan bisa menyaksikan pernikahan kami, Syasa pasti akan lebih bahagia." Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.


"Bunda saya pamit dulu ya, lain kali Syasa ke sini lagi bareng suami dan cucu-cucu bunda."


Tiba-tiba Isyana ingat sesuatu. "Kalung bunda aku akan menebusnya pada Kenan."


Dia berdiri dan beranjak dari tempat pemakaman. Sebelum memasuki mobilnya dia menelepon Kenan terlebih dahulu. Kenan meminta Isyana menemuinya di sebuah cafe sebab sudah lama tidak bertemu ia ingin mengobrol banyak dengan Isyana dan Isyana pun tidak keberatan.


Sesampainya di cafe Kenan sudah memesankan minuman untuk Isyana. Dia antusias melihat kedatangan Isyana.


"Hai Sya," sapa Kenan sambil melambaikan tangannya ke arah Isyana agar Isyana melihatnya.


"Hai Ken apa kabar?" ucap Isyana sambil menghampiri Kenan.


"Baik, kamu sendiri?"


"Baik juga."


"Eh bukannya kamu dulu hamil ya, mana anak kamu?"


"Nggak ikut ada di rumah papanya."


"Oh kalung aku mana?"

__ADS_1


"Ada ini tapi tunggu dulu, minum dulu gih!"


Isyana meneguk minumannya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Kenan sambil memanggil waitres dengan menjentikkan jari tangannya agar mendekat.


"Aku sengaja tidak pesan makanan tadi takut tidak cocok sama selera kamu."


"Aku pesen nasi sama ayam madu aja deh. Kebetulan aku belum sarapan."


"Ya udah samaan aja. Mbak pesen nasi sama ayam madunya dua ya!"


"Baik Mas."


Selagi menunggu pesanan dua sahabat itu berbincang-bincang tentang banyak hal terutama tentang kehidupan Kenan dan pembicaraan mereka terjeda saat waiters mengantarkan pesanan makan mereka.


"Makan aja dulu yuk!"


Mereka berdua fokus dengan makanannya. Setelah selesai makan.


"Sya aku lagi naksir sama cewek tapi tuh cewek sukanya sama cowok yang romantis."


"Terus?"


"Iya aku bingung deh gimana caranya nembak dia. Bantuin dong!"


"Ya ampun Kenan bukankah kamu sudah pernah menikah ya, Kenapa mesti bingung gimana caranya nembak tuh cewek?"


"Iya aku kan dulu dijodohkan jadi nggak pusing buat nembak dia."


Kenan dulu dijodohkan oleh orang tuanya sayangnya setelah dua tahun usia pernikahan mereka istrinya meninggal karena suatu penyakit. Semenjak itu Kenan tidak mau membuka hatinya untuk wanita lain tapi kali ini sepertinya dia sudah move on.


"Ya udah aku ajari kamu caranya nembak cewek."


"Oke aku pinjam kalung kamu aja ya?"


"Iya boleh."


Kedua anak manusia itu mempraktekkan bagaimana caranya menembak seorang wanita namun Kenan mempraktekkannya sambil tertawa.


"Ken coba serius!" Isyana greget sedari tadi Kenan tertawa terus.


"Kalau tidak tertawa aku jadinya nervous Sya."


"Iya terus kamu mau bicara sambil tertawa gitu sama tuh cewek. Bukannya diterima tapi kamu malah dianggap gila lagi," kesal Isyana.


"Baiklah Sya mulai sekarang aku serius." Kenan mempraktekkan seperti yang diajarkan Isyana. Setelah berkata-kata yang romantis dia memasangkan kalung ke leher Isyana karena disitu Isyana berakting sebagai cewek yang ditaksir Kenan.


Sementara dari tempat tersembunyi Belva yang memutuskan untuk menyingkirkan Isyana terlebih dahulu sebelum kedua anaknya karena mendengar kabar pernikahannya dengan Zidane, tersenyum puas. Sudah beberapa hari ini dia mengawasi Isyana untuk mencari keburukan atau kelemahannya. Ternyata hari ini berpihak padanya.


Dia memotret keduanya namun fotonya diedit sedemikian rupa agar terlihat intim dan langsung mengirimkannya ke nomor Zidane.


Zidane yang kebetulan selesai bertemu kliennya di cafe tersebut marah dan langsung keluar dari ruang VIP. Sampai di luar matanya langsung menangkap sosok Isyana yang tengah berduaan dengan seorang pria yang sedang memasangkan kalung ke lehernya.


Zidane yang sudah dikuasai amarah langsung menghampiri Isyana.

__ADS_1


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku Sya?!"


Bersambung....


__ADS_2