
pagi-pagi Annete sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya sudah pulih. Sebelum pulang Adrian keluar untuk mengurus pembayaran biaya rumah sakit terlebih dahulu sedangkan Annete memilih berkunjung ke kamar Nicko.
"Bagaimana keadaan mu Nik?" tanya Annete pada Nicko.
"Lumayan Net kakiku sudah mulai bisa digerakkan lagi. Kamu sudah sembuh?"
"Seperti yang kamu lihat Nik aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Maaf ya Nik gara-gara aku kamu jadi remuk seperti ini."
"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak apa-apa kok. Net kamu jadi nggak ke Inggris? Kalau jadi tunggu aku ya hingga aku sembuh. Nanti kita sama-sama ke sananya."
"Maaf Nik aku nggak jadi ke sana, aku mau pulang ke Indonesia saja."
"Jadi kamu warga Indonesia?"
"Iya Nik," jawab Annete berbohong walaupun dia memang keturunan pribumi dan lahir di sana juga tapi kewarganegaraannya masih Prancis.
"Tapi tenang saja kami akan tetap menunggui kamu sampai sembuh," lanjut Annete.
"Kalau begitu pas sembuh nanti aku langsung ikut pulang ke sana sebab orang tuaku juga ada di sana."
"Loh bukankah kemarin kamu mengatakan akan menjemput tunanganmu yang sedang kuliah di London?"
"Nggak jadi deh Net, kayaknya aku sudah tidak butuh dia. Orang tuaku bilang kalau aku bisa menemukan gadis lain dan serius mau menikah dengannya mereka akan membatalkan perjodohan itu. Lagipula aku juga tidak tahu perasaan gadis itu seperti apa padaku. Bisa saja dia juga tidak mencintaiku dan juga menentang perjodohan ini."
"Maksudmu?" Annete masih belum paham arah pembicaraan Nicko.
"Aku menyukaimu Net, sejak malam itu. Ketika kamu menolong ku waktu dalam keadaan mabuk berat. Makanya saat aku kembali ke bar mencari dompetku yang hilang aku ingin mengajakmu makan di luar agar bisa lebih akrab tapi sayangnya kamu tidak diizinkan keluar dari bar. Dan setelah itu aku disibukkan dengan pekerjaanku yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran sehingga tidak sempat menemui mu lagi di bar."
"Kamu tidak menyukai ku Nik kamu hanya menganggap aku itu adalah Anna. Kamu belum bisa move on dari dia ternyata."
"Tidak Net sebelum kamu menolong ku waktu itu, aku sudah tahu kalau kamu itu memang bukan Anna ku. Tapi aku tetap saja menyukaimu." Annete hanya termenung mendengar penuturan Nicko.
"Makanya saat aku kembali nanti aku ingin membawa dirimu ke orang tuaku dan langsung ingin melamar mu." Kali ini Annete menganga mendengar perkataan Nicko.
"Nik kayaknya dokter harus memeriksa keadaanmu lebih teliti lagi deh barangkali ada syaraf-syarafmu yang korslet."
"Net kamu pikir aku gila," protes Nicko.
"Bukan gila tapi siapa tahu ada syaraf yg sedikit geser." Annete tertawa menggoda Nicko.
"Net aku serius." Nicko kesal Annete menganggap dirinya bercanda.
"Mau ya Net?" ucap Nicko memohon sambil tangannya menggenggam tangan Annete. Matanya tidak lepas memandangi wajah gadis itu.
__ADS_1
"Tapi Nik...." Annete mencoba melepaskan pegangan tangan Nicko namun belum sempat terlepas tiba-tiba Adrian berlari ke arah mereka dan menghempaskan tangan Nicko.
"Jangan pegang- pegang! Mau aku buat tanganmu patah seperti kakimu?" Nicko terbelalak mendengar perkataan pria di hadapannya kini.
Dahi Nicko berkerut. "Siapa?" tanyanya pada Annete.
"Dia itu adalah tem..." Belum selesai Annete berkata Adrian memotong.
"Calon suami Annete." Adrian langsung mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
Kali ini bukan cuma Nicko yang terbelalak Annete pun juga. Dia mengucek kedua matanya barangkali dirinya bermimpi. Kalau tidak mana mungkin kedua pria di hadapannya menjadi sableng. Mengajak nikah seperti mau mengajak beli martabak saja. Apakah otak Adrian juga ikutan korslet?
"Apa aku bermimpi?" Pertanyaan konyol tak sengaja keluar dari mulut Annete.
"Tidak kamu tidak sedang bermimpi," ujar Adrian.
"Tapi Mas kamu dengan bundanya Adel kan masih...."
"Kami sudah bercerai dan akan segera menikahi kamu."
"Cih duda ternyata, jangan mau Net sama yang duda-duda kalau yang seger masih ada."
Adrian melotot ke arah Nicko. "Seger apaan kalau kayak elo, kena pukul dikit udah rempek." Adrian kemudian menarik Annete keluar dari ruang rawat Nicko. Adrian tidak mau Nicko meracuni pikiran Annete lebih jauh lagi. Bisa-bisa usahanya untuk mendapatkan hati Annete gagal lagi.
"Nik kami pergi dulu ya, lain kali kami akan menjenguk mu lagi," ucap Annete sebelum meninggalkan ruangan.
Adrian berbalik. "Ya sudah kalau begitu kamu tidak akan bertemu Annete lagi," ucap Adrian ketus.
"Mas ih, ayo katanya mau menginap di hotel." Annete kesal Adrian terkesan lebai.
Mereka berjalan ke luar rumah sakit, sampai di depan Lexi dan Zidane sudah menunggunya. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut ke hotel tempat Lexi dan Zidane menginap.
Sampai di hotel Adrian sudah dipesankan kamar lain oleh Zidane sedangkan Annete mereka himbau agar sekamar saja dengan Angel. Mereka sengaja melakukan itu agar Edrick tidak bisa bebas mengajak Angel kemana-mana.
Namun bukan Edrick namanya kalau tidak bisa melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya. Malam itu dia pun berhasil membawa Angel ke kamarnya dengan membohongi Annete.
Sedangkan yang lain sedang bersiap-siap untuk makan malam bersama, Edrick sudah menyantap menu rutinnya.
"Edrick kemana?" tanya Adrian yang tidak melihat Edrick ada diantara mereka.
"Di kamarnya kali," jawab Lexi santai. "Abang tidak memanggilnya tadi?"
"Males ah manggil dia, udah ku ketok-ketok pintu kamarnya sedari tadi tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Angel kemana Net?" Adrian baru menyadari bahwa Angel juga tidak ada.
"Oh tadi Edrick minta izin untuk mengajak Angel keluar sebentar. Katanya mau beli sesuatu." Mendengar perkataan Annete Lexi beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana Lex?"
"Mau lihat Edrick di kamarnya Dri, barangkali dia sudah balik."
"Baiklah terserah kamu."
Lexi pergi meninggalkan tempat. "Tunggu Lex aku ikut," kata Zidane kemudian menyusul Lexi.
Mereka berdua pun kembali ke lantai atas untuk memanggil Edrick. Sampai di depan pintu kamar dia melihat Edrick membuka pintu. Penampilannya terlihat fresh dengan rambutnya yang basah. Wajahnya pun terlihat cerah karena bahagia.
"Wah ada apa nih kok kelihatan senang sekali?" tanya Lexi
"Oohh." Akhirnya Lexi bisa menjawab pertanyaan sendiri tatkala melihat Angel juga keluar dari kamar tersebut juga dengan rambut basahnya.
"Cih dinner duluan dia."
"Kenapa Bro iri? Mau juga? Nanti aku carikan cewek yang cantik dah buat kamu. Kamu pasti nggak tahan kan nunggu sampai baby Lo empat puluh hari," ucap Edrick santai.
"Sentolo." Zidane menoyor kepala Edrick. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Zidane berjalan mendahului mereka menuju eskalator namun sebelum melanjutkan langkahnya dia menoleh.
"Lakukan sepuas mu pada Angel tapi awas jangan sampai gencet ya. Kalau sampai itu terjadi aku nggak bakalan menganggap elo sebagai sahabatku lagi. Malu-maluin," ujar Zidane lalu meneruskan langkahnya.
Angel menunduk mendengar perkataan Zidane entah mengapa dia merasa begitu malu sekarang.
"Gel ditunggu Annete tuh di restoran bawah." Lexi tahu perasaan Angel.
"Ia Lex." Angel pun melangkah mengikuti langkah Zidane.
Setelah Angel pergi Lexi menepuk bahu Edrick. "Rick kalau kamu suka sama dia mending halalin saja, jangan malah berbuat dosa terus-menerus."
"Gue mau nikahin dia? Nggaklah Lex, kamu tahu kan dia siapa?"
"Iya aku mengerti tapi kalau kamu tidak suka ya jangan terlalu dekat sama dia. Saya lihat dia sepertinya mulai menyukaimu, jadi aku minta jangan php-in dia. Kasihan Rick anak orang." Edrick hanya mengangguk.
"Yuk kita ke bawah kasihan Annete dan Adrian menunggu kita."
"Ayo Lex."
Mereka pun masuk ke dalam lift dan menemui semua orang yang sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak!๐