Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Part 177. Kesal


__ADS_3

Ketika Yuna dan Andy mulai tenang karena sudah mendapatkan angin segar dari Robert untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, di sudut lain tampak seorang pria sedang meradang melihat wanita yang ia tolak benar-benar dekat dengan sahabatnya sendiri.


Pria itu adalah Edrick yang sedari tadi mengawasi pergerakan Louis dan Angel padahal di samping dirinya duduk ada seorang wanita yang dari tadi menemaninya dan siap melakukan apapun untuknya tentu saja dengan bayaran yang setimpal.


Melihat Angel tertawa-tawa dengan Louis, Edrick malah merasa tidak tenang.


"Yang menikah Annete, kok yang ku lihat dari tadi malau engkau yang nerveos," ucap Louis pada Angel.


"Ya aku nggak tahu ya kenapa. Melihat sahabat saja udah grogi gimana rasanya kalau menikah sendiri pasti aku pingsan," ucap Angel sambil tertawa-tawa.


"Nanti kalau kamu pingsan aku siap ngasih nafas buatan, hahaha..."


"Ih apaan sih Lo kira aku tenggelam apa pake nafas buatan segala."


"Siapa tahu henti jantung."


"Ish doanya yang jelek-jelek sih."


"Bercanda jangan diambil hati tahu. Yuk kita ke Annete dan Adrian saja. Emang kamu nggak mau ngasih ucapan selamat untuk mereka."


"Mau lah yuk!"


Louis menggandeng tangan Angel kemudian berjalan ke arah pelaminan. Belum sampai ke pelaminan langkahnya di hadang oleh Edrick.


"Ada apa Rick?"


"Gue nggak butuh Lo gue mau ngobrol sama dia." Edrick langsung menarik pergelangan tangan Angel dan membawanya pergi dari hadapan Louis.


"Mau dibawa kemana Bro?"


"Bukan urusan elu."


"Lepas Rick! Kamu mau apa sih sebenarnya?" Angel mencoba melepaskan pegangan tangan Edrick dengan mengguncangkan tangannya sendiri tapi Edrick tetap memegang dengan kuat. Dia tidak menggubris perkataan Angel dia tetap menarik Angel menjauh dari Louis namun Louis tetap mengikuti keduanya meski menjaga jarak. Dia khawatir Edrick akan berbuat macam-macam pada Angel.

__ADS_1


"Kamu ada hubungan apa sama Louis? Benarkah kamu dan Louis sedang pacaran?" Edrick langsung mencecar Angel dengan pertanyaan. Awalnya Angel mengerutkan dahi namun dia akhirnya mengerti bahwa sekarang hati Edrick sedang panas melihat kedekatan dirinya dengan sahabatnya sendiri.


Angel pikir harus dibakar bensin sekalian biar tambah panas. "Kami tidak hanya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih tetapi kami akan segera menikah."


Mendengar jawaban Angel muka Edrick jadi pucat sedang Louis tersenyum dibalik tembok, dia pikir Angel serius nyatanya Angel hanya ingin memanas-manasi dan ingin melihat ekspresi Edrick akan seperti apa nantinya.


"Cih seperti itu ya ternyata dirimu. Kemarin-kemarin datang padaku dan sekarang malah minta Louis untuk bertanggung. Sepertinya keputusanku memang tepat untuk tidak menikahi mu karena kau wanita yang mudah berpaling."


Mendengar ucapan Edrick darah Angel mendidih. Sudah cukup kemarin dia mengatainya wanita kotor dan sekarang malah mengatainya wanita yang tidak setia.


"Terus kamu mau aku seperti apa? Kamu mau aku menangis tersedu-sedu dan mengemis cintamu begitu? Atau aku bunuh diri karena gagal mendapatkan pertanggung jawaban darimu? Maaf itu bukan diriku. Kalau ada pria yang lebih baik darimu yang mau menerima aku apa adanya haruskah ditolak?"


Angel melirik ke arah wanita yang sedari tadi duduk di samping Edrick. "Bersenang-senanglah dengan wanitamu dan aku akan bersenang-senang dengan priaku. Diantara kita berdua tidak ada hubungan apa-apa jadi tidak boleh ada yang saling mengganggu." Angel menepuk pundak Edrick dan langsung pergi meninggalkan Edrick yang kini sedang mematung karena mencerna perkataan Angel tadi yang mengatakan Louis lebih baik dari dirinya.


"Angel tunggu!"


Angel tidak menjawab panggilan Edrick, dia mengusap air matanya yang tak terasa menetes saat dia mengerjab. Bohong jika dia tidak bersedih karena kenyataannya dia mencintai Edrick namun kata-kata Edrick yang selalu menyakitkan menorehkan luka di hatinya. Angel harus mengahalau rasa itu. Ya dia harus berusaha mengikis rasa itu walaupun masih terasa sulit.


Sedangkan Edrick kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana tuan apakah kencan kita setelah ini akan tetap dilaksanakan?" Wanita ons yang diajak Edrick datang ke pesta pernikahan itu akhirnya memberanikan diri bertanya melihat orang yang menyewanya terlihat tidak baik-baik saja. Rencananya setelah pernikahan Annete dan Adrian selesai Edrick ingin mengetes dirinya kembali.


"Kamu pergilah aku sedang tidak mood hari ini!" Wanita itu mengangguk dan segera meninggalkan Edrick seorang diri.


"Kenapa kau usir wanita itu?" tanya Zidane yang melihat wanita yang sedari tadi menemani Edrick malah pergi. Edrick tidak menjawab dia memilih membisu. Hatinya begitu kesal dengan ucapan Angel.


"Apakah kau masih bau dengan parfum mereka? Saya sarankan kamu suruh saja dia pakai minyak dupa atau kamu yang bakar dupa saja siapa tahu dengan begitu bisa membangkitkan kejantananmu kembali," ucap Zidane bergurau.


Lexi yang mendengar ucapan Zidane malah cekikikan. Sedangkan Edrick masih saja tidak bersuara.


"Edrick kalau kamu mencintai Angel maka katakanlah dan kejarlah dia sebelum jadi milik orang lain. Apalagi dia sedang mengandung anak kamu. Jangan sampai kamu menyesal seperti saya dulu." Kini Zidane berucap dengan serius.


"Tapi Dan dia berbeda dengan istrimu, dia kan..."

__ADS_1


"Wanita eks maksudmu?" Edrick mengangguk.


"Aku tidak mau diledek oleh orang-orang nanti kalau tahu siapa orang yang akan menjadi istriku."


"Cih kamu pernah baca surat An Nur ayat 26 yang kurang lebih artinya seperti ini: 'Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).' Jadi apakah kau masih menghakimi Angel bahwa dia bukan wanita yang baik-baik? Maka berkaca lah siapa sebenarnya dirimu. Apakah dirimu masih pantas dikatakan pria yang baik?"


"Malah ceramah Lo Dan," protes Edrick tak terima.


"Ya sudah kalau kamu tidak bisa dikasih tahu. Awas kalau sampai menyesal nantinya. Jangan pernah minta bantuan saya. Makan gengsimu itu!" Zidane pun berlalu pergi karena geram dengan pemikiran Edrick dan keras kepalanya juga.


Setelah selesai mengucapkan selamat Louis mengajak Angel untuk mencicipi hidangan yang di sediakan.


"Mau makan yang mana biar aku ambilin?"


"Tidak usah Lou aku bisa ambil sendiri." Angel melihat makanan yang agak jauh dari dirinya berdiri seolah membangkitkan seleranya. Dia mengulurkan tangannya untuk menjangkau makanan tersebut.


Namun karena tangannya tidak sampai untuk meraih makanan itu perutnya sampai terbentuk pinggiran meja.


"Auw," Angel meringis kesakitan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Louis sambil mengusap-usap perut Angel takut terjadi sesuatu pada bayinya. "Makanya kamu duduk biar aku saja yang ambilkan."


Angel menurut dia mengangguk lalu duduk pada sebuah kursi dan Louis dengan sigap mengambil makanan yang ditunjuk oleh Angel.


Brak.


Edrick yang melihat kebersamaan Louis dan Angel semakin kesal sehingga menggebrak meja. Setelah itu Edrick memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.


"Apa sih maunya Edrick, suruh tanggung jawab tidak mau. Angel didekati pria lain malah ia tidak rela. Aneh tuh orang," gumam Lexi sambil geleng-geleng kepala karena bingung dengan kelakuan Edrick.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2