
Di dalam taksi Nindy nampak termenung, dia tidak tahu harus pergi kemana. Dia juga memikirkan bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak agar bisa membayar hutang-hutangnya pada Louis. Dia tidak mau pria itu menganggapnya menipu dengan alasan pulang ke rumah padahal hanya untuk menghindari hutang-hutangnya saja.
"Ini kemana Neng?"
"Jalan saja pak terus!"
Pak sopir mengernyitkan dahi, bingung dengan penumpangnya. Pasalnya saat ditanya gadis itu selalu menjawab jalan terus tanpa mau memberitahukan alamat tujuan kemana gadis itu harus diantar.
"Tenang Pak aku pasti bayar kok." Pernyataan Nindy membuat sopir merasa malu karena pikirannya dapat ditebak oleh penumpangnya.
"Bukan begitu Neng tapi saya kan perlu tahu alamat yang dituju biar enak nyetirnya." Pak sopir memberikan alasan.
"Kalau begitu ke jalan A pak," ujar Nindy menyebutkan salah satu alamat rumah temannya.
"Sip kalau begitu Neng kan saya-nya bisa fokus nyetir," ujar pak sopir lagi.
"Iya Pak maaf."
"Iya nggak apa-apa Neng."
Nindy langsung meraih ponselnya untuk menghubungi salah satu teman dekatnya yaitu putri.
๐ฑ"Halo Put."
๐ฑ"Iya Saf ada apa?"
๐ฑ"Aku lagi menuju ke rumahmu ini, apa kamu ada di rumah?"
๐ฑ"Sorry Saf aku lagi di Jalan ini mau menyaksikan balap motor yang diadakan geng Blaster. Kamu bisa nunggu sama nyokap aja di rumah, gimana?"
๐ฑ"Nggak ah aku kan mau ketemu kamu sekarang, mau curhat," tolak Nindy.
๐ฑ"Ya sudah kamu bisa langsung ke tempat lomba di jalan B, kita bisa menyaksikan lomba sambil curhat."
๐ฑ"Oke aku langsung ke sana saja ya?"
๐ฑ"Oke sip aku tunggu."
๐ฑ"Oke siap, aku segera meluncur ke sana."
"Pak langsung ke Jalan B saja ya Pak!"
"Baik Neng." Pak sopir berbelok menuju jalan yang disebutkan oleh Nindy.
Sampai di tempat tujuan setelah membayar dan turun dari taksi Nindy menoleh ke kerumunan anak-anak muda untuk mencari dimana Putri berada.
"Saf!" Putri berteriak sambil melambaikan tangannya agar Nindy bisa melihat keberadaan dirinya.
"Hei." Nindy pun melambaikan tangan dan langsung berjalan ke arah Putri.
"Acaranya belum dimulai?"
"Belum. Ada apa katanya mau curhat?"
"Iya nih aku lagi bete."
"Cerita dong bete kenapa."
Nindy pun menceritakan tentang permasalahan hidupnya dari masalah tentang Pras, keluarga yang lebih peduli sama kakaknya, juga hutang-hutangnya pada Louis.
"Gila Lo hutang-hutang elo sebanyak itu? Emang Lo apain tuh duit?"
"Aku nggak pernah minjem duit."
"Terus hutang-hutang Lo sebanyak itu apaan?"
"Aku pinjem mobil lalu nggak sengaja nabrakin ke mobil orang. Alhasil yang punya mobil yang aku tabrak minta ganti rugi begitupun orang yang punya mobil yang ku Kendarai."
"Ya ampun Saf kenapa Lo berani sih pakai tuh mobil kalau bukan milik elo sendiri."
"Iya Put aku nyesel, apalagi mobil yang kupakai adalah mobil sport, bisa kebayang nggak sih harga perbaikan mobilnya berapa."
__ADS_1
Putri hanya menganga mendengar pengakuan sahabatnya.
"Resek Lo mobil begituan berani minjem."
"Ceritanya panjang Put, kamu bisa nggak sih bantuin aku?"
"Kalau cuma ngasih kamu tumpangan rumah sih bisa tapi kalau menjamin uang sebanyak itu sorry, elo tahu sendiri kan keadaan ekonomi keluargaku seperti apa?"
"Iya aku ngerti, tapi kemarin-kemarin kamu nawarin aku job apa masih berlaku sekarang?"
"Kalau itu mah aku belum tahu keadaan terkini. Apakah bibi dan paman masih butuh karyawan atau tidak soalnya aku sudah lama tidak teleponan sama mereka. Kalau kamu berminat nanti saya telepon mereka buat nanyain apakah masih ada lowongan ataukah sudah tidak ada lagi."
"Oke Put kalau ada aku mau kok kerja sama paman dan bibi kamu."
"Tetapi lokasinya di desa Saf."
"Tidak masalah yang penting aku bisa dapatkan uang yang halal. Siapa tahu aku bisa nyicil buat bayar hutang-hutangku."
"Berat sepertinya sih Saf mengingat hutang-hutangmu cukup gede nominalnya, tapi tidak apalah dicoba siapa tahu bisa sedikit meringankan."
"Iya Put kalau tidak dicoba mana tahu kita ya."
"Terus kuliahmu bagaimana?"
"Terpaksa aku cuti kuliah dulu."
Sedangkan mereka mengobrol tampak Dika berjalan ke arahnya.
"Hei Saf apa kabar kamu, kok baru nongol?"
"Baik Dik kami sendiri bagaimana?"
"Baik juga."
"Syukurlah."
"Dik elo nggak mau ikut lomba?" Seorang laki-laki tampak menepuk pundak Dika.
"Kalau mau ikut biar aku ambilkan nomor punya temanku. Kebetulan dia sekarang lagi sakit jadi nggak bisa ikut."
"Nggak lah Man minder gue, nggak bakal menang kayaknya. Soalnya pesertanya kan hebat-hebat."
"Ayolah Bro jangan patah semangat sebelum memulai, lumayan kan hadiahnya gede apalagi motormu bisa diandalkan."
"Ah nggak ah lagi males aku, kalau kamu mau ikut silahkan, kamu bisa pakai motor aku," saran Dika pada pria bernama Arman itu.
"Sayang aku nggak bisa balapan," ujar Arman menyayangkan.
"Memang hadiahnya berapa?" Nindy yang penasaran dengan perkataan Arman langsung bertanya.
"Katanya sih seratus juta," jawab Arman.
"Wau fantastis banget!" Nindy sepertinya tertarik dengan hadiahnya.
"Kenapa Lo mau ikut?" goda Dika, tak disangka Nindy mengangguk.
"Apa?" Dika menganga karena saking terkejutnya begitupun dengan Arman.
"Serius Lo?" tanya Dika lagi.
"Iya asal elo mau pinjemin motor elo," sahut Nindy.
"Kalau masalah motor sih tidak masalah takutnya elo opname lagi kayak waktu itu."
"Aku janji bakal lebih hati-hati, boleh ya Dik?" mohon Nindy.
"Kenapa sih Lo ngebet banget?"
"Dia butuh uangnya Dik," sahut Putri disertai anggukan oleh Nindy.
"Nggak boleh ah bahaya. Aku aja enggak berani ikut apalagi kamu yang cewek."
__ADS_1
"Ayolah Dik aku mohon." Nindy terus memohon pada Dika dengan memelas membuat Dika luluh dan akhirnya mengiyakan.
"Baiklah tapi janji harus hati-hati. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu. Bisa-bisa kita-kita nih yang kena imbasnya."
"Iya aku janji," ucap Nindy meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, Man tolong bantu dia."
"Oke. Ayo aku antar ke panitia."
Nindy pun mengangguk dan mengikuti langkah Arman diikuti Dika dan Putri di belakangnya.
"Elo yakin Saf?" tanya Putri memastikan.
"Iya Put, yakin sekali. Do'akan ya aku menang." Putri hanya mengangguk.
๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท
Di tempat lain.
๐ฑ"Tuan gadis yang bernama Nindy itu ternyata keluar lagi dari rumahnya."
Louis mengerutkan kening.
๐ฑ"Maksudnya?"
๐ฑ"Menurut informasi yang saya dapatkan gadis itu bertengkar hebat dengan keluarganya hingga akhirnya memutuskan untuk keluar lagi dari rumah tersebut.
๐ฑ"Terus kalian tidak mengikuti kemana dia pergi?"
๐ฑ"Iya Tuan kami masih mengikutinya dan sekarang kami berada di arena balap motor."
๐ฑ"Gadis itu menyaksikan acara itu? Biarkan saja dia memang menyukai balapan yang penting kalian awasi saja dia terus jangan sampai lengah dan kehilangan jejak.
๐ฑ"Tapi Tuan?" Suara pria dalam telepon terdengar ragu.
๐ฑ"Tapi kenapa?"
๐ฑ"Gadis itu tidak hanya menyaksikan tetapi malah ikut berpartisipasi dalam ajang balap itu."
๐ฑ"Apa maksudmu! Katakan yang jelas!" bentak Louis.
๐ฑ"Gadis itu ikut lomba Tuan, ya dia ikut balapan."
๐ฑ"Apa?! Kirimkan alamat tempat lomba itu secepatnya."
๐ฑ"Baik Tuan."
"Aku harus secepatnya mencegah," batin Louis.
Setelah alamat terkirim, Louis langsung menyambar kunci motor dan segera mengendarai dengan cepat menuju tempat lomba.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian!
Like.
vote.
komentar.
Hadiah.
Rate bintang 5.
Favorit.
Terima Kasih.
๐๐๐๐๐๐๐.
__ADS_1