Biarkan Kami Yang Menyatukan

Biarkan Kami Yang Menyatukan
Louis Part 8. Curhat (1)


__ADS_3

Sekedar Info.


Hai readers! apa kabar semuanya?Semoga kalian senantiasa dalam lindungan Tuhan. Sebelum author melanjutkan kisah Louis author hanya ingin mengabarkan bahwa cerita Nathan dan Tristan sudah siap ya! Bagi yang ingin mengikuti silahkan cek profil Author lalu geser sedikit. Di sana ada novel yang berjudul, "Terpaksa Menikahi Putri Mafia." Tinggalin jejak kalian ya! Bagi yang ingin baca saat bab nya sudah banyak bisa di favoritin dulu. Terima kasih, lanjut ke Louis dulu ya!


🌟Happy Reading🌟


"Jangan menolak! Kau pasti kesusahan kalau harus mengobati sendiri."


Akhirnya Nindy mengalah. "Baiklah."


Nindy masuk ke dalam rumah diikuti Louis dari belakang. Sampai di ruang tengah Louis menyuruh Nindy duduk di sofa sedangkan ia nampak bergegas ke dalam sebuah ruangan.


"Kamu duduk dulu biar aku ambilkan kotak p3k dulu."


Saat Louis menenteng kotak tersebut Mira yang melihatnya jadi penasaran.


"Ada apa Mas? Apa Mas Louis terluka?"


"Bukan aku tapi Nindy yang terluka."


Mira kaget. "Loh kenapa dia?"


"Mana aku tahu Mbak Mira, dia belum ngomong. Sebaiknya Mbak Mira ambilkan minum saja buat dia."


"Baik Mas Louis." Mira beranjak ke dapur sedang Louis kembali ke tempat dimana Nindy berada.


Louis meletakkan kotak yang dibawanya lalu membuka kotak tersebut.


"Coba lihat!" ucapnya sambil meraih tangan Nindy.


"Auw." Nindy mengaduh kesakitan.


"Kok bisa terluka seperti ini sih?"


"Iya aku terjatuh tadi."


"Pasti kualat karena tadi dari menghindar dariku." Louis terkekeh dia masih saja suka menggoda Nindy.


"Tuan Louis kok gitu sih, sudah ah biar aku obati sendiri." Nindy menarik pergelangan tangannya dari Louis.


"Sudah diam dulu! Biar aku obati."


Nindy hanya diam. Louis dengan telaten membersihkan luka-luka Nindy, mengoleskan Betadine dengan kapas kemudian membebatnya dengan kasa dan plester.


Saat Louis mengobati luka-lukanya Nindy tidak berhenti memandang wajah Louis.


Aku tidak menyangka ternyata dia orangnya baik, t**ampan lagi. Mengapa aku baru sadar ya bahwa dia memang tampan.


"Kenapa bisa seperti ini?"

__ADS_1


Nindy tersadar dari lamunannya. "Ah, kan aku sudah bilang aku terjatuh tadi."


"Dan kamu pikir aku percaya begitu saja dengan jawabanmu? Memangnya kamu anak kecil yang akan mudah menangis hanya dengan terjatuh saja?"


"Aku memang cengeng." Nindy tertunduk.


"Bukan begitu maksudku, bercerita lah barangkali aku bisa membantu mu."


Nindy tampak ragu-ragu dia tidak mau membongkar aib keluarganya sendiri. Dia tidak mau Louis menertawakannya atau bahkan membuat Louis tahu akan kelemahannya.


"Kenapa? Kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan, bukan begitu."


"Terus kenapa?"


Nindy memejamkan matanya. Tidak tahu harus berkata apa. Haruskah ia berbohong ataukah harus jujur dengan semuanya. Bisakah Louis dipercaya ataukah dia bahkan akan memanfaatkan dirinya kalau tahu akan keadaannya.


"Sudah," ujar Louis setelah selesai membebat lengan Nindy. "Kalau nggak mau cerita ya nggak apa-apa. Saya tidak memaksa kok." Louis beranjak dari duduknya.


"Tuan!"


Louis menoleh "Ya?"


"Bolehkah aku menganggap Tuan sebagai teman, bukan sebagai pembantu dengan majikan?"


"Boleh saja, bahkan kamu tahu sendiri hubungan aku dengan Mbak Mira tidak seperti pembantu dengan majikan tetapi lebih ke arah kakak dan adik. Jadi aku tidak pernah mempermasalahkan martabat ataupun derajat seseorang."


"Bercerita lah kalau kamu menganggap ku sebagai sahabat."


"Aku...aku sebenarnya kabur dari rumah."


"Apa?!" Louis tidak percaya.


"Iya aku memang kabur dari rumah. Setelah itu aku ikut bik Winda, salah satu pembantu di rumahku dulu yang kini bekerja di restoran di hotel milik Tuan Louis."


"Kamu tuh ya ternyata memang suka kabur-kaburan."


"Ih dengerin dulu!" Nindy tampak ngambek.


"Oke lanjut."


"Setelah itu aku kerja di hotel hanya sebagai pelayan atau pengantar makanan ke kamar-kamar para tamu hotel. Makanya aku tidak bisa memasak."


"Oke tidak masalah kamu bisa belajar nanti sama Mbak Mira. Tapi yang aku heran mengapa kamu harus keluar dari rumahmu sendiri?"


Nindy menghela nafas panjang rasanya begitu berat walaupun hanya sekedar mengingat apalagi harus bercerita.


"Aku difitnah dan parahnya lagi kedua orang tuaku mempercayai itu semua." Nindy memejamkan mata mencoba menahan air mata yang kini membendung.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu Mira datang membawa jus jeruk. "Ini Mas Louis minumannya."


"Taruh saja dulu."


Mira menaruh dua gelas jus orang di atas meja. "Dia kenapa?" tunjuk nya pada Nindy.


"Ada kesalahan sedikit." Louis memberi kode agar Mira meninggalkan mereka berdua untuk sesaat.


Mira yang paham akan kode yang diberikan Louis mengangguk kemudian pergi.


"Di minum dulu." Louis meraih orange jus dan menyodorkannya pada Nindy.


"Terima kasih." Nindy menerima dan langsung meneguknya hingga tandas. Dia benar-benar sangat kehausan.


"Teruskan ceritanya!"


Nindy mengangguk. "Aku punya kakak seibu tapi lain bapak."


"Oke."


"Kami mencintai pria yang sama."


Louis menganga. "Emang tidak ada laki-laki lain apa sehingga kalian harus mencintai orang yang sama?" Sepertinya dia lupa bahwa dirinya juga pernah mencintai wanita yang sama dengan sahabatnya.


"Mungkin itulah cinta tidak dapat ditebak ke hati yang mana akan berlabuh."


"Ya kamu benar cinta itu memang sulit ditebak, kadang dia membuat kita bahagia, bersemangat, terluka, sedih bahkan bisa membuat sedih dan bahagia secara bersamaan. Parahnya kadang menimbulkan keputusasaan yang membuat kita tersesat arah."


"Kamu benar bahkan aku pernah berpikir untuk bunuh diri saja tatkala dia lebih memilih kakakku sebagai pendamping hidupnya. Padahal dia pacarannya sama aku tapi nikahnya malah sama kakakku."


"Saat itu aku meraung-raung, tidak terima dan memohon agar dia tidak meninggalkanku tapi nyatanya dia tetap kokoh pada pendiriannya. Mungkin karena orang tuaku mendukungnya bahkan menjanjikan jabatan untuknya. Kedua orang tuaku memintanya untuk menikahi kakak dengan alasan kakakku berhak bahagia sebelum ia meninggal dunia karena penyakitnya. Padahal semuanya palsu kakakku tidak pernah mengidap penyakit leukemia seperti yang diakuinya. Aku berani bersumpah kalau dia membohongi semua orang untuk merebut perhatian kedua orang tua dariku. Dia bahkan rela menyogok dokter."


Nindy menjeda ucapannya, menyeka air mata yang sudah tak terbendung lagi. Rasa sesak tak kunjung hilang meski dia sudah berusaha untuk berlapang dada atas semuanya, tapi keadaan ini terlalu sakit bahkan saat sekedar diingat sekalipun. Rasanya, rasa sakit itu masih tetap sama menjalar ke seluruh tubuh bersama aliran darah.


Berhari-hari aku memohon kepada Pras, nama laki-laki itu. Layaknya seorang pengemis yang meminta agar dikasihani saat dia benar-benar merasa lapar dan kehausan. Namun semua sia-sia, jawabannya hanya semakin menggoreskan luka. Aku sadar aku lemah dalam segala hal. Kakakku selalu lebih unggul dariku. Dia begitu pandai dalam segala hal sehingga ia selalu bisa diandalkan dan ayah memintanya untuk membantunya di kantor."


Untuk sesaat Nindy terdiam. Pandangan matanya terlihat kabur. Berulang kali ia menghapus jejak air mata namun Alirannya tak kunjung mereda.


Louis hanya menepuk bahu Nindy agar wanita itu bisa tenang. "Sabar percayalah semua akan indah pada waktunya. Bagaimana pun kebohongan akan terbongkar juga suatu saat dan saat itu yakinlah bahwa kamu akan meraih kebahagiaan."


"Amin."


"Terus apa hubungannya dengan tadi? Apa kamu bertemu dengan orang tuamu dan dia yang menyiksamu hingga kamu luka-luka seperti itu?"


"Ya aku bertemu mereka bahkan lebih parahnya aku malah juga bertemu Pras."


"Terus?"


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa jejak jempolnya!


.


__ADS_2