
Akhirnya mereka kembali ke rumah sakit untuk menemui Annete, Adrian dan juga Nicko.
"Kakak!" Sampai di depan pintu kamar rawat Annete, Wilson langsung berlari ke arah Annete.
"Wil!" Annete langsung duduk kemudian merentangkan tangannya agar sang adik masuk ke dalam pelukannya.
"Bagaimana Wil?"
"Aku sudah bebas Kak, terima kasih ya semua karena pertolongan teman-teman kakak. Dan teman kakak juga sudah membantu supaya saya bisa mengelola bar sekaligus membuka Kafe di sana."
" Oh ya, benarkah itu? Siapa yang membantu mu?"
"Tuh!" tunjuk Edrick pada Lexi.
"Bagaimana kalau kak Annete tinggal sama Wilson? Kan Wil sekarang sendiri kak lagipula daddy sudah tidak ada. Jadi tidak akan ada yang mengganggu kak Annete lagi. Kalau kakak pergi siapa yang akan menjaga bar pas Wilson sekolah?" Annete hanya mengusap-usap rambut Wilson seperti seorang kakak pada adik kecilnya.
Adrian merasa tidak suka, dia mencoba melepaskan pelukan keduanya.
"Kenapa Dri, jangan bilang kamu cemburu sama dia. Dia itu adik sepupunya Annete," protes Edrick.
"Tetap saja tidak boleh pelukan, mereka bukan muhrim."
"Cih apa kabarnya kamu yang langsung nyosor tadi pas ketemu Annete. Emang kamu muhrimnya?"
"Itu beda Rick kan keadaannya lagi genting. Annete butuh pelukan agar bisa lebih tenang."
"Cih alasan."
Annete tidak menggubris perdebatan keduanya.
"Maafkan kakak Wil, kakak masih trauma tinggal di sini. Lagipula kamu kan anak cowok, usiamu sudah tujuh belas tahun kan?" Wilson hanya mengangguk.
"Berarti mulai sekarang kamu harus belajar mandiri. Kakak janji deh bakal sering-sering tengok kamu nanti. Dan mereka semua kan sering berkunjung ke negara ini, jadi saya bisa minta tolong mereka juga agar disempatkan mampir ke tempatmu deh."
"Tenang Wil saya sudah memilih beberapa orang kepercayaanku untuk ditempatkan di tempatmu itu. Jadi pas kamu tinggal bar dan kafe pasti dalam keadaan aman-aman saja kok."
"Terima kasih ya Kak Lexi."
"Iya, sama-sama."
"Terima kasih ya Lex udah bantu aku dan Wilson. Edrick, pak Zidane dan kamu juga Mas."
"Sudahlah Net tidak usah sungkan, kita sudah menganggap mu seperti keluarga, jadi jangan sungkan-sungkan meminta bantuan pada kami apabila memang membutuhkan pertolongan kami," ujar Zidane diiringi anggukan semua orang.
Sementara semua sedang berbicara Lexi pamit keluar.
"Kak aku punya sesuatu buat Kakak," kata Wilson.
"Apa? Emang kakak ulang tahun apa, mau dikasih kado segala."
"Bukan kado Kak, tapi ini...." Wilson mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya dan mengulurkan benda tersebut pada Annete."
Annete terbelalak melihat benda yang disodorkan Wilson itu adalah benda miliknya. Ponsel dan dompet itu sama dengan punyanya saat kecopetan dulu.
Annete langsung mengambil dompet itu dan mengecek isinya. kartu identitas, ATM, dan uangnya masih utuh. Annete berpikir yang mengambil tasnya dulu pasti bukan copet beneran tapi pasti ada orang yang sengaja padanya. Kalau memang copet beneran pasti uang tunainya sudah raib. Atau mungkinkah Wilson berhasil meminta bantuan polisi dan polisi pun berhasil menangkap pencopet itu dan membuat penjahat tersebut mengembalikan semuanya secara utuh.
Annete beralih mengecek ponselnya yang sudah dalam keadaaan mati. Ia mencoba menghidupkan kembali tapi tidak berhasil, sepertinya daya baterainya habis.
"Wil kamu dapat dari mana benda-benda punya kakak ini?"
__ADS_1
"Maaf kak tadi pagi saat aku ingin membawa kabur kakak sebenarnya saya sudah membawa benda-benda ini. Karena gagal dan saya tertangkap saya meletakkan benda tersebut dalam mobil. Sebenarnya beberapa bulan yang lalu yang terjadi pada Kakak bukanlah murni kecopetan tapi Daddy lah yang merekayasa semuanya. Buktinya saat kemarin menyusup ke kamar Daddy saya menemukan benda ini berada dalam salah satu nakas. tapi sayangnya tas Kakak sudah tidak ada. Entah kemana mungkin saja Daddy sudah membuangnya."
"Apa Wil jadi semuanya sudah paman Paul setting dari awal?" Annete terkejut, dia tidak menyangka Paul melakukan semua ini. Kalau dia curiga dari awal dia tidak akan sampai sejauh ini. Ketika sampai di rumah Paul waktu itu pasti dia akan langsung mengobrak-abrik kamar Paul dan kemudian kabur sebelum dia membawanya ke bar tapi sayangnya dia sama sekali tidak peka.
"Iya Kak maafkan aku yang tidak menyadari sedari dulu."
"Sudahlah semua sudah terjadi, jadi tidak perlu ada yang disesali," ujar Adrian.
"Iya Mas kamu benar yang penting aku dan Wilson sekarang selamat. Angel juga."
"Oh ya Kak aku pengen Kak Angel saja yang bantu aku di sini. Kak Annete ngizinin kan?"
"Nggak Wil," ucap Annete tegas.
Raut wajah Wison tampak kecewa. "Memangnya kenapa Kak?"
"Sini kakak bisikin!" Wilson pun berjalan ke arah Annete dengan ragu-ragu takut diprotes Adrian lagi.
"Sini mendekat!"
"Iya Kak."
"Aku tidak mau Angel kembali ke dunia hitam lagi kalau tanpa pengawasan kakak," bisik Annete di telinga Wilson dan Wilson hanya manggut-manggut mendengar alasan Annete.
"Ekhem... Ngomong apa dia sama kamu Wil?" tanya Angel.
"Nggak ada, Kak Annete cuma bilang Kak Angel cantik." Angel mencebik karena yakin Wilson berbohong.
"Pokoknya kamu harus ikut aku Gel!" perintah Annete.
"Dengan senang hati," ujar Angel yang memang penasaran dengan negara yang pernah ditempati Annete beberapa bulan yang lalu.
"Boleh saja," jawab Annete.
"Aku juga pengen," ujar Wilson.
"Kamu sekolah dulu yang benar terus kelola kafenya dengan baik, jangan mengecewakan Lexi. Setelah itu kamu juga boleh ke sana," ujar Annete.
"Iya Kak, memang kak Angel sama kak Annete nanti tinggalnya dimana?"
"Nanti kami akan menyewa kontrakan di sana. Kan uang kakak sudah kembali," jawab Annete.
"Nggak usah nyewa tinggal di rumahku saja," ujar Adrian.
"Jangan Syasa minta kamu tinggal sama kami saja Net, tidak baik katanya tinggal serumah sama laki-laki yang belum jadi apa-apa kamu. Lagian si kembar tuh sudah kangen sama kamu, katanya ingin tinggal bareng kamu lagi kayak dulu dan Adel sekarang pun betah tinggal di sana."
"Enak ya semuanya diambil, aku tinggal sama siapa dong?!"
"Bukan urusanku." Zidane terkekeh.
"Terserah baiknya saja deh nanti."
"Terus aku tinggal sama siapa dong Net?" protes Angel masa ia akan ikut Annete tinggal di rumah orang. Kan Angel merasa tidak enak. Kalau tinggal sendiri di negara orang rasanya juga dia masih takut.
"Kamu tinggal di rumahku saja deh." Edrick yang menjawab.
"Jangan kalau kamu tinggal sama dia remuk kamu nantinya," cegah Zidane.
"Kita rembukan di sana saja ya Gel, bagaimana baiknya buat kita," ujar Annete.
__ADS_1
"Baiklah Net."
Lexi datang membawa beberapa makanan dalam kotak. "Ayo makan dulu, kayaknya sedari tadi kita lupa makan deh." Semua mengangguk dan mengambil jatah masing-masing kemudian memulai makan bersama.
Setelah selesai makan Wilson lalu menjenguk Nicko ke kamar rawatnya setelah itu kembali lagi ke kamar rawat Annete.
Karena hari sudah petang Wilson berpamitan pulang.
"Kak Wilson pulang dulu ya nanti kalau kakak mau balik jangan lupa mampir dulu. Baju-baju Kakak kan ada di rumah juga. Sekalian bawa kakak- kakak ini semua."
"Oh iya ya Wil kakak lupa. Iya nanti kakak pasti ke sana bareng semuanya. Kamu hati-hati ya."
"Iya Kak."
Setelah Wilson pulang semua yang hadir juga pulang ke hotel hanya menyisakan Adrian saja yang menemani Annete.
Lexi memilih memesan hotel yang dekat dengan rumah sakit agar lebih mudah pulang dan pergi ke rumah sakit tersebut.
Saat sedang memanggil Zidane untuk mengajaknya makan malam di restoran yang berada di lantai bawah hotel, Lexi melihat Zidane nampak kesal.
"Kenapa sih Bang kok ngedumel dari tadi?"
"Semiskin ini kita ya Lex hingga harus memesan hotel yang seperti ini?"
Lexi menilik keadaan hotel tersebut, sepertinya tidak ada yang salah dengan hotel ini. Tetapi kenapa Zidane nampak kesal?
"Kenapa sih Bang apa karena hotelnya kecil? Kalau aku tidak masalah sih aku udah biasa tinggal dimana pun." Ya bahkan Lexi sempat pernah tidur di salah satu ruang di butik Isyana dulu bareng si kembar pas masih kecil padahal kamarnya lebih sempit dari kamar hotel ini.
"Bukan masalah sempitnya Lex tapi dekat dengan dunia lain. Masa hotel tidak ada peredam suaranya sih."
"Maksudnya ada hantunya gitu?"
"Ia, bahkan hantunya tuh saling sahut-sahutan bicara."
"Mana sih?" Lexi penasaran dengan yang dimaksud Zidane. Dia langsung masuk ke kamar Zidane.
"Mana sih?"
"Tuh!" tunjuk Zidane pada dinding pembatas dengan kamar yang lainnya.
Lexi berjalan ke arah yang di tunjuk Zidane. Kayaknya benar ada suara tapi suaranya mulai menghilang. Lexi menempelkan telinganya di dinding untuk memastikan suara apa itu.
"Ya Tuhan." Lexi tepuk jidat mendengar suara ******* yang saling sahut menyahut. Benar kata Zidane itu suara gaib dari bilik sebelah.
"Tapi tunggu dulu bukannya ini kamar Edrick ya?"
"Ia kamu pikir siapa lagi pelakunya kalau bukan dia."
"Terus siapa dong ceweknya?"
"Siapa lagi kalau bukan Angel," jawab Zidane.
"Ya ampun Edrick, tega banget sih dia. Orang Angel lengannya masih diperban malah diajak perang lagi."
"Kayaknya sama-sama nggak beres tuh mereka. Sudah Ayo kita tinggalkan mereka makan saja. Edrick mah udah kenyang makan begituan," ujar Zidane sambil keluar dari kamarnya menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
Lexi pun berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Zidane yang kini sudah akan masuk ke kubikel besi. Meninggalkan Edrick yang sedang melupakan segalanya. Bahkan yang dia ingat sekarang hanyalah kenikmatan semata.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak; Like, Vote, komentar, dan hadiahnya. Terima Kasih.๐